Wiro Sableng #182 : Delapan Pocong Menari
WIRO SABLENG

Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212

Karya: Bastian Tito

Episode : MALAM JAHANAM DI MATARAM

MALAM Selasa Kliwon. Di dalam Puri Kesatu di Negeri Atap Langit, Ken Parantili benamkan wajah ke dada Pendekar 212, tangan merangkul pinggang, lalu perempuan muda ini angkat kepalanya.
"Kita harus segera masuk ke dalam kamar di sebelah. Suara gamelan mulai terdengar perlahan. Pertanda Penguasa Atap Langit dalam perjalanan ke tempat ini. Aku harus sudah ada di atas tempat tidur ketika Penguasa Atap Langit datang. Apa yang harus kau lakukan nanti akan akan aku beri tahu."

Ken Parantili menarik tangan Wiro. Keduanya melangkah menembus dinding. Di luar Kawasan Atap Langit kembali terdengar suara teriakan.

"Penguasa Atap Langit! Ada penyusup masuk ke Kawasan Atap Langit! Kau menghadapi bahaya besar!"

Ini adalah teriakan yang kedua kali. Setelah gema teriakan lenyap dan keadaan sunyi sebentar, tiba-tiba menggelegar teriakan balasan. Udara bergetar. Hawa dingin terasa tambah mencucuk.

"Makhluk yang berteriak! Aku Penguasa Atap Langit! Aku mengenali suaramu! Bukankah kau Sinuhun Merah Penghisap Arwah?!"

"Benar sekali, Penguasa Atap Langit. Terima kasih kau mau menjawab."

"Kau berani berada di Kawasan Atap Langit bukan pada hari yang yang ditentukan. Itu pelanggaran pertama. Pelanggaran kedua, kau datang membawa kabar seolah penghuni Negeri Atap Langit termasuk diriku adalah makhluk-makhluk tolol yang tidak tahu menjaga keamanan Negeri! Apa maksudmu berteriak ada penyusup masuk ke Kawasan Atap Langit? Para pengawalku, Tiga Kelelawar Raksasa dan dua ratus Arwah Hitam Putih telah melakukan penyelidikan. Negeri dalam keadaan aman! Bagaimana kau bisa mengatakan ada penyusup! Apakah kau sengaja hendak berbaik budi menjilat untuk mendapatkan sesuatu? Apakah kau hendak memaksa agar aku memberi ilmu hingga kau bisa masuk ke dalam Ruang Segi Tiga Nyawa?"

"Penguasa Atap Langit! Keinginan untuk masuk ke Ruang Segi Tiga Nyawa sudah aku lupakan!"

"Karena keris sakti Kanjeng Sepuh Pelangi sudah lenyap, sudah keduluan diambil orang! Dan kau hanya dapat keris palsu butut! Ha... ha... ha!"

Sinuhun Merah Penghisap Arwah seperti terhenyak. "Dia tahu apa yang terjadi," katanya dalam hati. Dia mendongak ke langit lalu menyahuti ucapan orang. "Penguasa Atap Langit! Aku datang bukan untuk menjilat tapi memang hendak berbaik budi! Kau telah banyak menolong diriku dan saudara kembar satu nyawa. Kau juga telah banyak membantu Ksatria Junjungan Dirga Purana. Apa salahnya kalau aku memberi tahu bahwa dirimu saat ini terancam bahaya besar?"

Dari dalam Kawasan Atap Langit menggelegar tawa bergelak sang Penguasa.

"Sinuhun Merah Penghisap Arwah. Aku peringatkan dirimu! Lekas menjauh dari kawasan kekuasaanku! Kau baru boleh muncul lagi pada bulan purnama yang akan datang!"

"Tapi Penguasa Atap Langit! Aku tidak bicara dusta. Aku tidak mengarang cerita..."

"Sinuhun Merah! Ini peringatan terakhir! Kau ingin aku menyuruh Tiga Kelelawar Raksasa membakar tubuhmu hingga leleh! Atau kau mau dua ratus makhluk Arwah Hitam Putih mengorek jantungmu yang ada di dalam rongga dada sebelah kanan?!" Ancaman Penguasa Atap Langit rupanya tidak tanggung-tanggung.

"Penguasa Atap Langit. Aku minta maaf. Aku pergi sekarang! Aku hanya berusaha berbuat kebaikan..."

"Aku tidak perlu kebaikan dari makhluk semacammu. Bukankah selama ini kau dan orang-orangmu yang selalu meminta kebaikan padaku?! Kebaikan dan ilmu yang aku berikan kerap kali kau salah gunakan! Bukankah aku sudah mengingatkan sebelumnya?!"

Di puncak Gunung Semeru yang gelap dan dingin, mengambang di atas satu gundukan batu, makhluk alam roh serba merah Sinuhun Merah Penghisap Arwah mendengus. Dalam hati dia menyumpah, "Makhluk congkak! Rohmu memang bisa amblas berkali-kali! Tapi sekali ini kau akan menyesal sampai ke liang neraka! Begitu kau mampus aku akan menguasai Kawasan Atap Langit!"

Sinuhun Merah Penghisap Arwah meludah sampai tiga kali. Ludahnya berwarna merah. Lalu cepat dia berkelebat pergi.

"Tunggu!" Suara Penguasa Atap Langit menggelegar.

Sinuhun Merah Penghisap Arwah tahan gerakan.

"Sinuhun Merah, aku memberi perintah padamu! Saat ini juga harap kau segera menemui anak lelaki usia dua belas tahun bernama Dirga Purana. Katakan padanya sebelum tengah hari besok, dia harus sudah mengantarkan anak perempuan bernama Ni Gatri ke hadapanku!"

Sesaat Sinuhun Merah tertegun mendengar ucapan Penguasa Atap Langit itu. Dalam hati dia membatin. "Aku punya dugaan, gadis cilik itu pasti akan dijadikan gundik baru." Ucap Sinuhun Merah dalam hati. "Sang Junjungan sedang mabuk cinta dengan anak perempuan ayu bertubuh molek itu. Apa dia mau menyerahkan?"

"Sinuhun Merah! Kau mendengar apa yang aku katakan?!"

"Aku mendengar. Aku akan menemui Ksatria Junjungan Dirga Purana untuk menyampaikan pesanmu."

"Bukan cuma disampaikan! Tapi juga untuk dilaksanakan!"

"Baik, perintahmu akan aku laksanakan! Aku sendiri yang akan membawa anak perempuan itu ke hadapanmu!"

"Tidak perlu kamu! Aku sudah bosan terlalu sering melihat tampang merahmu! Suruh makhluk lain yang bisa dipercaya! Kau mengerti?!"

"Aku mengerti," jawab Sinuhun Merah Penghisap Arwah dengan menahan gelegak amarah. Sebelum meninggalkan tempat itu dia semburkan ludah merah dua kali. Kaki kanan digebrak hingga lereng batu yang menebingi bagian atas kawah Gunung Semeru hancur berantakan.

Ketika melayang dekat pinggiran kawah Gunung Semeru makhluk alam roh yang punya nyawa kembar dengan Sinuhun Muda Ghama Karadipa ini walau gelap kelam namun di bawah sana dia masih bisa melihat sosok empat orang mendekam kedinginan di depan perapian yang apinya telah padam.

Orang-orang itu adalah Ratu Randang, Kunti Ambiri, Sakuntaladewi dan Jaka Pesolek. Seperti diceritakan sebelumnya mereka dilemparkan di tengah jalan oleh belahan batang pohon beringin sewaktu Pendekar 212 Wiro Sableng diterbangkan menuju Negeri Atap Langit.

Sinuhun Merah Penghisap Arwah memperhatikan keadaan di puncak gunung. Menatap ke arah kawah yang gelap lalu mengendus dalam-dalam.

"Hemm..." Sinuhun Merah Penghisap Arwah bergumam sambil usap janggut merahnya. "Aku mencium baunya walau sudah jadi jerangkong! Makhluk bernama Lor Pengging Jumena itu masih mendekam di sekitar kawah. Agaknya tengah menjaga keempat orang itu. Sayang aku ada keperluan lebih penting. Kalau tidak apa susahnya mencelakai keempat orang itu! Ratu Randang, kau tunggu pembalasanku! Kau terlalu banyak menipu diriku dan nyawa kembarku! Aku akan betot semua ilmu yang pernah kuberikan padamu, sekalian dengan jantung, hati, limpa dan ginjalmu!" (Diceritakan sebelumnya makhluk bernama Lor Pengging Jumena itu adalah yang juga dikenal dengan panggilan Embah Buyut Kumara Gandamayana).

Sinuhun Merah Penghisap Arwah meludah lalu melesat ke timur. Saat itu memang ada yang merisaukan hatinya. Dia belum mengetahui apakah Empu Semirang Biru yang telah diracunnya berhasil menemukan Sri Maharaja Mataram Rakai Kayuwangi Dyah Lokapala di tempat persembunyiannya.

***Kembali Ke Puri Kesatu, di dalam ruang tidur Selir Pertama. Ken Parantili melangkah ke arah meja di mana ada tiga bunga mawar segar dalam tiga jambangan kaca. Di atas meja juga terdapat sebuah gelas kaca tinggi berisi cairan kuning. Ken Parantili meneguk habis cairan di dalam gelas kaca. Lalu mengambil dua kuntum bunga mawar dari dalam jambangan kaca sebelah tengah dan menyelipkannya di atas telinga kiri kanan yang dicanteli anting-anting mutiara, disepit dengan untaian rambut. Bunga mawar ketiga diletakkan di balik dada pakaian.

"Wiro, kita segera masuk ke ruang tidur besar di sebelah. Ikuti aku."

Seperti angin meniup udara kosong, kedua orang itu masuk ke kamar besar menembus dinding. Begitu berada di kamar besar tempat di mana Penguasa Atap Langit akan datang untuk terakhir kali menemui dirinya, Ken Parantili berkata pada Wiro. "Aku akan membaringkan diri di atas tempat tidur. Kau berdirilah di sudut sebelah kiri kepala tempat tidur. Jangan bergerak, jangan bersuara. Penguasa Atap Langit tidak akan melihat dirimu karena rambutku masih menempel di dadamu. Namun untuk menjaga segala kemungkinan, sesuai pesan Nyai Roro Manggut, aku harap sekarang juga kau mengeluarkan ilmu kesaktian yang diberikannya yaitu Ilmu Meraga Sukma. Sukmamu berdiri di sudut kanan, raga aslimu berdiri ke sudut kiri."

"Ketika Penguasa Atap Langit hendak membunuhmu, apa aku tetap tinggal diam, tidak berusaha menolong?

Bukankah itu budi yang harus aku lakukan?"

"Kau bukannya tidak melakukan apa-apa. Semua yang telah kau lakukan dan apa yang aku katakan jika kau turuti maka itu sudah pertolongan besar bagiku. Penguasa Atap Langit tidak akan mampu membunuhku karena sebelumnya kau telah berbaring di atas tempat tidur ini. Begitu dia mencium bekas bau tubuh dan keringatmu, apalagi kalau sampai bersentuhan, ilmu kesaktiannya menjadi rontok! Karena itu adalah pantangan bagi hampir semua ilmu kesaktiannya. Tidak ada selir yang boleh berselingkuh..."

"Tapi aku ingat percakapan kita beberapa waktu lalu tentang Selir Ketiga Windu Resmi. Dia dicurigai berselingkuh dengan Sinuhun Merah Penghisap Arwah. Mengapa Penguasa Atap Langit tidak celaka?"

"Selir itu tidak berselingkuh di tempat ketiduran Penguasa Atap Langit yang ada di Puri Ketiga. Selain itu giliran kematiannya masih dua purnama di muka. Lalu saat ini dia sudah jadi mayat, kau timbun di pinggir Telaga Bersuci dan Bersegar Diri. Jadi tak ada lagi yang perlu dibicarakan menyangkut selir itu."

"Tapi kita berdua tidak pernah melakukan perselingkuhan. Maksudku berbuat yang bukan-bukan di atas tempat tidur." Kata Wiro pula agak mesem-mesem.

"Itu benar. Tapi yang menjadi masalah besar bagi Penguasa Atap Langit adalah jika dia mencium apalagi sampai bersentuhan dengan bau badan atau keringat lelaki lain. Dan lelaki itu ditakdirkan dirimu adanya..."

"Ini yang aku tidak mengerti. Mengapa musti aku?!" Ujar Wiro pula.

"Aku tidak tahu mengapa harus kau. Jika kau kelak bertemu dengan Nyi Roro Manggut, kau bisa tanyakan hal itu padanya. Karena dia yang memberitahu kalau hanya kau yang bisa menyelamatkan diriku."

"Nenek sakti itu..."

"Husss!" Ken Parantili memotong ucapan Wiro. "Sahabatku, kau tahu siapa dia sebenarnya. Aslinya bukankah dia seorang gadis cantik jelita?"

Wiro ternganga. Tidak menyangka sang selir tahu banyak dan begitu jauh. Wiro mendadak ingat. Ketika orang kepercayaan Penguasa Laut Selatan itu memberikan Ilmu Meraga Sukma padanya, si nenek sakti terlebih dulu menguji dirinya secara berat dengan berbagai cara. Salah satu di antaranya adalah merayu dan menggodanya untuk menyentuh auratnya lalu melakukan hubungan badan. Wiro menggaruk kepala. Dalam hati dia membatin. "Hal yang sama akan segera terjadi. Apa aku sanggup menahan diri seperti dulu. Selir ini selain cantik kurasa punya pengalaman soal begituan..." (Mengenai riwayat Wiro mendapat ilmu kesaktian dari Nyi Roro Manggut dapat dibaca dalam serial "Meraga Sukma").

Ken Parantili tatap wajah sang pendekar sejurus lalu meneruskan ucapan. "Nyi Roro Manggut berpesan, pada saat Penguasa Atap Langit hendak melaksanakan niatnya membunuh diriku, maka kau harus segera mengeluarkan Ilmu Meraga Sukma."

Wiro anggukkan kepala. Lalu berkata. "Seorang kakek sakti yang dipanggil Embah Buyut Kumara Gandamayana memberi tahu. Orang luar kalau pun bisa masuk ke dalam Negeri Atap Langit tidak akan mampu melihat ujud Penguasa Atap Langit. Kecuali jika dia berdiri kaki ke atas kepala ke bawah. Apa aku harus berjungkir balik untuk bisa melihatnya?"

Ken Parantili menggeleng. "Kau sudah mandi di Telaga Bersuci dan Bersegar Diri yang memiliki delapan pancuran. Matamu akan sama dengan mata semua penghuni Negeri Atap Langit. Tak ada halangan atau kekuatan yang menyekat pandanganmu."

"Yang mampu melihat..., ujud asliku atau sukmaku?" Tanya Wiro.

"Dua-duanya. Sebaliknya Penguasa Atap Langit tidak bisa melihat dirimu dan sukmamu karena rambut penangkal milikku yang menempel di tubuhmu. Nah, kau sudah siap. Atau masih ada yang ingin ditanyakan?"

Wiro jadi tegang walau sesaat. "Aku sudah siap," jawabnya kemudian setengah berbisik.

"Suara gamelan sudah lenyap. Berarti Penguasa Atap Langit sudah ada di dekat Puri Kesatu. Siap untuk masuk ke sini."

Wiro tergagap ketika begitu selesai bicara Ken Parantili goyangkan tubuh. Seluruh pakaian yang tadi melekat melindungi auratnya lenyap entah ke mana! Kini yang melekat di tubuhnya adalah mahkota emas berbentuk atap di kepala, anting-anting dan kalung mutiara serta tiga kuntum bunga mawar merah. Dua tersepit di telinga kiri kanan, satu lagi menempel di dada. Dalam keadaan seperti itu Ken Parantili naik ke atas tempat tidur. Tubuh kemudian ditutup dengan sehelai kain sutera merah muda yang sebelumnya terlipat di bawah salah satu bantal besar.

***2SELAGI Wiro terpana dengan apa yang disaksikannya, Ken Parantili berkata. "Saatnya kau merapal dan menerapkan Ilmu Meraga Sukma. Berdiri di dua sudut ruangan di kiri kanan kepala tempat tidur. Jangan bergerak, jangan bersuara, apapun yang terjadi."

Pendekar 212 segera melangkah ke sudut kiri ruangan. Duduk bersila. Dua tangan diletakkan di atas paha lalu diangkat dan disilangkan di atas dada. Sepasang mata dipejam. Mulut merapal aji kesaktian. Satu sosok berupa bayangan samar keluar dari tubuh Wiro, membentuk ujud kembar utuh lalu melayang dan berdiri di sudut kanan ruangan. Perlahan-lahan Wiro asli bangkit berdiri.

Hanya sesaat setelah Wiro menerapkan Ilmu Meraga Sukma, satu kaki berkasut hijau mencuat di langit-langit ruangan. Bersamaan dengan itu ada suara orang berucap.

"Ken Parantili, Selir Pertama penghuni Puri Kesatu. Aku Penguasa Atap Langit, aku datang! Apakah kau sudah bersiap diri?"

Di langit-langit ruangan, Wiro melihat satu kaki lagi muncul menjuntai.

"Yang Mulia Penguasa Atap Langit, saya Selir Pertama telah siap di atas tempat tidur. Saya menunggu dengan segala kerinduan." Walau bicara mesra sebenarnya Ken Parantili telah muak dengan segala basa basi itu. Apalagi dia tahu kalau kedatangan Penguasa Atap Langit kali ini merupakan kedatangan terakhir, yang bukan saja seperti biasa untuk mengumbar nafsu tapi juga membekal niat jahat hendak membunuhnya.

Dua kaki di langit-langit meluncur ke bawah. Kelihataan sosok berjubah hijau tapi yang kelihatan baru dari kaki sampai ke pinggang.

"Ken Parantili, apakah kau telah meneguk habis Cairan Kuning Minuman Penggoda?"

"Saya sudah menghabiskan minuman itu Yang Mulia," jawab Ken Parantili sambil mengusap tenggorokan.

"Apakah kau juga telah memperelok diri dengan tiga kuntum bunga mawar merah pengharum nafas, pelancar dan pemanas aliran darah?"

"Sudah Yang Mulia."

"Selir Pertama Ken Parantili, apakah kau sadar kalau malam ini adalah pertemuan kita yang terakhir. Dan bahwa malam ini kau akan menemui kematian di tanganku?"

Ken Parantili merasa tubuhnya bergetar dan dingin. "Saya sadar Yang Mulia." Jawab sang selir kemudian.

"Apakah kau berani menolak kematian atas dirimu?"

"Kalau itu sudah takdir diri saya mana saya berani menolak."

"Apa kau ada permintaan, setelah kau mati ke mana jenazahmu akan dikirimkan?"

Ken Parantili terdiam karena tidak menduga akan ditanya seperti itu. Akhirnya Selir Pertama ini menjawab. "Saya tidak punya orang tua tidak punya saudara. Tidak punya sanak tidak punya kadang. Bahkan desa kelahiran pun saya tidak pernah tahu. Jika Yang Mulia sudi, mohon jenazah saya dimasukkan ke dalam kawah Gunung Semeru. Saya hanya minta satu hal, sebelum jenazah saya dilempar ke kawah Gunung Semeru, harap jantung saya yang ada di tangan Yang Mulia dikembalikan ke dalam tubuh saya. Agar saya bisa menghadap Para Dewa di Kahyangan secara utuh!"

"Itu pintamu, itu yang akan terjadi. Tetapi soal jantungmu, aku yang akan mengatur karena sudah dimasukan ke Ruang Jantung Sembilan Belas. Sekarang aku akan turun menemuimu!"

Sosok berjubah hijau melayang turun ke bawah, berdiri di samping tempat tidur. Wiro asli dan Wiro sukma sama-sama memperhatikan dengan mata tak berkesip. Ternyata Penguasa Atap Langit bertubuh sedang, berkulit bersih putih dan berwajah jernih. Di atas kepala yang rambutnya disanggul ke atas, terdapat sebuah mahkota emas berbentuk atap. Ukurannya jauh lebih besar dari mahkota kepunyaan Ken Parantili dan ditaburi ratna mutu manikam.

Wiro agak terkesiap. Tadinya dia mengira Penguasa Atap Langit memiliki tubuh tinggi besar, bertampang angker, paling tidak memelihara berewok dan kumis melintang. Ternyata perkiraannya jauh meleset. Penguasa Atap Langit juga tidak mengenakan pakaian kebesaran mewah. Pakaiannya sederhana saja, sehelai jubah panjang berwarna hijau.

"Tampangnya memang bersih jernih. Tidak ada keangkeran. Tapi sepasang mata tampak dingin dan bibir tipis panjang tanda makhluk ini menyembunyikan kekejaman dahsyat dalam dirinya," Wiro berucap dalam hati sambil sepasang mata terus memperhatikan.

Penguasa Atap Langit untuk beberapa lama tegak di tepi tempat tidur, memperhatikan Ken Parantili yang terbaring tertutup kain sutera tipis merah sebatas leher. Dengan gerakan tenang dia melangkah mendekati tempat tidur. Tangan kiri menjangkau mahkota emas di atas kepala sang selir lalu sekali tangan digerakkan mahkota itu melesat ke atas, menancap di langit-langit kamar.

"Kau tampak cantik sekali malam ini." Penguasa Atas Langit memuji.

"Mungkin hanya kecantikan ini yang bisa saya berikan terakhir kali pada Yang Mulia" kata Ken Parantili.

"Kalau begitu pejamkan kedua matamu. Kita segera mulai." Tangan kiri Penguasa Atap Langit kembali sibakkan rambut di wajah sang selir sebelah kiri lalu mengambil bunga mawar yang terselip di telinga. Bunga digoyang-goyang di bawah hidung lalu lenyap dimasukkan ke dalam mulut. Tidak tampak dia mengunyah atau menelan. Dengan tangan kanan Penguasa Atap Langit mengambil bunga mawar kedua yang terselip di telinga kanan. Seperti bunga pertama, bunga ini juga dimasukkan ke dalam mulut. Setelah menatap wajah Ken Parantili sebentar, Penguasa Atap Langit susupkan tangan kanan ke bawah kain sutera merah yang menutupi tubuh Ken Parantili. Tangan menyusup dari arah leher, meluncur ke bawah. Ketika tangan dikeluarkan dari balik kain merah, terlihat dia memegang bunga mawar ketiga. Bunga inipun dimasukkan ke dalam mulut setelah lebih dulu digoyang di bawah hidung.

Dari dua sudut ruangan, sosok asli Pendekar 212 dan sosok sukma terus memperhatikan. Tiba-tiba Penguasa Atap Langit angkat tangan kanan. Tangan itu dalam keadaan terkepal diarahkan ke kepala Ken Parantili.

"Aneh, mengapa dia ingin cepat-cepat membunuh selir itu! Akan memecahkan kepalanya! Bukankah dia ingin bersenang-senang dulu? Agaknya apa yang terjadi tidak seperti yang dikatakan Ken parantili." Sosok asli Pendekar 212 langsung saja menyiapkan serangan pukulan sakti di tangan kanan.

Tangan kanan Penguasa Atap Langit yang mengepal bergerak, bukan berupa serangan memukul kepala yang mematikan, tapi berubah menjadi usapan di atas wajah Ken Parantili. Wiro asli dan Wiro sukma dapat melihat jelas kalau jari tengah dari lima jari tangan yang dikembang dilipat ke telapak tangan.

"Sepertinya dia hendak membunuh selir itu dengan Pukulan Sukma Merah. Tapi mengapa tangan dan jari-jarinya tidak berubah merah." Wiro membatin.

Tidak mau keduluan dia segera angkat tangan kanan yang sudah dialiri tenaga dalam dan hawa sakti. Ini kesalahan yang tidak disadarinya.

Tangan kanan Penguasa Atap Langit ternyata lagi-lagi tidak melancarkan serangan melainkan bergerak ke atas kepalanya sendiri. Gerakan tertahan sebentar ketika kepala digoyangkan.

Wuttt!

Mahkota emas besar di atas kepala Penguasa Atap Langit melesat ke atas dan menancap di langit-langit kamar, tepat menutupi mahkota emas yang lebih kecil, milik Ken Parantili. Penguasa Atap Langit menyeringai.

"Mahkota besar memayungi mahkota kecil, pertanda baik bagimu. Kau akan menemui kematian dengan tenang!" kata Penguasa Atap Langit pada Ken Parantili.

Wiro yang sudah tidak sabaran ingin menghantam, perlahan-lahan kembali turunkan tangan yang masih dialiri tenaga dalam. Kesalahan kedua!

Penguasa Atap Langit merasa dingin pada daun telinga kiri kanan. Sepasang mata menatap wajah Ken Parantili. "Selir Pertama penghuni Puri Kesatu! Aku seperti merasa ada hawa aneh bergerak di dalam kamar ini."

Penguasa Atap Langit memandang berkeliling. Dia tidak melihat ada orang atau benda lain di tempat itu. "Aku ingat Sinuhun Merah Penghisan Arwah. Jangan-jangan benar apa yang diberitahukannya padaku melalui teriakan dari luar Kawasan Atap Langit. Aku Curiga! Buka dua matamu!"

***3PERLAHAN-LAHAN Ken Parantili buka kedua matanya. Sekujur tubuh terasa dingin. Dia menduga paling tidak salah satu dari sosok Wiro telah membuat gerakan. "Sudah diberi tahu agar jangan bergerak..." Ken Parantili melirik ke arah sosok asli Wiro yang berdiri di sudut kiri ruangan. "Mungkin dia mengira Penguasa Atap Langit hendak membunuhku, mungkin dia membuat gerakan hendak mendahului menyerang. Berarti dia mengerahkan tenaga dalam dan hawa sakti. Celaka!"

Ken Parantili menjadi tegang. Dia hendak memberi tanda dengan kedipan mata ke arah Wiro namun takut ketahuan Penguasa Atap Langit. "Aku harus cepat-cepat mengajaknya naik ke tempat tidur. Agar tubuhnya bersentuhan dengan basahan keringat Wiro yang masih menempel di bantal dan kasur..."

Sementara itu Wiro asli dan Wiro sukma terkesiap kaget saling pandang. Wiro baru menyadari kalau dia telah melakukan kesalahan. Membuat gerakan.

Wiro melihat Ken Parantili membuka kedua mata, menggeliat sambil menurunkan kain merah yang menutupi tubuhnya mulai dari leher sampai ke dada. Penguasa Atap Langit tampaknya tidak terpengaruh dengan tubuh yang tersingkap itu. Sebaliknya sosok asli wiro dan sukmanya ternganga dan terbeliak.

Lalu terdengar Ken Parantili berucap. "Yang Mulia, yang kau dengar adalah desau halus gerakan dua kakiku di atas kasur. Aku pasrah menunggu saat kematianku. Tapi aku tidak tahan menunggu saat-saat terakhir kau mencumbuku di atas ranjang ini. Aku ingin menghembuskan nafas terakhir tanpa beban."

"Begitu...?" Penguasa Atap Langit menyeringai lalu melangkah mundar-mandir di samping tempat tidur. Beberapa kali dia menarik nafas dalam mengendus-endus. Di sudut kiri kamar dia berhenti. Walau saat itu jaraknya hanya satu langkah dari sosok asli Wiro, namun dia tidak bisa melihat atau mencium bau tubuh sang pendekar. Ini karena rambut sakti sang selir yang masih menempel di tubuh Wiro. Selain itu Ken Parantili telah membuat penangkal yaitu dengan menyuruh Wiro mandi di Telaga Bersuci dan Bersegar Diri hingga Penguasa Atap Langit tidak mampu mencium sosok sang pendekar.

"Selir Pertama, aku percaya apa yang kau ucapkan barusan." Berkata Penguasa Atap Langit lalu dia bergerak mendekati tempat tidur. Tangan kanan diangkat ke atas kepala membuka gulungan rambut yang dikonde. Begitu konde terlepas terlihat kalau dia memiliki rambut hitam berkilat tergerai panjang sampai ke punggung, menebar bau harum.

Di atas tempat tidur Ken Parantili sengaja tersenyum untuk menutupi rasa tegang yang memagut sampai ke wajah.

Dada berdebar turun naik, Penguasa Atap Langit luruskan dua jari telunjuk tangan kiri kanan lalu diguratkan di atas sepasang alis. Begitu digurat kedua alisnya tampak kereng hitam dan tebal berkeluk. Lalu ibu jari tangan kanan disapukan di atas bibir. Bibir yang tadinya agak pucat kini kelihatan merah segar. Dua telapak tangan ditekapkan ke pipi. Sepasang pipi kini tampak merah segar bercahaya!

Di sudut ruangan sebelah kiri Wiro asli memperhatikan apa yang dilakukan Penguasa Atap Langit dengan tercengang-cengang. "Apa yang dilakukan makhluk itu? Wajahnya seperti dipoles dandanan apik. Oala, mengapa wajahnya seperti perempuan. Lumayan cantik tapi hidung agak besar. He... he!"

Wiro kemudian melihat Penguasa Atap Langit melambai-lambaikan dua tangan di atas kepala, sepuluh jari dijentik-jentik. Aneh, dari ujung-ujung jari bertabur kerlap-kerlip percikan terang seperti bunga api. Dua tangan disapukan mulai dari kepala sampai ke kaki. Bau harum semerbak membalut tubuh Penguasa Atap Langit. Menebar ke seluruh sudut ruangan. Wiro sampai terpana karena belum pernah mencium bau harum semerbak seperti itu. Saluran pernafasan dan dadanya terasa sejuk dan segar. Namun aliran darah berubah mengencang.

Penguasa Atap Langit berdiri lurus-lurus. Mata menatap berbinar ke arah Ken Parantili. Tiba-tiba dia goyangkan tubuh dan saat itu juga jubah hijau yang dikenakannya merosot sampai ke pinggang.

Pendekar 212 dan sukmanya hampir saja mengeluarkan seruan tertahan saking kaget. Dua pasang mata menatap membelalak ke arah dada Penguasa Atap Langit. "Astaga, jadi benar! Tapi edan... mengapa ada bulu di pertengahan dada?!"

Ternyata Penguasa Atap Langit memiliki dada putih bagus seperti seorang perempuan! Hanya saja di bagian tengah dada terlihat ada bulunya.

"Wah! Mengapa jubah tidak ditanggalkan seluruhnya hingga aku bisa melihat lebih jelas, makhluk ini lelaki atu perempuan, atau sebangsa banci!" ucap wiro dalam hati. Dia jadi ingat pada Jaka pesolek. Sepasang mata terus memperhatikan.

"Kekasihku Ken Parantili, walau hidupmu hanya tingal setengah malaman, aku harap kau akan menghiburku seperti yang sudah-sudah."

Wiro dan sukmanya sama melengak. Suara Penguasa Atap Langit yang terdengar di dalam kamar jelas adalah suara perempuan, halus dan lembut.

"Penguasa Atap Langit! Diriku milikmu. Mudah-mudahan aku bisa memberikan yang lebih baik pada saat terakhir ini..."

"Selir edan, jelas tahu mau dibunuh malah bicara bermesra-mesra!" sosok asli Wiro menggerutu dalam hati.

Tanpa melepas seluruh jubahnya Penguasa Atap Langit bergerak naik ke atas tempat tidur lalu membaringkan tubuh di samping Ken Parantili. Ketika dia hendak memeluk dan mencium sang selir, tiba-tiba dessss... desss!

Asap kelabu mengepul dari bantal dan kain tebal penutup tempat tidur yang masih basah oleh keringat Wiro! Penguasa Atap Langit menjerit keras, tubuh terpental ke udara lalu jatuh tergelimpang di lantai permadani. Wajah tampak pucat!

Suara jeritan Penguasa Atap Langit tadi bukan suara lelaki sakti yang menggelegar. Tapi itu adalah suara jeritan perempuan!

"Selir jahanam! Kau membawa lelaki tidur di atas ranjangku!" Teriak Penguasa Atap Langit. Kini suaranya kembali berubah menjadi suara laki-laki. Menggelegar keras di dalam ruangan hingga menimbulkan getaran hebat! Sekujur tubuh mengepulkan asap kelabu. Wajah yang sebelumnya jernih dipoles dandanan apik dan juga tubuh sebelah atas yang tersingkap putih dan bagus perlahan-lahan berubah berkerenyut lalu memutih dan leleh seperti timah mencair. Jubah hijau yang masih melekat di tubuh sebelah bawah tampak putih gosong.

Menyaksikan apa yang terjadi Wiro hampir tak percaya. Hanya karena bersentuhan dengan bau badan dan keringatnya yang menempel di bantal serta tempat tidur, Penguasa Atap Langit yang memiliki kesaktian hebat itu ternyata benar-benar mengalami celaka luar biasa.

Dalam keadaan seperti itu Penguasa Atap Langit berusaha bangkit tapi dia hanya mampu terduduk di lantai. Dua tangan diangkat ke atas. Lalu menjerit lagi. Setelah itu mulut berkomat-kamit pertanda ada sesuatu yang dirapalnya.

Lalu setengah megap-megap dia berkata. "Selir jahanam! Kau merontokkan sembilan ilmu kesaktianku, tapi jangan mengira aku tidak akan mampu membunuhmu! Jangan kira kau bisa lolos dari kematian! Aku masih menyimpan ilmu yang tidak bisa dimusnahkan oleh keringat dan bau tubuh lelaki yang berselingkuh denganmu! Aku akan mencari tahu siapa adanya bangsat penyusup itu sekarang juga! Akan kubunuh! Biar kau saksikan bagaimana aku membantai lelaki selingkuhanmu! Baru setelah itu kau kuhabisi!"

Ken Parantili terkejut mendengar ucapan Penguasa Atap Langit. Dia cepat goyangkan tubuh. Saat itu pakaian putih berenda yang sebelumnya dikenakan kembali muncul membalut tubuhnya yang sejak tadi dalam keadaan telanjang hanya terlindung kain sutera tipis. Dengan cepat perempuan ini melompat dari tempat tidur.

"Kau mau lari ke mana?!" Hardik Penguasa Atap Langit. Tubuhnya yang leleh kini mampu berdiri walau terhuyung-huyung. Kelihatannya sebagian kekuatannya mulai pulih. Jubah gosong putih yang tadi masih menggantung sepinggang rontok jatuh ke lantai permadani. Ternyata bagian tubuh dari pinggang sampai ke kaki juga sudah memutih leleh pula!

Wiro asli dan Wiro sukma buka mata lebar-lebar, menatap ke bagian bawah perut Penguasa Atap Langit. Namun keadaan tubuh yang leleh putih begitu rupa sulit untuk memastikan apa sebenarnya jenis kelamin Penguasa Atap Langit. "Sial, aku tidak bisa melihat apa dia punya kelamin lelaki atau perempuan. Mungkin juga dia punya dua kelamin. Weehhh!" Wiro berkata dalam hati.

"Ken Parantili, kau tidak bisa lolos. Aku telah menutup semua dinding, lantai dan atap! Tidak ada jalan keluar bagimu!" Penguasa Atap Langit berteriak mengancam.

Ken Parantili memandang seputar kamar, mendongak ke langit-langit. Wajah selir ini berubah pucat ketika dia melihat bagaimana lantai yang ditutupi permadani, dinding dan langit-langit kamar yang berwarna merah muda bergaris kuning kini berubah menjadi hitam pekat bergaris merah berbuhul-buhul menyerupai jaring.

"Jaring Sukma Merah!" ucap Ken Parantili. "Aku masih bisa menembus. Tapi bagaimana dengan Wiro?"

Benda putih aneh di pertengahan langit-langit yang menjadi penerang ruangan tiba-tiba meredup. Rasa tegang dan takut yang amat sangat terlihat di wajah Ken Parantili. "Kalau aku memang harus mati aku pasrah. Tapi bagaimanapun aku harus menolong pemuda itu!"

Tiba-tiba Selir Pertama itu berteriak keras. Tangan kanan diangkat setinggi dada lalu dihantamkan ke arah Penguasa Atap Langit yang saat itu berdiri angker di tengah ruangan.

Wusss!

Selarik sinar kebiru-biruan menyembur lalu membentuk buntalan ombak, mengeluarkan suara menderu seperti air mendidih melesat dari telapak tangan kanan Ken Parantili. Uap luar biasa panas mengepul!

Dapatkan dirinya diserang Penguasa Atap Langit malah tertawa bergelak. "Ombak Neraka Mendidih! Kau mendapatkan ilmu itu dariku! Mana mungkin bisa mencelakaiku! Selir jahanam! Saatnya kau menerima kematian di tanganku! Tubuhmu akan aku buat jadi babi rebus!"

Penguasa Atap Langit tekuk sepasang lutut. Dua tangan membuat gerakan menggapai ke udara. Hanya beberapa jengkal lagi buntalan air mendidih akan mengguyur tubuhnya, tiba-tiba sang penguasa membentak keras dan pukulkan dua tangan ke atas.

Dess! Desss!

Gelombang air mendidih serta merta tertahan menggantung di udara. Penguasa Atap Langit bantingkan kaki kanan ke lantai membuat permadani hangus.

Byuuuuurr! Pukulan Ombak Mendidih berbalik menghambur ke arah Ken Parantili!

Penguasa Atap Langit mendadak sontak terkejut besar ketika melihat di dalam ruangan Ken Parantili bukannya ketakutan atau mencoba selamatkan diri tapi malah berdiri kaki merenggang tangan berkacak di pinggang.

Tiba-tiba selir ini teriakan ucapan. "Ombak hanya ada di laut! Di darat topan prahara yang berkuasa!"

"Kurang ajar! Dari mana dia tahu rapal penangkal itu!"

Penguasa Atap Langit tersentak kaget sampai keluarkan suara menggembor keras.

Di hadapannya Ken Parantili membungkuk sambil mendorongkan dua tangan dan kepala. Di dalam ruangan bergemuruh deru angin. Lantai, empat dinding dan langit-langit bergoyang. Pukulan Ombak Neraka Mendidih berbalik menyerang Penguasa Atap Langit. Didahului suara hardikan marah Penguasa Atap Langit cepat angkat tangan kiri. Lima larik sinar hitam mencuat.

"Kipas Hitam Menyapu Puncak Semeru!" Ken Parantili berseru kaget dalam hati, mengenali dan menyebut nama ilmu kesaktian yang tengah dikeluarkan Penguasa Atap Langit. Cepat-cepat dia bersurut mundur hingga punggung menyentuh dinding ruangan. Sinar hitam menderu menebar membentuk lima kipas raksasa, langsung menghantam ke depan memusnahkan serangan balik yang dilancarkan Ken Parantili. Gelombang air biru bermuncratan ke seluruh ruangan membuat goncangan hebat, lalu raib tanpa bekas tanpa membuat ruangan jadi basah.

Penguasa Atap Langit rupanya tidak mau memberi kesempatan lagi. Dengan cepat dia jentikkan lima jari tangan kanan. Lima sinar biru sangat halus menyambar tanpa suara ke arah lima jalan darah di tubuh Ken Parantili.

"Lima Jarum Penjahit Raga!" Dada Ken Parantili berdegup. Darah tersirap dan wajah berubah pucat. "Celaka! Aku tidak tahu ilmu penangkalnya!"

Dreett... dreett

***4DUA UJUD Wiro yang berada di sudut ruangan tersentak kaget ketika melihat bagaimana Ken Parantili tertegak kaku. Sekujur tubuh mulai dari leher sampai ke betis dilibat cahaya halus kebiru-biruan seolah rajutan benang yang menjahit lima bagian tubuhnya. Mulai dari leher, dada, pinggang, dua tangan dan sepasang kaki hingga dia tidak bisa bergerak. Di atas kepala menancap lima benda aneh berbentuk jarum sepanjang satu jengkal berwarna biru.

"Wiro! Lekas lari! Tinggalkan tempat ini!" Ken Parantili berteriak.

"Ha... ha! Jadi bergundal teman selingkuhanmu itu bernama Wiro. Nama aneh, orang dari mana dia?! Aku mau lihat tampangnya. Apa dia lebih sakti dariku hingga bisa menembus Jaring Sukma Merah yang telah membungkus seluruh Puri Kesatu!"

Sadar kalau Wiro tidak mungkin menembus ilmu Jaring Sukma Merah, Ken Parantili kembali berteriak. "Wiro! Cepat terapkan ilmu yang kau keluarkan di tepi telaga!"

Mendengar teriakan Ken Parantili, Pendekar 212 segera gerakkan kaki kanan ke depan.

Rrrrttttt!

Permadani merah di lantai ruangan robek besar ketika Wiro menoreh dengan ujung ibu jari kaki kanan. Tapi lantai tidak terbelah! Wiro asli terbelalak. Wiro sukma melengak.

Ken Parantili terkejut. Tidak menyangka Penguasa Atap Langit masih punya kesaktian untuk mementahkan serangan Membelah Bumi Menyedot Arwah yang dilancarkan Wiro.

Sepasang mata Penguasa Atap Langit mendelik. Dia menyaksikan permadani robek memanjang tapi tidak melihat siapa yang melakukan. Kini dia benar-benar yakin. Walau tidak dapat melihat ujud tapi dalam ruangan itu ada makhluk lain. Mungkin manusia biasa, bisa juga makhluk alam arwah.

Penguasa Atap Langit dongakkan kepala. Mulut komat-kamit lalu meniup tiga kali berturut-turut. Dalam ruangan muncul segulung cahaya kuning melayang berputar-putar. Selain mengeluarkan suara tiupan angin menguing yang menyakitkan telinga, gulungan angin bercahaya kuning juga punya kemampuan menyedot!

"Celaka! Dia mengeluarkan ilmu Raja Arwah Meniup Puncak Langit!" Kejut Ken Parantili. Lalu dia berteriak memperingatkan. "Wiro awas! Tekap dadamu! Jangan sampai rambutku terlepas tanggal dari tubuhmu!"

Namun terlambat. Saat itu gulungan cahaya kuning telah memutar tiga kali di atas kepala Wiro lalu melesat ke atas menembus langit-langit kamar.

Wuuusss!

Tubuh Wiro terangkat sampai setengah tombak. Pakaiannya berkibar-kibar, dada baju tersibak. Permadani penutup lantai melekuk ke atas. Tempat tidur besar naik ke udara sampai dua jengkal lalu terhempas ke bawah.

Mendengar teriakan Ken Parantili Wiro cepat dekapkan dua tangan di depan dada. Namun saat itu sehelai rambut Ken Parantili yang melekat di dadanya terbetot ke atas, menyusup keluar dari balik pakaian, melesat dan menancap laksana batangan lidi di langit-langit kamar!

Ken Parantili berteriak tegang. Rasanya dia ingin menjambak putus rambut di kepala dan melemparkan ke arah Wiro. Namun saat itu dia tak mampu bergerak akibat Ilmu Lima Jarum Penjahit Raga. Dua tangan menempel ke badan seolah dijahit!

Begitu rambut yang selama ini menjadi pelindungnya tidak ada lagi di tubuh, dua sosok Wiro yang asli dan yang sukma serta merta terlihat jelas oleh Penguasa Atap Langit.

Sesaat Penguasa Atap Langit terkesiap. Sepasang mata mendelik besar, pancarkan cahaya merah menyala pertanda amarahnya sudah mendidih sampai kepala. Dia tidak menyangka kalau ternyata ada dua orang lelaki muda di dalam kamar yang berarti Selir Pertama telah berselingkuh bukan hanya dengan satu orang tapi dengan dua orang sekaligus!

"Dua pemuda aneh berambut gondrong. Pakaian, tampang sama. Apa mereka kembar?!" Amarah Penguasa Atap Langit meledak. "Selir jahanam! Kau melindungi dua bangsat ini dengan rambutmu hingga dia tidak terlihat dan bisa lolos masuk ke dalam Negeri Atap Langit. Jadi dua pemuda gembel bejat ini yang telah menidurimu!"

"Yang Mulia, kau sengaja unjukkan kemarahan untuk sembunyikan rasa takutmu pada dua kekasihku yang gagah dan hebat itu! Hik... hik!" Ken Parantili mengejek lalu tertawa cekikikan. Padahal dalam hati saat itu dia merasa sangat takut.

"Kau akan menyaksikan! Saat ini juga keduanya akan kubantai habis!" Teriak Penguasa Atap Langit.

"Tidak usah keduanya. Coba kau hadapi yang satu di sudut kamar sebelah kiri saja. Apa kau sanggup membunuhnya dengan Pukulan Delapan Sukma Merah." Menyebut Ken Parantili. Suara keras, air muka sunggingkan ejekan, membuat amarah Penguasa Atap Langit semakin menggelegak. Sosok Wiro yang ada di sudut kiri ruangan adalah sosok yang asli.

Ditantang seperti itu meledaklah amarah Penguasa Atap Langit. Dia terpancing! Sambil berjingkrak, dua tangan dihantamkan ke arah Wiro asli dan Wiro sukma. Kecuali jari tengah yang dilipat ke bawah telapak, empat jari lainnya mencuat lurus ke depan.

Wusss!

Delapan larik sinar merah pekat berkiblat. Empat ke arah raga asli Wiro, empat lagi ke sudut kanan ruangan di mana berdiri sukma Pendekar 212. Inilah perbedaan antara Sinuhun Merah Penghisap Arwah dan Sang Penguasa. Sebagai pemilik ilmu kesaktian Delapan Sukma Merah tersebut, Penguasa Atap Langit langsung melancarkan serangan dari delapan jari tangannya. Sementara Dua Sinuhun lebih mengandalkan delapan benjolan yang ada di kening. Jika benjolan lenyap maka lenyap pula ilmu kesaktian itu.

"Wiro! Ingat kejadian di Telaga Bersuci dan Bersegar Diri!" Berteriak Ken Parantili. Dia sengaja tidak meneriaki agar Wiro menancapkan delapan jari tangan karena kuatir jika Penguasa Atap Langit mengetahui hal itu, mungkin sekali dia akan membatalkan serangan lalu menggempur dengan ilmu kesaktian lain.

"Selir jahanam! Benar-benar kurang ajar! Jadi kau..."

Hardik kemarahan Penguasa Atap Langit tidak selesai. Saat itu di sudut kiri ruangan Wiro lipat jari tengah masing-masing tangan ke arah telapak. Tanpa berpaling, delapan jari yang mencuat lurus kemudian ditancapkan ke dinding di belakangnya.

Kraakk!

Di sudut kamar sebelah kanan sukma Wiro lakukan hal yang sama. Delapan jari tangan bukan ditancap ke dinding kamar tapi diarahkan ke atas batok kepala sendiri!

Kreekkk!

Delapan jari tangan tenggelam menancap ke dalam batok kepala. Tapi hebatnya tidak ada darah yang meleleh atau otak yang muncrat. Malah sukma Pendekar 212 senyum-senyum sambil kedap-kedipkan mata!

Kamar besar tidak berjendela tidak berpintu bergetar keras. Lantai laksana mau amblas. Penguasa Atap Langit luar biasa kaget melihat apa yang dilakukan Wiro asli, dan lebih melengak lagi menyaksikan apa yang diperbuat sukma Wiro.

"Makhluk apa keparat yang satu ini! Manusia biasa tidak mungkin mencucuk kepalanya sendiri sampai berlubang. Juga tidak ada darah mengucur!"

Penguasa Atap Langit kemudian sadar kalau dirinya telah termakan pancingan orang. Dia berteriak sambil menunjuk ke arah Ken Parantili. "Selir keparat! Kau memberi tahu cara menangkal pada dua gembel...!"

Makian Penguasa Atap Langit terhenti. Saat itu ada kekuatan aneh menggempur dirinya hingga bergetar keras. Beberapa bagian tubuhnya yang memutih seperti lelehan timah membeku jatuh berkeping-keping ke lantai ruangan. Sepasang mata memberojol keluar, daun telinga mengepul api. Dari beberapa bagian tubuh menyembur asap hitam.

Penguasa Atap Langit menjerit keras. Seperti yang terjadi dengan Selir Ketiga Windu Resmi, dia gerakkan sepuluh jari tangan mencekik leher sendiri! Kreekk! Terdengar suara seperti tulang patah. Di leher tampak luka menganga. Tubuh terhuyung limbung lalu tersungkur. Kening menempel di atas lantai, tubuh sebelah bawah menungging ke atas. Dari mulut membuih busa merah.

Di saat-saat genting seperti itu ternyata Penguasa Atap Langit masih mampu menguasai diri. Didahului teriakan seperti anjing meraung dia tusukkan dua jari telunjuk ke pusar di pertengahan perut hingga jebol membentuk dua lobang besar. Dari dalam dua lobang ini mengepul keluar asap merah tipis yang dengan cepat menyelubungi tubuhnya.

Penguasa Atap Langit kembali meraung keras dan panjang. Begitu lolongan putus sosoknya melesat ke atas. Ketika turun lagi menjejak lantai keadaannya berubah ujud. Tubuh yang tadi berwarna putih seperti timah meleleh, kini tampak utuh seperti manusia. Hanya saja keseluruhannya berwarna merah dan gerak-geriknya seperti patung kayu kaku! Setiap membuat gerakan, beberapa bagian tubuh mengeluarkan suara berkereketan.

Greekk!

Kepala dan kaki yang diputar mengeluarkan suara menggidikan. Lantai yang tergeser mengepulkan asap!

Greekk!

Dua tangan bergerak ke depan. Sepuluh jari dipentang.

Masih tersandar ke dinding ruangan Ken Parantili terkejut luar biasa. "Hyang Jagat Bathara!" Untuk pertama kalinya selir ini mengucap nama Dewa. "Ternyata benar dia memiliki ilmu Selubung Kain Kafan Sukma Merah! Tak ada lagi harapan hidup bagiku!" Ken Parantili berpaling ke arah Wiro lalu berteriak. "Wiro! Lekas pergi! Tinggalkan tempat ini!"

Penguasa Atap Langit tertawa bergelak. Suara tawanya membuat ruangan berguncang dan dada berdegup. "Tidak ada satu makhlukpun bisa keluar dari tempat ini! Muncul di sini mati di sini!"

Selesai keluarkan ucapan Penguasa Atap Langit meniup ke arah Ken Parantili sementara dua tangan dilambaikan ke depan. Tangan kanan melambai ke arah Wiro asli, tangan kiri menyapu ke jurusan sukma Wiro.

Tiga larik cahaya menggebubu dalam ruangan membentuk larikan kain lebar berwarna merah disertai menebarnya bau bunga kemboja, bunga yang banyak tumbuh di pekuburan!

Teriakan Ken Parantili membuat Pendekar 212 bisa mengetahui kalau Penguasa Atap Langit akan melancarkan serangan berupa ilmu yang dahsyat. Terlebih ketika hidungnya mencium bau bunga kemboja mendadak berubah menjadi bau kemenyan dibakar!

Bukannya menuruti apa yang dikatakan sang selir, murid Sinto Gendeng justru ingat pada keterangan Ken Parantili sebelumnya, yaitu bahwa semua bangunan di Negeri Atap Langit tidak ada pintu dan jendela. Karena setiap pintu dan jendela merupakan pantangan bagi sang penguasa yang konon bisa membuat ilmu kesaktian yang ada padanya akan lenyap satu persatu melalui pintu atau jendela itu.

Tidak tunggu lebih lama Wiro segera hantamkan dua tangan. Tangan kanan melepas pukulan Sinar Matahari diarahkan ke Penguasa Atap Langit, tangan kiri memukul ke arah dinding melepas pukulan Dewa Topan Menggusur Gunung. Wiro sengaja mengeluarkan pukulan sakti pemberian Tua Gila dari Andalas ini untuk menjebol dinding membuat satu lobang atau pintu besar guna mematahkan kesaktian Penguasa Atap Langit.

Di sudut lain ruangan sukma Wiro tidak tinggal diam. Dengan gerakan yang tampak lamban sosok mengapung, tubuh mengambang dalam ruangan, dua tangan bergerak menggapai ke arah sosok Penguasa Atap Langit.

Mula-mula sang penguasa tidak begitu memperhatikan. Namun ketika melihat sosok sukma Wiro yang berubah dari utuh menjadi bayang-bayang kagetnya bukan alang kepalang. Apalagi dua tangan yang menggapai kelihatan jelas mampu menembus tebaran kain kafan merah tanpa merobeknya! Tampang Penguasa Atap Langit berubah. Jantung berdegup keras.

"Tidak mungkin! Aku menyirap kabar dia sudah lama menemui kematian. Bagaimana bisa ilmunya..." Dalam kaget Penguasa Atap Langit tidak bisa berpikir panjang. Serta merta Penguasa Atap Langit kerahkan seluruh tenaga dalam dan hawa sakti yang dimiliki! Tiga larik cahaya merah ilmu bernama Selubung Kain Kafan Sukma Merah melebar dan bertambah tebal, membuntal menelikung ke arah Ken Parantili, Wiro asli dan sukma Wiro. Dua tangan sukma Wiro yang tadi mampu menembus kain merah mendadak sontak lenyap!

Bentrokan kekuatan-kekuatan dahsyat menggelegar dalam ruangan. Ken Parantili menjerit lalu sosoknya lenyap dalam buntalan cahaya berbentuk kain merah lebar dan panjang! Sesaat terdengar suara jeritannya. Lalu diam. Tubuh yang tergulung dalam buntalan kain kafan merah roboh ke lantai lalu laksana dihantam angin prahara melesat ke samping kiri menembus dinding ruangan.

***5BERSAMAAN dengan terlemparnya sosok Ken Parantili, Puri Kesatu tempat kediaman selir pertama itu laksana dihantam gempa. Pukulan Sinar Matahari dan Dewa Topan Menggusur Gunung berkiblat. Langit-langit ruangan runtuh. Dinding roboh di dua tempat. Lantai rengkah. Wiro dan sosok sukma mencelat ke udara dalam keadaan tubuh mengepul dan tergulung kain kafan merah.

Di dalam ruangan yang sudah porak poranda, tubuh kaku seperti kayu Penguasa Atap Langit tergontai-gontai, mengeluarkan suara greek-greek berulang kali seolah hendak hancur bertanggalan. Namun luar biasanya cahaya putih panas pukulan Sinar Matahari yang dihantamkan Wiro ke arahnya tampak mengapung di tengah ruangan, tidak mampu mendekati sasaran!

Walau sanggup mementahkan serangan Pendekar 212, namun ketika melihat dinding jebol membentuk dua pintu besar terbuka, Penguasa Atap Langit sadar bahaya yang mengancam. Dengan cepat dia melesat keluar dari dalam bangunan Puri Kesatu. Satu cahaya merah melesat keluar dari dalam batok kepala sang penguasa, pertanda ada satu ilmunya yang sempat terlepas keluar akibat berada dalam ruangan yang dindingnya berlobang menyerupai pintu!

Di halaman Puri Kesatu Pendekar 212 Wiro Sableng terhampar di tanah, bersebelahan dengan sosok sukmanya. Keduanya terbungkus dalam gulungan kain kafan merah. Wiro mencoba merobek kain merah yang membungkusnya dengan berbagai cara namun sia-sia saja. Dia berusaha berdiri tapi roboh. Nafas mulai menyengal. Tubuhnya mendadak terasa lemah hingga tidak mampu bergerak. Di sampingnya sukma Wiro mengalami hal yang sama tapi masih mampu berdiri walau tergontai-gontai.

Wuttt!

Satu bayangan merah berkelebat. Satu kaki tahu-tahu menendang punggung Wiro dari belakang hingga sang pendekar tersungkur. Wiro merasa sekujur tubuh seperti hancur remuk. Yang bisa dilakukannya hanya mengerang kesakitan dan menyumpah habis-habisan. Kemudian dirasakannya ada satu kaki menginjak dadanya tepat di arah jantung! Lalu breett! Ada orang merobek kain kafan yang menutupi kepalanya.

Kain kafan merah robek di bagian wajah Wiro hingga dia bisa melihat keadaan di sekitarnya serta siapa yang menginjak dadanya. Bukan lain Penguasa Atap Langit! Ketika dia memperhatikan, ternyata kasut merah yang menginjak dadanya memiliki paku-paku runcing!

Di saat bersamaan terdengar suara kepakan disertai suara teriakan hiruk-pikuk. Bau busuk memenuhi udara malam. Di langit muncul tiga kelelawar raksasa dan puluhan makhluk berwajah hitam putih, berambut riap-riapan. Mata memberojol bisa keluar masuk mengerikan!

Melihat kedatangan para pengawal itu Penguasa Atap Langit bukannya gembira tapi malah menghardik marah. "Aku sudah babak belur! Kalian baru muncul! Jahanam tidak berguna! Pergi dari hadapanku. Jangan berani datang kalau tidak aku panggil!"

Salah seekor kelelawar raksasa rundukkan kepala kuncupkan dua sayap lebar. Lalu dia bicara dan suaranya tidak beda dengan manusia. "Yang Mulia, mohon maafmu. Kami sudah tahu kalau sesuatu terjadi di Puri Kesatu. Namun ketika kami berusaha menuju ke sini, ada kekuatan aneh yang membuat kami berputar-putar tak karuan di langit. Setelah berusaha keras baru kami berhasil menembus. Kami mohon maaf..."

"Aku tidak perduli alasan kalian! Kalian sudah kuberi ilmu kesaktian! Mengapa bisa berlaku tolol! Lekas menyingkir dari hadapanku! Jangan tunggu sampai aku menjatuhkan azab hukuman atas kelalaian kalian!"

"Yang Mulia, kami mohon maaf..."

"Sudah! Menyingkir dari hadapanku! Kalian jaga saja perbatasan Negeri Atap Langit. Jangan ada yang bisa lolos dari sini atau ada yang menyelinap masuk!"

Tiga kelelawar raksasa rundukkan kepala. Puluhan makhluk Arwah Hitam Putih keluarkan suara memelas. Lalu semua makhluk berkelebat pergi meninggalkan tempat itu.

Penguasa Atap Langit gesekkan kaki kanannya. Paku-paku runcing di telapak kasut bukan saja merobek baju tapi juga membuat luka dalam di dada Wiro. Dan paku-paku di telapak kasut itu bukan paku biasa karena mengandung racun jahat yang bisa mematikan seekor kerbau besar dalam waktu setengah harian!

Dalam keadaan tak berdaya seperti itu Wiro masih berusaha mengeluarkan ilmu kesaktian Sepasang Pedang Dewa, yaitu berupa sambaran dua sinar hijau yang keluar dari kedua mata. Namun ilmu kesaktian itu tidak mampu dikeluarkan!

"Celaka, apa yang terjadi dengan diriku!" Pikir Pendekar 212.

Ternyata Penguasa Atap Langit masih memiliki ilmu yang mampu menghadang kekuatan dan kesaktian Pendekar 212!

"Manusia bejat penidur selir pertamaku! Jantungmu...! Aku akan menghancurkan jantungmu! Ha... ha... ha!" Penguasa Atap Langit geser-geserkan kasut berpaku.

Tidak mampu menahan sakit, Wiro berteriak namun tenggorokannya tercekik dan dari mulut kelihatan ada lelehan darah mengucur!

Penguasa Atap Langit kembali tertawa bergelak. Tenaga dalam dialirkan ke kaki kanan. Pada saat dia siap menghunjamkan kaki itu ke dada Wiro untuk menghancurkan jantung sang pendekar, tiba-tiba entah dari mana datangnya sayup-sayup terdengar suara tabuhan gamelan.

Penguasa Atap Langit terkesiap.

"Ada suara seruling dan tabuhan gendang. Ada suara gesekan rebab. Itu bukan suara gamelan Negeri Atap Langit. Aku merasa ada yang tidak beres. Hidungku mencium bau wangi aneh..."

Tidak tunggu lebih lama Penguasa Atap Langit segera gerakkan kaki kanan. Kasut merah berpaku dihunjam keras ke dada Pendekar 212 Wiro Sableng. Namun dia melengak kaget. Bagaimanapun dia mengerahkan tenaga luar dan dalam, kaki kanan itu terasa kaku, berat dan tak sanggup digerakkan.

Dalam keadaan seperti itu terdengar suara orang bernyanyi. Yang menyanyi lebih dari satu orang. Tiap bait nyanyian dilantun saling bergantian. Suara yang menyanyi adalah suara perempuan!

"Sebelum ajal berpantang mati

Tidak dipanggil datang sendiri

Jangan membunuh sembarangan

Nyawa manusia bukan barang ketengan

Tidak dipanggil datang sendiri

Kehendak Yang Kuasa adalah pasti

Sebelum ajal berpantang mati

Jangan menanam dendam di dalam hati

Lupakan amarah agar bisa menanam budi"Baik Wiro maupun Penguasa Atap Langit sama-sama terkejut. Ada suara menyanyi tapi orang yang menyanyi tidak kelihatan. Penguasa Atap Langit kertakkan rahang. Kaki kanan kembali dihunjam kuat-kuat ke dada kiri Pendekar 212. Tiba-tiba di dalam gelap dan dinginnya malam dari balik pinggang pakaian Wiro meluncur keluar delapan benda aneh bercahaya, melayang seperti kunang-kunang.

***6UJUD kunang-kunang berubah membesar namun cahaya yang semula terang menjadi redup. Benda-benda aneh ini kemudian membesar dan membesar hingga membentuk ujud sangat samar, menyerupai sosok bayang-bayang delapan pocong hitam gelap, meliuk-liuk seperti asap ditiup angin tetapi gerakannya seolah mengikuti suara tetabuhan gamelan di kejauhan. Dari tubuh mereka yang hitam sesekali memancar warna kuning, coklat dan hijau dan bau harum mewangi.

Sulit diduga makhluk apa mereka adanya. Hantu atau makhluk jejadian dari alam arwah atau mungkin setan kuburan yang terpesat gentayangan. Tapi apa memang ada kuburan di Negeri Atap Langit?

Dalam keadaan tak berdaya Wiro menghitung. Sosok samar itu berjumlah delapan. Meliuk-liuk mengelilingi dirinya dan Penguasa Atap Langit yang mendadak tampak ketakutan. Wiro ingat, warna kuning, coklat dan hijau adalah paduan tiga warna yang ada pada kuntum bunga matahari!

Murid Sinto Gendeng jadi terkesiap sendiri. Dia cepat menggerakkan tangan kanan. Dalam keadaan tubuh lemah tiada daya dengan susah payah baru dia berhasil meraba pinggang kanannya. Astaga! Walau masih belum yakin tapi dia merasa dugaannya mungkin benar. Delapan bunga matahari kecil yang sebelumnya terselip di pinggangnya tak ada lagi di tempat semula!

Wiro lantas saja ingat pada keterangan Ken Parantili sewaktu berada di Puri Kesatu. Saat itu sang selir berkata, "Kau harus menjaga delapan bunga itu baik-baik. Karena

delapan bunga sesungguhnya adalah delapan pocong gadis cantik. Jika kau melantunkan sepenggal nyanyian, maka mereka akan keluar dari dalam bunga. Dengan kehendak Yang Maha Kuasa mereka akan melakukan apa saja yang kau inginkan. Terutama menolong dan menjaga keselamatan dirimu..." (Baca serial sebelumnya "Selir Pamungkas").

"Tapi aku tidak melantunkan nyanyian. Aku tidak memanggil mereka. Mengapa mereka bisa keluar dari dalam bunga..." Membatin Pendekar 212. Lalu dia ingat pada nyanyian yang terdengar sebelum delapan pocong menari menampakkan diri. "Tidak dipanggil datang sendiri... Kehendak Yang Kuasa adalah pasti... Sebelum ajal berpantang mati..."

"Delapan Pocong Menari... Mereka muncul sendiri. Keluar dari dalam delapan bunga matahari untuk menolongku. Terima kasih delapan pocong! Terima kasih Gusti Allah!" Wiro mengucap dalam hati.

Setelah terkesiap cukup lama, Penguasa Atap Langit menggembor keras. Kreeek! Seluruh tenaga dalam yang ada disalurkan ke kaki kanan untuk menjebol dada Wiro. Tangan kiri kanan dipentang. Jari tengah dilipat.

Kreek!

Delapan jari lainnya mencuat lurus, pancarkan cahaya merah!

"Sebelum ajal berpantang mati. Jangan menanam dendam di dalam hati. Lupakan amarah agar bisa menanam budi."

Kembali terdengar suara perempuan menyanyi. Lalu disusul suara meniup. Tiupan itu perlahan saja namun Wiro melihat bagaimana sosok Penguasa Atap Langit tiba-tiba terangkat ke atas, jungkir balik di udara malam tiga kali sebelum ambruk ke tanah kepala ke bawah kaki ke atas! Untuk beberapa lama kepala Penguasa Atap Langit menancap di tanah sampai sebatas leher sementara dua kaki melejang-lejang.

Delapan pocong hitam tiba-tiba palingkan wajah ke arah Wiro lalu sama-sama runcingkan mulut siap meniup. Wiro jadi melengak kaget. Mengira dirinya akan diperlakukan seperti Penguasa Atap langit, dilempar ke udara lalu dibanting ke bawah, kepala menancap di tanah!

"Oala! Kalau kalian mau membunuhku gebuk saja langsung batok kepalaku! Jangan dibuat sengsara seperti makhluk itu!" Wiro keluarkan ucapan.

"Hik... hik... hik!"

Terdengar dua di antara pocong, tertawa mengikik. Membuat Wiro jadi heran. Lalu ada suara berkata. "Hati-hati... Jangan meniup terlalu keras. Bisa-bisa seluruh pakaiannya ikut tanggal! Hik... hik... hik!"

"Memangnya kita tidak boleh melihat pemuda telanjang?! Hik hik!" Ada suara bertanya lalu ikutan cekikikan.

Delapan mulut meniup! Wiro merasa ada sambaran angin halus meniup dirinya mulai dari kepala sampai ke kaki.

Wuttt!

Kain kafan merah yang membungkus tubuh Wiro lenyap seketika. Bersamaan dengan itu kekuatannya kembali pulih. Wiro cepat melompat berdiri hendak mendatangi delapan pocong hitam. Maksudnya hendak mengucapkan terima kasih sambil memperhatikan bagaimana sesungguhnya wajah mereka. Tapi didahului suara tawa cekikikan delapan makhluk itu lenyap tanpa bekas. Ketika memandang ke depan dia melihat Penguasa Atap Langit pergunakan dua tangan menggebuk tanah hingga tanah terbongkar dan kepalanya terlepas dari jepitan tanah. Walau kini bebas namun kekuatannya seperti leleh. Tubuh terguling ke tanah, dada turun naik, nafas megap-megap, lidah terjulur dan sepasang mata mencelat. Dua tangan memegangi leher seperti berusaha melepaskan diri dari cekikan yang tidak kelihatan.

Wiro memandang berkeliling. Dia tidak melihat sosok sukmanya. Dia juga tidak melihat Ken Parantili. Wiro tidak khawatir pada keselamatan sukmanya. Tapi dia merasa takut kalau telah terjadi sesuatu dengan Ken Parantili.

"Selir itu. Jangan-jangan sudah dihabisi Penguasa Atap Langit!"

Memikir sampai ke situ Wiro melompat ke hadapan Penguasa Atap Langit yang tergelimpang di tanah. Tanpa banyak cerita lagi kaki kanannya bergerak menendang ke arah kepala.

Saat itu berturut-turut mendadak ada suara mengiang bersahut-sahutan di telinganya. Suara perempuan.

"Mengobati luka sendiri lebih penting dari melampiaskan hawa amarah. Racun jahat hanya memberi waktu dua puluh satu hitungan."

"Membunuh lawan tidak berdaya bukanlah sifat ksatria sejati."

"Mendahulukan menyelamatkan seorang sahabat adalah lebih baik dari menuruti kata hati."

Wiro terkesiap dan tertegun diam. Tendangan ke arah kepala Penguasa Atap Langit serta merta dibatalkan. "Siapa yang mengirimkan suara pengiang? Pasti pocong-pocong menari tadi." Pikir Wiro.

Sang pendekar raba dadanya yang luka dan ternyata masih mengucurkan darah akibat injakan kasut berpaku Penguasa Atap Langit. Darah yang keluar dari luka bukan berwarna merah tapi sudah menghitam pertanda mengandung racun jahat. Wiro meraba pinggang pakaian sebelah kanan. Ternyata delapan bunga matahari kecil sudah ada lagi terselip di pinggang itu. Dia merasa lega.

Wiro cepat totok urat besar di pangkal leher dan dada untuk membendung racun jahat yang telah masuk ke dalam aliran darah. Tapi saat itu dia malah terbatuk-batuk semburkan darah. Pemandangannya mulai berkunang-kunang. Sekujur tubuh terasa panas!

"Kami hanya sejengkal dari ujung tanganmu. Mengapa tidak memanfaatkan Kuasa dan Kasih Sayang Gusti Allahmu?" Tiba-tiba terdengar suara perempuan mengiang di telinga.

"Gusti Allah! Baru kali ini ada makhluk yang menyebut nama itu di negeri ini. Kami... kami... kalian siapa...?"

Tak ada jawaban.

Wiro tekap dadanya yang luka. Darah semakin deras mengucur.

"Pocong menari! Delapan bunga matahari!" Ucap Wiro dalam hati. Dia segera keluarkan delapan bunga matahari kecil dari balik pakaian. Dengan cepat delapan bunga diusapkan ke luka di dada. Delapan cahaya aneh bergemerlap. Ajaib! Saat itu juga darah hitam berhenti mengucur. Luka menutup tanpa bekas. Pemandangan yang berkunang-kunang kembali pulih. Hawa panas di tubuh serta merta lenyap. Wiro menatap delapan bunga matahari kecil penuh kagum dan seperti tidak percaya.

"Makhluk yang barusan bicara. Siapapun kau adanya aku berterima kasih kau telah mengingatkan dan menolongku!" Wiro berucap perlahan.

Beberapa langkah di depan sana Penguasa Atap Langit memandang ke arahnya. Tampangnya tegang. Mata tak berkesip, menatap takut ke arah delapan bunga matahari yang dipegang Wiro. Dia tampak lega ketika melihat Wiro menyimpan delapan bunga itu di balik pakaian.

"Makhluk jahanam! Apa yang telah kau lakukan pada Ken Parantili! Di mana perempuan itu?!" Wiro membentak.

Penguasa Atap Langit membuka mulut. Namun dia tak mampu keluarkan suara. Lidah yang merah terjulur keluar mengepulkan asap. Kepala digeleng berulang kali.

Tiba-tiba satu bayangan melesat. Wiro berpaling. Yang muncul ternyata sukmanya yang rupanya mampu keluar dari selubung kain kafan, menggendong seseorang yang terbungkus dalam kain kafan merah.

"Ken Parantili!" Wiro cepat mendekat dan berusaha membuka kain kafan merah namun tak berhasil. Dicobanya merobek, juga tidak bisa. Dia kerahkan tenaga dalam lalu mencoba lagi. Tetap tidak bisa!

Penguasa Atap Langit keluarkan suara aneh dari tenggorokan. Mata menatap ke arah Wiro dan sosok yang terbungkus kain merah dalam gendongan sukma Wiro.

Dengan gerakan kepala dia memberi isyarat agar Wiro tidak berdiri di hadapan Ken Parantili.

"Kau mau berbuat apa?! Mau membunuh perempuan ini?!" Bentak Wiro.

Penguasa Atap Langit kembali menggeleng berulang kali. Mulut bergerak tapi tak ada suara yang keluar. Tiba-tiba dia jatuhkan diri ke tanah. Berguling ke samping kiri. Wiro bertindak waspada. Dengan cepat dia memutar tubuh sambil siapkan satu pukulan sakti di tangan kanan yaitu Pukulan Tangan Dewa Menghantam Tanah.

"Penguasa Atap Langit! Saat ini aku bisa membunuhmu semudah membuang ludah! Tapi aku ingin kau bertobat! Kalau umurmu panjang mungkin banyak hal baik yang bisa kau lakukan. Kalau kau berlaku culas dan tetap berbuat kejahatan kau akan terkutuk selama-lamanya!"

Tiba-tiba di udara terdengar suara bergemuruh dan disertai suara teriakan riuh. Wiro mendongak. Yang muncul ternyata adalah tiga kelelawar raksasa pengawal Negeri Atap Langit dan puluhan makhluk arwah berwajah hitam putih. Sikap mereka jelas siap hendak menyerang Wiro dan sukmanya.

Penguasa Atap Langit berusaha berdiri. Tapi dia hanya mampu duduk menjelepok di tanah. Dalam keadaan seperti itu dia menatap ke atas, gelengkan kepala sambil menggoyangkan tangan.

"Yang Mulia! Kami datang menjemputmu!" Kelelawar raksasa di ujung kanan berkata.

"Yang Mulia, ijinkan kami membunuh dua makhluk kembar dan sosok yang ada dalam gendongan!" Kelelawar raksasa di sebelah tengah susul ucapan temannya.

Tampang Penguasa Atap Langit tampak berubah galak. Kembali dia menggeleng dan goyangkan tangan. Melihat hal ini tiga kelelawar raksasa dan puluhan makhluk berwajah hitam putih keluarkan suara mengorok halus lalu melesat, tinggi ke udara malam yang gelap dan dingin. Setelah berputar tiga kali di atas sana, semuanya melesat ke arah timur, lenyap ditelan kegelapan.

Wiro dan sukmanya memandang ke arah Penguasa Atap Langit. Apa makhluk yang tadinya jahat ini telah berubah sifat? Wiro merasa ragu. Di hadapannya Penguasa Atap Langit manggut-manggut merunduk. Tiba-tiba kepala diangkat lalu dia meniup ke arah sosok terbungkus yang berada dalam gendongan sukma Wiro.

"Kurang ajar! Kau benar-benar culas! Kau mau berbuat apa?!" Wiro berteriak marah. Sukmanya menggereng seperti harimau terluka. Namun sebelum sempat melakukan sesuatu, tiupan Penguasa Atap Langit telah menyambar sosok terbungkus kain kafan merah yang ada dalam gendongan sukma Wiro.

Dess! Desss!

Kain kafan mengepul asap merah disertai menebarnya bau wangi setanggi! Wiro terkesiap. Sukma Wiro melengak karena sosok yang digendongnya mendadak menjadi enteng!

***7SEKALI lagi kain kafan mengepul asap merah. Begitu asap pupus, kain kafan merah ikut lenyap. Kini dalam gendongan sukma Wiro terlihat sosok Ken Parantili yang mengenakan pakaian putih berenda. Mata terpejam. Rambut hitam tergerai ke bawah. Kulit wajah, tangan dan kaki berwarna merah. Ini akibat terlalu lama tersekap dalam kain kafan merah. Penguasa Atap Langit kembali hendak meniup ke arah Ken Parantili. Namun saat itu Wiro telah memutar tubuh membuat gerakan untuk melepas pukulan sakti.

"Jahanam! Kau membunuh Ken Parantili!" Teriak Wiro langsung menghantam ke arah Penguasa Atap Langit dengan pukulan Tangan Dewa Menghantam Tanah yang sejak tadi disiapkan. Tapi sang Penguasa ternyata tak ada lagi di tempat itu. Di tanah kelihatan satu lobang aneh sepemasukan tubuh manusia menyerupai terowongan panjang. Inilah yang disebut Terowongan Arwah. Terowongan jejadian seperti ini pernah dibuat oleh Sinuhun Merah Penghisap Arwah dan dipergunakan Eyang Semirang Biru ketika meloloskan diri dari Ruang Segi Tiga Nyawa setelah berhasil merampas Keris Kanjeng Sepuh Pelangi yang kemudian ternyata palsu (Baca serial sebelumnya berjudul "Sesajen Atap Langit").

Wiro terkesiap sesaat. Begitu sadar dia segera melanjutkan gerakan tangan melepas pukulan sakti. Tanah bergoncang, bangunan Puri Kesatu yang sudah ambruk kini tambah luluh lantak. Dua pohon mahoni di halaman Puri Kesatu terbongkar tumbang, lobang sepemasukan tubuh manusia kini berubah menjadi lobang besar sedalam lutut. Namun Penguasa Atap Langit sudah raib.

Wiro memberi isyarat pada sukmanya. Keduanya segera berkelebat pergi. Siap meninggalkan Negeri Atap langit. Namun celakanya mereka tidak mampu mencari jalan keluar. Mereka tidak dapat menemukan Pintu Akhirat maupun Pintu Gerbang Atap Langit.

Sementara itu tiga kelelawar raksasa dan puluhan makhluk Arwah Hitam Putih berulang kali terbang di atas mereka namun tidak ada yang berani mendekat apalagi mengganggu.

Di kegelapan menjelang pagi tiba-tiba ada delapan cahaya merah berkiblat di langit. Delapan cahaya dengan cepat melesat ke bumi. Empat menghantam ke arah Wiro, empat lainnya menderu ke jurusan sukma Wiro!

"Awas! Serangan Delapan Sukma Merah!" Teriak Wiro. Dengan cepat dia kerahkan tenaga dalam dan hawa sakti pada dua tangan sekaligus. Tangan kanan sudah dialiri aji kesaktian Pukulan Sinar Matahari hingga tampak memutih perak. Tangan kiri siap melancarkan Pukulan Harimau Dewa. Sukma Wiro melakukan hal yang sama setelah lebih dulu memindahkan Ken Parantili yang digendongnya ke atas bahu kanan.

Belum sempat keduanya melepas pukulan-pukulan sakti tiba-tiba di udara terdengar suara kepak sayap disertai suara teriakan-teriakan.

Blaarr!

Blaarr!

Tiga kelelawar raksasa melayang membesat udara. Dua di antaranya langsung terpanggang dan meledak hancur begitu dihantam empat cahaya merah. Sembilan makhluk Arwah Hitam Putih menjerit keras ketika tubuh mereka terkena percikan delapan cahaya merah. Seperti dua kelelawar raksasa, tubuh mereka hancur menjadi kepingan-kepingan yang dikobari api lalu berhamparan di tanah!

Kelelawar raksasa pengawal ketiga menggerung keras. Puluhan makhluk Arwah Hitam Putih menjerit. Mereka semua tampak marah menyaksikan kematian dua kelelawar teman mereka serta sembilan makhluk Arwah Hitam Putih hingga berlaku lengah. Ketika delapan sinar merah lagi mendadak muncul di langit menyerang mereka, semuanya tidak berkesempatan menyelamatkan diri!

Pada saat itulah dua Pukulan Sinar Matahari dan dua Pukulan Harimau Dewa yang dilepas Wiro bersama sukmanya menggelegar ke udara!

Dua bola api raksasa membuntai di udara lalu meledak dahsyat. Hawa panas menghampar seolah matahari terik hanya sejengkal di atas kepala! Langit laksana mau runtuh. Negeri Atap Langit bergoncang seperti dihantam gempa di delapan penjuru. Tanah retak-retak. Beberapa bangunan berupa puri tempat kediaman para selir ambruk. Jeritan terdengar di mana-mana. Di kejauhan terdengar suara raungan anjing disertai kilasan cahaya kuning redup yang kemudian lenyap.

Blukkk!

Sebuah benda melayang di udara lalu jatuh bergedebuk di tanah. Ketika diperhatikan ternyata itu adalah sosok seorang berpakaian dan berikat kepala hijau. Dari mulutnya mengucur lelehan darah. Bagian dada pakaian hijaunya tampak gelap kehitaman seperti hangus. Orang ini cepat bergerak bangun. Berdiri terhuyung-huyung sambil menunjuk-nunjuk ke arah Wiro asli dan sukmanya.

"Kalian akan menerima pembalasan..."

Habis keluarkan ucapan orang itu sempoyongan lalu roboh ke tanah.

"Keparat Sinuhun Muda Ghama Karadipa! Jadi kau yang punya perbuatan! Pembalasan jatuh lebih dulu atas dirimu!" Teriak Pendekar 212. Seluruh tenaga dalam yang dimiliki disalurkan ke tangan kanan yang masih memancarkan cahaya perak menyilaukan. Ketika Wiro siap menghantam tiba-tiba ada suara perempuan mengiang di telinga.

"Jangan dibunuh! Nyawanya sudah ada yang memesan!"

Wiro terkesiap. "Delapan Pocong..." Ucap Wiro lalu tangan kanan meraba ke balik pinggang.

Saat itulah tiba-tiba, wusss! Sosok Sinuhun Muda Ghama Karadipa lenyap dari pemandangan. Di tanah tampak sebuah lobang sepemasukan tubuh manusia. Terowongan Arwah!

"Delapan Pocong! Aku mohon kau jangan mencampuri urusanku! Karena ucapanmu makhluk jahat itu berhasil kabur!" Wiro mengomel karena jengkel.

"Kami bukan mencampuri. Kami hanya memberi ingat. Jangan marah dan jangan merasa kami menghalangi." Terdengar jawaban mengiang di telinga Wiro.

Wiro dan sukmanya walau tidak mengalami cidera namun sama-sama tampak pucat tak berdarah, dada mendenyut sakit. Rambut berjingkrak lucu ke atas! Sosok Ken Parantili terguling di tanah masih dalam keadaan diam pingsan tak berkutik.

Sementara itu di udara sana, sadar kalau diri mereka telah ditolong oleh Wiro dan sukmanya kelelawar raksasa yang tinggal satu bersama puluhan makhluk Arwah Hitam Putih meluruk turun ke tanah, membuat sikap bersujud. Sepasang mata merah kelelawar raksasa berkedip. Lalu terdengar dia berucap.

"Saya dan semua pengawal Negeri Atap Langit menghatur terima kasih. Kau dan saudara kembarmu telah menyelamatkan kami dari serangan maut Sinuhun Muda Ghama Karadipa."

Wiro tatap sebentar makhluk di hadapannya, melirik pada puluhan Arwah Hitam Putih lalu menjawab. "Sinuhun Muda? Bukankah dia sebenarnya berada di pihak kalian? Bukankah bersama Sinuhun Merah saudara kembaran nyawanya dia adalah kaki tangan malah bisa dianggap sebagai murid-murid Penguasa Atap Langit?"

"Keculasan setipis angin pagi. Itulah yang terjadi. Mulai hari ini kami semua menjadi hamba sahaya Yang Mulia berdua!"

Wiro asli dan Wiro sukma sama-sama terkejut dan saling pandang. Wiro asli menggeleng lalu garuk-garuk kepala. "Tidak, kami berdua bukan pimpinan kalian. Kalian bukan hamba sahaya kami."

"Tapi itu adalah perintah Yang Mulia Penguasa Atap Langit kepada kami." Jawab kelelawar raksasa yang membuat Wiro dan sukmanya kembali dibuat kaget.

"Di mana sekarang beradanya pimpinan kalian Penguasa Atap Langit?" Wiro bertanya.

"Kami tidak tahu. Setelah memberi perintah untuk melindungi Yang Mulia berdua bersama Selir Pertama, Yang Mulia Penguasa Atap Langit menghilang. Kami tidak tahu apakah kami akan bertemu lagi dengannya."

"Dengar kalian semua. Saat ini lebih baik kalian mengurus sisa-sisa jenazah sahabat kalian yang masih berhamparan di tempat ini." Berkata Wiro.

"Lalu Yang Mulia sendiri mau berbuat apa?" Tanya kelelawar raksasa pengawal Negeri Atap Langit.

Wiro tertawa mendengar dirinya terus-terusan dipanggil Yang Mulia. "Kami akan segera pergi dari tempat ini..."

Kelelawar raksasa dan puluhan Arwah Hitam Putih unjukkan wajah kecewa. Dengan suara perlahan kelelawar raksasa berkata. "Mohon dimaafkan kami tidak bisa mengantar atau menunjukkan jalan. Karena hal itu tidak diperintahkan oleh Yang Mulia Penguasa Atap Langit yang lama."

"Tidak jadi apa. Kami bisa mencari jalan sendiri." Jawab Wiro.

"Kalau begitu semoga Yang Mulia berdua mendapat tuntunan dari Para Dewa..."

"Ya... ya. Terima kasih." Jawab Wiro yang tidak bisa mengerti mengapa makhluk-makhluk itu jadi berubah baik dan sangat menghormat dirinya. Mengapa Penguasa Atap Langit mengatakan pada makhluk-makhluk itu bahwa dirinya adalah pimpinan yang baru di Negeri Atap Langit. Jangan-jangan semua ini jebakan belaka. Suatu ketika Penguasa Atap Langit bisa saja muncul secara tak terduga membawa bencana yang lebih dahsyat.

Wiro memberi isyarat pada sukmanya. Sang sukma segera menggendong Ken Parantili kembali. Lalu keduanya cepat-cepat meninggalkan tempat itu diikuti pandangan kelelawar raksasa dan puluhan makhluk Arwah Hitam Putih.

***8KETIKA langit di ufuk timur mulai terang tanda fajar akan segera menyingsing, Wiro dan sukmanya sampai di satu kawasan berbatu-batu berhawa sangat dingin. Wiro melihat sukmanya tampak pucat dan gerakannya mulai lamban. Wiro sendiri saat itu merasa letih.

"Sukmaku sudah terlalu lama berada di alam luar. Belum pernah kejadian seperti ini. Saatnya dia harus masuk kembali ke dalam ragaku. Kalau tidak dia dan aku bisa sama-sama celaka." Membatin Wiro yang saat itu merasa dadanya mulai sesak.

Wiro mengambil Ken Parantili dari gendongan sukmanya lalu membaringkan perempuan ini di tanah di atas rerumputan liar. Dia sendiri kemudian duduk bersila dan merapal ajian Meraga Sukma. Hanya sekejapan mata sosok utuh sukma Wiro berubah menjadi bayang-bayang lalu masuk ke dalam tubuh aslinya.

Kini perhatian Wiro tertuju pada Ken Parantili. Dia tidak melihat tanda-tanda totokan di bagian tubuh sebelah atas selir itu. Tidak ada cidera atau bekas pukulan. Tubuhnya juga tidak panas pertanda tidak ada racun jahat yang mendekam. Wiro letakkan telinga kiri di atas dada perempuan itu. Dia bisa mendengar detak jantung walaupun agak perlahan.

"Tak ada totokan, tak ada racun. Detak jantung masih terdengar tanda dia masih hidup. Tapi mengapa seluruh kulitnya berwarna merah? Akibat selubungan kain merah?"

"Kain aneh. Bagaimana aku bisa melenyapkan tanda merah di wajah dan sekujur tubuh selir ini? Kasihan kalau dia sampai cacat seumur hidup." Wiro menggaruk kepala. "Aku harus bisa membuatnya sadar. Dia satu-satunya yang bisa menolong memberi tahu bagaimana keluar dari negeri sialan ini. Aku masih harus menolong Ni Gatri, mencari Eyang Sinto, menemukan kembali Kapak Naga Geni..."

Wiro letakkan telapak tangan kanan di kening Ken Parantili lalu kerahkan tenaga dalam dan hawa sakti. Ditunggu beberapa lama perempuan itu lelap saja tidak bergerak. Tidak siuman. Wiro ganti memegang dua pergelangan kaki. Lalu kembali mengalirkan tenaga dalam dan hawa sakti ke tubuh Ken Parantili. Sampai tubuhnya keringatan Ken Parantili masih terus tak berkutik, diam dalam keadaan tidak sadarkan diri. Tenaga dalam dan hawa saktinya tidak mampu menembus masuk ke dalam tubuh sang selir.

Wiro duduk termenung, terus berpikir-pikir. Tiba-tiba saja dia ingat pada delapan bunga matahari kecil. Dengan cepat bunga dikeluarkan dari balik pakaian. Sesaat Wiro merasa bimbang. Bunga diusap-usap. Tangan diulur. Delapan bunga kecil perlahan-lahan disapukan ke bagian atas kepala lalu ke kening Ken Parantili. Selir itu masih belum juga siuman. Wiro lanjutkan mengusap delapan bunga matahari ke bagian wajah, terus ke leher. Ketika delapan bunga menyapu di atas dada sebelah kiri, desss!

Satu letupan halus tapi berkekuatan besar membuat Wiro terpelanting. Delapan bunga matahari tergoyang kencang, pancarkan warna kuning, coklat dan hijau. Sosok Ken Parantili sendiri mengapung ke udara mengepulkan asap merah lalu seperti ada yang menahan, perlahan-lahan jatuh tertelentang di tanah. Ketika Wiro mendatangi, warna merah pada wajah dan sekujur tubuh selir itu telah lenyap. Kulitnya kembali seperti semula walau wajah terlihat agak pucat.

Wiro cepat rangkul perempuan itu lalu mendudukkannya di tanah bersandar pada salah satu batang pohon mahoni yang tumbang. Dari mulut Ken Parantili keluar suara mendesah. Bersamaan dengan itu menyembur kepulan asap merah. Perlahan-lahan sepasang mata terbuka. Astaga! Bagian mata yang seharusnya putih kelihatan merah seperti saga!

Walau matanya merah namun pemandangannya tidak terganggu. Begitu melihat Wiro di hadapannya, Ken Parantili membuka mulut hendak bertanya. Tapi diberi isyarat oleh Wiro agar jangan bicara dulu.

"Sepasang matamu berwarna merah. Tadi waktu masih terpejam aku telah mengusap dengan bunga ini. Bagian tubuhmu yang lain bisa pulih, warna merah hilang. Tapi warna merah di matamu tidak lenyap."

Ken Parantili hanya bisa mengusap-usap karena tidak dapat melihat sendiri keadaan matanya.

"Aku akan mengusapkan bunga ini sekali lagi. Matamu jangan dipejamkan."

Ken Parantili mengangguk. Wajah sengaja ditengadah dan dua mata dibuka lebar-lebar. Wiro usapkan delapan bunga matahari kecil di atas kedua mata perempuan muda itu. Ajaib memang kesaktian delapan bunga matahari kecil. Begitu tersentuh usapan bunga, bagian mata yang merah berubah pulih menjadi putih kembali.

"Matamu sudah sembuh. Warna merahnya sudah hilang." Wiro memberi tahu.

Saking girangnya Ken Parantili mencium delapan bunga matahari lalu memeluk Wiro sambil mengucapkan terima kasih. "Kalau tidak ada bunga ini dan kau tidak menolong, dalam waktu tiga hari mataku akan menjadi buta. Itulah jahatnya Ilmu Selubung Kain Kafan Sukma Merah."

"Ilmu setan!" Rutuk Wiro. "Aku sudah membuktikan. Jangankan keluar, merobeknya saja aku tidak mampu. Sukmaku berhasil merobek sedikit namun kemudian dua tangannya dibuat tak berdaya!" Wiro menggaruk kepala lalu bertanya. "Apakah kau memiliki ilmu itu?"

"Setengah jalan." Jawab Ken Parantili.

"Maksudmu?"

"Aku bisa mengeluarkan, namun tidak bisa melenyapkan. Penguasa Atap Langit hanya memberi tahu bahwa ada semacam rapalan disertai cara meniup untuk melepaskan seseorang yang telah dibungkus Ilmu Kain Kafan Sukma Merah. Aku tidak sempat mendapatkan rapalan itu."

"Ah... itu rupanya yang dilakukan Penguasa Atap Langit. Baru aku ingat. Dia melenyapkan selubung kain kafan merah di tubuhmu dengan cara meniup. Berarti dia bermaksud mau menolong setelah berbuat jahat."

"Perguasa Atap Langit yang melakukan? Bagaimana aku bisa percaya?" Ucap Ken Parantili pula. "Sahabat, sekarang ceritakan padaku apa yang terjadi? Bagaimana kita bisa berada di sini? Mana Penguasa Atap Langit? Mana sukmamu?" Selir itu memandang berkeliling.

Wiro menceritakan apa yang terjadi.

"Jadi kau tidak membunuh Penguasa Atap Langit?" Tanya sang selir heran.

Wiro gelengkan kepala. "Saat itu dia dalam keadaan tak berdaya. Lalu aku juga melihat ada perubahan pada dirinya."

Wiro tidak menceritakan adanya suara mengiang yang melarang dia membunuh Penguasa Atap Langit.

"Tapi ilmunya bisa saja pulih kembali. Jika hal itu sampai terjadi akan sangat berbahaya."

"Mudah-mudahan saja dugaanmu keliru. Karena sewaktu tiga kelelawar raksasa dan puluhan makhluk berwajah hitam putih muncul hendak membunuhku, Penguasa Atap Langit melarang dan mengusir mereka. Kemudian ketika ada serangan Delapan Sukma Merah, dua kelelawar raksasa dan sembilan makhluk Arwah Hitam Putih mengorbankan diri melindungiku dan sukmaku..."

"Wiro, sulit aku percaya kalau bukan mendengar dari mulutmu sendiri. Tapi mengapa sekarang dia melenyapkan diri? Bukan mustahil tengah menghimpun kekuatan dan menyusun rencana balas dendam. Walau banyak ilmunya yang telah amblas dan rontok, agaknya Penguasa Atap Langit masih menyimpan beberapa ilmu kesaktian dahsyat."

"Ken Parantili, yang lebih penting saat ini adalah mencari jalan keluar dari negeri keparat ini." Berkata Wiro.

"Kita harus mencari pohon beringin yang dulu membawamu ke sini. Hanya pohon itu yang bisa membawamu keluar dari Negeri Atap Langit."

"Hanya aku yang akan dibawa? Apa maksudmu? Kau akan tetap tinggal di negeri ini?" Bertanya Wiro.

"Aku tidak mungkin ikut bersamamu."

"Mengapa tidak mungkin? Kau memilih tetap di sini bersama Penguasa Atap Langit yang pasti akan membunuhmu?" Bertanya Wiro.

"Aku tidak mungkin pergi tanpa lebih dulu mendapatkan kembali jantungku yang telah dicopot dan disimpan Penguasa Atap Langit di suatu tempat. Tanpa jantung, di dunia luar aku hanya bisa bertahan hidup selama tiga hari tiga malam. Kalau Penguasa Atap Langit bertindak gila dan bengis, dia bisa meremas jantungku dan saat itu juga aku akan menemui kematian secara lebih cepat."

"Dia tidak akan melakukan itu. Ingat, seperti katamu dia ingin membunuh ragamu dengan tangannya sendiri. Karena hanya dengan cara itu dia bisa mempertahankan ilmu kesaktiannya yang masih tersisa."

"Kau benar," kata Ken Parantili sambil memegang lengan Wiro.

Seperti yang pernah diperlihatkan Ken Parantili kepada Wiro dengan cara membelah dadanya, selir ini memang tidak memiliki jantung. Dada kirinya kosong!

"Kalau begitu kita cari dulu jantungmu itu." Kata Wiro pula.

Ken Parantili menggeleng. "Aku akan mengantarkanmu mencari pohon beringin yang dulu membawamu ke sini. Setelah bertemu kau pergi sendirian. Tidak perlu memikirkan diriku. Banyak pekerjaan sangat penting yang harus kau lakukan. Berlama-lama di sini aku khawatir akan terjadi sesuatu pada dirimu."

Wiro ganti menggeleng. "Aku tidak akan pergi kalau tidak membawamu serta. Menyelamatkanmu juga merupakan satu tugas penting."

"Di Negeri Atap Langit ada delapan belas orang selir lagi. Satu yang bernama Windu Resmi sudah menemui ajal. Masih ada tujuh belas orang yang kelak akan menemui nasib sama. Menemui kematian di tangan Penguasa Atap Langit. Apakah kau juga akan menolong mereka?"

Murid Sinto Gendeng menyeringai lalu menggaruk kepala, "Itu bisa diatur. Kita lihat saja nanti. Yang jelas bagaimana kita bisa menyelamatkan orang lain kalau kita saja masih tersekap di sini? Sekarang lekas tunjukkan di mana Penguasa Atap Langit menyekap jantungmu!"

"Tempatnya sebuah goa. Letaknya sebenarnya tak jauh dari sini. Tapi keberadaannya seperti gaib. Untuk pergi ke sana perlu menunggang pohon beringin dan memakan waktu cukup lama. Itulah keanehan Negeri Atap Langit." Menerangkan Ken Parantili.

Wiro jadi tidak sabaran. Dirangkulnya pinggang Ken Parantili lalu perempuan itu dipanggul di bahu kanan. "Kau tunjukkan jalan! Kita cari pohon itu sekarang juga!"

Sesaat Ken Parantili merasa terharu mendengar apa yang diucapkan dan hendak dilakukan Pendekar 212. Tangan kiri digelung di leher Wiro. Tangan kanan menunjuk ke depan, memberi isyarat ke mana Wiro harus bergerak.

"Turunkan aku. Aku bisa berlari sendiri." Berkata sang selir.

Tapi murid Sinto Gendong telah melompat ke arah yang ditunjuk sang selir. Dia berlari dengan mempergunakan ilmu lari Kaki Angin pemberian Eyang Sinto Gendeng.

Ketika Ken Parantili dan Wiro sampai ke tempat di mana seharusnya berada pohon beringin sakti, mereka terkejut karena pohon itu tidak ada lagi di tempatnya semula. Di tanah terlihat satu lobang besar.

"Celaka! Pohon beringin lenyap dibongkar orang!" Teriak Ken Parantili. "Kita tidak mungkin keluar dari Negeri Atap Langit saat ini juga. Berarti kita harus menunggu selama tujuh hari tujuh malam baru bisa menemukan pohon beringin itu. Aku khawatir selama itu Penguasa Atap Langit, jika dia masih hidup, akan berusaha memulihkan diri lalu melakukan balas dendam yang dahsyat!"

Mendadak di langit ada suara berkesiuran.

Wiro mendongak ke atas. "Ken Parantili. Agaknya kita tidak perlu menunggu sampai tujuh hari tujuh malam..."

***9KETIKA Ken Parantili ikut mendongak menatap ke atas langit, darahnya tersirap. Dia melihat satu pohon beringin besar di udara dan bergerak melayang turun ke arah dirinya dan Wiro berada. Daun-daun dan akar di sebelah bawah bergetar mengeluarkan suara berdesir. Akar-akar gantung bergelayutan. Itulah pohon beringin yang tengah mereka cari!

Ken Parantili tidak merasa heran melihat pohon beringin bisa melayang di udara bergerak turun ke bawah. Keanehan seperti ini biasa-biasa saja di Negeri Atap Langit. Sebelumnya dia pernah membawa pohon itu keluar dari Negeri Atap Langit menuju kawasan Plaosan untuk mencari Wiro. Namun yang membuatnya terkesiap besar adalah ketika melihat ada dua tangan menggotong pohon itu. Di bawah batang pohon sebelah tengah ada satu sosok merah menopang batang pohon. Si penopang ternyata bukan lain Penguasa Atap Langit.

"Awas! Dia hendak menimbun kita dengan pohon beringin itu! Kurang ajar! Baru saja diberi ampun sudah berbuat culas!" Teriak Wiro marah. Serta-merta dia siapkan Pukulan Sinar Matahari.

Di atas sana, pohon beringin besar tidak dilempar ke bawah seperti yang diduga Wiro, tapi terus melayang ke bawah secara perlahan-lahan lalu tanpa suara, tanpa getaran pohon diturunkan ke tanah, hanya beberapa langkah di hadapan Wiro dan Ken Parantili.

Sebelum pohon menyentuh tanah, Penguasa Atap Langit menyelinap ke belakang pohon lalu, dess! Wiro melompat ke udara. Berusaha mengejar. Ken Parantili mengikuti. Ketika mereka sampai di balik batang pohon, Penguasa Atap Langit tidak kelihatan lagi. Yang tampak adalah satu lobang dalam sepemasukan tubuh manusia.

"Sial! Lagi-lagi Terowongan Arwah!" RutukWiro. "Jika Penguasa Atap langit muncul lagi kita harus bisa mencegah dia kabur dengan cara ini. Kau punya ilmu penangkalnya?" Bertanya Wiro.

Ken Parantili menggeleng, "Mungkin kau bisa mempergunakan ilmu membelah tanah seperti kau lakukan ketika memendam mayat selir Windu Resmi. Tapi tadi jelas Penguasa Atap Langit tidak punya niat jahat hendak mencelakai kita dengan menjatuhkan pohon besar itu."

"Lalu mengapa dia kabur?"

"Mungkin dia merasa khawatir kita masih punya dugaan kalau dia makhluk jahat. Padahal mungkin sudah berubah. Buktinya tadi dia sengaja membawa pohon beringin yang kita cari ke sini."

"Kau seperti membela makhluk yang hendak membunuhmu itu!"

"Sudah, tidak usah diperpanjang. Kalau kau memang mau mengajakku pergi dari Negeri Atap Langit, sekarang kita harus mencari goa tempat di mana jantungku disimpan."

"Kalau Penguasa Atap Langit punya niat baik terhadapmu, seharusnya dia juga membawa jantungmu. Bukan cuma pohon beringin." Jawab Wiro masih kesal.

"Mungkin dia punya kendala," jawab Ken Parantili.

"Kendala apa?" Tanya Wiro.

"Mulut goa tempat penyekapan jantung bisa saja dianggap sebagai pintu pantangan yang bisa mencelakai dirinya. Berarti selama ini ada seseorang yang mewakili makhluk bejat itu menjaga goa."

"Siapa orang atau makhluknya?" Tanya Wiro pula.

Ken Parantili tidak menjawab karena memang tidak tahu.

"Ken Parantili, mungkin saja Penguasa Atap Langit sudah tahu kalau kau akan mengambil jantungmu di goa penyekapan. Dia lantas menunggumu di sana. Begitu kau muncul dia akan membunuhmu dengan tangannya sendiri! Jika kau mati bukankah ada dugaan bahwa semua ilmu kesaktiannya akan kembali langgeng?"

Sejenak Ken Parantili terdiam mendengar ucapan Wiro. Kemudian dia berkata. "Kalau kau tidak menolong, sebenarnya aku sudah mati. Sekarang mengapa aku harus takut pada kematian yang tertunda?"

Wiro diam saja. Namun dalam hati dia membatin. "Kalau kau tidak takut menemui kematian, mengapa bersusah payah pergi ke Plaosan mencariku?"

Ken Parantili melompat ke atas batang pohon beringin. Sebelum menyusul naik, Wiro bertanya. "Goa tempat penyekapan jantung para selir itu apakah letaknya di dalam Negeri Atap Langit?"

"Setahuku berada di sebelah timur, di luar Negeri Atap Langit" Jawab Ken Parantili.

Akar dan dedaunan pohon beringin tergetar keras. Perlahan-lahan pohon itu bergerak naik ke atas.

Ken Parantili berteriak. "Wiro! Tunggu apalagi! Lekas naik ke sini!"

Wiro segera melompat naik. Baru saja menjajakkan kaki di batang pohon, tiba-tiba pohon beringin perlahan-lahan mulai bergerak naik ke udara. Wiro dan Ken Parantili berpegang erat ke cabang-cabang pohon.

"Ada sesuatu di pohon!" Tiba-tiba Ken Parantili berseru di dalam deru angin. Dia membungkuk mengambil sebuah benda memancarkan cahaya kuning yang tersangkut di antara dedaunan lebat pohon beringin. Ketika berhasil disentuh dan diambil, darahnya tersirap. Ternyata benda itu adalah mahkota emas yang biasa dipakainya sehari-hari. Seperti diceritakan sebelumnya sewaktu berada di Puri Kesatu dan siap hendak meniduri sang selir, Penguasa Atap Langit melemparkan mahkota emas berbentuk atap yang ada di kepala selir itu ke langit-langit kamar.

"Pasti Penguasa Atap Langit sengaja meletakkan mahkota emas ini di sela-sela ranting dan daun pohon beringin. Apa maksudnya?" Ken Parantili berkata sambil memegang dan memperhatikan mahkota emas.

"Mungkin bermaksud baik tapi bisa juga ada niat jahat." Jawab Wiro. Lalu diam-diam dia terapkan Ilmu Menembus Pandang dan menatap tak berkesip ke arah mahkota emas yang dipegang sang selir.

Tiba-tiba Wiro berteriak. "Ken Parantili! Cepat lempar mahkota emas itu! Aku melihat sesuatu!"

Selagi Ken Parantili tertegun dan hanya berdiam diri terkejut mendengar ucapan Wiro, murid Sinto Gendeng cepat merampas mahkota emas dari tangan perempuan itu lalu dilempar ke udara. Tiga tombak di udara mahkota emas meledak berkeping-keping. Dari balik ledakan menyembul sosok merah Penguasa Atap Langit. Tanpa mampu mengimbangi diri, setelah berjungkir balik sang penguasa jatuh terkapar di tanah.

Wiro siap melompat turun dari batang pohon. Namun saat itu pohon beringin terasa bergetar. Daun-daun pohon keluarkan suara bergemerisik, akar gantung mencuat ke atas. Akar di sebelah bawah bergerak-gerak. Cepat sekali pohon itu melesat tinggi ke udara.

Di bawah sana Penguasa Atap Langit tampak duduk di tanah sambil dua tangan menunjuk-nunjuk ke arah Wiro dan Ken Parantili. Lalu kepala dirundukkan, disentuh ke tanah berulang kali. Mulut mengucapkan kata-kata yang tidak jelas.

"Apa yang terjadi dengan makhluk itu? Maksud apa sampai dia menyelinap di mahkota emas kalau bukan maksud jahat!"

Ken Parantili sendiri saat itu tidak mampu keluarkan ucapan. Wajahnya yang tadi mulai berdarah kini kembali pucat dan tengkuknya terasa dingin.

"Ken Parantili..."

Sang selir memberi tanda agar Wiro tidak meneruskan ucapan. Tubuh dibungkukkan ke arah kelebatan daun-daun pohon beringin di sisi kanan sebelah depan. Di situ terselip sebuah benda hijau. Getaran pohon, tiupan angin yang kencang, tidak mudah untuk dapat mengambil benda itu. Wiro bertindak lebih dulu. Dua jari tangan kanan dipentang lurus. Lalu dia kerahkan tenaga dalam.

Wuuttt!

Lipatan benda hijau melesat dan masuk dalam jepitan dua tangan Wiro. Wiro memperhatikan.

"Daun keladi dilipat empat!" Wiro memberi tahu.

"Di Puri Agung kediaman Penguasa Atap Langit banyak tumbuh pohon keladi besar. Pasti dia juga yang meletakkan. Wiro, aku khawatir terjadi seperti tadi. Coba kau periksa dulu lipatan daun. Jangan-jangan Penguasa Atap Langit menyelinap lagi di dalam lipatan."

"Daun ini tidak ada isi apa-apa. Tidak ketumpangan makhluk lain." Menerangkan Wiro.

"Kalau begitu... Wiro, kau bisa membuka lipatan daun?"

"Sudah kubilang lipatan daun ini tidak ada isi apa-apa. Kau tak usah khawatir. Biar kubuang saja."

"Pasti ada sesuatu. Kalau tidak mengapa ada yang meletakkan di pohon ini?" Ken Parantili bersikeras.

Sambil tangan kanan berpegang erat ke cabang pohon, dengan tangan kirinya Wiro mengeprat lipatan daun keladi. Begitu lipatan terbuka ternyata pada lembaran daun itu tertera sederet tulisan.

"Agaknya kau menerima surat cinta dari Penguasa Atap Langit. Aku tak mengerti bahasa tulisan ini. Kau baca sendiri!"

Wiro ulurkan lembaran daun keladi. Ken Parantili cepat mengambil lalu memperhatikan. Di atas daun keladi itu memang ada serangkaian tulisan yang bahasanya hanya bisa dimengerti oleh penghuni Negeri Atap Langit.

Begitu membaca apa yang tertera di atas lembaran daun, berubahlah paras Ken Parantili. Wajah mendadak sontak pucat, tubuh gemetar. Sepasang mata menatap ke arah Wiro sementara dada tampak bergerak turun naik.

"Tidaakkk!" Satu teriakan keras menggelegar keluar dari mulut Ken Parantili. Pohon beringin bergoncang tiga kali.

"Apa bunyi tulisan di daun itu?" Bertanya Wiro tidak sabaran.

Sepasang mata Ken Parantili membesar seolah hendak melompat keluar dari rongganya. Kepala digeleng. Mulut berulang kali mengucapkan kata tidak.

"Wiro..." Suara Ken Parantili perlahan dan lirih.

Wiro berusaha mendekat. Memegang bahu selir itu lalu berkata. "Kau mengalami guncangan hebat! Apa yang terjadi? Apa yang tertulis di atas daun keladi itu?"

"Aku, aku tidak bisa mengatakan. Aku lebih baik memilih mati saat ini juga!" Sepasang mata menatap ke bawah. Saat itu pohon beringin yang membawa dirinya dan Wiro berada dua ratus tombak di atas permukaan tanah.

Perlahan-lahan Ken Parantili lepaskan pegangannya pada daun keladi. Begitu disambar angin, daun ini melayang ke udara.

Wiro tahu apa yang hendak dilakukan Ken Parantili. "Jangan! Ken Parantili! Sadar!"

Ken Parantili pejamkan kedua matanya. Didahului teriakan keras dan panjang, selir itu hamburkan diri dari atas batang pohon beringin. Wiro berusaha menggapai pinggang perempuan itu tapi terlambat! Dia hanya mampu menarik robek salah satu bagian pakaian putih. Sosok Ken Parantili jatuh ke bawah, melayang berputar-putar, siap untuk menghunjam ke tanah!

Wiro kerahkan tenaga dalam pada kedua kaki sambil membuat gerakan memberatkan diri agar pohon beringin melayang turun ke bawah. Namun pohon malah berputar-putar di udara. "Celaka! Apa yang harus aku lakukan? Perempuan itu! Apa yang membuatnya tiba-tiba menjadi nekad melakukan bunuh diri!"

Di saat luar biasa genting itu tiba-tiba terdengar suara mendengung halus. Lalu ada delapan benda kecil bercahaya. Walau sang surya telah naik dan udara berubah terang, namun delapan cahaya kecil tampak berpijar benderang. Di kejauhan terdengar suara alunan gamelan ditingkah tiupan seruling, tabuhan gendang dan gesekan rebab!

Delapan cahaya melesat ke arah sosok Ken Parantili yang tengah melayang jatuh. Pada ketinggian dua ratus tombak di atas tanah, delapan benda terang tiba-tiba berubah membentuk bayang-bayang menyerupai pocong. Anehnya sosok mereka tidak dibuntal kain kafan putih, tapi terbungkus kain coklat di sebelah atas, kain hijau dari pinggang ke bawah dan di pinggang melingkar ikat pinggang kain lebar berwarna kuning. Rambut yang panjang tergerai melambai-lambai ditiup angin. Di atas pohon beringin, delapan pocong yang wajahnya tidak terlihat jelas membuat gerakan meliuk-liuk, tangan dan kaki melambai kian kemari. Astaga! Mereka ternyata menari di bentangan udara! Mengikuti alunan gamelan.

Sebenarnya ini adalah satu pemandangan yang indah. Namun dalam terkesiapnya, Pendekar 212 justru merasa khawatir dan menatap dengan mata tak berkesip. Jantungnya berdegup keras. Lapat-lapat Wiro mendengar suara perempuan bernyanyi, bersahut-sahutan bait demi bait.

"Tidak dipanggil kami datang sendiri

Sebelum ajal berpantang mati

Pikiran manusia memang pendek

Tapi mengapa nyawa mau dipantek

Menolong orang adalah perbuatan terpuji

Tapi menolong diri kami siapa perduli

Tidak dipanggil datang sendiri

Agar tidak ada yang tersia-sia di atas bumi""Delapan Pocong Menari. Apakah mereka ini yang malam tadi menyelamatkan diriku." Ucap Wiro dalam hati.

Pohon beringin di atas mana dia berada perlahan-lahan melayang turun. Di bawah sana Wiro melihat tujuh dari delapan pocong perempuan melesat ke arah tubuh Ken Parantili yang tengah jatuh dan saat itu berada dalam keadaan pingsan. Sementara satu pocong lagi terbang ke jurusan daun keladi yang tadi dilepas oleh selir itu dan melayang di udara. Di kejauhan tampak sebuah gunung yang puncaknya berselimut awan. Di balik awan kelihatan sebuah kawah besar mengepul asap putih.

Wiro meraba pinggang pakaian. Delapan bunga matahari kecil ternyata tidak ada lagi di balik pakaiannya!

***10SUARA alunan gamelan terdengar lebih keras. Tujuh perempuan berpakaian coklat-hijau berselempang ikat pinggang lebar berwarna kuning dalam gerakan seperti menari tiba-tiba berjungkir balik lalu laksana kilat melesat mendekati Ken Parantili. Hanya terpisah sejarak lima tombak mereka lepas ikat pinggang lebar lalu, sett... sett!

Tujuh ikat pinggang lebar bergulung melibat tubuh Ken Parantili. Untuk beberapa lamanya selir yang pingsan itu seperti berada dalam bedung ayunan. Tujuh ikat pinggang lebar terulur panjang. Tubuh Ken Parantili meluncur ke bawah, ke arah puncak gunung. Tinggal dua puluhan tombak dari tanah, tujuh gadis keluarkan suara nyanyian. Temannya yang seorang yang telah berhasil mendapatkan daun keladi ikut bergabung. Daun keladi disusupkan ke balik pakaian di bagian punggung Ken Parantili.

"Tidak dipanggil datang sendiri

Berarti kami tidak boleh menginjak bumi

Tegarkan diri kuatkan hati

Seorang sahabat akan datang memberi budi"Lalu, delll... delll!

Tujuh ikat pinggang kuning disentak lepas. Tubuh Ken Parantili melayang jatuh ke arah pedataran kecil di dekat puncak gunung.

Melihat apa yang terjadi Wiro tersentak kaget dan berteriak. "Delapan pocong! Tadi kalian menolongnya! Sekarang mengapa dilepas jatuh! Apa itu bukan perbuatan sia-sia?!"

Delapan pocong tidak menyahuti. Sosok mereka melesat ke arah pohon beringin di mana Wiro berada. Setengah jalan delapan pocong berubah menjadi benda melayang yang memancar sinar seperti kunang-kunang di siang hari. Lalu, bleep... bleepp! Delapan cahaya lenyap.

Wiro menggaruk kepala. Meraba pinggang. Ternyata delapan bunga matahari kecil sudah ada lagi di balik pakaiannya! Wiro menepuk pinggul sendiri.

"Delapan Pocong! Mengapa..." Suara bentakan Wiro terputus oleh suara beberapa orang yang menjawab secara bersamaan.

"Kami tahu apa yang kami lakukan! Semua perlindungan datang dari Gusti Allahmu! Sekarang turun ke sana! Susul temanmu! Tolong dia!"

"Gusti Allah! Kalian tahu apa tentang Gusti Allahku!"

"Oalah sudah! Melompat sana!"

"Hai! Kalian mau membunuhku?!" Wiro berteriak kaget ketika tiba-tiba ada banyak tangan terasa mendorong punggungnya, ada juga yang menekan pantatnya!

Seseorang melepas pegangan tangannya pada cabang pohon. Lalu tubuh sang pendekar didorong ke depan. Tak ampun lagi Wiro terjungkal dari atas batang pohon beringin pada ketinggian sekitar seratus tombak dari tanah!

Kembali pada Ken Parantili. Selagi tubuhnya terus melayang jatuh dan hanya tinggal belasan tombak saja lagi akan hancur remuk menghantam tanah, entah bagaimana tiba-tiba perempuan muda ini sadar dari pingsannya. Kalau sebelumnya dia sengaja menghambur untuk bunuh diri tidak takut mati, namun melihat kenyataan saat itu apa yang terjadi atas dirinya tak urung dia menjerit keras. Menggapai kian kemari namun hanya menyentuh udara kosong. Tak ada sesuatu yang bisa dipakai bersigayut untuk menyelamatkan diri. Tidak ada seseorang yang diharapkan bisa menolong! Sebelum jatuh pingsan lagi untuk kedua kali tiba-tiba di bawah sana melesat satu benda berwarna merah muda. Di lain kejap Ken Parantili merasa ada orang memeluk tubuhnya yang bergeletar dan kucurkan keringat dingin.

"Sahabat dari Negeri Atap Langit! Kau rupanya!" Ada suara orang. "Tenang, tenang saja. Aku akan membawamu turun ke puncak gunung dengan selamat."

Yang terdengar suara lelaki tapi halus dan lembut menyerupai suara perempuan! Ken Parantili berusaha memutar kepala untuk melihat siapa adanya orang yang menolong sementara dia merasa tubuhnya perlahan-lahan digendong turun ke satu pedataran kecil. Namun dia tidak bisa melihat wajah orang. Dia hanya mencium bau wangi tubuh dan pakaian orang yang merangkulnya. Ketika dua kakinya menginjak tanah dengan cepat Ken Parantili lepaskan diri dari pelukan orang. Memandang ke depan dia terkejut tapi juga gembira.

"Kau!"

Gadis cantik berpakaian merah muda di hadapannya tersenyum. "Kau masih ingat diriku? Kita berpisah baru kemarin senja. Namaku Jaka Pesolek..."

"Ya... ya, aku ingat namamu. Kau hebat! Terima kasih kau telah menolongku! Mana para sahabat yang lain..."

"Mereka ada di sekitar sini. Sebentar lagi pasti berdatangan. Aku malah mau tanya. Di mana beradanya Ksatria Panggilan alias sahabat Pendekar 212 Wiro Sableng! Dia kemarin menyusulmu naik belahan pohon beringin."

"Aku di sini! Segera mati kalau tidak ada yang menolong!" Tiba-tiba satu teriakan terdengar di udara. Satu sosok berpakaian merah melayang jatuh luar biasa cepat.

"Wiro! Kau! Apa yang terjadi?!" Jaka Pesolek berteriak terkejut. Tidak menunggu lebih lama dia segera melompat ke udara guna menolong Pendekar 212. Jaka Pesolek memang tidak memiliki ilmu kesaktian. Dia hanya punya ilmu bergerak cepat terutama melesat ke udara dan menangkap petir.

Sesaat lagi Jaka Pesolek akan menggapai tubuh Wiro yang jatuh tiba-tiba di udara melesat delapan larik kain panjang berwarna kuning. Dengan cepat delapan kain kuning membuntal tubuh Wiro. Untuk beberapa lama tubuh sang pendekar terayun-ayun di udara sambil bergerak turun. Jaka Pesolek yang tadi berniat hendak menolong kini ikut bergantungan pada salah satu kain kuning. Pada ketinggian dua tombak tidak sabar Wiro segera meloncat turun. Begitu dua kaki menginjak tanah, delapan kain panjang kuning yang tadi menyelamatkan dirinya lenyap dari pemandangan. Jaka Pesolek yang bergantung pada sehelai kain kuning cepat pula melompat

"Delapan Pocong Menari." Ucap Wiro. "Aku berterima kasih kalian telah menolongku."

"Hai! Kau bicara apa? Mana ada pocong di sini! Yang menolongmu adalah delapan kain kuning aneh yang barusan raib! Oala, balik dari negeri aneh dirimu juga berubah aneh! Hemm... Bajumu baru pula!" Berkata Jaka Pesolek.

Wiro delikkan mata. "Kau tahu apa?!"

Jaka Pesolek mencibir. "Yang aku mau tahu, apa kau sudah tidur dengan selir itu. Bagaimana rasanya? Enak? Apa aku sekarang bisa dapat bagian? Hik... hik... hik!"

Wiro pelintir telinga kiri Jaka Pesolek hingga gadis yang jantan bisa betina bisa ini mengaduh kesakitan. Wiro cepat mendatangi Ken Parantili.

"Kau baik-baik saja...?"

"Seharusnya aku tidak perlu ditolong. Biar mati saja. Siapa yang tadi menolongku?"

"Delapan bunga matahari."

"Berarti delapan pocong itu." Ken Parantili terdiam seperti berpikir. Lalu dia bertanya. "Kita berada di mana?"

"Di puncak Gunung Semeru." Yang menjawab Jaka Pesolek.

Ken Parantili terdiam lagi. Lalu berkata. "Tidak jadi apa aku tadi tidak menemui ajal. Tiga hari lagi aku tetap akan mati."

"Karena kau tidak memiliki jantung?"

Ken Parantili mengangguk.

"Kalau begitu kita kembali ke Negeri Atap Langit. Astaga, di mana beradanya pohon beringin itu?" Wiro memandang berkeliling tapi di pedataran di puncak gunung itu dia tidak menemukan pohon yang dicari.

"Pohon itu telah raib. Kembali ke Negeri Atap Langit" Berkata Ken Parantili, menjelaskan dengan suara lirih.

"Kau punya cara lain untuk bisa kembali ke sana?"

"Ada beberapa cara. Tapi aku tidak pernah tahu."

"Sinuhun Merah Penghisap Arwah menurutmu pada waktu-waktu tertentu selalu pergi ke sana untuk melakukan upacara Sesajen Atap Langit."

"Wiro, mana mungkin kita minta pertolongan pada makhluk alam arwah itu."

"Kita harus mencari segala cara untuk bisa menolongmu."

Ken Parantili tersenyum lalu letakkan kepala di dada Wiro, dua tangan memeluk sang pendekar. Jaka Pesolek terheran-heran melihat hal itu. Apalagi ketika menyaksikan Wiro mengusap kepala peerempuan itu. Dalam hati dia berkata. "Oala, agaknya mereka sudah saling bercinta."

Ketika mengusap punggung Ken Parantili Wiro merasa ada sebuah benda di balik punggung pakaian sang selir. Dia hendak bertanya tapi perempuan itu mendahului bicara.

"Kau sahabatku paling baik. Aku sangat berterima kasih." Berkata Ken Parantili. "Aku sudah cukup puas kalau selama tiga hari sisa hidupku bisa bersamamu. Aku ingin kau tetap berada di dekatku pada saat aku menghembuskan nafas terakhir."

"Jangan berkata begitu. Yang Maha Kuasa tidak akan membiarkanmu menemui kematian sebelum saatnya. Dia pasti akan menolongmu."

"Gusti Allahmu Yang Maha Besar dan Maha Kuasa itu?" Tanya Ken Parantili.

Wiro tersenyum walau hatinya terenyuh mendengar kata-kata Ken Parantili. Selagi keduanya masih berpelukan tiba-tiba muncul Ratu Randang, Kunti Ambiri alias Dewi Ular yang kini tidak mau lagi memakai gelaran itu, dan Sakuntaladewi alias Dewi Kaki Tunggal.

Ken Parantili tenang-tenang saja. Sebaliknya agak rikuh Wiro lepaskan pelukan. Untuk beberapa ketika tempat itu menjadi sunyi. Tak ada yang bicara. Masing-masing hanya saling berpandangan.

"Kalian... aku..." Wiro menggaruk kepala.

Ratu Randang senyum-senyum. Sakuntaladewi menatap ke tanah sementara Kunti Ambiri memandang Wiro dan Ken Parantili berganti-ganti dengan mata tak berkesip. Ada rasa perih di lubuk hatinya. Namun kemudian si cantik berpakaian hijau tipis ini mengulum senyum.

Suasana sunyi pecah oleh suara batuk-batuk yang dibuat Ratu Randang. Entah memang batuk sungguhan atau dibuat-buat!

***11WIRO, aku bicara mewakili semua sahabat di sini. Kami gembira kau kembali dengan selamat. Hanya saja kami tidak mengira sahabat Ken Parantili ikut bersamamu."

Ucapan si nenek bagi Ken Parantili merupakan adanya bayangan rasa tidak senang atau rasa cemburu terhadap dirinya. Dari apa yang pernah didengarnya, sedikit banyak dia mengetahui hubungan Ratu Randang, Sakuntaladewi dan Kunti Ambiri dengan Wiro. Si nenek telah kepincut jatuh hati. Sakuntaladewi punya kaul akan mengambil sang pendekar menjadi suami. Lalu Kunti Ambiri punya kisah lama dan panjang dengan Wiro. Di Bhumi Mataram perasaan cinta Kunti Ambiri itu berkembang jadi mendalam akibat berbagai keadaan yang lebih mendekatkannya pada Wiro.

Merasa tidak enak Ken Parantili berkata. "Sahabat semua. Sebenarnya kami dalam perjalanan ke satu goa rahasia. Tempat di mana jantungku disekap oleh Penguasa Atap Langit..."

"Ken Parantili. Kami semua melihat kau sebagai manusia hidup, tidak beda dengan diri kami. Bagaimana mungkin kau mengatakan tidak memiliki jantung?" Kunti Ambiri tiba-tiba memotong ucapan Ken Parantili.

Ken Parantili diam saja. Dia tahu kalau Kunti Ambiri bukan manusia..... ( lanjutkan membaca setelah login gratis di sini )
Auto Promo BLOGGER Auto Promo INSTAGRAM Auto Promo TWITTER Auto Promo FACEBOOK Auto Promo LINKEDIN
JUDUL
Wiro Sableng #1 : Empat Berewok Dari Goa Sanggreng
Wiro Sableng #10 : Banjir Darah Di Tambun Tulang
Wiro Sableng #100 : Dendam Dalam Titisan
Wiro Sableng #101 : Gerhana Di Gajahmungkur
Wiro Sableng #102 : Bola Bola Iblis
Wiro Sableng #103 : Hantu Bara Kaliatus
Wiro Sableng #104 : Peri Angsa Putih
Wiro Sableng #105 : Hantu Jatilandak
Wiro Sableng #106 : Rahasia Bayi Tergantung
Wiro Sableng #107 : Hantu Tangan Empat
Wiro Sableng #108 : Hantu Muka Dua
Wiro Sableng #109 : Rahasia Kincir Hantu
Wiro Sableng #11 : Raja Rencong Dari Utara
Wiro Sableng #110 : Rahasia Patung Menangis
Wiro Sableng #111 : Hantu Langit Terjungkir
Wiro Sableng #112 : Rahasia Mawar Beracun
Wiro Sableng #113 : Hantu Santet Laknat
Wiro Sableng #114 : Badai Fitnah Latanahsilam
Wiro Sableng #115 : Rahasia Perkawinan Wiro
Wiro Sableng #116 : Hantu Selaksa Angin
Wiro Sableng #117 : Muka Tanah Liat
Wiro Sableng #118 : Batu Pembalik Waktu
Wiro Sableng #119 : Istana Kebahagiaan
Wiro Sableng #12 : Pembalasan Nyoman Dwipa
Wiro Sableng #120 : Kembali Ke Tanah Jawa
Wiro Sableng #121 : Tiga Makam Setan
Wiro Sableng #122 : Roh Dalam Keraton
Wiro Sableng #123 : Gondoruwo Patah Hati
Wiro Sableng #124 : Makam Ketiga
Wiro Sableng #125 : Senandung Kematian
Wiro Sableng #126 : Badik Sumpah Darah
Wiro Sableng #127 : Mayat Persembahan
Wiro Sableng #128 : Si Cantik Dalam Guci
Wiro sableng #129 : Tahta Janda Berdarah
Wiro Sableng #13 : Kutukan Empu Bharata
Wiro Sableng #130 : Meraga Sukma
Wiro Sableng #131 : Melati Tujuh Racun
Wiro Sableng #132 : Kutukan Sang Badik
Wiro Sableng #133 : 113 Lorong Kematian
Wiro Sableng #134 : Nyawa Kedua
Wiro Sableng #135 : Rumah Tanpa Dosa
Wiro Sableng #136 : Bendera Darah
Wiro Sableng #137 : Aksara Batu Bernyawa
Wiro Sableng #138 : Pernikahan Dengan Mayat
Wiro Sableng #14 : Sepasang Iblis Betina
Wiro Sableng #140 : Misteri Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #141 : Kematian Kedua
Wiro Sableng #142 : Kitab Seribu Pengobatan
Wiro Sableng #143 : Perjanjian Dengan Roh
Wiro Sableng #144 : Nyi Bodong
Wiro Sableng #145 : Lentera Iblis
Wiro Sableng #146 : Azab Sang Murid
Wiro Sableng #147 : Api Di Puncak Merapi
Wiro Sableng #148 : Dadu Setan
Wiro Sableng #149 : Si Cantik Dari Tionggoan
Wiro Sableng #15 : Mawar Merah Menuntut Balas
Wiro Sableng #150 : Misteri Pedang Naga Merah
Wiro Sableng #151 : Sang Pembunuh
Wiro Sableng #152 : Petaka Patung Kamasutra
Wiro Sableng #153 : Misteri Bunga Noda
Wiro Sableng #154 : Insan Tanpa Wajah
Wiro Sableng #155 : Sang Pemikat
Wiro Sableng #156 : Topan Di Gurun Tengger
Wiro Sableng #157 : Nyawa Titipan
Wiro Sableng #158 : Si Cantik Gila Dari Gunung Gede
Wiro Sableng #159 : Bayi Satu Suro
Wiro Sableng #16 : Hancurnya Istana Darah
Wiro Sableng #160 : Dendam Mahluk Alam Roh
Wiro Sableng #161 : Perjodohan Berdarah
Wiro Sableng #162 : Badai Laut Utara
Wiro Sableng #163 : Cinta Tiga Ratu
Wiro Sableng #164 : Janda Pulau Cingkuk
Wiro Sableng #165 : Bayi Titisan
Wiro Sableng #166 : Kupu-Kupu Giok Ngarai Sianok
Wiro Sableng #167 : Fitnah Berdarah Di Tanah Agam
Wiro Sableng #168 : Mayat Kiriman Di Rumah Gadang
Wiro Sableng #169 : Bulan Sabit Di Bukit Patah
Wiro Sableng #17 : Lima Iblis Dari Nanking
Wiro Sableng #170 : Kupu-Kupu Mata Dewa
Wiro Sableng #171 : Malam Jahanam Di Mataram
Wiro Sableng #172 : Empat Mayat Aneh
Wiro Sableng #173 : Roh Jemputan
Wiro Sableng #174 : Dua Nyawa Kembar
Wiro Sableng #175 : Sepasang Arwah Bisu
Wiro Sableng #176 : Dewi Kaki Tunggal
Wiro Sableng #177 : Jaka Pesolek Penangkap Petir
Wiro Sableng #178 : Tabir Delapan Mayat
Wiro Sableng #18 : Pendekar Pedang Akhirat
Wiro Sableng #180 : Sesajen Atap Langit
Wiro Sableng #181 : Selir Pamungkas
Wiro Sableng #182 : Delapan Pocong Menari
Wiro Sableng #183 : Bulan Biru Di Mataram
Wiro Sableng #184 : Dewi Dua Musim
Wiro Sableng #185 : Jabang Bayi Dalam Guci
Wiro Sableng #19 : Pendekar Dari Gunung Naga
Wiro Sableng #2 : Maut Bernyanyi Di Pajajaran
Wiro Sableng #20 : Hidung Belang Berkipas Sakti
Wiro Sableng #21 : Neraka Puncak Lawu
Wiro Sableng #22 : Siluman Teluk Gonggo
Wiro Sableng #23 : Cincin Warisan Setan
Wiro Sableng #24 : Penculik Mayat Hutan Roban
Wiro Sableng #25 : Cinta Orang Orang Gagah
Wiro Sableng #26 : Iblis Iblis Kota Hantu
Wiro Sableng #27 : Khianat Seorang Pendekar
Wiro Sableng #28 : Petaka Gundik Jelita
Wiro Sableng #29 : Bencana Di Kuto Gede
Wiro Sableng #3 : Dendam Orang-orang Sakti
Wiro Sableng #30 : Dosa Dosa Tak Berampun
Wiro Sableng #31 : Pangeran Matahari Dari Puncak Merapi
Wiro Sableng #32 : Bajingan Dari Susukan
Wiro Sableng #33 : Panglima Buronan
Wiro Sableng #34 : Munculnya Sinto Gendeng
Wiro Sableng #35 : Telaga Emas Berdarah
Wiro Sableng #36 : Dewi Dalam Pasungan
Wiro Sableng #37 : Maut Bermata Satu
Wiro Sableng #38 : Iblis Berjanggut Biru
Wiro Sableng #39 : Kelelawar Hantu
Wiro Sableng #4 : Keris Tumbal Wilayuda
Wiro Sableng #40 : Setan Dari Luar Jagad
Wiro Sableng #41 : Malaikat Maut Berambut Salju
Wiro Sableng #42 : Badai Di Parang Tritis
Wiro Sableng #43 : Dewi Lembah Bangkai
Wiro Sableng #44 : Topeng Buat WIRO SABLENG
Wiro Sableng #45 : Manusia Halilintar
Wiro Sableng #46 : Serikat Setan Merah
Wiro Sableng #47 : Pembalasan Ratu Laut Utara
Wiro Sableng #48 : Memburu Si Penjagal Mayat
Wiro Sableng #49 : Srigala Iblis
Wiro Sableng #5 : Neraka Lembah Tengkorak
Wiro Sableng #50 : Mayat Hidup Gunung Klabat
Wiro Sableng #51 : Raja Sesat Penyebar Racun
Wiro Sableng #52 : Guna Guna Tombak Api
Wiro Sableng #53 : Kutukan Dari Liang Kubur
Wiro Sableng #54 : Pembalasan Pendekar Bule
Wiro Sableng #55 : Misteri Dewi Bunga Mayat
Wiro Sableng #56 : Ratu Mesum Bukit Kemukus
Wiro Sableng #57 : Nyawa Yang Terhutang
Wiro Sableng #58 : Bahala Jubah Kecono Geni
Wiro Sableng #59 : Peti Mati Dari Jepara
Wiro Sableng #6 : Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga
Wiro Sableng #60 : Serikat Candu Iblis
Wiro Sableng #61 : Makam Tanpa Nisan
Wiro Sableng #62 : Kamandaka Si Murid Murtad
Wiro Sableng #63 : Neraka Krakatau
Wiro Sableng #64 : Betina Penghisap Darah
Wiro Sableng #65 : Hari-Hari Terkutuk
Wiro Sableng #66 : Singa Gurun Bromo
Wiro Sableng #67 : Halilintar Di Singosari
Wiro Sableng #68 : Pelangi Di Majapahit
Wiro Sableng #69 : Ki Ageng Tunggul Keparat
Wiro Sableng #7 : Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin
Wiro Sableng #70 : Ki Ageng Tunggul Akhirat
Wiro Sableng #71 : Bujang Gila Tapak Sakti
Wiro Sableng #72 : Purnama Berdarah
Wiro Sableng #73 : Guci Setan
Wiro Sableng #74 : Dendam Di Puncak Singgalang
Wiro Sableng #75 : Harimau Singgalang
Wiro Sableng #76 : Kutunggu Di Pintu Neraka
Wiro Sableng #77 : Kepala Iblis Nyi Gandasuri
Wiro Sableng #78 : Pendekar Gunung Fuji
Wiro Sableng #79 : Ninja Merah
Wiro Sableng #8 : Dewi Siluman Bukit Tunggul
Wiro Sableng #80 : Sepasang Manusia Bonsai
Wiro Sableng #81 ; Dendam Manusia Paku
Wiro Sableng #82 : Dewi Ular
Wiro Sableng #83 : Wasiat Iblis
Wiro Sableng #84 : Wasiat Dewa
Wiro Sableng #85 : Wasiat Sang Ratu
Wiro Sableng #86 : Delapan Sabda Dewa
Wiro Sableng #87 : Muslihat Para Iblis
Wiro Sableng #88 : Muslihat Cinta Iblis
Wiro Sableng #89 : Geger Di Pangandaran
Wiro Sableng #9 : Rahasia Lukisan Telanjang
Wiro Sableng #90 : Kiamat Di Pangandaran
Wiro Sableng #91 : Tua Gila Dari Andalas
Wiro Sableng #92 : Asmara Darah Tua Gila
Wiro Sableng #93 : Lembah Akhirat
Wiro Sableng #94 : Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #95 : Jagal Iblis Makam Setan
Wiro Sableng #96 : Utusan Dari Akhirat
Wiro Sableng #98 : Rahasia Cinta Tua Gila
Wiro Sableng #99 : Wasiat Malaikat


LOAD MORE INSPIRATIONS...

© www&mdot;nomor1&mdot;com · admin@nomor1&mdot;com · terms of use · privacy policy · 23.20.60.138
team developer · pt excenture indonesia · central park podomoro city · jakarta indonesia