Wiro Sableng #22 : Siluman Teluk Gonggo
WIRO SABLENG

Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212

Karya: Bastian Tito

MATAHARI bersinar terik membakar jagat. Pemuda berambutgondrong berpakaian serba putih dengan ikat kepala juga kain putih merasakantenggorokannya kering. Peluh membasahi sekujur tubuhnya. Dia merasa bersyukurkarena sepeminuman teh berlalu akhirnya dia sampai di sebuah kampung. Palingtidak dia bisa minta air segar pada penduduk. Tapi kebetulan di mulut jalan ditemuinya sebuah kedai.

Pemuda ini masuk ke dalam kedai dan memesan minuman. Untuk mengurangi rasapanas dia berkipas-kipas sambil menunggu pesanan. Pada saat itulah tiga orangpenunggang kuda berhenti di depan kedai. Sejenak si gondrong perhatikan ke tigapendatang ini. Kelihatannya seperti orang-orang yang tengah mengadakanperjalanan jauh dan ingin melepaskan lelah sambil membasahi tenggorokan. Sigondrong palingkan kepala tak perdulikan orang-orang itu.

Ketika pelayan meletakan minuman di hadapan si pemuda, tahu-tahu ke tigapenunggang kuda tadi sudah melompat dan berdiri di hadapannya. Sekilas sipemuda melirik, lalu acuh tak acuh dia terus berkipas-kipas. Salah satutangannya menjangkau gelas minuman. Tapi gerakannya tertahan oleh bentakansalah seorang tamu di sampingnya.

"Jadi menurutmu ini bangsatnya?!" Yang membentak ini berusia sekitartiga puluh tahun, berambut pendek, memelihara berewok dan berbadan tinggikekar.

Lelaki di sampingnya, seorang tua berambut kelabu, memandang sejenak padapemuda rambut gondrong, sejurus kemudian dia anggukan kepala.

"Memang dia bangsatnya. Aku pasti betul!" kata si rambut kelabu.

Lelaki ke tiga seorang pemuda berbadan tegap lantas saja membuka mulut:"Jika dia malingnya tunggu apa lagi?!"

Sret! Dari balik pinggangnya pemuda ini cabut sebilah golok dan mengacungkannyake arah pemuda berambut gondrong yang duduk di belakang meja.

Seperti seorang buta dan tuli layaknya, si gondrong ini seolah-olah tak melihatorang-orang di sekitarnya atau tak mendengar percakapan-percakapan di dekatnya.Dia terus saja berkipas-kipas dan malah kini mengambil gelas berisi minuman.

"Setan! Kau berani berlagak tolol pilon di depan kami!" sentak pemudayang memegang golok. Tangan kanannya di ayunkan. Prang! Gelas di tangan pemudagondrong papas berantakan. Sebagian isinya tumpah membasahi meja serta pakaianpemuda ini. Bagian bawah gelas yang papas di tebas golok tajam masih beradadalam genggaman tangan kiri pemuda itu. Di dalamnya masih berada sedikit sisaminuman. Si gondrong goleng-goleng kepala lalu menyeringai. Dari mulutnyakeluar suara siulan. Lalu seenanknya sisa minuman yang masih ada dalam gelasyang tinggal sepotong itu diteguknya sampai habis!

Semua tamu yang ada di kedai melengak heran tetapi diam-diam juga menjaditegang. Sebaliknya tiga lelaki yang berada di hadapan si gondrong jadi naikpitam. Dan pemuda yang memegang golok kembali menghardik: "Pencuri ternak!Kau memang di cincang!"

Untuk kedua kalinya golok besar itu berkelebat. Kali ini dibacokan ke kepala sigondrong. Beberapa orang tamu mengeluarkan seruan tegang karena sudahmembayangkan sesaat lagi akan belahlah kepala pemuda berambut gondrong itudihantam golok!

Tetapi gilanya manusia yang dirinya terancam bahaya maut itu justru kelihatantenang-tenang saja. Malah cengar-cengir.

Namun apa yang terjadi kemudian benar-benar merupakan satu kejutan.

Sedetik sebelum golok besar itu menghantam sasarannya, terdengar pekikan keras.Golok kelihatan mencelat ke atas dan menancap di langit-langit kedai. Pemudayang tadi memegang senjata itu terhuyung empat langkah ke belakang sambilpegangi siku tangan kanannya. Entah kapan si gondrong ini bergerak tahu-tahudia telah menangkis serangan maut yang dilancarkan bahkan memukul tangansambungan siku orang yang inginkan jiwanya!

"Pelayan! Ambilkan minuman baru. Rasa hausku belum habis, tahu-tahu adasaja monyet kesasar yang datang mengganggu!" Si gondrong berseru memanggilpelayan sambil salah satu kakinya dinaikan keatas kursi.

"Bangsat pencuri! Berani kau mencelakai adikku!" Tiba-tiba lelakiberewok hantamkan tinju kanannya yang besar kuat ke dada si gondrong.

"Buk!

Tinju tepat mendarat dengan kerasnya di dada si gondrong. Tapi yang menjeritkesakitan bukannya pemuda itu, malah justru si berewok. Tubuhnya terjajar kebelakang dan tangan kanannya kelihatan merah bengkak!

Marah dan kesakitan si berewok berteriak "Laknat! Sekalipun kau punya ilmusetan, aku mau lihat apa kau kebal senjata!" Sebilah belati di cabutnyadari pinggang lalu secepat kilat ditikamkannya ke arah si pemuda.

Seperti tadi waktu di serang dengan golok, tak kelihatan pemuda rambut gondrongitu bergerak tahu-tahu golok sudah mental dan penyerang kena di hantam. Kaliinipun terjadi hal yang sama. Lelaki berewok menjerit kesakitan ,belatiditangannya mental ke udara dan menancap di langit-langit kedai, tepatdisamping golok!

"Pelayan! Mana minuman baru! Lekas, aku benar-benar kehausan!" teriaksi gondrong. Sampai saat itu sedikitpun dia tidak beringsut dari kursi yang dididukinya!

Kini semua orang dalam kedai itu serta merta menjadi maklum. Pemuda berpakaianputih, berambut gondrong, bertampang lugu bahkan seperti agak sinting ini,bukan manusia sembarangan.Pelayandatang setengah berlari membawakan minuman. Kali ini digelas besar.

Setelah meneguk isi gelas sampai setengahnya, si gondrong hembuskan nafaspanjang. Perlahan-lahan dia palingkan kepalanya ke arah lelaki tua berambutkelabu yang tegak di samping mejanya dengan mulut menganga dan tampakterkesiap.

Si gondrong sunggingkan senyum. "Orang tua berambut kelabu. Apa kau jugahendak turun tangan terhadapku?!"

"Maling ternak, kau tunggulah disini! Sekali kulaporkan yang kau lakukan,orang-orang Adipati Japara akan datang menghajar dan menangkapmu!".

Orang tua berambut kelabu menjawab sambil mengancam. Tampaknya dia tak punyanyali untuk ikut-ikutan turun tangan.

Si gondrong tertawa.

"Gila! Tuduhanmu sungguh tidak enak. Maling ternak! Maunya kupecahkanmulutmu dan juga dua kembarmu itu! Menuduh seenaknya. Tanpa alasan, tanpabukti. Tak ada saksi!"

"Saksiku adalah mataku sendiri! Aku masih belum buta! Memang kau yangmencuri selusin kerbau yang ku gembalakan di tepi hutan Manuk!"

"Cc...cc...cc..." si gondrong leletkan lidah.

"Benar kau belum buta, orang tua. Tapi mungkin sudah lamur. Kau pastisalah lihat!"

"Tidak mungkin! Lekas katakan dimana kau sembunyikan kerbau-kerbau curianitu!"

Si gondrong geleng-gelengkan kepala.

"Dengar orang tua. Namaku WIRO SABLENG. Mungkin aku pemudagendeng, tapi bukan pencuri kerbau!"

"Bukan pencuri kerbau! Puah! Pencuri kerbau bukan, tapi maling kerbauya!" mendamprat pemuda yang sambungan sikunya copot.

Si rambut gondrong yang ternyata adalah pendekar 212 Wiro Sableng garuk-garukkepalanya. Dia berpaling pada si rambut kelabu. "Orang tua, coba kaujelaskan dulu apa yang sebenarnya terjadi."

"Tidak perlu!" potong lelaki berewok. "Jelas kau malingnya.Ayahku tak mungkin salah lihat!"

"Oh, jadi si rambut kelabu ini ayahmu," ujar Wiro. "Yang inipasti adikmu. Dengar berewok. Mencuri selusin kerbau bukan soal mudah. Palingsedikit harus dilakukan oleh tiga orang. Kalian lihat sendiri. Aku disini cumasendirian."

"Jangan coba mengelabui kami. Kawan-kawanmu saat ini tentu tengahmenggiring kerbau-kerbau itu ke satu tempat!"

Lama-lama murid Eyang Sinto Gendeng ini jadi jengkel juga. Seumur hidupmalang-melintang di dunia persilatan baru hari itu dituduh jadi maling, pencurikerbau! Kembali digaruk-garuk kepalanya. "Mau percaya atau tidak,terserah. Aku tidak mencuri kerbau kalian. Aku tak pernah berada di sekitarGili Manuk. Aku datang dari timur dan..."

"Memang mana ada maling mau mengaku!" tukas si rambut kelabumemberengut.

Wiro Sableng menyeringai dingin dan si berewok kembali membuk mulut:"Tanda-tanda yang kami ikuti menuju ke tempat ini. Disini ayahkumenemukanmu. Ciri-ciri pencuri itu tepat seperti dirimu..."

"Mungkin ayahmu hanya melihat dari jauh" Wiro coba membela diri.

"Jauh atau dekat bukan soal. Yang jelas kau memang telah melarikankerbau-kerbau kami!"

"Berewok. Jika kau tetap menuduhku sebagai pencuri, berarti kau tak bakalmenemukan pencuri sebenarnya. Kau benar-benar akan kehilangankerbau-kerbaumu...Jika katamu pencuri itu menuju kejurusan sini, tentu dia ataumereka masih belum jauh dari sini. Kalian masih punya kesempatan untukmengejar!" Habis berkata begitu Wiro berdiri dan berkata pada adik siberewok. "Mari kusambungkan kembali tulang sikumu."

"Tak perlu!" jawab si pemuda sambil pegangi tangannya yang cidera.

"Ya, memang tak perlu," kakaknya yang berewok menimpali beringas.Lalu dia mengajak adik dan ayahnya segera melapor ke Kadipaten.

"Kalian ayah dan anak sama saja keras kepalanya. Lebih baik untuksementara kalian jadi patung saja, supaya tidak menggangguku!" Denganbergerak cepat Wiro Sableng menotok ke tiga orang itu hingga tak mampu lagibergerak. Setelah membayar minumannya dia lambaikan tangan pada ke tiga beranakitu dan melangkah pergi.

"Maling kerbau! Jangan lari kau!" teriak si berewok.

"Bangsat pencuri!" adiknya menimpali. "Sekali engkau lari keujung dunia akan kukejar dan kucincang!"

Sang ayah tak ketinggalan berteriak: "Petugas-petugas Kadipaten akanmenangkap dan menghajarmu!"

Mereka ingin mengejar namun tak mampu bergerak. Akhirnya hanya bisa memaki-makisementara Wiro sudah tak kelihatan lagi.JAUH di sebelah timur tampakmenjulang gunung Muryo. Dengan mempergunakan ilmu lari "kaki angin"pendekar itu lari kencang kejurusan itu. Tujuannya adalah Japara. Disitu diaakan mencari keterangan mengenai suatu tempat yang hendak didatanginya.

Sang surya mulai condong kebarat. Di depan sana terbentang daerahberbukit-bukit. Sebagaimana lazimnya keadaan alam, jika ada bukit-bukit maka disitu akan terdapat pula lembah-lembah.

Wiro berdiri di puncak sebuah bukit, memandang berkeliling. Lembah dan bukit didaerah itu tampak hijau subur, tetapi masih liar belum dibuka manusia. Sesaatkemudian, ketika dia siap untuk meneruskan perjalanan, mendadak langkahnyatertahan.

Jauh di bawah sana, di dasar salah satu lembah dilihatnya dua penunggang kudatengah menggiring serombongan kerbau. Tak dapat dipastikan berapa jumlahbinatang itu, namun Wiro yakin bahwa ternak tersebut pastilah kerbau curian,milik ke tiga beranak di kedai yang tadi menuduhnya sebagai pencuri.

Sesaat Wiro berpikir. Lalu tanpa tunggu lebih lama dia segera berlari menurunibukit. Sesampainya di lembah diam-diam dia mengikuti kedua penggiring ternakitu. Mereka masih muda-muda. Seorang diantaranya berpakaian putih-putih,berambut gondrong dan memakai ikat kepala sapu tangan putih. Sepintas laluciri-cirinya memang sama dengan Wiro. Murid Sinto Gendeng ini merutuk dalamhati. Inilah pangkal Tidak salah kalau orang tua berambut putih itu menuduhbahwa dialah yang telah mencuri selusin kerbau mereka!

Walau yakin kedua pemuda itu pencuri, namun Wiro tidak segera turun tangan. Diaterus mengikuti perjalanan mereka dari balik semak belukar. Hal ini tidak sulitdilakukan. Walaupun menunggang kuda, tapi karena harus menggiring kerbau, duapemuda itu terpaksa bergerak perlahan.

"Dimana kita akan istirahat?" tanya pemuda penunggang kuda berambutgondrong.

"Kita tidak akan istirahat Kunto. Jika kemalaman di jalan bisaberabe!"

Si gondrong yang bernama Kunto menyahuti: "Kau selalu kawatir kemalaman.Mengapa tidak lewat jalan umum saja? Dalam waktu dua jam kita akan sampai kekota. Dan menikmati hasil penjualan kerbau-kerbau ini!"

Sang kawan tidak kelihatan senang. Dia berkata: "Kau masih terlalu hijauuntuk jadi pencuri ternak. Lewat jalan umum memang lebih cepat tapi sama sajadengan menyerahkan batang lehermu pada petugas-petugas Kadipaten. Aku yakinpemilik ternak ini telah melapor ke Kadipaten!"

Kunto tertawa. "Ario, kaulah yang tolol. Apa kau tidak tahu kalau orang-orangKadipaten hanya mau mendengar laporan dan minta uang pada si pelapor tapi tidakpernah melakukan sesuatu? Apalagi mengurusi kerbau. Kecuali jika pemilik kerbauitu menjanjikan separoh dari kerbaunya yang hilang akan diberikan pada mereka!"

"Ya, aku tahu hal itu," jawab Ario. "Tapi aku tetap tak mau cari penyakit.Kalau tidak melapor ke Kadipaten bukan mustahil pemilik kerbau itu mengumpulkanorang sedesa dan mengejar kita. Sekali tertangkap kita akan mereka gebuk sampailumat!"

Kunto terdiam sesaat. Lalu bertanya: "Kalau kau sudah takut begitu lalubagaimana kita membawa ternak ini langsung ke kota dan menjualnya seolah-olahmilik kita?"

"Aku tidak tolol dan tidak akan melakukan seperti itu. Ternak ini aku titipkandulu di luar kota di tempat Sumengkar. Kita cari pembeli di kota, jika hargacocok baru di bawa ke tempat Sumengkar."

"Susah-susah ke kota bagaimana kalau kerbau itu aku saja yang membeli?"tiba-tiba satu suara meimpal.

Tentu saja Kunto dan Ario kaget bukan main!

Keduanya sesaat saling pandang. Setan atau manusiakah yang barusan bicara?Keduanya lalu sama-sama berpaling ke belakang. Tak ada siapa-siapa. Memandangberkeliling juga tak seorangpun kelihatan. Aneh. Jelas mereka mendengar suara,tapi dimana orangnya? Ario dan Kunto kembali saling pandang. Keduanyamenunjukan wajah takut.

"Kudengar daerah sekitar sini banyak dedemitnya," bisik Kunto seraya rapatkankudanya ke kuda kawannya. "Jangan-jangan..."

"Mungkin kita cuma salah dengar," sahut Ario. "Tiupan angin kadang-kadangseperti suara manusia. Apalagi kalau kita sedang melamun."

"Kita tidak sedang melamun, Ario. Suara manusia mana bisa sama dengan suaradesau angin. Kalau bukan suara manusia itu tadi, pasti suara setan. Mari kitabergerak lebih cepat!"

Kedua orang itu segera menghalau kerbau-kerbau di depan mereka.

"Hai! Tunggu dulu!" tiba-tiba suara tadi kembali terdengar. Lebih jelas danlebih keras. "Kalian belum menjawab pertanyaanku!"

Kunto menggigil sekujur tubuhnya. Dia ingin menghambur duluan meninggalkantempat itu. Ario pegang hulu goloknya. Dengan mata liar dia memandangberkeliling lalu membentak dengan suara bergetar: "Setan atau manusiakah yangbicara!? Harap tunjukan muka!"

Terdengar suara tawa bergelak. Tiba-tiba semak belukar di samping kiri jalantersibak. Seorang pemuda berambut gondrong sambil cengar-cengir menyeruakkeluar. Dia bukan lain adalah Pendekar 212 Wiro Sableng.

"Siapa kau?!" sentak Ario. Kunto segera lenyap rasa takutnya ketika dilihatnyayang muncul ternyata hanya manusia biasa dan sendirian pula.

"Aku manusia biasa, bukan setan bukan dedemit. Kalian belum jawab pertanyaanku.Mau jual kerbau-kerbau ini padaku?"

Dalam hati Ario membatin. Pemuda di depannya itu memperlihatkan tindak tandukseperti orang kurang waras. Maka dia bertanya: "Kau bergurau atau bagaimana,sobat?!"

"Orang mau beli kerbau dibilang bergurau!" Wiro menggerutu.

"Kau punya uang untuk membeli ternak ini semua?!" Kunto ajukan pertanyaan.

Dari balik pakaiannya Wiro keluarkan sebuah kantong kulit. Ketika digoyangnyakantong itu mengeluarkan suara berdering. Kunto dan Ario saling pandang. Kuntomendekati kawannya dan berbisik: "Jika bisa dibereskan disini kita tak usahsusah-susah ke kota"

Ario mengangguk.

"Kalau kau punya tiga puluh ringgit perak, kau boleh ambil semua kerbau ini!"berkata Ario.

"Ah, itu terlalu mahal sobat," kata Wiro Sableng. "Terlalu mahal untukkerbau-kerbau kurus tak berdaging yang seperti binatang sakit ini. Apalagikerbau curian pula!"

Paras Ario dan Kunto kontan berubah.

"Pemuda asing. Apa maksudmu mengatakan kerbau curian?" bentak Ario.

"Siapa mengatakan apa?" tanya Wiro.

Kunto jadi jengkel. "Barusan kau menuduh kami pencuri kerbau!"

"Aku tidak menuduh begitu. Aku cuma bilang kerbau ini kerbau curian..."

"Sudah! Tak usah bicara panjang lebar. Kalau kau sanggup bayar dua puluhringgit perak kau boleh ambil kerbau-kerbau ini!"

"Itu juga masih keliwat mahal sobat," kata Wiro sambil timang-timang uang didalam kantong.

"Lalu kau mau bayar berapa?!" bentak Ario.

"Setengah ringgit perak kurasa sudah cukup pantas untuk selusin kerbau ini!"

"Kurang ajar! Kau hendak mempermainkan kami! Bajingan tengik!" Kunto menariktali kekang kudanya hingga binatang ini melompat kehadapan Wiro.

"Siapa yang kurang ajar? Siapa yang bajingan tengik? Siapa pula yangmain-main?" tukar Wiro. Dari dalam kantong kulit di keluarkannya sebuah matauang perak. Dengan kedua tangannya enak saja dia mematahkan uang perak ituhingga terbelah dua. Tentu saja ini membuat Ario dan Kunto terkejut. Karenamematahkan uang perak dengan tangan biasa merupakan suatu hal yang mustahil.

Ario jadi curiga. Jika pemuda asing yang seperti kurang waras ini memilikikepandaian tinggi, bukan tak mungkin dia adalah seorang jagoan dari Kadipatenyang sengaja menyamar untuk membuntuti mereka.

"Orang muda, apakah kau petugas Kadipaten? Atau dari Kotaraja?" tanya Ario.

Wiro Sableng tertawa dan garuk-garuk kepalanya.

"Aku bukan petugas Kadipaten. Apalagi Kotaraja. Aku datang kemari untuk membelikerbau kalian. Nah ini uangnya setengah ringgit. Terimalah!"

Wiro lalu lemparkan potongan uang yang tadi di belahnya ke arah Kunto. Lemparanitu kelihatannya biasa-biasa saja, perlahan. Tetapi begitu mengenai dada Kuntolangsung lelaki ini menjerit kesakitan. Kesakitan dan marah Kunto segera hendakcabut goloknya. Tapi heran! Celaka! Dia tidak bisa menggerakkan tangannya. Jugabagian-bagian tubuhnya yang lain. Sekujurnya badannya kaku tegang! Masih untungdia bisa membuka mulut dan berteriak: "Ario! Bangsat ini menotokku!"

Kagetlah Ario. Tanpa menunggu lebih lama dia segera mencabut goloknya danmembabatkan senjata ini ke kepala Pendekar 212 Wiro Sableng.

"Bajingan tengik! Kau betul-betul ingin mampus!"

"Puah! Kalianlah yang perlu di hajar!" damprat Wiro.

Dia menunduk. Golok Ario berkelebat di atas kepalanya. Sesaat kemudian Arioterdengar menjerit dan seperti Kunto tubuhnyapun kini kaku kejang dihantamtotokan. Tanpa perdulikan jeritan dan caci maki kedua orang itu Wiromembelintangkan Keduanya diatas kuda milik Kunto. Dia sendiri lalu naik ke ataskuda Ario lalu menggiring kedua pencuri itu bersama selusin kerbau menujukampung dimana Kunto dan Ario telah mencuri binatang-binatang tersebut.

Hari telah malam ketika Wiro sampai di kedai di mulut jalan itu. Tapi di dalamkedai orang banyak masih berkumpul menyaksikan pemilik kerbau dan kedua anaknyayang masih berdiri tegak dalam keadaan kaku. Tak ada satu orangpun yang tahubagaimana caranya melepaskan totokan mereka. Banyak yang mencoba dengan jalanmengurut-urut atau memukul-mukul, tetapi sia-sia. Akhirnya semua orang hanyabisa melihat saja tanpa bisa berbuat sesuatu. Dalam keadaan itulah Wiro munculdan masuk kembali kedalam kedai. Serta merta banyak orang menyingkir. Bukansaja mereka merasa takut terhadap pemuda ini, tetapi juga kaget melihat duasosok tubuh yang dilemparkan Wiro ke lantai kedai. Apa pula yang telah terjadi,pikir semua orang.

Orang tua berambut kelabu membuka mulut siap untuk memaki. Tapi Wiro cepatmenutup mulutnya dengan tangan kiri sementara dua anaknya memandang dengan matamelotot, beringas tetapi tak berani keluarkan suara. Kalau saja Keduanya tidakdalam keadaan tertotok, pastilah keduanya sudah menyerang Wiro.

"Orang tua," kata Wiro pula. "Kau lihat pemuda gondrong yang menggeletak didepan kakimu itu? Selintas tampang dan perawakannya mirip aku, bukan?"

Si rambut kelabu sejenak memandang pemuda yang terbujur di lantai dalam keadaantertotok itu. "Apa maksudmu? Siapa mereka?" tanya orang ini begitu Wirolepaskan tekapannya dari mulut lelaki itu.

"Merekalah yang mencuri kerbaumu. Yang gondrong itu bernama Ario. TemannyaKunto. Kerbau-kerbaumu ada di luar kedai!"

"Kurang ajar! Jadi!"

"Jadi ya jadi!" kata Wiro sambil senyum-senyum. "Sekarang kalian baru percayakalau aku bukan pencuri. Nah kalian mau berbuat apa terhadap mereka. Mau keKadipaten memang itu baiknya. Mau di gebuk lebih dulu asal tidak sampai mampus,aku tak mau ikut campur!"

Habis berkata begitu Wiro lantas lepaskan totokan pada tubuh orang tua itu dankedua anaknya. Lalu tanpa berkata apa-apa lagi dia berkelebat ke pintu.

"Hai, tunggu dulu!" seru orang tua pemilik kerbau. Dia dan kedua anaknyamengejar ke pintu. Namun sampai di luar dia hanya melihat kegelapan. Selusinkerbau mereka berkeliaran di halaman kedai.





KIRA-KIRA setengah hari perjalanan dari gunung Muryo disebelah tenggara terdapat sebuah bukit kecil yang amat rimbun di tumbuhi semakbelukar dan pepohonan liar. Menurut penduduk yang tinggal jauh dari situ, konontak pernah seorang manusiapun sejak tiga puluh tahun silam berani berada dekatbukit itu. Apalagi coba mendatanginya. Pohon-pohon jati yang tumbuh disitu amatbagus jenisnya. Namun tak seorangpun penebang kayu yang mau datang kesitu untukmenebangnya. Kenapa sampai terjadi demikian tentu ada sebab-musababnya.

Menurut orang-orang tua yang tahu kisahnya, sebelum tiga puluh tahun yang lalu,bukit itu seperti bukit-bukit lainnya di sekitar situ banyak di datangi orang.Kemudian terbetik berita bahwa setiap orang yang berani datang ke bukit itupasti tak akan kembali lagi. Entah hilang kesasar entah mati. Yang jelas orangatau mayatnya tak pernah di temui kembali.

Selama bertahun-tahun terjadi hal semacam itu hingga penduduk takut. Bukit itudi anggap angker. Tak seorangpun lagi berani datang dekat-dekat ke situ. Danentah siapa yang mulai menamakannya, bukit satu itu lalu diberi nama BukitHantu!

Pada malam-malam tertentu, terutama ketika sedang gelap bulan, dari puncakbukit terdengar suara pekik jerit aneh mengerikan. Sekali-sekali suara jeritanitu diseling oleh lolongan anjing. Karena diketahui tak seorangpun diam dibukit itu.

Namun hari itu terjadi satu kelainan yang bisa di katakan satu keluar biasaan.Sewaktu awan kelabu bergerak dan berarak dari arah tenggara, seorang penunggangkuda berpakaian mewah tampak memacu kuda tunggangannya menuju Bukit Hantu.Apakah dia seorang asing yang tidak tahu angker dan bahayanya memasuki daerahitu? Tetapi dari gerak-gerik dan caranya orang ini menunggangi kuda menempuhjalan agaknya dia mengetahui betul seluk beluk daerah tersebut.Sekurang-kurangnya pernah mendatangi tempat itu sebelumnya.

Di pertengahan lereng Bukit hantu, orang ini hentikan kudanya. Sesaat diamemandang berkeliling, lalu mengelus tengkuk kudanya sambil bergerak turun.

"Kembalilah pulang. Cukup kau mengantarkan aku sampai di sini..."

Sang kuda, yang sejak tadi dari kaki bukit menunjukan sikap aneh, tiba-tibamenaikkan kedua kakinya tinggi-tinggi dan meringkik keras, lalu membalikkantubuh dan lari meninggalkan tuannya.

Orang berpakaian bagus dan mahal itu menghela nafas dalam. Paling tidak usianyasudah mencapai lima puluh tahun. Meskipun tampangnya sudah mulai keriputan tapijuga membayangkan sifat keras dan buas!

Tak lama sesudah kudanya pergi, orang ini melanjutkan perjalannnya menujupuncak bukit dengan jalan kaki. Kira-kira sepeminuman teh lagi dia akan sampaike puncak Bukit Hantu, jalan yang di tempuhnya mulai tidak sesukar sebelumnya.Semak belukar hampir tak ada sama sekali seperti pernah di tebang dan dirapikan orang. Bahkan di hadapannya kini muncul satu jalan kecil dan ratamenuju ke puncak. Dimulut jalan kecil mendadak sontak sepasang kaki orang iniberhenti melangkah dan laksana dipakukan ketanah!

Dia sudah mendengar seribu satu macam kangkeran yang ada di bukit itu. Tapiadalah tidak menduga sama sekali kalau apa yang di saksikannya di hadapannyasaat itu benar-benar akan membuat tubuhnya mengeluarkan keringat dingin! Tigapuluh tahun yang silam, selagi dia masih seorang pemuda, pemandangan itu belumada. Pastilah apa yang kini dilihatnya berasal dari puluhan manusia yang pernahdikabarkan hilang di Bukit Hantu!

Berdiri disitu maulah laki-laki ini membalikkan tubuh dan lari meninggalkanbukit tersebut. Namun sesuai dengan ketentuan, hari itu adalah "HariPerjanjian". Dia harus datang sesuai dengan sumpahnya. Kalau dia mungkin,makhluk aneh mengerikan, yang selalu mendatanginya setiap malam Jum'at akandatang lagi kepadanya dan sekali ini untuk mencekiknya sampai mati, mencopot kepalanya!

Agaknya tak ada jalan kembali. Memutar haluan berarti mati secara mengerikan.

Sekilas tebayang olehnya istri serta keempat orang anak yang disayanginya. Diaakan meninggalkan mereka semua untuk selama-lamanya demi memenuhi sumpah tigapuluh tahun yang lewat. Tapi tak apa. Dia coba menghibur diri. Toh istri dananak-anaknya kini hidup bahagia dalam sebuah rumah besar dan mewah, hartaberlimpah, sawah lading luas, ternak berkandang-kandang. Semua kekayaan itu takakan habis sampai tujuh turunan.

Dikatupkannya mulut rapat-rapat. Dengan menetapkan hati serta pikiran danmelangkah maju kembali. Jalan kecil di hadapannya tampak memutih. Putih olehtulang belulang manusia beraneka bentuk. Dan di atas jalan tulang belulanginilah kakinya melangkah. Kedua tepi jalan kecil itu dibatasi dengan puluhantengkorak kepala manusia. Tubuhnya terasa bergetar. Dia terus melangkah.Perutnya terasa mual. Akhirnya dia sampai di ujung jalan. Dihadapannya tegakkini sebuah bangunan kecil yang keseluruhannya terbuat dari tulang belulangmanusia. Berapa puluh atau berapa ratus manusiakah yang telah jadi korban diatas bukit ini? Dari sela-sela dinding tulang kelihatan merambas asap anekawarna. Hidungnya dilanda oleh bau aneh. Bau harum aneh yang menggidikkan karenaberbaur jadi satu dengan bau anyir busuk!

Bangunan kecil itu mempunyai sebuah pintu yang tidak tertutup. Dari tempatnyaberdiri, lelaki tadi dapat melihat kedalam. Di dalam bangunan tulang ini tampakduduk seorang lelaki kurus bermuka dahsyat. Jika dia masih benar seorangmanusia maka wajahnya adalah sepuluh kali lebih mengerikan dari wajah setan!Manusia ini memiliki rambut putih panjang yang menutupi Sebagian wajahnya. Dibelakang tikar kecil dimana manusia ini duduk terdapat lima buah belanga. Didalam belanga ada cairan masing-masing berwarna hitam, merah, biru, ungu danhijau. Dari setiap belanga mengepul asap yang warnannya sesuai dengan cairan didalamnya.

Orang itu menggerakkan kepalanya. Rambut putih yang menutupi sebagian wajahnyatersibak. Kini kelihatanlah keseluruhan wajahnya yang mengerikan itu.

Lelaki di ambang pintu serasa terbang semangatnya sewaktu si muka setantiba-tiba mengeluarkan suara seperti lolongan srigala di malam buta. Begitukerasnya lolongan itu hingga bangunan tulang belulang serta tanah yang di pijakterasa bergetar. Anehnya mulut si muka setan sedikitpun tak kelihatan membuka!

Sesaat kemudian terdengar suaranya: "Bagus! Kau datang tepat pada waktunyaSonya! Sebelum kau melangkah ke hadapanku, sebelum kau memasuki bangunan ini,tanggalkan dulu pakaian bagusmu dan pakai ini!" Ternyata suara si muka setanhalus seperti perempuan, hanya saja mengandung pengaruh yang hebat luar biasa.Dari balik pakaiannya yang seperti jubah berwarna hitam di keluarkannya satustel pakaian butut penuh tambalan dan bau apek. Pakaian itu dilemparkannyakehadapan orang di ambang pintu yang dipanggilnya dengan nama Sonya.

Setelah lebih dulu menjura, Sonya mengambil pakaian butut bau itu. Dibukanyapakaian yang dikenakannya, dilemparkannya jauh-jauh lalu dikenakannya pakaianyang diberikan si muka setan. Setelah berganti pakaian diapun masuk ke dalambangunan tulang.

"Duduk!"

Si muka setan tudingkan jarinya yang kurus dan berkuku panjang. Sonya lalududuk di hadapannya.

"Ceritakan dengan singkat garis kehidupanmu sejak tiga puluh tahun silam kaumeninggalkan bukit ini!" kata si muka setan pula.

Sonya menelan ludahnya baru menjawab: "Berkat ilmu yang Datuk ajarkan aku telahmenjadi kaya raya. Aku kawin dan punya empat orang anak."

"Kau senang? Bahagia...?"

Sonya mengangguk.

"Pada detik kau duduk di hadapanku ini, kau telah dan harus meninggalkankesenangan dan kebahagiaan itu!"

"Aku tahu Datuk," jawab Sonya.

"Kau bakal dapat kebahagiaan lain! Asal saja kau tempuh cara hidup seperti yangkututurkan tiga puluh tahun yang lewat!"

"Aku akan tempuh Datuk."

"Lengkap dengan syarat utamannya!"

"Lengkap dengan syarat utamannya, " mengulang Sonya.

"Bagus. Sekarang coba kau katakan syarat utama itu!"

"Syarat utama itu ialah setiap permulaan tahun baru aku harus membunuh anakkuyang paling kecil dan melemparkannya ke dalam laut." Suara Sonya bergetar.

"Bagus! Ternyata kau betul-betul masih ingat syarat utama itu!" kata sang Datukpula. Lalu dari mulutnya keluar suara tawa aneh menggidikkan. Kemudian sambilmenuding ke belakang dia bertanya: "Adakah kau melihat lima buah belanga itu?"

"Ada Datuk."

"Berdirilah!"

Sonya berdiri.

"Di dalam belanga itu terdapat cairan berlainan warna. Masing-masing cairanharus kau minum sebanyak tiga teguk. Sebagian sisanya diguyurkan ke kepala danbadanmu. Segera mulai dengan belanga di ujung kiri!"

Sonya melangkah mendekati belanga di ujung kiri. Di situ terdapat cairanberwarna merah pekat, kental dan mengepulkan asap. Sesuai dengan perintah sangDatuk muka setan maka diminumnya cairan itu sebanyak tiga teguk. Belum lagiminum, baru mencium bau cairan, Perutnya sudah terasa mual dan tenggorokannyamau muntah.

"Kau ragu Sonya?!" suara sang Datuk bernada menegur dan mengancam Sonya segerameneguk cairan busuk itu tiga teguk. Lalu menyiram kepala dan badannya dengancairan yang sama. Kemudian dia mendekati belanga kedua dan seterusnya.

"Sudah Datuk," suara Sonya seperti tercekik.

"Bagus. Sekarang duduk di hadapanku!"

Dengan sekujur kepala serta pakaian basah kuyup dan berbau busuk, Sonya dudukkembali di hadapan si muka setan.

"Pejamkan matamu Sonya!"

Sonya Menurut dan pejamkan matanya.

"Sekarang buka!"

Sonya buka kedua matanya. Pandangan matanya kini membersit aneh. Liarmenyeramkan. Bagian mata yang tadi putih kini kelihatan merah.

"Bagaimana perasaanmu?" bertanya Datuk.

"Tubuhku terasa hangat. Sangat ringan. Di samping itu ada perasaan aneh, yangaku tidak tahu, menyelimuti diriku..."

"Itu bukan perasaan aneh. Kau harus dapat menerangkannya. Ayo!"

Sonya berpikir kemudian menjawab. "Betul. Bukan perasaan aneh. Perasaan ituadalah nafsu. Nafsu untuk membunuh. Nafsu untuk ingin melihat kematian manusialain secara mengerikan!"

Orang tua berambut putih panjang bermuka setan tertawa panjang. "Bukan hanyanafsu untuk membunuh Sonya! Bukan hanya hasrat untuk melihat kematian yangmenyeramkan. Tapi ada lagi satu nafsu kini mendekam dalam tubuhmu. Nafsukotor!"

Sonya mengangguk aneh.

"Ya. Nafsu kotor," katanya mengulang. "Nafsu terhadap perempuan," sambungnyadengan suara berdesis.

Kembali sang Datuk keluarkan suara tertawa panjang.

"Bila kau sudah meninggalkan tempat ini, kau harus hidup menurut kehendakhatimu Sonya. Menurut nafsu yang kini tertanam dalam dirimu! Kau boleh membunuhsemaumu. Kau boleh mengumbar nafsumu terhadap perempuan mana saja yang kauinginkan! Tentunya kau pilih yang cantik-cantik bukan Sonya? Tak perduli anakatau istri orang. Apalagi janda...hik...hik...hik!"

Sonya hanya bisa mengangguk.

"Sebelum pergi kau harus tinggal disini selama satu minggu. Sesudah itu barukau boleh pergi. Dengar Sonya?"

"Tentu Datuk."

"Kelak jika ilmu itu telah kau kuasai, dunia luar akan menjadi geger! Dan taksatu tokoh silat atau orang saktipun di dunia luar yang dapat mengalahkanmu!Itulah kehebatan ilmu siluman cipataanku!" Sang Datuk tertawa lagi panjang danlama.

Sonya ikut tertawa.

Tiba-tiba sang Datuk hentikan tawanya dan berdiri.

"Kau akan tinggal selama tujuh hari disini. Selama tujuh hari kau akan tidurbersamaku, melayaniku sambil aku mengajarkan ilmu padamu. Kau dengar danmengerti Sonya?"

"Dengar Datuk, tapi kurang mengerti..."

Sang Datuk menyeringai dan tertawa kembali. Tiba-tiba dia buka jubah hitamnyadan kini dia tegak berdiri dihadapan Sonya dalam keadaan tanpa pakaian samasekali!

Sonya terbeliak kaget. Dari sosok tubuh telanjang yang berdiri di hadapannyaitu tidak disangkanya kalau sang Datuk ternyata adalah seorang perempuan!

"Datuk, jadi kau..."

"Hik...hik...hik. Aku memang seorang perempuan Sonya. Kau kecewa tubuhku tidaksebagus tubuh perempuan muda...?!"

"Ti...tidak Datuk," sahut Sonya. Walau yang dilihatnya memang hanya tubuh tinggalkulit pembalut tulang. Perut dan dada keriput.

"Sekarang kau harus lebih dulu melayaniku Sonya..."

Meski tubuh itu jelek luar biasa, tapi nafsu aneh mendekam dalam dirinya telahmembakar birahi Sonya. Dia mengangguk dan melangkah mendekat. Lalu sepertiseekor singa lapar dirangkulnya tubuh sang Datuk. Keduanya segera sajaberguling di lantai!PAGI harikedelapan. Sonya duduk di hadapan sang Datuk muka setan.

"Semua ilmu baru cipataanku telah kau kuasai Sonya. Sebelum kau meninggalkantempat ini akan kutegaskan lagi Beberapa hal kepadamu. Pertama begitu turundari bukit ini kau harus pergi ke TELUK GONGGO di pantai utara. Akutelah membangun sebuah tempat di sana yang dapat kau tinggali sebagai istana.Dari luar pintu bangunan itu hanya merupakan sebuah goa buruk, mudah sajamencarinya.

Hal kedua yang akan kuberitahukan ialah selama dunia terkembang kau tak bakalmengalami kematian. Kecuali jika terjadi dua hal. Pertama Kau tak boleh kenaair hujan. Jika itu sampai terjadi ilmu siluman yang kau miliki akan luntur danseseorang dengan mudah bakal dapat membunuhmu! Pantangan kedua yang bisamenyebabkan kematianmu ialah binatang itu..."

Datuk muka setan mendongak ke atas langit-langit bangunan. Di sana di dalamsebuah sangkar yang terbuat dari tulang-tulang iga manusia tampak seekor burungnuri merah.

"Nyawamu adalah juga nyawanya Sonya. Dengan kata lain kau baru bisa mati kalauseseorang membunuh burung itu!"

"Bagaimana kalau binatang itu sewaktu-waktu sakit dan mati. Apakah aku jugaakan mati Datuk?"

"Tidak, kau tidak akan mati. Cuma mampus! Karenanya kau harus rawat diabaik-baik!" kata Datuk sambil tertawa gelak-gelak. "Dan jangan lupa syaratutama tempo hari. Kau tidak diperkenankan menjenguk anak istrimu; Pada hariPertama pergantian tahun kau baru boleh mendatangi mereka, tapi hanya untukmembunuh anakmu yang paling kecil! Tahun berikutnya anakmu yang paling muda,begitu seterusnya. Jika keempat anakmu sudah habis maka kau harus mencari anakorang lain tapi yang berusia tidak boleh lebih dari tiga tahun!"

Sonya mengangguk tanda mengerti.

"Jika kau lalai melaksanakan syarat itu maka siluman peliharaanku akanmendatangimu. Menyiksamu selama tujuh tahun sebelum menamatkan riwayatmu!" SangDatuk lalu mengambil burung Nuri dalam sangkar dan menyerahkannya pada Sonya."Bawa ini dan simpan di istanamu di Teluk Gonggo. Sebelum kau pergi ada satuhal yang akan terjadi Sonya."

"Hal apakah Datuk?" tanya Sonya sambil mengambil burung Nuri.

"Nanti kau akan lihat sendiri. Jika hal itu sudah terjadi kau bakarlah bangunanini dengan segala apa yang ada di dalamnya! Dengan segala apa yang ada didalamnya! Ingat itu baik-baik!"

Selesai berkata begitu Datuk muka setan menyeringai aneh. "Kau puas melayanikuselama satu minggu Sonya?"

"Puas Datuk." Diam-diam Sonya menduga sang Datuk akan menyuruhnya lagi melayaninafsu gilanya. Sang Datuk melolong panjang.

"Bagus. Kalau begitu aku akan mati dengan perasaan tenang!" Selesai berkatabegitu sang Datuk hantamkan tinju kanannya ke kepalanya sendiri!

Prak!

Tak ampun lagi kepala itu pun pecah. Darah dan otak berhamburan. Tubuhnyaterguling tanpa nyawa. Sonya kaget bukan main. Tubuhnya bergetar dan dari selabibirnya tiba-tiba melesit suara tertawa aneh disusul suara lolongan sepertisrigala. Dia tertawa menyaksikan kematian menyeramkan gurunya sendiri!

Sesuai dengan pesan sang guru, semua yang ada di dalam bangunan harus dimusnahkan!

—-





BUKIT HANTU........?" kata orang kedai sambil memandang tamunyayang duduk mengunyah nasi di hadapannya.

Wiro mengangguk.

"Orang muda, rupanya kau belum pernah mendengar berita atau cerita tentangbukit itu hingga menanyakan jalan terdekat menuju ke situ!"

"Banyak sekali yang kudengar pak."

"Kalau begitu pikiranmu kurang sehat. Selama ini tak seorangpun beranidekat-dekat kesana, apalagi bermaksud mengunjunginya. Siapa yang beranimendekati bukit itu tak pernah kembali. Jangankan kau yang punya satu nyawa,sekalipun kau punya tiga nyawa pasti ketiga nyawamu bakal melayang!"

"Sudahlah pak, kalau kau tak keberatan tunjukan saja arahnya. Soal mati biaraku yang tanggung akibatnya."

Pemilik kedai angkat bau. Dia menunjuk lewat pintu kedai. "Lihat gunung itu?"

Wiro manggut.

"Itu gunung Muryo. Pergilah ke arah tenggara. Di sana akan kau temui daerahberbukit-bukit. Bukit paling tinggi itulah Bukit Hantu!"

Selesai makan, Wiro membayar apa-apa yang dipesannya lalu cepat-cepatmeninggalkan tempat itu diikuti pandangan pemilik kedai. "Masih ada saja orangyang mencari mati di dunia ini!" gumamnya.

Dengan mengandalkan ilmu larinya, tak lama Setelah matahari pagi naik, Pendekar212 Wiro Sableng sudah sampai di puncak Bukit Hantu. Ternyata dia terlambat.Hanya sepenanakan nasi sebelumnya Sonya meninggalkan tempat itu. Yangditemuinya hanyalah tumpukan tulang belulang yang menghitam jadi arang. Ketikadiperhatikannya lebih teliti, dibawah tumpukan tulang belulang putih itudilihatnya sesosok tubuh manusia yang telah gosong. Dengan sebatang cabang kayukecil disibakannya tulang-tulang itu.

"Pasti ini si keparat Datuk Siluman," kata Wiro dalam hati. "Sialan. Akuterlambat. Seseorang telah duluan membunuhnya!" Meskipun bukan dia yang turuntangan namun murid Eyang Sinto Gendeng ini merasa lega juga karena manusiapenimbul malapetaka besar bagi dunia persilatan telah tamat riwayatnya.

Karena tak ada hal lain yang akan dilakukannya maka Wiro segera meninggalkanBukit Hantu sambil bersiul-siul. Jalan yang ditempuhnya justru yang sebelumnyajuga ditempuh oleh Sonya!

Satu bulan yang lalu, beberapa tokoh silat di wilayah timur telah memintabantuan Pendekar 212 untuk memusnahkan Datuk Siluman yang bercokol di BukitHantu. Hidup matinya manusia jahat ini amat menentukan ketentraman duniapersilatan. Bukan rahasia lagi bahwa diketahui Datuk Siluman itu telahmenciptakan suatu ilmu hitam yang amat hebat, dan kelak akan menimbulkan malapetakadahsyat bilamana tidak segera dicegah. Nyatanya kini Datuk golongan hitam itutelah menemui ajalnya. Seseorang telah menghancurkan batok kepalanya lalumembakar sang Datuk bersama tempat kediamannya. Siapakah yang telah melakukanhal itu? Jago atau tokoh silat dari mana? Tentu saja Wiro tidak mengetahuikalau Datuk Siluman sengaja bunuh diri setelah lebih dulu mewariskan semua ilmuhitam yang dimilikinya kepada murid tunggalnya yang cuma di gembleng selamasatu minggu yaitu Sonya.

Kita tanggalkan dulu perjalanan Wiro dan mengikuti perjalanan Sonya. Saat itudia tengah menuju ke pantai utara, yaitu sesuai dengan perintah gurunya. Diaberada sekitar dua jam perjalanan di depan Wiro. Menjelang tengah hari Sonyasampai di tepi sebuah telaga berair jernih. Dia berhenti di situ dan duduk dibawah pohon yang rindang. Burung Nuri dalam sangkar tulang yang jadi pautannyawanya di letakan di tanah dijaganya hati-hati.

Udara yang panas seperti saat itu membuat dia ingin turun ke telaga dan mandi.Tapi dia khawatir kalau-kalau disekitar situ ada binatang buas yang selagi diamandi menyergap burung Nurinya. Sekali burung itu disergap binatang buas makaputus pulalah nyawanya!

Setelah hilang letihnya, Sonya bersiap meninggalkan tepian telaga. Pada saatitulah lapat-lapat didengarnya suara rentak kaki kuda dan gemeletak roda-rodakereta. Sonya menyelinap dan bersembunyi ke balik pohon besar. Tak lamakemudian kelihatanlah serombongan penunggang kuda mengawal sebuah keretabarang. Begitu melihat telaga berair jernih dan sejuk, lelaki gemuk berpakaianbagus yang duduk di samping kusir kereta berseru: "Kita istirahat dulu disini!"

Maka rombonganpun berhentilah.

Lelaki gemuk berpakaian bagus itu adalah seorang saudagar kayu yang tengahmembawa barang dagangannya menuju Jepara. Namanya Raden Mas Kuncoro. Bersamanyaikut lima orang pengawal yang dipimpin oleh Rah Brojo, seorang jago silatberkepandaian tinggi. Memang meskipun masa itu daerah Jawa Tengah cukup aman,tetapi saudagar seperti Raden Mas Kuncoro mana berani mengangkut barang tanpapengawal. Sudah lazim para pedagang menyewa pengawal-pengawal berkepandaiantinggi demi keselamatan harta dan nyawa selama perjalanan.

Sang saudagar turun dari kereta. Setelah meneguk air sejuk dari dalam sebuahkantong kulit yang dibawanya, diapun melangkah ke tepi telaga guna mencuci mukaserta kakinya. Saat itulah pandangannya menangkap sosok tubuh Sonya yangberdiri di balik pohon besar sambil memegangi sebuah sangkar aneh berisi Nurimerah.

Raden Mas Kuncoro adalah seorang saudagar yang gemar memelihara burung. Ditempat kediamannya sengaja dia membangun sebuah bangunan besar dimanadipeliharanya puluhan jenis burung yang bagus-bagus. Melihat Sonya berdirimemegangi burung Nuri tertariklah hatinya. Dia seperti tidak melihat kelainanpada tampang dan pakaian Sonya. Pikirannya hanya tertuju pada burung dalamsangkar tulang. Sementara rombongan duduk di tepi telaga sebelah lain, Kuncoromelangkah mendatangi Sonya.

"Burung Nuri itu bagus sekali," Raden Mas Kuncoro menyapa. Sambil tersenyum.

Sonya diam saja.

"Burungmu?"

"Ya, Kenapa?" Sonya balik bertanya.

"Bagus sekali. Bagus sekali. Belum pernah aku melihat Nuri seperti satu ini."Saudagar itu membungkuk agar dapat melihat binatang itu lebih jelas."Sangkarnya Kenapa aneh begini?"

"Bagiku tidak aneh," sahut Sonya kaku.

Kuncoro mengangkut kepalanya. Sikap pemilik burung itu dianggapnya tidak ramah.Membuatnya tidak enak. Ketika diperhatikannya tampang Sonya hatinya tambahtidak enak. Ada rasa ngeri melihat wajah manusia itu. Lalu pakaiannya yang kotorpenuh tambalan dan bau busuk yang membersit dari tubuh orang itu.

"Dengar saudara," kata Kuncoro. "Aku seorang penggemar burung. Kau mau menjualNuri ini?"

Sonya seperti kaget. Tetapi sesaat kemudian dia tersenyum. Senyum aneh di matasang saudagar.

"Katakan saja harganya pasti kubayar," kata Raden Mas Kuncoro seraya merabasabuk uang di pinggangnya.

"Burung ini tak kujual," kata Sonya tandas.

"Sepuluh ringgit emas!" kata Raden Mas Koncoro tak tanggung-tanggung. Sepuluhringgit emas adalah harga gila dan amat mahal untuk seekor burung meskipunsebagus Nuri itu. Tapi bagi seseorang yang senang akan suatu benda harga bukanmenjadi persoalan. Apalagi bagi seorang seperti saudagar itu. Sepuluh ringgitemas bukan apa-apa baginya. Dengan tenang Kuncoro keluarkan sabuk uangnya.

Sonya pencongkan mulut dan berkata: "Lima puluh ringgit emas pun burung ini takakan kujual!"

Saudagar itu terkesiap sejenak. Dia berpikir-pikir. Lalu sambil tersenyum diaberkata: "Begini saja saudara, kau ikut kerumahku. Di sana kau boleh pilih tigaekor Nuri yang sama seperti ini. Kemudian kutambah dua puluh ringgit emas danserahkan Nuri itu padaku!" Sang saudagar merasa pasti kali ini Sonya akanmenyetujui. Tapi jawaban Sonya membuat dia terkejut.

"Sekali aku bilang burung ini tidak dijual, tetap tak akan kujual. Kau tidaktuli bukan?!"

"Tiga burung Nuri ditambah tiga puluh ringgit emas!" kata Raden Mas Kuncorosambil mengangkat kedua tangannya."Sekalipunnyawamu nanti kau berikan padaku burung ini tak akan kujual!" sahut Sonya danmemutar tubuh meninggalkan tempat itu. Kuncoro memegang bahunya.

"Tawaranku masih belum selesai. Aku bisa menaikkannya lagi. Berapa kau suka,saudara? Kau jangan main-main...."

Sonya hentikan langkahnya, berpaling menghadapi Kuncoro. Sepasang matanyamembersitkan sinar aneh. Sinar menggidikkan.

"Siapa bilang aku main-main. Aku akan buktikan bahwa aku tidak main-main. Nahmampuslah!"

Sonya mengangkat tangan kanannya. Lima jari tangan kanannya yang berkukupanjang terpentang mengerikan. Lalu terdengar pekik Raden Mas Kuncoro. Tubuhnyaroboh ditepi telaga. Mukanya hancur mengerikan. Hampir tak dapat dikenali lagi.Hidungnya tanggal dan mulutnya robek. Itulah keganasan "Cakar Siluman", ilmuyang telah dipergunakan Sonya untuk menamatkan sang saudagar hanya dengansekali gerakan saja!

Mendengar jeritan Kuncoro dan melihat sosok tubuh saudagar itu roboh ke tanah,lima pengawal tersentak kaget dan melompat mendatangi. Rah Brojo paling depan.Matanya membeliak melihat kematian sang saudagar.

Suaranya bergetar, rahangnya menggembung. "Orang asing! Pasal apakah maka kausampai membunuhnya begini keji?!"

"Tak ada pasal tak ada lantaran!" jawab Sonya.

"Kenapa kau lalu membunuhnya?"

"Karena aku ingin membunuhnya. Habis perkara!"

"Kalau begitu kau adalah iblis edan yang harus dihajar!"

Rah Brojo hantamkan satu jotosan ke dada Sonya. Gerakannya cepat dan keras.Yang di serang tertawa aneh. Sinar mengerikan kembali membersit di keduamatanya. Dia berkelit mengelakkan jotosan lawan. Di lain kejap sambil dibarengiteriakan "Mampuslah!", tangan kanannya kirimkan cakaran ke muka kepala pengawalitu.

Sebagai kepala pengawal kereta dagang Rah Brojo memiliki ilmu silat tinggiditambah segudang pengalaman. Cepat-cepat dia menghindar ke samping. Cakaranlawan berhasil dielakkannya. Tapi kelima jari tangan itu tiba-tiba sajamembalik cepat dan memburu ke mukanya. Kali ini Rah Brojo tak sanggup lagiberkelit. Jeritannya yang terdengar. Tubuhnya terhempas ke tanah. Dia matidengan muka rusak mengerikan seperti yang barusan dialami Raden Mas Kuncoro.

"Manusia biadab! Bersiaplah untuk mati!" teriak seorang pengawal kereta.Bersama tiga kawannya, dengan bersenjatakan golok dan dibantu pula oleh kusirkereta yang memegang sepotong besi panjang , mereka serentak mengurung danmenyerbu Sonya!

Dikeroyok lima begitu rupa Sonya menunggu dengan keluarkan suara aneh. Dengantangan kiri masih tetap memegang sangkar tulang, lelaki ini berkelebat. Kelimapenyerangnya terkesiap ketika mendapatkan orang yang menjadi sasaran lenyapdari hadapan mereka. Senjata masing-masing malah ada yang saling beradu satusama lain. Belum habis rasa kaget mereka tiba-tiba terdengar bentakan:

"Mampuslah!"

Setelah itu suara pekik terdengar susul-menyusul. Empat pengawal tersungkur ditanah dengan muka hancur mengerikan. Satu-satunya yang masih hidup yakin kusirkereta, yang lumer nyalinya, tanpa tunggu lebih lama segera putar badan ambillangkah seribu. Tapi nasibnya cuma tertunda tiga langkah. Pada langkah ke empatlima jari tangan dengan ganas berkelebat di depannya. Untuk kesekian kalinyalima jari siluman meminta korban!

Sonya membersihkan tangannya yang penuh darah. Lalu dia menggeledah pakaianpara korban. Setiap uang dan benda berharga yang ditemuinya diambilnya. Jumlahterbanyak yang didapatnya adalah dari tubuh Raden Mas Kuncoro.

Pendekar 212 Wiro Sableng yang sampai di tempat itu dua jam kemudian merasaheran menemukan beberapa ekor kuda dan kereta tanpa kelihatan seorangmanusiapun. Namun keheranannya itu berubah menjadi rasa terkejut sewaktumenemui tujuh mayat yang bergelimpangan di tepi telaga. Semuanya mati denganmuka hancur mengerikan!

Murid Sinto Gendeng ini mengrenyit, geleng-geleng kepala dan garuk rambutnya.

Apa yang sebenarnya telah terjadi di sini? Rombongan itu di serang rampok? Lalumengapa kereta barang tidak di ganggu?

"Gila!" maki Wiro dalam hati.

Setelah mengurus jenazah itu sebisa yang dilakukannya dia lalu lanjutkanperjalanan.

—-Sonya sengaja menempuh hutan belantara agar lebih cepatsampai ke tujuan yaitu Teluk Gonggo di pantai utara. Namun sewaktu malam tibadan Perutnya terasa lapar, mau tak mau dia segera mendatangi kampung terdekat.

Kampung Waringin merupakan kampung ramai karena terletak dipersimpangan tigajalan arus perdagangan. Kampung ini tidak beda dengan sebuah kampung kecil.Disini terdapat sebuah rumah makan yang bagian belakangnya disewakan untukpenginapan. Kesinilah Sonya pergi untuk mengisi perutnya.

Di dalam rumah makan saat itu telah banyak pengunjungnya. Kedatangan Sonyatentu saja menarik perhatian tamu dan pemilik kedai. Bajunya yang kotor penuhtambalan dan bau badannya yang busuk membuat semua orang merasa jijik danmenjauhi. Tapi Sonya mengambil tempat duduk tanpa perdulikan hal itu.

"Pengemis dari mana yang berani-beranian masuk ke kedaiku!" kata pemilik kedaidalam hati dengan mendongkol. Mula-mula hendak disuruhnya Sonya keluar. Tapiketika dilihatnya wajah Sonya yang membayangkan sinar aneh, beratlah dugaannyabahwa Sonya adalah seorang pengemis berotak miring. Agar tidak terjadikeributan maka pemilik kedai ini membiarkan saja Sonya duduk disalah satusudut.

Sonya berseru memanggil pelayan dan memesan makanan. Setelah mendengar makananapa yang diminta oleh tamunya, maka bertanyalah pelayan rumah makan itu.

"Pengemis, apakah kau punya cukup uang untuk membayar harga makanan mahal yangkau pesan?"

Air muka Sonya tampak berubah. Kelam membatu dan sepasang matanya membersitkansinar menggidikkan.

"Katakan berapa harga kepalamu. Aku akan bayar detik ini juga!" kata Sonya padasi pelayan.

Karena ngeri, si pelayan cepat-cepat memutar tubuh. Ucapan Sonya ini membuatsemua orang tambah memperhatikannya dan juga burung Nuri dalam sangkar anehyang diletakannya di atas meja.

Kebetulan saat itu di rumah makan tersebut terdapat rombongan AdipatiCokroningrat dari Leles. Sambil menyantap makanannya Adipati memperhatikangerak-gerik Sonya. Sekali-sekali dia berbisik pada pembantu yang duduk disampingnya. Selesai makan sang Adipati mengatakan sesuatu pada pembantunya itudan si pembantu lalu berdiri, melangkah ke hadapan Sonya yang saat itu asyikmenggerogoti paha ayam goreng.

"Pengemis," demikian pembantu Adipati menegur. "Selesai makan harap kau menemuiatasanku. Adipati Leles. Beliau ingin bicara soal burung yang kau bawa ini."

Tidak menjawab apa-apa, seperti tidak mendengarkan orang bicara, Sonya terussaja melahap paha ayam. Pembantu Adipati itu kembali ke tempatnya. Merekamenunggu sampai Sonya selesai makan. Setelah selesai makan dan kelihatannyaSonya masih tetap saja duduk tenang-tenang di tempatnya Cokroningrat berkatapada pembantunya.

"Mungkin dia lupa. Panggil lagi. Suruh ke sini."

Si pembantu datangi Sonya sekali lagi.

"Pengemis, seperti kataku tadi lekas kau menghadapi Adipati!"

Sepasang mata Sonya menyipit.

"Jika dia yang perlukan aku, suruh dia merangkak kemari!"

Kata-kata itu diucapkan Sonya dengan suara lantang hingga semua orang dalamrumah makan ikut mendengar dan terkejut mendengar ucapan yang berani sertakurang ajar itu. Adipati Leles sendiri kelihatan berubah wajahnya. Serta merta,merasa terhina, dia berdiri dan mendatangi meja Sonya. Dia menyeret sebuahkursi dan duduk di hadapan lelaki yang diduganya pengemis itu.

"Kata-katamu tadi kasar dan kurang ajar. Kau tak tahu tengah berhadapan dengansiapa, pengemis bau?"

"Berlalulah dari hadapanku. Atau kusemburkan seribu kata hina dan kotor dimukamu?!"

Rahang Cokroningrat menggembung. Sebetulnya ingin sekali dia menampar mukapengemis itu. Tapi mengingat dia ada satu maksud maka ditahannya kemarahannya.Dia melirik pada burung Nuri merah.

"Burung ini milikmu?"

Sonya mengangguk. Sikapnya tak acuh.

"Sangkarnya aneh. Dari tulang. Tulang kambing atau tulang kerbau?"

Sonya menyeringai. "Itu bukan tulang kambing. Bukan tulang kerbau. Bukan tulangbinatang. Itu tulang belulang manusia!"

Adipati Cokroningrat terkejut. Diperhatikannya lagi sangkar itu. Dia memangbelum pernah melihat tulang belulang manusia. Tapi kalau itu dikatakantulang-tulang manusia tak percaya dia. Pengemis ini agaknya berotak miring.

"Dengar, burung itu tak pantas kau pelihara. Kau pasti tak bisa merawatnya.Jual saja padaku..."

"Oh, itu rupanya maksudmu," ujar Sonya dan lagi-lagi sambil menyeringai."Berapa kau sanggup membelinya, Adipati?"

"Dua ringgit perak!"

Sonya tertawa gelak-gelak.

"Setan, Kenapa pengemis ini tertawa! Dasar gila!" maki Cokroningrat dalam hati.

Dari balik pakaiannya Sonya mengeluarkan dua ringgit emas dan meletakkannya diatas meja.

Terkejutlah sang Adipati. Juga semua orang yang ada di situ. Siapa mendugakalau pengemis edan macam begitu memiliki dua ringgit emas?!

Malu dan terhina Adipati Leles dan berkata. "Baiklah, akan kubayar tiga ringgitemas!"

Sonya kembali mengeruk pinggang pakaiannya. Dikeluarkannya tiga ringgit emasdan diletakannya di atas meja.

"Sudah, kubeli Nurimu enam ringgit emas!" Adipati itu cepat-cepat meletakanenam ringgit emas di hadapan Sonya. Sebaliknya Sonyapun keluarkan enam ringgitemas dan menyodorkannya ke hadapan Cokroningrat!

Kini marahlah Adipati itu. Tapi dia berusaha menahan diri. "Katakan berapa kaumau jual burung itu!"

Sonya tertawa. Sebuah kantong kulit digebrakannya di atas meja. Ini adalahkantong milik saudagar Kuncoro yang telah dibunuh dan dirampoknya. Kantong itudigoyang-goyangnya. Terdengar suara berdering.

Di dalam kantong itu terdapat lebih dari seratus ringgit emas. Kau mau...?

Gelaplah muda Cokroningrat. Dia benar-benar dibikin malu.

"Pengemis hina dina! Mulut dan sikapmu benar-benar keterlaluan!"

"Ambil uangmu dan berlalu dari hadapanku Paduka Adipati sialan!"

"Haram jadah. Kalau kau bukan orang sinting sudah kupecahkan batok kepalamu!"

"Sinting atau tidak, biar aku beri pelajaran manusia kurang ajar ini!" Yangberkata adalah pembantu Adipati. Tapi sang Adipati cepat menarik pembantunya.Setelah mengambil uangnya yang enam ringgit dari atas meja dia kembali ketempat duduknya semula. Dia tak mau terjadi keributan dalam rumah makan itu.Dia berbisik pada pembantunya: "Kita hadang dia ditengah jalan." Sang pembantumengerti dan mengangguk.

"Aneh, kenapa lampu pada mati?" ujar pemilik rumah makan. Dia memanggil pelayandan menyuruh agar lampu di hidupkan. Karena tak ada jawaban maka lampu-lampuitu dihidupkannya sendiri.

Ketika seluruh rumah makan terang benderang kembali maka terkejut dan hebohlahsemua orang yang ada disitu. Betapakan tidak! Pelayan rumah makan kedapatanmenggeletak di lantai dengan muka hancur mengerikan. Nyawanya tak disangsikanlagi pasti sudah melayang. Di seberang sana, Adipati Cokroningrat besertapembantunya mengalami nasib yang sama. Mati dalam keadaan masih duduk di kursimasing-masing, muka hancur, hidung tanggal, biji-biji mata berbusaian dan bibirrobek. Tubuh sang Adipati dan pembantunya berada dalam keadaan kaku tegang,begitu juga si pelayan yang malang. Nyatalah bahwa ketiganya telah ditotoksebelum dibunuh!

Memandang ke sudut ruangan, pengemis aneh tadi dan juga burung Nurinya tak adalagi disitu. Di meja hanya ada sekeping uang perak. Sesuai dengan harga makananyang dipesannya.

Sonya tak mau melewati Jepara karena dia ingin lekas-lekas sampai di TelukGonggo. Dengan ilmu larinya yang aneh, yang dipelajarinya secara aneh daridatuk Siluman, pada hari ke tiga dia sampai pada suatu daerah liar penuh denganbatu-batu. Disini angin bertiup Sangat keras. Satu pertanda bahwa tak lama lagidia akan sampai di daerah pantai.

Menjelang rembang petang, ketika dia mendongak memandang langit, berubahlahparas Sonya. Dari arah tenggara berarak cepat awan tebal hitam. Dalam waktusingkat mendung telah menyungkup udara sedang dikejauhan kilat tampak mulaimenyambar, sesekali diselingi suara gelegar guntur.

Dia berhenti berlari, memandang berkeliling mencari tempat untuk berteduh bilahujan turun. Tak ada sebatang pohonpun yang tumbuh di daerah berbatu-batu itu.Sekalipun ada tak mungkin dia bisa berlindung tanpa terkena air hujan.

Angin bertiup tambah kencang.

Sonya tambah cemas.

Burung dalam sangkar tulang kelihatan gelisah. Binatang ini menggelepar kiankemari dan mengeluarkan suara aneh, membuat Sonya bertambah kecut.

Dalam keputus asaannya Sonya berlari kencang kejurusan timur. Memang nasibnyabaik. Kira-kira sepeminuman teh berlari disalah satu lamping bukit batuditemuinya sebuah lobang setinggi dada. Tak menunggu lebih lama dia segeramemasuki lobang ini. Hanya beberapa saat saja setelah dia masuk ke dalam lobanghujan lebat turun laksana dicurahkan dari langit!

Sonya menarik nafas lega. Wajahnya yang tadi pucat karena ketakutan kiniberdarah kembali. Dia coba masuk lebih jauh ke dalam lobang agar jangan sampaiterkena tampiasan atau percikan air hujan. Angin bertiup keras dan dingin.Akhhirnya dia duduk menjeleplok dalam lobang itu. Setelah duduk beberapa lamaSonya merasakan sesuatu yang aneh. Hawa dingin dari luar tidak terasa lagimeskipun angin masih terus bertiup. Di sekitarnya teras hangat. Di samping ituhidungnya mencium bau harum semerbak. Tak syak lagi hawa hangat dan bau harum itupastilah datang dari dalam lobang. Mungkin ada makhluk penghuni di dalam sana?Tapi mengapa lobang itu tampak gelap dan seperti buntu?

Sambil terus membawa burung Nuri dalam sangkar, perlahan-lahan Sonya masukmembungkuk-bungkuk lebih jauh kedalam lobang. Tambah ke dalam tambah hangatterasa udara dan bau harum semakin keras. Di sebelah atas lobang batu itutampak tambah meninggi hingga kalau tadi dia harus membungkuk-bungkuk, kini diadapat berjalan seperti biasa.

Langkahnya terhenti di hadapan sebuah batu besar hitam dan rata. Semuladisangkanya dia sudah sampai diujung lobang dan buntu. Namun sewaktudiperhatikannya baik-baik, disamping kanan batu ditemuinya sebuah celahsepemasukan tubuh manusia. Sonya melangkah mendekati celah. Hati-hati dia mengulurkankepalanya, mengintai ke ruang di belakang batu.

Sepasang mata Sonya membesar ketika menyaksikan pemandangan yang hampir takdapat dipercayanya. Tepat dibelakang batu hitam itu terdapat sebuah tanggaterbuat dari batu mar-mar putih, menurun menuju sebuah ruangan empat persegiyang lantainya dihampari permadani merah berbunga-bunga.

Di atas permadani itu duduk seorang lelaki tua bermuka putih, berambut kelabumenjela bahu. Di hadapannya bersila seorang perempuan berpakaian kuning polosyang wajahnya tak dapat dilihat oleh Sonya karena duduk memunggungi batu.

Pada saat itu terdengar si orang tua berambut kelabu berkata:

"Muridku, batapapun seseorang mendalami ilmu silat dan kesakitan harus pulamempelajari ilmu yang menyangkut keagamaan serta segala sesuatu yang adahubungannya dengan budi nurani manusia luhur. Itu semua akan menjadi semacamkendali baginya untuk mempergunakan kepandaian silat serta kesaktiannya hanyauntuk maksud kebaikan semata, bukan untuk berbuat jahat. Agama dan hati nuraniluhur mengingatkan seseorang untuk tidak menyeleweng dari rel kebenaran,menjaganya agar jangan menjadi sesat! Karena itulah meski saat ini kau telahmemiliki ilmu silat yang tinggi, namun kau belum mengizinkan kau meninggalkantempat ini guna mencari musuh besarmu. Soal balas dendam soal mudah Dwiyana.Kau harus tinggal disini selama dua tahun lagi guna mempelajari agama dan selukbeluk budi luhur. Sambil belajar itu semua kau sekaligus dapat pula melatih danmemperdalam ilmu silatmu. Bukankah itu lebih baik bagimu?"

"Jika Eyang berpendapat begitu tentu itu memang lebih baik. Dan saya akanmenurut saja..." jawab perempuan berpakaian kuning.

Kini mengertilah Sonya. Kedua orang itu adalah guru dan murid. Dan sang muriddapat dipastikannya adalah seorang gadis. Meski dia belum dapat melihat parasgadis itu, namun satu hawa jahat telah menggerayangi diri Sonya. Sepasangmatanya memancarkan sinar aneh. Ujung lidahnya tiada henti dileletkan membasahibibir sedang cuping hidungnya kembang kempis. Nafsu kotor mulai membakar manusiadengan cepat!

"Nah muridku, kuharap kau tidak kecewa dengan keputusanku ini," kata sang guru.

"Sama sekali tidak Eyang," menyahuti murid yang bernama Dwiyana. "Malah sayamenghaturkan banyak terima kasih atas perhatian dan petunjuk Eyang. Apa yangEyang lakukan semata adalah untuk kebaikan saya."

Sang guru mengangguk-angguk. Lalu batuk-batuk beberapa kali. Sesaat diamemandang ke arah batu hitam di atas ruangan. Dia tampak tersenyum lalu bukamulut:

"Kalau ada tamu di luar sana, megapa berdiri saja? Silahkan masuk.........."

Sonya terkesiap. Dia menahan nafas. Si rambut kelabu itu rupanya memilikiindera keenam. Dengan menyeringai kemudian Sonya memasuki celah. Batu lalumelangkah menuruni anak tangga demi anak tangga. Si orang tua memberi isyaratpada muridnya. Dwiyana berdiri lalu duduk di sudut ruangan.

Di ujung ruangan Sonya hentikan langkah. Sesaat pandangannya saling beradudengan mata orang tua itu. Sebuah lampu kecil kelihatan terletak di sebuahruangan lain, lalu sebuah pendupaan yang mengeluarkan asap harum. Sonya melirikpada Dwiyana. Ternyata gadis itu memiliki paras cantik. Tambah berkobarlahnafsu terkutuk dalam tubuh murid Datuk Siluman ini! Perlahan-lahan diamelangkah ke hadapan orang tua yang duduk bersila di atas permadani merah.—-

Sekali sajamelihat paras Sonya baik si orang tua maupun Dwiyana segera mengetahui bahwamanusia bertampang buruk bengis yang mengenakan baju dekil bertambal-tambal inibukan seorang manusia baik-baik. Sinar matanya menunjukkan hal itu. Namundemikian si orang tua penghuni goa batu mempersilahkan tamunya duduk dengansikap ramah.

"Tamu aneh yang datang membawa burung Nuri dalam sangkar aneh, apakah kauseorang pemburu?"

"Namaku Sonya. Aku bukan pemburu," jawab Sonya dengan nada kaku."Kau sendiri siapa?" dia balik bertanya.

Yang ditanya tersenyum.

"Orang memanggilku Malaikat Berambut Kelabu. Tapi walau bagaimanapun akuhanyalah seorang manusia biasa. Seorang tua peot keriput yang sudah dimakanusia. Namaku Akik Mapel."

Sonya seperti tidak acuh mendengar jawaban itu. Dia lebih tertarik pada gadisyang duduk di sudut ruangan. Dia berpaling pada Dwiyana dan memandanglekat-lekat. Dipandang begitu rupa dengan hati kesal Dwiyana tundukkan kepala.

Untuk kesekian kalinya Sonya basahi lagi bibirnya dengan ujung lidah. AkikMapel juga mulai merasa tak suka dengan tindak tanduk tamu yang tidak diundangini.

"Gadis itu muridmu?" tanya Sonya .

Akik Mapel mengangguk. Sejak tadi dia telah mencium bau busuk yang keluar daritubuh dan pakaian Sonya. Masih untung ruangan itu diasapi dengan ramuanpengharum.

"Di luar hujan. Aku terpaksa berteduh di sini," menerangkan Sonya.

"Aku tahu. Sebenarnya kau datang dari mana dan hendak menuju kemana?"

Sonya mengerling lagi pada Dwiyana. Lalu angkat bahu. "Aku tidak tahudatang dari mana dan kau mau kemana."

"Ah, itu adalah lucu," kata adik Mapel. Dia menggoyangkan kepalanyapada muridnya. "Lekas hidangkan minuman untuk tamu kita."

"Tak usah. Aku tak haus," jawab Sonya cepat. Dia khawatir kalau-kalauAkik Mapel sudah menaruh curiga dan memasukkan sesuatu ke dalam minumannya. Diamalah kini berpikir-pikir apa segera saja bertindak mengumbar keinginan jahatterkutuknya.

"Burung itu milikmu?" tiba-tiba Akik Mapel bertanya.

"Lalu punya siapa lagi? Apa kau menginginkannya?!"

"Tidak. Sama sekali tidak. Aku hanya ingin tahu mengapa binatang itubersangkar aneh."

"Di dalam dunia ini memang banyak hal aneh-aneh, Akik Mapel. Dan semuakeanehan itu berakhir pada kematian!"

Kata-kata Sonya itu membuat Akik Mapel kerenyitkan kening.

"Betul tidak, Akik Mapel?"

Akik Mapel batuk-batuk sebelum menjawab. "Mungkin...mungkin betul,"jawabnya. Diam-diam dia mulai meragukan apakah sang tamu memiliki otak sehat.

"Nah, bagaimana kalau saat ini kukatakan bahwa sebentar lagi akan terjadisatu keanehan yang berkahir pada kematian?"

"Maksudmu Sonya?"

"Bahwa sebentar lagi kau bakal mati di tanganku?!"

Akik Mapel menatap wajah tamunya. Sinar aneh dilihatnya memancar dari sepasangmata Sonya.

"Kau hendak melakukan keanehan yang mahal Sonya. Kalau tidak mau kukatakangila!"

Sonya tertawa gelak-gelak. Lalu disusul oleh suara lolongan panjang sepertiraungan srigala!

Tiba-tiba laksana kilat tangan kanannya yang berkuku panjang meluncur kedepan,mencengkeram ke muka Akik Mapel. Orang tua ini kaget bukan kepalang.Cepat-cepat tangan kanannya diangkat ke atas untuk melindungi muka sekaligusmenepis serangan lawan. Maka terjadilah bentrokan dua lengan yang menimbulkansuara keras!

Akik Mapel merasakan lengannya sakit dan panas. Tubuhnya terhuyung, hampirjatuh terbanting ke atas permadani. Di hadapannya dilihatnya Sonya tertawamenyeringai. Menandakan bahwa manusia bermuka setan ini memiliki kepandaianamat tinggi.

Setelah menenangkan hatinya, Akik Mapel berkata: "Sonya, aku sejak tadimenduga bahwa kedatanganmu kemari tidak membawa maksud baik. Ternyata dugaankuterbukti!"

Sonya kembali tertawa panjang. "Apa kau tuli kakek-kakek pikun? Sudahkukatakan bahwa kau akan mati ditanganku!"

Sekali lagi Sonya menggerakkan tangan kanannya yang berkuku panjang.Melancarkan serangan "cakar siluman" yang sebelumnya telah memintalebih dari setengah lusin korban. Menyadari bahwa lawannya yang berilmu tinggiitu benar-benar ingin mencelakainya, orang tua itu beringsut ke belakang sambiltundukan kepala. Begitu melompat bangun dia tendangkan kaki kanannya ke kepalalawan!

Sonya keluarkan suara lolongan srigala haus daging dan darah manusia. Walaupunkaki kanan Akik Mapel sudah menderu dekat di depan keningnya, tapi dia samasekali tidak membuat gerakan untuk mengelak. Namun tiba-tiba dia tampakmenggerakkan kedua tangannya. Sesaat kemudian Akik Mapel tersentak kaget ketikamerasakan bagaimana pergelangan kaki kanannya tahu-tahu telah dicekal lawanamat kuatnya. Betapapun dia berusaha melepaskan kakinya namun sia-sia belaka.

Akik Mapel tekuk lutut sambil miringkan tubuh ke bawah. Tinju kirinya menderuke dada lawan sedang tangan kanan menemplang ke batok kepala Sonya. Inilahgerakan yang dinamakan "beringin sakti tumbang."

Akan tetapi sebelum kedua tinjunya itu mencapai sasaran, Akik Mapel merasakanpergelangan kakinya dipuntir sakit sekali dan tubuhnya melayang berputar diudara, kemudian terlempar ke dinding ruangan batu!

Jika saja orang tua itu bukan seorang tokoh silat yang lihay, niscaya tubuhnyaakan remuk ketika melabrak dinding batu yang luar biasa kerasnya itu!

Tanpa kehilangan akal karena dilemparkan begitu rupa, Akik Mapel ulurkan keduatangannya ke depan untuk menyentuh dinding batu dengan telapak tangan lalumengandalkan ilmu meringankan tubuhnya yang tinggi, kakek ini jatuhkan diri,seterusnya bergulingan di lantai. Dengan cara begini dia berhasil menyelamatkandiri.

Sonya tertawa mengekeh dan perlahan-lahan bangkit dari duduknya.

"Eyang, biar aku yang menghajar manusia busuk ini!" Dwiyana tiba-tibamelompat dan bergerak mendekati Sonya.

"Kembali ke tempatmu Dwiyana! Kalau belum kugebuk dia, belum puashatiku!" sahut sang guru. Dia sudah dapat mengukur kehebatan lawannya dandiam-diam menyadari kalau ketinggian ilmunya belum bisa menandingi ilmu manusiamuka setan ini, apalagi muridnya. Karena itu dia mencegah tindakan Dwiyana.

"Betul sekali ucapan gurumu. Gadis cantik molek, sebaiknya kau tetap disudut sana. Sayang kalau tubuhmu yang mulus itu tergores luka. Apalagi kalausampai kena gebuk!"

"Sonya!" tukas Akik Mapel. "Aku beri kesempatan padamu untukmeninggalkan goa ini. Kalau tidak, aku akan betul-betul menggebukmu sampaibabak belur!"

Sonya hanya tertawa. Dia pejamkan kedua matanya dan berdiri tanpa bergerak."Kakek pikun. Kau mau menggebukku? Silahkan!"

Mau tak mau Akik Mapel jadi tambah marah dan penasaran. Didahului suaramenggembor orang tua ini menerjang. Gerakan tubuhnya mengeluarkan deru anginderas. Kedua tangannya didorongkan ke depan. Dua larik angin bersiur keras.Ruangan batu bergoyang laksana dilanda lindu. Sonya terhuyung-huyung.

"Setan alas!" maki Sonya marah ketika angin deras serbuan Akik Mapelmembuat sangkar dan burung di dalamnya terlepas dari pegangannya dan mental kesudut ruangan. Di saat itu pula telapak tangan Akik Mapel telah menghantam kearah keningnya, siap untuk menghancurkan kepala Sonya.

Sampai saat itu Akik Mapel mempunyai anggapan bahwa Sonya adalah seorangberilmu tinggi tetapi berotak miring. Karenanya sewaktu serangannyadirasakannya betul-betul akan menamatkan riwayat lawannya itu, timbullahperasaan tak tega di hati orang tua ini. Dia tarik pulang tangannya dan sebagaiganti mengirimkan totokan kilat ke arah pangkal leher.

Sonya mendengus. Dia tahu apa artinya kalau totokan untuk sempat mendarat disasarannya. Untuk kesekian kalinya manusia muka iblis ini keluarkan suaralolongan srigala. Suara lolongannya lenyap sedetik kemudian. Tubuhnya pun ikutlenyap! Akik Mapel terkesiap kaget.

Sebelum orang tua itu mengetahui di mana lawannya berada, satu hantamanmenghajar tubuhnya sebelah belakang. Akik Mapel mengeluh tinggi. Tubuhnyaterhantar di permadani. Tulang punggungnya sebelah kanan hancur! Dengan susahpayah dia mencoba bangun sementara di hadapannya Sonya berdiri dengan sikapmengejek. Tangan kanan bertolak pinggang sedang tangan kiri memegang sangkartulang.

"Manusia gila keparat! Terima ini!" Tiba-tiba terdengar bentakan Dwiyana. MuridAkik Mapel yang sudah tidak sabaran ini menyerbu.

Sonya yang hendak menyerang Akik Mapel, terpaksa batalkan gerakannya ketikamerasakan siuran angin serangan datang dari samping. Cepat dia berkelit danberpaling, lalu menyeringai.

"Gadis galak, sebaiknya kau tetap di sudut sana. Aku tak ingin membuat tubuhmuyang mulus jadi luka. Aku sendiri yang akan rugi nanti jadinya!"

"Setan! Jaga batang lehermu!" teriak Dwiyana dengan muka merah. Hatinya geramkarena serangan tangan kosongnya dapat dielakkan lawan dengan mudah. Tidakmenunggu lebih lama gadis ini segera cabut sebilah pedang mustika terbuat dariperak yang tersisip di belakang punggungnya. Serangkum sinar putih berkiblatketika senjata ini di babatkan ke leher Sonya dengan dahsyat.

Di saat muridnya menggempur dengan pedang, Akik Mapel tidak tinggal diam. Dialepaskan satu pukulan sakti bernama "sinar pelangi". Patut diketahui, ilmupukulan ini lebih dari sepuluh tahun dipelajari dan diyakini oleh kakek saktiitu, dan merupakan satu dari sekian banyak pukulan sakti yang terkenal danpernah menggegerkan dunia persilatan. Apalagi saat itu Akik Mapel mengepulkanlebih tiga perempat kekuatan tenaga dalamnya untuk Melancarkan pukulan tersebut!

Tujuh warna pelangi berkiblat. Ruangan baru bergoncang keras.

Wuus !

Sinar pukulan sakti itu menyapa ke seluruh bagian tubuh Sonya. Di kejap itupula terdengar bentakan keras. Dwiyana merasakan selarikan angin menyambar kearahnya, membuat pedangnya tergeser ke samping. Tubuhnya terdorong ke belakangsampai beberapa langkah. Penasaran gadis ini susul serangannya yang tadi buyardengan satu tusukan. Namun dia harus cepat menjauhkan diri kalau tidak pukulangurunya sendiri akan menghantamnya.

Akik Mapel hampir tidak percaya ketika melihat bagaimana Sonya mampu mengelakdan bertahan terhadap pukulannya. Selama malang melintang di dunia persilatan,tak satu lawanpun sebelumnya yang sanggup bertahan terhadap pukulan "sinarpelangi".

"Apakah masih ada pukulan saktimu yang lain?" tanya Sonya mengejek yang membuatAkik Mapel serasa di panggang. Sebelum dia sempat membuka mulut, dilihatnyamuridnya sudah menyerbu kembali dengan serangan pedang perak.

Melihat amukan si gadis Sonya mundur beberapa langkah. Begitu sambaran senjatalawan lewat, cepat dia dorongkan tangan kanannya ke dada Dwiyana hingga gadisini jatuh terguling di lantai.

"Bedebah kurang ajar! Terkutuk!" teriak Dwiyana. Gerakan tangan Sonya tadibukan hanya sekedar mendorong, tetapi sekaligus sengaja meremas payudara sigadis. Dwiyana melompat beringas dan siap menyerbu kembali.

"Sudah! Kau tidurlah enak-enak di sudut sana!" kata Sonya lalu jentikkan jaritelunjuk tangan kanannya. Selarik asap hitam panjang yang tak ubahnya sepertiseutas tali meluncur ke arah Dwiyana dan berputar bergelung-gelung di sekitarkepala si gadis.

Dwiyana menghantam dengan tangan kirinya. Angin pukulannya keras sekali. Tetapiasap hitam itu tak mampu dimusnahkannya malah kini gelungannya semakinmenyempit, membuat gadis ini terpaksa mundur ke sudut ruangan yang diinginkanSonya. Dalam pada itu detik demi detik Dwiyana merasakan kedua kelopak matanyamenjadi berat, kepalanya pusing dan pemandangannya berkunang. Akhirnya secaraaneh gadis ini terduduk di sudut ruangan batu. Kedua matanya terpejam.Punggungnya tersandar. Sikapnya persis seperti orang sedang tidur duduk!

Akik Mapel terbeliak melihat kejadian ini. Seumur hidup baru sekali itu diamelihat ilmu aneh begitu rupa. Hatinya berdebar. Bukan karena takut menghadapilawan yang jauh lebih hebat dari dia, tetapi karena sudah dapat menduga apasebenarnya maksud Sonya memperlakukan Dwiyana seperti itu.

Dari balik pakaiannya Akik Mapel cepat keluarkan tasbih yang terbuat dariuntaian mutiara. Tasbih ini pernah di rendam selama tiga tahun hingga dariputih kini warnannya kelihatan biru gelap dan memancarkan sinar angker.

Sesaat Sonya perhatikan benda di tangan lawannya lalu tertawa menyeringai.

"Hai, itu senjatamu Akik Mapel?" ujar Sonya. Tahu-tahu dia sudah berkelebatuntuk merampas mutiara tersebut. Tapi hal ini tidak terlalu mudah untukmelakukannya. Akik Mapel mengelak sebat. Sesaat kemudian segulung sinar birumenggidikkan melabrak ke arah delapan bagian tubuh Sonya!

Serangan tasbih itu memang hebat dan ganas. Dan Akik Mapel jarang sekalimengeluarkan senjata andalannya ini kalau tidak dalam keadaan Sangat berbahayadan terdesak.Yangdiserang keluarkan suara menggereng laksana singa lapar terluka. Dia menyelusupdi antara gulungan sinar biru. Memang hebat sekali murid Datuk Siluman ini. Diamasih sanggup menyelamatkan diri dari gempuran sinar maut itu. Bahkan kembalimencoba untuk merampas mutiara di tangan Akik Mapel. Ketika untuk kesekiankalinya dia tidak mampu untuk merampas tasbih itu, marahlah manusia muka setanini!

Sonya pindahkan sangkar burung ke tangan kanan dan lambaikan tangan kirinya.Terdengar suara mendesis. Asap hitam pekat keluar berguling dari telapaktangannya, menderu dan membungkus ke arah kepala Akik Mapel. Si orang tuaterbatuk-batuk, tak tahan oleh bau sengit asap hitam aneh. Dia kerahkan tenagadalam dan menghembus ke depan. Tak terlambat. Tubuhnya dirasakannya menciut,makin kecil, makin pendek. Sebaliknya tubuh Sonya dilihatnya bertambah besardan menjadi tinggi. Dia merasa seperti seekor siput atau seekor semut yang barukeluar dari lubang.

"Celaka, ilmu iblis apa pula ini!" keluh orang tua itu.

"Akik Mapel! Lihat mukaku! Pandang mataku!" kata Sonya. Suaranya lantang,menggema dalam ruangan batu itu. Semula dia ingin membunuh kakek ini. TapiSelintas pikiran muncul dalam benaknya.

Akik Mapel yang sudah terpengaruh oleh kekuatan iblis mengikuti apa yangdikatakan lawannya. Dia mendongak dan memandang ke wajah Sonya. Menatapsepasang mata itu.

"Katakan siapa aku! Katakan lekas!" terdengar suara Sonya.

"Kau Sonya.......Sonya!" sahut Akik Mapel.

"Sonya siapa?!"

"Sonya majikanku. Kau tuan besarku!"

"Dan kau sendiri Sekarang siapa huh?!"

"Aku....? Tentu saja hamba sahayamu," jawab Akik Mapel.

Sonya tertawa gelak-gelak.

"Sebagai hamba sahaya kau harus turut setiap perintah majikan. Kau mengertiAkik Mapel!"

"Mengerti. Aku mengerti Sonya!"

"Bagus!" Sonya lalu lambaikan tangan kirinya.

Asap hitam sedikit demi sedikit lenyap. Wajah Akik Mapel yang sebelumnyaberwarna putih polos kini kelihatan menghitam akibat ilmu siluman lawannya.

"Sekarang kau Pergilah keluar! Tunggu aku di mulut goa!" kata Sonya pula. "Tapiberikan dulu tasbih itu!"

Akik Mapel menurut. Senjata mustikannya diserahkan pada Sonya lalu diamelangkah keluar ruangan.

"Hai tunggu dulu," seru Sonya.

"Apa lagi Sonya?"

"Sialan! Mulai saat ini Panggil aku Paduka. Mengerti....?"

"Baik. Aku akan Panggil kau Paduka....."

Dengan terbungkuk-bungkuk Akik Mapel meninggalkan tempat itu. Ilmu silumantelah merubah jalan pikiran sehatnya. Dia berdiri di mulut goa seperti yang diperintahkan. Pandangan matanya kuyu. Di luar hujan masih terus turun denganlebatnya.

Di dalam ruangan batu Sonya melangkah mendekati Dwiyana. Dipandangnya wajahgadis yang sedang "tertidur" itu. Diletakkannya sangkar burung ke lantai. Lalutangan kanannya dilambaikan ke wajah Dwiyana. Asap hitam berguling-gulungmembungkus kepala si gadis. Lalu dia tersentak bangun dan terbatuk-batuk. Sonyalambaikan tangannya. Asap hitam lenyap. Matanya dan mata Dwiyana salingpandang.

"Dwiyana. Lihat mukaku. Pandang mataku....."

Dwiyana mengangkat kepalanya dan menatap wajah serta mata Sonya.

"Mulai hari ini kau menjadi gadis peliharaanku, mengerti?"

Dwiyana mengangguk.

"Kau harus melayani apa mauku!"

Dwiyana kembali mengangguk.

"Kau harus Panggil aku Paduka!"

Si gadis mengangguk lagi.

"Sekarang berdiri!"

Dwiyana berdiri.

"Tanggalkan pakaianmu!"

Di luar kesadaran akal sehatnya yang telah di sungkup oleh kekuatan iblis,Dwiyana mulai membuka pakaiannya. Setiap gerakan gadis ini di saksikan Sonyatanpa berkesip dan lidah menjulur basah. Akhirnya Dwiyana berdiri di hadapannyatanpa selembar benang pun menutupi auratnya.

Sonya tertawa panjang. Hidungnya kembang kempis.

"Melangkah lebih dekat kesini, Dwiyana....."

Dwiyana mendatangi.

"Lebih dekat lagi!"

Si gadis maju hingga tubuhnya beradu dengan badan Sonya. Buah dadanya yangkencang tertekan rata sewaktu Sonya merangkul punggungnya dengan penuh nafsu.

"Sekarang kau harus meninggalkan pakaianku, Dwiyana...."

Si gadis menurut. Dia ulurkan kedua tangannya dan membuka pakaian Sonya satu demisatu.

Dipukau oleh ilmu siluman, sampai jauh malam Dwiyana terus saja melayani nafsuterkutuk Sonya yang seperti tidak ada ujungnya itu. Sementara di luar sang gurududuk termenung. Tak beda seperti seekor anjing yang bertugas menjaga pintu,dan tak berani masuk ke dalam tanpa izin majikannya. Malang sekali nasib gurudan murid itu.TUJUHHARI sesudah meninggalkan Bukit Hantu maka sampailah Sonya ke TelukGonggo. Selama perjalanan itu belasan manusia telah menjadi korban keganasanilmu silumannya. Beberapa orang berkepandaian tinggi dan beberapa perempuanberparas cantik dibawanya ketempat kediamannya yang baru, yang kelak bakalmenjadi satu markas atau sarang sumber malapetaka yang menimpa duniapersilatan. Umumnya orang-orang lelaki yang dibawanya itu adalah jago-jagosilat kelas satu yang berhasil ditundukkannya dan diperbudaknya. Sedangorang-orang perempuan sebelumnya telah diperkosanya secara keji untuk kemudiandijadikannya perempuan peliharaan pemuas nafsunya.

Malapetaka besar itu segera menjadi kenyataan sebulan kemudian. Duniapersilatan delapan penjuru angin menjadi geger ketika terjadi pembunuhanbesar-besaran secara mengerikan atas tiga partai silat. Seisi partai mulai darisang ketua sampai murid partai yang paling rendah bahkan pelayan, mati dibunuhdengan cara yang sama. Yaitu muka hancur. Itulah kebiadaban ilmu "cakarsiluman".

Kemudian beberapa tokoh terkenal dunia persilatan lenyap secara aneh sedangbeberapa lainnya ditemukan mati dengan muka hancur rusak hampir sulit untukdikenali. Selama berbulan-bulan peristiwa yang menggemparkan itu berjalan terustanpa diketahui siapa biang pelakunya. Beberapa orang sakti mempunyai dugaanbahwa segala malapetaka mengerikan itu tak dapat tidak hanya bisa dilakukanoleh satu orang yakin Datuk Siluman dari Bukit Hantu. Beramai-ramai merekamengadakan perundingan lalu menyerbu ke puncak Bukit Hantu. Namun yang merekatemui hanyalah reruntuhan bangunan tulang yang telah menghitam jadi arang.Sesosok tubuh yang merupakan tengkorak acak-acakan terjepit di bawah reruntuhanitu.

"Kalau Datuk Siluman sudah mati, berarti ada seorang manusia iblis lainnya yangmenjadi biang racun kejahatan ini. Tapi Siapakah dia?" tanya seorang tokohsambil memandang pada kawan-kawannya.

"Tidak dapat tidak dia punya sangkut paut tertentu dengan Datuk Siluman." Jawabtokoh yang lain.

"Kalau manusia itu seorang muridnya, kurasa itu mustahil." Ikut bicara jagosilat lainnya. "Setahuku Datuk Siluman tak pernah punya murid."

Dengan perasaan kecewa tokoh-tokoh silat itu akhirnya meninggalkan BukitSiluman.

Minggu demi minggu berlalu, berganti bulan ke bulan. Bencana yang menimpa duniapersilatan semakin hebat. Disamping terbunuh dan diculiknya tokoh-tokoh silattingkat tinggi, disamping musnahnya beberapa partai persilatan, juga diketahuilenyapnya gadis-gadis atau perempuan-perempuan cantik dari kampung, desa dankota.

Usaha-usaha yang dilakukan tokoh-tokoh sakti dunia persilatan untuk mencari danmengejar pelaku yang telah membuat keonaran keji itu, sebegitu jauh masihmenemui jalan buntu. Rasa cemas kini menyelimuti seantero rimba persilatan.Namun tidak ada yang berputus asa.

Pada permulaan awal bulan dua belas para tokoh silat itu mengadakan pertemuanrahasia di suatu tempat di utara Sragen. Baru saja pertemuan hendak dibukatiba-tiba di pintu yang dikunci terdengar suara ketukan.

Brajapati, seorang tokoh silat dari pantai selatan yang memimpin pertemuan itumemandang berkeliling. Semua undangan telah duduk di kursi masing-masing.Berarti tak ada yang harus ditunggu atau datang terlambat. Semua hadirinmenjadi tidak enak. Dan ini jelas terbayang di wajah masing-masing. Siapagerangan yang mengetuk pintu itu?

Perlahan-lahan Brajapati berdiri dari kursinya dan melangkah ke pintu. Meskitokoh-tokoh silat lainnya masih tetap duduk di tempatnya masing-masing tetapirata-rata secara diam-diam mereka telah berjaga-jaga kalau sampai tiba-tibaterjadi hal yang tidak diinginkan.

Tiga langkah dari ambang pintu Brajapati berhenti.

"Siapa di luar?" tanya jagoan ini sambil tangan kanannya diangkat ke atas, siapmelepaskan satu pukulan tangan kosong.

"Aku...." Terdengar sahutan dari balik pintu.

"Aku siapa?" bentak Brajapati.

"Perbolehkan aku masuk...."

"Katakan dulu siapa kau!" jawab Brajapati. Tenaga dalamnya dilipat gandakan dandialirkan ke tangan kanannya yang siap menghantam.

"Aku Hang Juana dari Tegal Alas. Bukankah kalian ingin mengetahui siapa yangselama ini menimbulkan bencana dalam dunia persilatan? Lekas buka pintu!"

Brajapati dan beberapa tokoh silat di situ sebelumnya memang sudah pernah mendengarnama Hang Juana. Itu sekitar sepuluh tahun yang silam. Dia dikenali sebagaiseorang kakek yang ahli membuat berbagai macam senjata, terutama senjatapesanan perwira-perwira kerajaan.

Tanpa ragu-ragu Brajapati membuka daun pintu dengan tangan kirinya. Dibawahpandangan sekian banyak pasang mata, seorang kakek berpakaian butut rombengmasuk terbungkuk-bungkuk. Dia berdiri di ujung meja pertemuan dan memandangberkeliling.

"Orang tua, Silahkan duduk," Brajapati menarik sebuah kursi.

Hang Juana menggeleng.

"Aku tak bisa lama-lama di sini," kata si kakek pula.

"Kenapa?" tanya Brajapati. Karena Hang Juana tak mau menjawab maka diamelanjutkan ucapannya: "Tadi kau mengeluarkan ucapan yang mengatakanseolah-olah kau tahu siapa yang menjadi biang racun penimbul malapetaka selamaini...."

Hang Juana mengangguk. "Orangnya masih ada sangkut paut dengan Datuk Silumandari Bukit Hantu..."

"Memang sudah kami duga!" kata beberapa tokoh silat hampir bersamaan.

"Siapa manusianya dan di mana sarangnya?" tanya Brajapati.

"Manusianya bernama.........."

Tiba-tiba laksana ada angin besar melabrak masuk, semua lampu yang ada diruangan itu padam! Bau busuk menebas menusuk hidung. Ucapan Hang Juana terputusdigantikan jeritan yang mengerikan.

Brajapati melihat sesosok bayangan berkelebat di hadapannya. Secepat kilatjagoan dari pantai selatan ini hantamkan tangan kanannya ke depan. Sesiur sinarputih menderu ke arah tubuh yang berkelebat. Tapi yang diserang serta mertalenyap dari pemandangan. Dilain kejap justru terdengar pekik Brajapati setinggilangit. Lalu suasana di ruangan yang gelap gulita itu menjadi sunyi senyapseperti di pekuburan. Ketegangan menggantung di udara hitam.

"Hidupkan lampu!" Seseorang berteriak.

Beberapa orang segera menyalakan lampu di empat sudut ruangan. Begitu lampumenyala maka semua tokoh silat yang ada di situ melengak ngeri!

Dua sosok tubuh menggeletak di lantai ruangan pertemuan. Mereka adalah HangJuana dan Brajapati. Keduanya tak bergerak dan tak bernapas lagi. Muka merekayang berselomotan darah terlalu ngeri untuk dipandang.

Meski semua yang hadir di situ adalah tokoh silat kelas satu berilmu tinggi,namun menyaksikan kematian Hang Juana dan Brajapati begitu rupa tak urungmembuat hati tercekat ngeri. Dada berdebar dan lutut bergetar. Dua korbanmanusia siluman itu kini menggeletak di depan mereka. Untung mereka masihhidup. Karena sebenarnya jika mau manusia iblis itu pasti mampu melakukan halyang sama terhadap mereka semua!

Khawatir akan menyusul terjadinya hal-hal yang tak diingini, dengan membawamayat Brajapati dan Hang Juana semua tokoh silat yang hadir segera meninggalkantempat itu. Dengan demikian untuk kesekian kalinya gagal pulalah usaha untukmenyelidiki siapa adanya manusia penyebar malapetaka itu.—-

BULANPURNAMA telah sejak lama lenyap terlindung di balik gumpalan awan hitam.Bintang-bintang pun menghilang satu demi satu. Saat itu mendekati tengah malam.Jika pertengahan malam kali ini berlalu maka berarti untuk ke sekian kalinyadunia memasuki tahun baru, memasuki usia baru. Bumi Tuhan ini bertambah tuajuga.

Di kejauhan lapat-lapat terdengar suara lolongan anjing. Pada saat itulahsesosok tubuh kelihatan lari memasuki Tegaltritis dari jurusan timur. Tak lamakemudian sampailah orang ini di samping sebuah tembok tinggi satu bangunan yangpaling bagus dan mewah di kampung tersebut. Tanpa menoleh ke kiri atau ke kananorang ini langsung masuk ke halaman depan dengan melompati tembok.

Gedung besar di hadapannya sunyi senyap tanda semua penghuni sudah tidur lelap.Hanya pada beberapa tempat terdapat lampu-lampu kecil menyala. Sekalimenggenjot tubuh orang ini kemudian melompat ke genting bangunan. Denganmenerobos genting dan langit-langit dia masuk ke dalam gedung, sampai ke sebuahkamar dimana terdapat dua buah tempat tidur berkelambu putih dan biru muda.

Di atas tempat tidur berkelambu putih, tiga orang anak kelihatan tidur dengannyenyaknya. Sesaat orang yang barusan menerobos masuk itu memperhatikan wajahketiga anak itu. Dadanya terasa sesak menggemuruh. Cepat-cepat dia berpalingdan melangkah ke dekat tempat tidur yang berkelambu biru.

Di atas tempat tidur yang satu ini berbaring nyenyak seorang perempuan.Wajahnya membayangkan keletihan dan keputus-asaan hingga lebih tua dari usiasebenarnya. Meski demikian kecantikannya masih belum pupus. Disamping perempuanitu bergelung seorang anak lelaki berusia dua tahun. Rambutnya hitam, alismatanya tebal. Kembali orang di luar kelambu merasakan dadanya sesak.Dipejamkannya kedua matanya.

"Haruskah kulakukan ini....? Haruskah kulakukan?!" Pertanyaan itu menghujamberulang kali dalam hatinya.

Tiba-tiba ada satu bayangan wajah manusia yang maha mengerikan menjelma diruang matanya.

"Ingat sumpah utamamu Sonya! Ingat. Itu harus kau lakukan! Harus! Kalau tidakaku akan bangkit dari alam kematian. Makhluk peliharaanku akan menyiksamuselama tujuh tahun!"

Lelaki di samping tempat tidur itu ternyata adalah Sonya. Kedua tangannyaterkepal. Rahangnya mengatup kencang. Perlahan-lahan Dibukanya kembali keduamatanya. Kini pada sepasang mata itu kelihatan membersit sinar aneh. Sinarganas jahat. Kebimbangan yang tadi menguasai hatinya serta merta lenyap. Sonyamenyibakkan kelambu biru. Ditanggalkannya pakaiannya. Lalu dibetotnya pakaianperempuan di atas tempat tidur yang bukan lain adalah istrinya sendiri.Perempuan itu terkejut dan bangun dari tidurnya. Belum sempat dia menjerit,Sonya sudah menutup mulutnya dan menaiki tubuhnya. Sonya kini memperkosaistrinya sendiri sampai akhirnya perempuan itu pingsan!

Setelah melampiaskan nafsunya Sonya segera membungkus anak lelaki yang ada diatas tempat tidur anaknya sendiri lalu melompat ke atas langit-langit kamar.Sesaat kemudian ketika perempuan itu siuman dan mendapatkan anaknya tak adalagi maka diapun menjerit: "Anakku! Anakku! Tolong...penculik!"

Hari itu murid Eyang Sinto Gendeng sampai di sebuah kota kecil bernamaNganglek. Rasa haus membuat dia melangkahkan kaki memasuki sebuah kedaiminuman. Di jalan besar yang di laluinya itu terdapat dua buah kedai. Yang satubesar dan bersih, lainnya kecil serta kotor. Wiro hendak memasuki kedai yangbesar ketika di kedai kecil sebelah sana dilihatnya suatu hal yang menarik.Pendekar ini segera memutar langkah menuju kedai buruk itu. Dia duduk disebuahsudut agak dalam.

Dekat pintu kedai duduk dua orang laki-laki berpakaian hitam bermuka kumal takterurus. Pada lengan masing-masing memakai gelang akar bahar besar. Satu bendayang sudah dapat dipastikan gagang senjata menonjol di balik pinggang pakaiankeduanya. Mereka memperhatikan Wiro dengan pandangan mata tajam.

"Hanya seorang pemuda kampung tolol. Tak perlu di curigai," berbisik lelakibermuka hitam kepada kawan di sebelahnya.

Kawannya yang mempunyai cacat besar bekas luka di pipi kiri masih memandangbeberapa lama pada Wiro. Akhirnya memalingkan muka dan kembali memperhatikan kearah pintu seperti ada yang tengah di tunggu.

Wiro meneguk minumannya. Tak selang beberapa lama masuklah seorang lelakiberbadan kurus pendek. Begitu masuk dia langsung menemui dua orang berpakaianserba hitam tadi. Mereka bicara berbisik-bisik. Lelaki muka hitam mengeluarkanbeberapa keeping uang perak yang kemudian diserahkannya pada si kurus pendek.Orang yang menerima uang ini segera berlalu.

Wiro membayar minumannya. Ketika dia keluar dari kedai di lihatnya si kurustadi sudah berada di ujung jalan. Agar tidak menimbulkan kecurigaan dua orangdi dalam kedai, Wiro sengaja mengambil jalan yang berlawanan. Namun di baliksebuah bangunan cepat pendekar ini berputar dan Dilain saat dia sudah melangkahcepat mengejar si kurus.

Lelaki kurus pendek itu ternyata menuju ke tepi sungai. Di sebuah tikungansungai yang ditumbuhi pohon-pohon bambu amat lebat, tertambat sebuah perahu.Orang ini hentikan langkahnya. Seorang lelaki berbadan tinggi kekar melompatenteng dari dalam perahu dan bicara dengan si kurus. Yang terakhir ini kemudiancepat-cepat tanggalkan tempat itu.

Setelah menunggu beberapa lamanya, Wiro keluar dari balik rerumpunan pohonbambu. Dia berdiri ditepi sungai dengan sikap seperti seorang hendakmenyeberang. Ketika dia melirik ke arah perahu, ternyata di balik atap perahukelihatan tiga pasang kaki. Sementara itu lelaki tinggi besar yang masih tegakdi tebing sungai memperhatikan Pendekar 212 dengan mata melotot penuh selidik.Wiro justru melangkah mendekatinya.

"Saudara, aku ingin menyeberang. Apakah kau bisa membawaku ke tepi sungaisebelah sana?" berkata Wiro.

Si tinggi besar ini bernama Prakunto. Dia memandang Wiro dari rambut gondrongsampai ke kakinya yang kotor, melirik pada tiga kawannya dalam perahu lalutertawa bergelak.

"Pangeran dari mana yang berani memerintahku seenaknya?"

"Oh...oh...oh! Aku bukan pangeran, sobat. Agaknya kau khawatir soal ongkos. Jangantakut. Aku punya uang untuk membayar. Sebutkan saja berapa ongkosnya sampai keseberang!"

Kembali Prakunto tertawa gelak-gelak.

"Monyet gondrong! Aku tak butuh uangmu. Lekas minggat dari sini!"

"Ah, jangan begitu sobat. Kau tolonglah aku menyeberang," pinta Wiro pula.

"Manusia edan! Kau berani memaksaku?!"

"Tidak. Aku tidak memaksa. Tapi minta tolong!"

Prakunto ulurkan tangannya meraba dada Wiro Sableng hingga pemuda inibergelinyang kegelian.

"Ngg...kulihat dadamu cukup kekar," kata Prakunto pula. "Begini saja. Bagaimanakalau kita adakan perjanjian baku jotos. Kalau aku menang serahkan seluruh uangyang ada padamu dan berlalu dari sini!"

"Bagaimana kalau aku yang menang?" balik bertanya Wiro.

Prakunto tertawa meledak diikuti oleh ke tiga kawannya yang ada dalam perahu.

"Kalau kau yang menang, jangankan ke seberang sana, ke nerakapun kau akan kuantar!"

"Baik! Bagaimana caranya adu jotos ini....?"

"Kita saling pukul tiga kali. Siapa yang nanti jatuh atau terhuyung ke belakangberarti kalah!"

"Ah, mudah sekali itu...," kata Wiro sambil senyum-senyum.

"Siapa yang mulai memukul lebih dulu?!"

"Silahkan kau yang memukulku lebih dulu," jawab Prakunto yang tidak memandangsebelah mata pada pemuda bertampang dungu di hadapannya itu.

Wiro melangkah ke hadapan Prakunto. Diulurkannya tangannya ke dada si tinggibesar ini, meraba-raba beberapa lamanya hingga Prakunto menjadi kesal.

"Aku suruh kau memukul dadaku. Bukan memijat-mijat. Tolol!" hardik Prakunto.

"Ah, dadamu keliwat lunak. Seperti agar-agar. Aku khawatir sekali pukul sajadadamu bisa murak berantakan. Nanti kau tak bisa balas memukulku. Bagusnya kausaja yang memukulku lebih dulu!"

Prakunto benar-benar jadi naik darah mendengar ucapan Wiro Sableng. Sementarake tiga kawannya sudah keluar dari perahu dan tegak mengelilingi mereka.

"Pemuda ingusan! Mulutmu sombong sekali!" sentak Prakunto.

"Eh, jadi adu jotos ini tidak diteruskan? Nyatanya kau Cuma seorang pengecut.Badan saja yang tinggi kekar tapi nyali selembek tahi ayam!"

Diejek begitu Prakunto jadi naik pitam. Tiga kawannya juga tampak marah.

"Kau Bersiaplah. Sekali pukul nyawamu akan kubuat melayang!" kata Prakunto.

Wiro mundur beberapa langkah dan berdiri sambil tolak pinggang. "Silahkanpukul. Jangan salah. Pilih tempat yang empuk!"

Tinju kanan Prakunto mengepal besar dan kokoh. Dari jarak dua langkah tinjunyaitu di ayunkan sekuat-kuatnya ke dada Pendekar 212 Wiro Sableng.

Buk!

Terdengar suara bergedebuk keras sewaktu tinju yang besar itu mendarat di dadaWiro. Baik Prakunto maupun tiga kawannya sudah sama membayangkan bagaimanajotosan itu akan membuat Wiro terlempar, roboh muntah darah dan melayang keakherat.

Tapi jangankan terjungkal atau terhuyung, serambutpun tubuh pendekar itu tidakbergeming. Di lain pihak Prakunto merasakan tinjunya mendarat di sebuahpermukaan selembut kapas. Membuat lelaki ini ternganga keheranan.

"Heh, kau rupanya punya ilmu juga....," ujar Prakunto seraya menyeringai. "Tapitunggu, masih ada dua pukulan lagi. Jaga pukulanku yang kedua!" Lalu untukkedua kalinya Prakunto hantamkan tinju kanannya yang beratnya tak kurang darilima puluh kati. Untuk kedua kalinya pula terdengar suara buk! Dan untukkesekian kalinya si tinggi besar itu terheran-heran karena sasaran yangdihantamnya terasa demikian lembut. Dia memandang pada Wiro dengan matameloncat sementara murid Eyang Sinto gendeng itu cuma cengar cengir tak acuh.

"Pukulan terakhir sobat!" seru Prakunto.

"Keluarkan seluruh tenagamu, luar dalam. Pukullah lebih keras. Masakan manusiasetinggi dan sebesarmu ini pukulannya tidak terasa apa-apa, seperti orangmenggelitik saja!"

Muka Prakunto merah padam. Dia merasa malu terutama terhadap ketiga kawannya.Tenaga dalamnya disalurkan seluruhnya ke tangan kanan hingga mempunyai dayahantam sebat dua ratus kati. Jangankan tubuh manusia, tembok tebal atau kepalakerbaupun pasti hancur luluh.

"Kau sudah siap?!" tanya Prakunto. Tinju kanannya tampak bergetar.

"Sudah sejak tadi-tadi sobat!" sahut Wiro seenaknya.

Prakunto kertakkan rahang.

"Mampuslah!" bentak Prakunto. Berbarengan dengan itu tinju kanannya berkelebatderas sampai mengeluarkan suara menderu. Mendarat tepat di dada kiri Pendekar212, pada bagian jantungnya!

Terdengar satu jeritan setinggi langit!

Prakunto berdiri terbungkuk-bungkuk. Tangan kirinya tiada henti mengusap tangankanan yang tadi di pakai meninju. Kalau dua kali Pertama tadi memukul dadalawan dirasakannya lunak lembut, tetapi kali yang ketiga dada pemuda ituseperti berubah menjadi dinding karang yang luar biasa keras dan atosnya. Duabuah jari tangan kanannya patah, kulitnya terkelupas dan mengucurkan darah dibeberapa bagian.

"Bagaimana sobat? Kau telah memukulku tiga kali. Kini giliranku!" kata Wiro.

"Baik, baik....," kata Prakunto menahan sakit dan malu. Dia berdiri memasangkuda-kuda. Wiro mundur mengambil ancang-ancang untuk memukul. Tiba-tiba salahseorang kawan Prakunto mendekati lelaki itu dan berbisik: "Kunto, kita tak adawaktu melayani pemuda edan ini lebih lama. Sebentar lagi kereta itu akan tiba.Kau mau didamprat dan digebuk Jakasempar? Seberangkan saja dia agar tidakmengganggu kita lebih lam!"

"Tapi aku toh musti melayaninya!" sahut Prakunto.

"Persetan! Seberangkan dia!"

Prakunto berpikir sejenak.

"Hai, mengapa kalian ini? Aku sudah siap memukul!" Wiro berseru.

"Sobat, biarlah. Walau kau belum memukul tapi aku mengaku kalah. Aku akanantarkan kau ke seberang," kata Prakunto pula.

Wiro tersenyum dan garuk-garuk kepalanya. Dia melompat ke dalam perahu. Hanyasebentar saja dia pun sampai ke seberang sungai. Wiro ucapkan terima kasih dannaik ke darat sementara Prakunto mengayuh perahunya kembali ke seberang yanglain. Hanya sesaat dia mencapai tepi sungai, sepuluh orang berkuda sampai ditempat itu. Rombongan ini di pimpin oleh lelaki muka hitam yang dilihat Wiro dikedai di Nganglek.

"Bagaimana Jaka....?" tanya Prakunto pada si muka hitam yang bernama Jakasempar.

"Kalian bersiap. Cari tempat berlindung yang baik. Sebentar lagi kereta ituakan lewat. Ingat, gadis itu tak boleh mendapat cidera barang sedikitpun!"

Maka keempat belas orang itupun bersembunyi di tempat yang terpencar ditikungan sungai. Kira-kira sepeminuman the berlalu, di kejauhan terdengar suararentak kaki-kaki kuda dan gemeletak roda kereta. Tak lama kemudian dari baliktikungan muncullah sebuah kereta putih, dikawal oleh sepuluh prajurit Kadipatendibawah pimpinan seorang lelaki tua gagah bernama Wilacarta.

Begitu kereta memperlambat jalannya karena memasuki tikungan maka terdengarlahringkik binatang penarik kereta itu. Lima pisau terbang menghambur dan menancapdi kaki dua ekor kuda penarik kereta dan Membuatnya tersungkur. Kereta hampirsaja terbalik ke dalam sungai. Bersamaan dengan itu Jakasempar dan anak buahnyaberlompatan dari tempat persembunyian masing-masing, langsung menyerbuprajurit-prajurit pengawal dengan senjata terhunus!

Daerah luar kota Jepara akhir-akhir ini memang kurang aman. Karenanya melihatkemunculan belasan orang bermuka bengis itu, Wilacarta segera maklum kalaurombongan tengah dihadap perampok. Tapi karena saat itu dia dan anak buahnyasama sekali tidak membawa uang atau harta berharga Kecuali mengawal Sri AyuPandan, Putri Adipati Jepara, maka penghadangan itu terasa agak aneh dimataWilacarta. Namun saat itu tak ada waktu untuk berpikir panjang.

Orang tua gagah ini berteriak memberi semangat pada anak buahnya. Lalu mencabutpedang dari pinggang. Dia sama sekali tidak menduga justru rombongan yangmenghadang itu memang tidak hendak merampok harta atau uang, melainkan hendakmenculik puteri Adipati Jepara. Setelah gadis itu di tangan mereka, Jakasemparakan meminta uang tebusan dalam jumlah besar.

Pertempuran berkecamuk hebat. Pihak Kadipaten selain kalah jumlah, lawan yangmereka hadapi rata-rata memiliki kepandaian silat tinggi hingga dalam temposingkat dua orang prajurit roboh mandi darah.

Ketika tadi kereta menyungkur tanah karena dua kuda yang menariknya roboh, daridalam kereta terdengar pekik perempuan. Tirai jendela tersingkap dan tampaklahsatu kepala berambut hitam legam berwajah rupawan. Dialah Sri Ayu Pandan,puteri Adipati Jepara. Belum habis kejut sang gadis akibat tersungkurnyakereta, tiba-tiba dari semak belukar dilihatnya berlompatan manusia-manusiabertampang bengis bersenjata golok atau pedang dan mereka ini langsungmenyerang para pengawal. Takutnya puteri Adipati ini bukan kepalang. Diaberteriak tiada henti.

Wilacarta putar pedangnya dengan sebat. Dia berhasil merobohkan seorang lawandan melukai seorang lainnya. Ketika dilihatnya Jakasempar bergerak mendekatikereta, kepala pengawal ini segera menghadang. Namun dia tak mampu menghalangilebih jauh karena secepat kilat tiga orang anak buah Jakasempar melompatkehadapannya dan langsung menyerbu.

Kusir kereta yang merasa ikut bertanggung jawab atas keselamatan puterimajikannya, dengan bersenjatakan sepotong besi panjang menyerang Jakasempardari samping. Serangan itu dengan mudah dapat dielakkan oleh Jakasempar.Sebagai balasan Jakasempar menghadiahkan satu tusukan golok yang ganas. Karenamemang tidak memiliki kepandaian silat apa-apa, kusir kereta itu akhirnyamenemui ajal dengan dada ditembus golok.

Jakasempar menendang pintu kereta hingga tanggal berantakan. Di dalam sana SriAyu Pandan menyudut ketakutan. Jakasempar tersenyum menyeringai melihat tubuhmulus dan wajah cantik gadis itu. Dalam benaknya sudah muncul pikiran kotor.Puteri itu diculik dan dimintai tebusan uang dalam jumlah besar. Tapi apasalahnya sebelum dikembalikan pada orang tuannya akan dipakai sebagai pemuasnafsu lebih dulu?

"Gadis cantik. Kau tak usah takut. Mari ikut aku..." kata Jakasempar serayamengulurkan tangan untuk menarik Ayu Pandan. Namun sebelum jari-jari tangannyasempat menyentuh tubuh gadis itu mendadak dari samping melesit sebuah bendabesar. Jakasempar cepat bersurut mundur. Benda itu menghantam tangga kereta danternyata adalah sosok tubuh seorang anak buahnya sendiri yang telah menjadimayat!

Terkejut bukan kepalang, Jakasempar palingkan kepala. Dan membeliaklah matamanusia muka hitam ini. Enam langkah di hadapannya berdiri pemuda rambutgondrong yang sebelumnya pernah dilihatnya di kedai Nganglek. Pakaiannya basahkuyup. Apakah dia yang telah melemparkan tubuh anak buahnya itu tadi?

Pemuda berpakaian kuyup itu adalah Wiro Sableng. Sesampainya di seberang tadi,dia pura-pura berlalu, tapi diam-diam menyelinap ke balik semak-semak danmengintai. Dia yakin sekali orang-orang yang ditemuinya di kedai dan di tepisungai itu tengah merencanakan sesuatu. Sesuatu yang jahat. Dan keyakinannyaitu tak lama kemudian menjadi kenyataan..... ( lanjutkan membaca setelah login gratis di sini )
Auto Promo BLOGGER Auto Promo INSTAGRAM Auto Promo TWITTER Auto Promo FACEBOOK Auto Promo LINKEDIN
JUDUL
Wiro Sableng #1 : Empat Berewok Dari Goa Sanggreng
Wiro Sableng #10 : Banjir Darah Di Tambun Tulang
Wiro Sableng #100 : Dendam Dalam Titisan
Wiro Sableng #101 : Gerhana Di Gajahmungkur
Wiro Sableng #102 : Bola Bola Iblis
Wiro Sableng #103 : Hantu Bara Kaliatus
Wiro Sableng #104 : Peri Angsa Putih
Wiro Sableng #105 : Hantu Jatilandak
Wiro Sableng #106 : Rahasia Bayi Tergantung
Wiro Sableng #107 : Hantu Tangan Empat
Wiro Sableng #108 : Hantu Muka Dua
Wiro Sableng #109 : Rahasia Kincir Hantu
Wiro Sableng #11 : Raja Rencong Dari Utara
Wiro Sableng #110 : Rahasia Patung Menangis
Wiro Sableng #111 : Hantu Langit Terjungkir
Wiro Sableng #112 : Rahasia Mawar Beracun
Wiro Sableng #113 : Hantu Santet Laknat
Wiro Sableng #114 : Badai Fitnah Latanahsilam
Wiro Sableng #115 : Rahasia Perkawinan Wiro
Wiro Sableng #116 : Hantu Selaksa Angin
Wiro Sableng #117 : Muka Tanah Liat
Wiro Sableng #118 : Batu Pembalik Waktu
Wiro Sableng #119 : Istana Kebahagiaan
Wiro Sableng #12 : Pembalasan Nyoman Dwipa
Wiro Sableng #120 : Kembali Ke Tanah Jawa
Wiro Sableng #121 : Tiga Makam Setan
Wiro Sableng #122 : Roh Dalam Keraton
Wiro Sableng #123 : Gondoruwo Patah Hati
Wiro Sableng #124 : Makam Ketiga
Wiro Sableng #125 : Senandung Kematian
Wiro Sableng #126 : Badik Sumpah Darah
Wiro Sableng #127 : Mayat Persembahan
Wiro Sableng #128 : Si Cantik Dalam Guci
Wiro sableng #129 : Tahta Janda Berdarah
Wiro Sableng #13 : Kutukan Empu Bharata
Wiro Sableng #130 : Meraga Sukma
Wiro Sableng #131 : Melati Tujuh Racun
Wiro Sableng #132 : Kutukan Sang Badik
Wiro Sableng #133 : 113 Lorong Kematian
Wiro Sableng #134 : Nyawa Kedua
Wiro Sableng #135 : Rumah Tanpa Dosa
Wiro Sableng #136 : Bendera Darah
Wiro Sableng #137 : Aksara Batu Bernyawa
Wiro Sableng #138 : Pernikahan Dengan Mayat
Wiro Sableng #14 : Sepasang Iblis Betina
Wiro Sableng #140 : Misteri Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #141 : Kematian Kedua
Wiro Sableng #142 : Kitab Seribu Pengobatan
Wiro Sableng #143 : Perjanjian Dengan Roh
Wiro Sableng #144 : Nyi Bodong
Wiro Sableng #145 : Lentera Iblis
Wiro Sableng #146 : Azab Sang Murid
Wiro Sableng #147 : Api Di Puncak Merapi
Wiro Sableng #148 : Dadu Setan
Wiro Sableng #149 : Si Cantik Dari Tionggoan
Wiro Sableng #15 : Mawar Merah Menuntut Balas
Wiro Sableng #150 : Misteri Pedang Naga Merah
Wiro Sableng #151 : Sang Pembunuh
Wiro Sableng #152 : Petaka Patung Kamasutra
Wiro Sableng #153 : Misteri Bunga Noda
Wiro Sableng #154 : Insan Tanpa Wajah
Wiro Sableng #155 : Sang Pemikat
Wiro Sableng #156 : Topan Di Gurun Tengger
Wiro Sableng #157 : Nyawa Titipan
Wiro Sableng #158 : Si Cantik Gila Dari Gunung Gede
Wiro Sableng #159 : Bayi Satu Suro
Wiro Sableng #16 : Hancurnya Istana Darah
Wiro Sableng #160 : Dendam Mahluk Alam Roh
Wiro Sableng #161 : Perjodohan Berdarah
Wiro Sableng #162 : Badai Laut Utara
Wiro Sableng #163 : Cinta Tiga Ratu
Wiro Sableng #164 : Janda Pulau Cingkuk
Wiro Sableng #165 : Bayi Titisan
Wiro Sableng #166 : Kupu-Kupu Giok Ngarai Sianok
Wiro Sableng #167 : Fitnah Berdarah Di Tanah Agam
Wiro Sableng #168 : Mayat Kiriman Di Rumah Gadang
Wiro Sableng #169 : Bulan Sabit Di Bukit Patah
Wiro Sableng #17 : Lima Iblis Dari Nanking
Wiro Sableng #170 : Kupu-Kupu Mata Dewa
Wiro Sableng #171 : Malam Jahanam Di Mataram
Wiro Sableng #172 : Empat Mayat Aneh
Wiro Sableng #173 : Roh Jemputan
Wiro Sableng #174 : Dua Nyawa Kembar
Wiro Sableng #175 : Sepasang Arwah Bisu
Wiro Sableng #176 : Dewi Kaki Tunggal
Wiro Sableng #177 : Jaka Pesolek Penangkap Petir
Wiro Sableng #178 : Tabir Delapan Mayat
Wiro Sableng #18 : Pendekar Pedang Akhirat
Wiro Sableng #180 : Sesajen Atap Langit
Wiro Sableng #181 : Selir Pamungkas
Wiro Sableng #182 : Delapan Pocong Menari
Wiro Sableng #183 : Bulan Biru Di Mataram
Wiro Sableng #184 : Dewi Dua Musim
Wiro Sableng #185 : Jabang Bayi Dalam Guci
Wiro Sableng #19 : Pendekar Dari Gunung Naga
Wiro Sableng #2 : Maut Bernyanyi Di Pajajaran
Wiro Sableng #20 : Hidung Belang Berkipas Sakti
Wiro Sableng #21 : Neraka Puncak Lawu
Wiro Sableng #22 : Siluman Teluk Gonggo
Wiro Sableng #23 : Cincin Warisan Setan
Wiro Sableng #24 : Penculik Mayat Hutan Roban
Wiro Sableng #25 : Cinta Orang Orang Gagah
Wiro Sableng #26 : Iblis Iblis Kota Hantu
Wiro Sableng #27 : Khianat Seorang Pendekar
Wiro Sableng #28 : Petaka Gundik Jelita
Wiro Sableng #29 : Bencana Di Kuto Gede
Wiro Sableng #3 : Dendam Orang-orang Sakti
Wiro Sableng #30 : Dosa Dosa Tak Berampun
Wiro Sableng #31 : Pangeran Matahari Dari Puncak Merapi
Wiro Sableng #32 : Bajingan Dari Susukan
Wiro Sableng #33 : Panglima Buronan
Wiro Sableng #34 : Munculnya Sinto Gendeng
Wiro Sableng #35 : Telaga Emas Berdarah
Wiro Sableng #36 : Dewi Dalam Pasungan
Wiro Sableng #37 : Maut Bermata Satu
Wiro Sableng #38 : Iblis Berjanggut Biru
Wiro Sableng #39 : Kelelawar Hantu
Wiro Sableng #4 : Keris Tumbal Wilayuda
Wiro Sableng #40 : Setan Dari Luar Jagad
Wiro Sableng #41 : Malaikat Maut Berambut Salju
Wiro Sableng #42 : Badai Di Parang Tritis
Wiro Sableng #43 : Dewi Lembah Bangkai
Wiro Sableng #44 : Topeng Buat WIRO SABLENG
Wiro Sableng #45 : Manusia Halilintar
Wiro Sableng #46 : Serikat Setan Merah
Wiro Sableng #47 : Pembalasan Ratu Laut Utara
Wiro Sableng #48 : Memburu Si Penjagal Mayat
Wiro Sableng #49 : Srigala Iblis
Wiro Sableng #5 : Neraka Lembah Tengkorak
Wiro Sableng #50 : Mayat Hidup Gunung Klabat
Wiro Sableng #51 : Raja Sesat Penyebar Racun
Wiro Sableng #52 : Guna Guna Tombak Api
Wiro Sableng #53 : Kutukan Dari Liang Kubur
Wiro Sableng #54 : Pembalasan Pendekar Bule
Wiro Sableng #55 : Misteri Dewi Bunga Mayat
Wiro Sableng #56 : Ratu Mesum Bukit Kemukus
Wiro Sableng #57 : Nyawa Yang Terhutang
Wiro Sableng #58 : Bahala Jubah Kecono Geni
Wiro Sableng #59 : Peti Mati Dari Jepara
Wiro Sableng #6 : Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga
Wiro Sableng #60 : Serikat Candu Iblis
Wiro Sableng #61 : Makam Tanpa Nisan
Wiro Sableng #62 : Kamandaka Si Murid Murtad
Wiro Sableng #63 : Neraka Krakatau
Wiro Sableng #64 : Betina Penghisap Darah
Wiro Sableng #65 : Hari-Hari Terkutuk
Wiro Sableng #66 : Singa Gurun Bromo
Wiro Sableng #67 : Halilintar Di Singosari
Wiro Sableng #68 : Pelangi Di Majapahit
Wiro Sableng #69 : Ki Ageng Tunggul Keparat
Wiro Sableng #7 : Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin
Wiro Sableng #70 : Ki Ageng Tunggul Akhirat
Wiro Sableng #71 : Bujang Gila Tapak Sakti
Wiro Sableng #72 : Purnama Berdarah
Wiro Sableng #73 : Guci Setan
Wiro Sableng #74 : Dendam Di Puncak Singgalang
Wiro Sableng #75 : Harimau Singgalang
Wiro Sableng #76 : Kutunggu Di Pintu Neraka
Wiro Sableng #77 : Kepala Iblis Nyi Gandasuri
Wiro Sableng #78 : Pendekar Gunung Fuji
Wiro Sableng #79 : Ninja Merah
Wiro Sableng #8 : Dewi Siluman Bukit Tunggul
Wiro Sableng #80 : Sepasang Manusia Bonsai
Wiro Sableng #81 ; Dendam Manusia Paku
Wiro Sableng #82 : Dewi Ular
Wiro Sableng #83 : Wasiat Iblis
Wiro Sableng #84 : Wasiat Dewa
Wiro Sableng #85 : Wasiat Sang Ratu
Wiro Sableng #86 : Delapan Sabda Dewa
Wiro Sableng #87 : Muslihat Para Iblis
Wiro Sableng #88 : Muslihat Cinta Iblis
Wiro Sableng #89 : Geger Di Pangandaran
Wiro Sableng #9 : Rahasia Lukisan Telanjang
Wiro Sableng #90 : Kiamat Di Pangandaran
Wiro Sableng #91 : Tua Gila Dari Andalas
Wiro Sableng #92 : Asmara Darah Tua Gila
Wiro Sableng #93 : Lembah Akhirat
Wiro Sableng #94 : Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #95 : Jagal Iblis Makam Setan
Wiro Sableng #96 : Utusan Dari Akhirat
Wiro Sableng #98 : Rahasia Cinta Tua Gila
Wiro Sableng #99 : Wasiat Malaikat


LOAD MORE INSPIRATIONS...

© www&mdot;nomor1&mdot;com · [email protected]&mdot;com · terms of use · privacy policy · 172.68.65.57
team developer · pt excenture indonesia · central park podomoro city · jakarta indonesia