Wiro Sableng #153 : Misteri Bunga Noda
WIRO SABLENG

Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212

Karya: Bastian Tito

Episode : PETAKA PATUNG KAMASUTRA

DALAM kisah sebelumnya (Petaka Patung Kamasutra) diceritakan bagaimana nenek jejadian kembaran ketiga Eyang Sepuh Kembar Tilu berusaha melepas totokan di tubuh Pendekar 212 Wiro Sableng. Usahanya mengalami kesulitan karena totokan berada di bawah pusar, di dekat anggota rahasia sang pendekar. Ingat pengalamannya waktu memperbaiki letak anggota rahasia Pengemis Empat Mata Angin dimana saat itu Purnama alias Luhmintari, gadis dan negeri 1200 tahun silam meminjamkan tenaga dalamnya, maka Wiro minta agar si nenek melakukan hal yang sama. Namun ternyata cara pemindahan tenaga dalam serta hawa sakti hanya bisa dilakukan nenek itu melalui dua puting susunya. Agar tenaga dalam dan hawa sakti itu bisa masuk ke tubuh Wiro maka sang pendekar harus menyedot dua puting susu si nenek sekaligus!

Ketika hal itu dikatakan si nenek. Wiro tertawa gelak-gelak karena menyangka si nenek bergurau mempermainkannya.

"Aku rasa kau punya otak jahil Nek. Kalau apa yang kau bilang aku lakukan, tiba-tiba kau bersalin rupa menjadi seorang gadis cantik jelita berdada putih kencang. Aku bisa kebablasan.

Urusan bisa jadi kapiran! Ha...ha...ha!"

Murid flnto Gendeng mungkin belum akan berhenti tertawa kalau tiba-tiba dari dalam candi tidak terdengar suara orang berucap lembut tapi jelas.

"Hidup ini memang satu keanehan. Di dalam susah ada tawa.

Di dalam kesulitan ada canda."

Begitu ucapan berakhir di dekat Wiro dan nenek jubah kuning tahu-tahu telah berdiri seorang pemuda cakap berbaju dan bercelana hitam. Kening diikat secarik kain merah. Beborapa bagian baju dan celana serta kain merah di kepala dihias sulaman bergambar bunga tanjung terbuat dari benang perak dipadu benang emas. Pemuda tampan ini berkumis kecil tipis, memelihara janggut serta cambang bawuk rapi.

Belum sempat Wiro dan si nenek menanyakan siapa adanya dia, pemuda tak dikenal itu mendahului berkata. Suaranya lembut

"Sahabat yang sedang kesusahan. Jika kau bersedia.

dengan ilmuku yang bodoh aku mungkin bisa melepas totokan di tubuhmu. Ketika kalian datang aku sudah berada berada di dalam candi. Harap dimaafkan kalau aku tak sengaja mendengar semua pembicaraan sahabat dan nenek ini."

Nenek jubah kuning tegakkan kepala Menatap pemuda di hadapannya. "Aku tadi telah mencoba, tapi tak berhasil memusnahkan totokan di tubuh sahabatku ini. Pangeran Sena Wirapala. Keparat tua itu yang menotok. Entah Ilmu totokan celaka apa yang dimilikinya! Eh, kau benaran bisa menolong sahabatku ini?"

Pemuda berbaju hitam mengangguk.

"Jika kau mengizinkan dan yang punya diri mau ditolong tentu saja aku akan berusaha. Hidup didunia ini bukankah musti tolong menolong?" Jawab pemuda berkumis kecil.

‘Sahabat, kalau kau memang mampu menolong, aku berserah diri." Kata Wiro pula.

"Terima kasih kau mau mempercayaiku..."

Pemuda berpakaian hitam lalu membaringkan Wiro menelentang di lantai candi. Si nenek mengawasi.

"Harap maafkan, aku harus menyentuh auratmu di bagian yang ditotok." Pemuda yang hendak menolong lalu susupkan tangan kanannya ke balik celana Pendekar 212. Wiro merasa jarijari tangan mengusap permukaan kulit tubuhnya kira-kira setengah jengkal di bawah pusar. Terasa dingin. Hawa sejuk aneh menjalar ke seluruh tubuhnya. Pemuda berkumis tipis kemudian menggerakkan kedua tangan Wiro berulang kail. Setelah itu ganti menggerakkan sepasang kaki.

"Sahabat, kau sekarang bisa menggerakkan tangan dan kakimu sendiri. Cobalah."

Mendengar ucapan orang Wiro gerakkan tangan kiri kanan. Lalu angkat kedua kaki. Seperti yang dikatakan pemuda berpakaian hitam ternyata dia benar-benar mampu melakukan.

"Luar biasa!" Wiro berucap girang. "Sahabat, aku sangat berterima kasih padamu."

"Cobalah bangun dan berdiri." Kata pemuda berpakaian hitam.

Wiro bukan hanya mampu bangun tapi malah sanggup melompat dan di lain saat dia sudah berdiri di hadapan pemuda penolongnya. Wiro membungkuk dalam-dalam, mengucapkan terima kasih berulang kali.

Si nenek tertawa gembira, menepuk-nepuk bahu pemuda tampan itu seraya bertanya. ‘Pemuda hebat! Kalau kami boleh tahu siapa gerangan kau adanya?"

Yang ditanya tersenyum. Dia menjawab dengan suara lembut merendah " Aku hanya seorang yang kebetulan lewat di sini Karena kelelahan dan matahari bersinar terik, aku masuk ke dalam candi. Aku gembira totokan di tubuh sahabatku ini sudah musnah. Harap dimaafkan, karena ada keperluan lain aku terpaksa meninggalkan kalian berdua. Di lain waktu mudahmudahan kita bisa bertemu lagi."

"Sahabat, tunggu dutul Kau belum memberi tahu namai" Kata Wiro pula sambil berusaha mengejar.

Namun seperti ditelan bumi pemuda berkumis kecil lenyap di samping candi. Wiro dan si nenek memutari candi, coba mencari. Pemuda itu tak kelihatan lagi.

"Ah sayang, dia pergi begitu saja..." ucap Wiro sambil menggaruk kepala.

"Orang sakti berbudi tinggi selalu merendah diri seperti itu..." kata nenek kembar jejadian.

"Ilmunya luar biasa. Gerakannya cepat sekali. Kalau tidak dia menolong, entah apa jadinya dengan diriku."

Murid Sinto Gendeng ingat sesuatu. Ingin tahu dia berputar membelakangi si nenek lalu turunkan celananya di sebelah depan untuk melihat bagian tubuh di bawah pusar yang tadi d sentuh pemuda yang menolongnya. Dia jadi terkejut ketika melihat di bawah pusarnya menempel sekuntum bunga tanjung, putih kekuningan.

"Dari mana munculnya bunga ini?" Wiro bertanya dalam hati "Mungkin pemuda tadi yang menempelkan? Sebagai alat untuk memusnahkan totokan di tubuhku?" Murid Sinto Gendeng berpikir, garuk-garuk kepala. Tiba-tiba saja dia ingat pada puteri Keraton Ambarsari yang tewas mengenaskan itu.

Otak berpikir, hati berucap. "Pertama kali aku bertemu gadis itu. ada bunga tanjung di keningnya." Wiro meraba tengkuknya yang mendadak terasa dingin. "Pemuda berpakaian hitam tadi.

Jangan-jangan..."

Wiro susupkan tangan ke balik celana untuk mengambil bunga tanjung yang menempel di bawah perut Tiba-tiba rasa panas menyengat batok kepalanya. Wajahnya serasa dipanggang api. Sekujur tubuh panas membara. Dalam keadaan seperti tu kembali Wiro ingat pada Ambarsari. Wajah si gadis membayang di pelupuk matanya. Sang pendekar tersentak. Dia sadar, Ingat! Ada sesuatu yang mengejutkannya. Wiro keluarkan Beruan tertahan.

‘Ada apa?" nenek jubah kuning yang sejak tadi memperhatikan bertanya.

"Orang itu!" Wiro menunjuk ke arah lenyapnya pemuda berpakaian hitam tadi sementara dua kakinya mendadak bergetar. Lututnya goyah tubuh terasa limbung. "Nek, dia...dia orangnya yang mengejar Ambarsari. Dia...dia mengaku bernama Cakra yang .."

Pendekar 212 Wiro Sableng tak sanggup lagi menyelesaikan ucapan. Kini berganti sekujur badan diserang hawa dingin luar biasa. Dari mulut menyembur darah kental. Tubuh Wiro kemudian terhuyung lalu tergelimpang menelungkup di tanah.

menggeliat beberapa kali, setelah itu diam tak berkutik lagi.

Nenek kembar jejadian menjerit kaget. Dia cepat membalikkan Wiro hingga tertelentang. Wajah sang pendekar tampak merah sekali. Bibir ungu kebiruan.

‘Racun jahat!" teriak si nenek. Lalu dua tangannya cepat bergerak monotok dua belas titik di sekujur tubuh Wiro. Ketika memperhatikan bagian celana yang tersibak, dia melihat bunga tanjung yang menempel di bawah pusar. Si nenek segera mengambil bunga itu lalu meremas sampai hancur.

"Seharusnya tadi aku tolong saja dia. Melihat atau menyentuh aurat terlarang demi menolong apa salahnya?" Si nenek sesali diri sendiri. Mudah-mudahan aku masih bisa menolongnya." Dengan fbu jari tangan kanan dia menekan kuat-kuat bagian bawah pusar dimana sebelumnya menempel bunga tanjung. Dia memperkirakan di bagian inilah jalan masuknya racun jahat ke dalam tubuh Wiro.

Tenaga dalam dikerahkan disertai aliran hawa sakti.

"Dess.. .desss.. .dess!"

Terdengar tiga letupan cukup keras disertai membersitnya buntalan asap biru. Si nenek terpekik. Oari bawah pusar Wiro keluar menyambar hawa aneh dan masuk ke bagian bawah perut si nenek hingga mahluk jejadian ini terpental lalu terbanting jatuh di tanah.

Mukanya yang keriput tampak merah, bibir membiru.

Di langit muncul awan h-tam merubah udara yang tadi panas terik menjadi redup mengelam. Guntur menggemuruh.

Sesekali kilat menyambar. Angin bertiup kencang membuat daun-daun pepohonan bergemerisik menggidikkan. Tak selang berapa lama hujan mulai mencurah bumi. Sosok Pendekar 212 dan nenek kembar jejadian tergeletak kuyup tak bergerak di halaman samping candi.

Tiba-tiba terjadi satu keanehan. Dari sosok tubuh nenek berjubah kuning keluar sebentuk tubuh ramping tinggi semampai seorang gadis berkulit putih berwajah cantik rambut hitam pekat tergerai lepas. Pakaian kebaya pendek dan celana panjang ringkas warna kuning. Sesaat gadis ini menatap ke arah tubuh nenek jejadian lalu balikkan diri. Dengan langkah perlahan sosok aneh ini meninggalkan kawasan candi, berjalan ke arah matahari tenggelam. Walau saat itu hujan turun lebat namun kepala, tubuh dan pakaiannya tidak basah sedikitpun.

Pada setiap langkah yang dibuatnya, di sebelah belakang sosok nenek jejadian yang tergeletak di tanah perlahan-lahan berubah samar lalu sirna. Di bekas tempat dia terbujur kini hanya kelihatan sebuah seruling perak. Inilah seruling pemberian paderi Loan Nio yang semula hendak diserahkan si nenek kepada Wiro, tapi belum sempat dilakukan.

HUJAN belum juga reda. Udara masih diselimuti kegelapan.

Siang hari hampir tidak beda dengan senja. Sesekali angin bertiup keras menimbulkan suara yang membuat keadaan terasa seram. Di bawah curahan hujan samar-samar di arah kaki bukit sebelah timur tampak berjalan terbungkuk-bungkuk seorang lelaki tua berjubah hijau. Sekujur tubuh mulai dari rambut putih sampai ke kaki yang tak berkasut basah kuyup. Sambil berjalan mulutnya meracau.

"Sinto. puluhan hari aku menunggu kedatanganmu. Kau hanya muncul di dalam mimpi..."

Di satu tempat orang ini hentikan langkah. Dia mengusap wajah keriput basah lalu memandang ke arah puncak bukit.

Walau sangat samar namun dia masih bisa melihat bangunan itu.

"Bangunan di puncak bukit. Itu candi yang dikatakan Sinto Gendeng di dalam mimpi." Orang tua ini geleng-geleng kepala.

"Sinto. kau menyiksaku. Mengapa kau menyuruh aku ke puncak bukit itu. Padahal kau berjanji akan datang ke gubukku di tikungan Kali Progo."

Setelah berdiam diri beberapa ketika, orang tua ini melanjutkan perjalanan. Langkah kaki kini ditujukan ke puncak bukit dimana dia melihat bangunan candi, tanpa mengetahui kalau dibawah bukit di balik sederetan pepohonan, dua pasang mata sejak tadi mengikuti gerak-geriknya.

Orang yang berdiri di sebelah kanan pohon besar mengenakan topi merah menyerupai tarbus. Wajah bulat memelihara kumis dan janggut hitam tebal. Pakaian baju dan celana ringkas warna merah pekat Orang ini adalah Damar Sarka. satu-satunya orang penting yang masih hidup dari kelompok yang menamakan diri orang-orang Keraton Kaliningrat.

Seperti diceritakan dalam serial Wiro Sableng (episode "Perjanjian Dengan Roh" s/d "Api Di Puncak Merapi") seorang yang menyebut diri Pangeran Muda bernama Sawung Guntur alias Brata Sukmapala punya rencana hendak merebut tahta Kerajaan. Dalam menjalankan rencananya dia mengumpulkan orang-orang berkepandaian tinggi dan menyebut diri sebagai penguasa Keraton Kaliningrat Namun usaha jahat itu gagal.

Sawung Guntur menemu, ajal di tangan Patih Wira Bumi. Para pembantu utamanya dan hampir semua anggota Keraton Kaliningrat terbunuh. Hanya Damar Sarka yang sempat selamatkan diri. Orang ini pernah menyamar jadi kusir gerobak, membawa Wiro dan Nyi Retno Mantili dalam perjalanan menuju hutan jati di sebuah bukit dekat Plaosan. Sebelum berpisah dia menyerahkan sepucuk surat dari Pangeran Muda yang isinya berusaha membujuk Pendekar 212 Wiro Sableng agar mau bergabung dengan kelompok Keraton Kaliningrat.

Orang kedua di sebelah Damar Sarka adalah lelaki berusia sekitar empat puluh tahun, berpakaian baju dan celana gombrong hitam. Dia bernama Surah Sentono, adalah adik Surah Nenggolo, kepala rampok hutan Ngluwer yang ikut bergabung dengan orang-orang Keraton Kaliningrat. Karena dianggap telah berlaku sembrono kemudian dibunuh atas perintah Pangeran Muda Sawung Guntur.

"Bagaimana kalau orang tua itu kita bekuk di lereng bukit sana sekarang juga?" Surah Sentono keluarkan ucapan.

"Sobatku, bersabarlah. Jangan terburu-buru. Dia pergi ke bukit pasti menemui seseorang yang ada hubungannya dengan madat itu. Kau lihat di atas bukit ada bangunan candi. Aku yakin dia menemui seseorang di candi itu." Menjawab Damar Sarka.

"Aku setuju kita tidak bertindak terburu-buru. Tapi kita harus menjaga jarak sedekat mungkin. Kata Surah Sentono pula.

"Ingat, walau ilmu silatnya tidak seberapa tapi dia bukan orang sembarangan. Manusia seperti orang tua itu setiap saat bisa menyelinap lenyap seperti ditelan bumi. Ingat waktu tempat kediamannya digrebek pasukan Kerajaan. Yang ditemukan dan kemudian digantung adalah Djaka Tua, pembantu Tumenggung Wirabumi. Orang tua itu sendiri lenyap tidak diketahui dimana beradanya."

Surah Sentono menatap Damar Sarka sejurus lalu berkata "Aku tak mau kehilangan madat lima puluh kati itu" katanya lalu cepat-cepat melangkah ke arah bukit. Damar Sarka mengikuti. Sementara hujan masih terus turun.2ORANG TUA berjubah hijau sampai di puncak bukit. Hujan mulai mereda sedikit namun keadaan masih gelap. Tiba-tiba kilat menyambar. Langit seperti terbelah. Puncak bukit sekejapan terang benderang. Pada waktu bersamaan ada sebuah benda berkilau memantulkan cahaya terang kilat yang tadi berkiblat.

Terbungkuk-bungkuk orang tua itu melangkah mendekati benda ini. Namun baru menindak tiga langkah gerak kakinya tertahan.

Pandangan sudut matanya membentur sosok tubuh seorang lelaki terbujur di tanah.

"Manusia atau hantukah yang mau-mauan tidur di bawah hujan lebat begini rupa? Atau mungkin sosok itu mayat yang tersia-sia?" Orang tua berjubah hijau berkata dalam hati. Namun bila dia ingat mimpinya tadi malam, hatinya berkata lagi.

"Jangan-jangan ini ada hubungannya dengan permintaan Sinto Gendeng dalam mimpiku."

Maka orang tua itu lantas melangkah mendekati sosok lelaki yang terbaring di tanah becek hanya mengenakan sehelai celana panjang sementara hujan masih turun walau tidak selebat sebelumnya.

Setelah memperhatikan sesaat orang yang tergeletak di tanah di halaman samping candi, si orang tua terkejut, delikkan mata dan keluarkan seruan tertahan.

"Astagal Apakah aku mengenal orang ini? Bukankah dia murid sobatku Sinto Gendeng. pemuda berjuluk Pendekar Kapak Maut Naga Geni Dua Satu Dua? Aku pernah menolongnya sewaktu tangannya luka parah. Bagaimana dia bisa berada di sini? Apa yang terjadi?"

Orang tua itu berlutut. Memeriksa Pendekar 212 mulai dari kepala sampai ke kaki. Dia melihat dua belas tanda bekas totokan di sekujur tubuh Wiro. Lalu ada tanda kemerah-merahan di bawah pusar. Perlahan-lahan dia ulurkan tangan kanan, letakkan telapak tangan di atas dada sang pendekar. Tubuh itu terasa dingin.

Bukan karena kehujanan tapi ada penyebab lain. Kening si orang tua berkerut. Namun dia masih merasa lega sewaktu tangannya merasa detakan jantung walau hanya perlahan.

"Aku ingat betul. Pada pertemuan pertama kali. di dada pemuda ini ada jarahan angka Dua Satu Dua Sekarang mengapa tidak kelihatan lagi?" Orang tua ini usap-usap dada Wiro. Seperti diceritakan dalam Episode berjudul "Lentera Iblis", demi untuk menjaga keselamatan Wiro jarahan angka 212 di dadanya oleh dilenyapkan secara gaib oleh Kiai Gede Tapa Pamungkas sementara Kapak Naga Geni 212 dan batu sakti dimasukkan ke dalam tubuh Wiro.

"Dua belas totokan! Luar biasa! Siapa yang melakukan?

Aku menduga ada dua orang yang mengerjai pemuda ini.

Orang pertama bermaksud jahat. Mencelakainya melalui jalan darah dan syaraf di bagian bawah pusar. Orang kedua yang membuat dua belas totokan agaknya berusaha menolong. Tapi mengapa murid Sinto Gendeng lantas dibiarkan tergeletak sendirian di sini? Dalam keadaan setengah telanjang begini rupa? Jika ada yang menolong mustahil ditinggal begitu saja.

Atau mungkin orangnya pergi untuk mencari obat? Mungkin juga mencari orang lain untuk meminta bantuan? Berarti orang itu akan kembali. Biar kutunggu."

Sementara menunggu, di bawah siraman hujan orang tua ini balikkan tubuh Pendekar 212. Dia meraba punggung sebelah kiri, di arah jantung sambil mengerahkan tenaga dalam.

Perlahan-lahan tangan diangkat jari-jari menekuk membentuk tinju. Tiba-tiba tangan itu dipukulkan ke punggung.

"Buukk!"

Dari mulut Pendekar 212 mengalir keluar darah kehitaman.

Si orang tua tekan punggung kiri Wiro dengan tangan kiri sementara tangan kanan mengurut dan menotok aliran darah di leher. Darah mengalir terus dari mulut Wiro. Masih berwarna hitam.

"Celaka, darahnya tidak berubah merah. Pemuda ini mengidap racun jahat yang tidak mematikan. Tapi membuat salah satu bagian tubuhnya akan mengalami kelemahan seumur hidupi Sayang semua alat pengobatanku telah dimusnahkan bergundal-bergundal Kerajaan. Sulit bagiku untuk dapat menolong pemuda ini dalam waktu cepat. Aku harus membawanya ke gubuk di Kali Progo. Tapi bagaimana caranya?"

Orang tua itu ingat pada suling perak yang tadi dilihatnya tergeletak di tanah becek. Suling diambil, diperhatikan lalu ditimang-timang.

"Suling perak...Bagus sekali buatannya. Milik siapa?

Setahuku murid Sinto Gendeng tidak pernah membekal suling.

Mungkin milik orang yang mencelakainya?"

Setelah menunggu cukup lama tak ada orang yang datang, orang tua ini mulai merasa risau.

‘Aku tak mungkin menggendong atau memanggulnya ke gubuk di Kali Progo. Tempat ini agaknya jarang didatangi orang. Apa lagi cuaca buruk begini. Apa yang harus aku lakukan?" Orang tua itu memandang berkeliling. Di bagian belakang candi dia melihat beberapa rumpun pohon bambu. Dari balik pinggang jubah dia mengeluarkan sebilah golok. Dengan golok ini dia menebang tiga batang bambu lalu digabung rata jad! satu. Tubuh Wiro diletakkan di atas tiga batang bambu dan diikat. Perlahan-lahan si orang tua mulai menyeret bambu. Baru beberapa langkah dia berhenti dan gelengkan kepala. Tubuh sang pendekar berat sekali. Jika dipaksakan mungkin dia sanggup membawa Wiro sampai ke kaki bukit Tapi untuk membawa sampai di gubuknya di Kali Progo jelas dia tidak mampu melakukan. Untuk beberapa lama orang tua ini duduk bersimpuh di tanah becek. Dia ingat pada suling perak yang tadi ditemuinya. Suling dikeluarkan dari balik jubah, dipandangi sambil berkata dalam hati.

"Mudah-mudahan saja suara suling akan menarik perhatian.

Membuat ada orang datang ke tempat ini."

Lalu orang tua ini duduk di tangga candi, mulai meniup suling.

Karena tiupan disertai aliran tenaga dalam maka suaranya menggema keras di udara, menembus suara hujan dan deru angin di atas bukit.

Apa yang diharapkan orang tua ini menjadi kenyataan beberapa saat kemudian. Dua orang berkelebat muncul mendatangi tempat dimana dia duduk di tangga candi meniup suling. Satu berpakaian hitam gombrong, satunya lagi berbaju dan bercelana merah, mengenakan tarbus.

Si orang tua hentikan meniup suling. Memandang pada dua orang yang barusan datang yang belum pemah dikenalnya sebelumnya lalu membungkuk memberi penghormatan dan berkata.

"Aku bersyukur dan berterima kasih kalian berdua telah mau datang ke sini. Dua orang sahabat, aku butuh pertolongan kalian. Maukah kalian menggotong pemuda di atas bambu itu ke kaki bukit? Mudah-mudahan cuaca segera berubah baik.

Mudah-mudahan nanti bertemu dengan orang membawa gerobak. Aku harus membawanya ke tempat kediamanku di Kali Progo."

Dua orang yang barusan datang dan bukan lain adalah Damar Sarka dan Surah Sentono saling pandang satu sama lain lalu menatap ke arah sosok tubuh yang tergeletak di atas bambu. Begitu melihat wajah orang Damar Sarka terkejut dan melangkah cepat mendekati. Setelah memperhatikan sebentar dia berpaling pada si orang tua.

"Ki Tambakpati. bukankah pemuda ini Pendekar Dua Satu Dua Wiro Sableng?"

"Ah, kau tahu namaku. Berarti kau memang benar-benar sahabatku. Dugaanmu juga betul. Pemuda pingsan di atas bambu itu memang Pendekar Dua Satu Dua Wiro Sableng, murid sahabatku Sinto Gendeng."

Damar Sarka dekati Surah Sentono. Keduanya bicara berbisik bisik.

Kemudian Damar Sarka berkata pada orang tua berjubah hijau yang ternyata adalah Ki Tambakpati yang dalam rimba persilatan dikenal dengan julukan Si Tangan Penyembuh.

seorang ahli pengobatan yang pernah menolong Pangeran Matahari sampai dua kali dan juga mengobati Wiro. (Baca serial Wiro Sableng berjudul "Kitab Seribu Pengobatan" dan "Nyi Bodong")

"Ki Tambakpati. karena kau menganggap kami sahabatmu.

kami pasti akan menolong pendekar itu. Kami akan menggotongnya kemanapun kau meminta."

"Terima kasih....terima kasih." Ki Tambakpati gembira sekali.

"Aku mohon sahabat berdua mau membawanya ke gubuk kediamanku di tikungan Kali Progo."

"Cukup jauh dari sini," ucap Surah Sentono dengan mulut dipencongkan. "Tapi kau tak usah kawatir. Kami berdua akan menggotongnya sampai ke sana." Surah Sentono tersenyum dan kedipkan mata pada Damar Sarka.

Damar Sarka sambung ucapan temannya itu. "Namun sebelum kami menolong, kami punya satu permintaan."

"Ah. kalau kalian minta pembayaran terus terang aku tidak punya uang," kata Ki Tambakpati yang salah mengira.

"Tidak, kami tidak butuh uang. Tapi kami butuh keterangan!"

kata Damar Sarka. Nada suaranya yang tadi ramah kini berubah kasar.

"Keterangan? Keterangan apa?" tanya Ki Tambakpati sambil menatap air muka dua orang di hadapannya. Entah mengapa secara tiba-tiba hatinya merasa tidak enak.

"Ki Tambak, kau terkenal sebagai tabib sakti rimba persilatan.

Beberapa waktu lalu kau pemah mengobati seorang pemuda mengaku sebagai Pangeran. Benar?"

Ki Tambakpati berpikir-pikir lalu anggukkan kepala.

"Benar, memang pemah. Dia datang dua kali. Tapi aku tidak akan memberi tahu apa penyakitnya. Lagi pula aku tahu dia bukan pangeran benaran. Beberapa waktu kemudian aku tahu dia ternyata adalah Pangeran Matahari, momok paling jahat dalam rimba persilatan tanah Jawa Belum lama ini aku mendengar kabar dia telah menemui ajal, tewas di puncak Gunung Merapi."

"Kami tidak perduli apa dia masih hidup atau sudah mampus,"

ucap Damar Sarka. "Pada kedatangannya yang pertama dia menunggang seekor kuda besar. Kau ingat?"

"Ya. aku ingat."

Damar Sarka melanjutkan. "Orang itu membekal sebuah kantong kulit Digantung di leher kuda. Kantong Itu dirampasnya dari kerabat kami. Waktu dia datang, kau sempat melihat kantong kulit itu?"

Ki Tambakpati mengangguk. "Aku malah sempat melihat isinya." Kata si orang tua polos.

Damar Sarka dan Surah Sentono saling pandang.

"Kalau kau memang melihat isinya, katakan benda apa yang kau lihat?" Surah Sentono bertanya ingin menguji.

"Madat candu." Jawab Ki Tambakpati. "Aku melihat barang itu pertama kali pada malam hari. Tapi sewaktu aku melihat lagi keesokan paginya, kantong kulit itu sudah lenyap."

""Kau tidak berdusta?" tanya Damar Sarka seraya menatap tajam.

Ki Tambakpati menggeleng.

"Madat bisa dipergunakan sebagai bahan pengobatan yang ampuh. Untuk menahan segala macam rasa sakit. Bukan kau yang mengambil madat dalam kantong itu?" Pandangan mata Damar Sarka membeliak menyelidik.

"Aku bukan bangsa pencuri." ucap Ki Tambakpati.

"Ucapanmu betul. Madat bisa dipergunakan sebagal obat, Tapi seumur hidup aku tidak pernah menggunakan madat untuk menolong orang. Walau tahu harganya luar biasa mahal, aku tidak mencuri madat itu."

"Kau berdusta." hardik Damar Sarka.

"Mungkin digebuk dulu baru bicara benar!" kata Surah Sentono pula sambil letakkan tinjunya di kening Ki Tambakpati.

Walau hatinya merasa tidak tenang namun Ki Tambakpati masih bisa tersenyum.

"Aku sudah bicara jujur. Sekarang apakah kalian benaran mau menolong menggotong pemuda itu sampai ke Kali Progo?" Damar Sarka dan Surah Sentono tertawa gelak-gelak.

"Kenapa kalian tertawa. Apa yang lucu?" tanya Ki Tambakpati.

Damar Sarka hentikan tawa dan berkata. "Tentu saja kami akan menolong Pendekar Dua Satu Dua. Bukan untuk menyelamatkan.

Tapi justru untuk mempercepat kematiannyal Dia dan gurunya Sinto Gendeng telah banyak menyusahkan kami orang-orang Keraton Kaliningrat!"

"Kami akan menghabisi pendekar sableng itu. Kami akan mendapat nama besar dalam rimba persilatanl Sesudah itu jika kau masih tidak mau memberi tahu dimana madat satu kantong itu kau sembunyikan, kami akan menyiksamu sampai lidahmu mencelet dan mau bicara"

Habis berkala begitu Damar Sarka dan Surah Sentono melompat ke arah Wiro terbaring di atas bambu. Ki Tambakpati berusaha menghalangi.

"Kalau kalian tidak mau menolong tidak jadi apa. Tapi kalau kalian mau membunuh pemuda itu terpaksa aku harus mencegah!"

"Kalau begitu memang baiknya kau duluan yang kami bereskanl Biar kau bisa menjadi penunjuk jalan bagi Pendekar Dua Satu Dua ke neraka!" Kata Damar Sarka. Bekas anggota Keraton Kaliningrat ini berpaling pada sahabat di sampingnya Surah! Habisi tua bangka tak berguna ini!"

Surah Sentono menyeringai. Sekali bergerak dia sudah berada di hadapan Ki Tambakpati. Tangan kanan melesat ke muka orang tua itu. Sebagai seorang ahli ilmu pengobatan Ki Tambakpati juga memiliki kepandaian silat serta tenaga dalam. Namun kalau dipakai bertarung untuk menghadapi lawan seperti Surah Sentono atau Damar Sarka maka kedua orang itu bukanlah tandingannya.

Sambil melompat mundur Ki Tambakpati berusaha menahan jotosan Surah Sentono dengan dua telapak tangan dikembang.

Dengan mudah Surah Sentono mencekal lengan kanan Ki Tambakpati lalu dipelintir ke punggung dan didorong ke dinding candi.

"Katakan dlmana kau sembunyikan madat satu kantong itu!" hardik Surah Sentono.

"Aku tidak mengambil madat itu! Tidak menyembunyikan!

Lepaskan tanganku!" Ki Tambakpati meringis kesakitan.

Surah Sentono perkencang pelintirannya hingga si orang tua terpekik keras.

"Bicara atau aku remukkan tanganmu sampai ke tulang punggung!" ancam Surah Sentono.

"Demi Tuhan, aku bersumpah tidak mengambil dan menyembunyikan madat itu!"

"Bagus! Rasakan ini!"

Ki Tambakpati meraung keras ketika Surah Sentono menyentakkan pelintirannya.

"Tunggu, lepaskan tanganku! Aku mau bicara!" teriak Ki Tambakpati dengan nafas panjang pendek.

"Bagus! Bicara yang jelas!" kata Surah Sentono seraya kendurkan cekalan.

"Madat satu kantong itu.....Madat itu aku berikan pada setan neraka. Kalau kalian menginginkan pergilah mengambilnya ke neraka!" Habis berkata begitu Ki Tambakpati tertawa gelakgelak.

Dia tahu apa yang bakal terjadi atas dirinya. Namun saat itu dia merasa puas bisa mempermainkan orang.

"Tua bangka kurang ajar!" maki Surah Sentono.

"Surah! Tak perlu banyak bicara lagi dengan tua bangka keparat itu. Pecahkan kepalanya! Nanti kita geledah gubuknya di Kali Progo. Aku tahu letak gubuk itu!" Damar Sarka berteriak jengkel.

Mendengar teriakan itu Surah Sentono angkat tangan kirinya tinggi-tinggi. Surah Sentono adalah seorang kidal. Tangan kirinya jauh lebih kuat dari tangan kanan. Ketika tangan kiri itu dihantamkan ke bawah siap untuk menggebuk hancur batok kepala Ki Tambakpati, tiba-tiba melesat sebuah benda aneh, jatuh tepat menutupi muka Surah Sentono. Benda ini adalah sepotong kain basah lepek. Bukan basah oleh air hujan tapi oleh cairan menebar bau pesing air kencing.

Selagi Surah Sentono kelagapan tiba-tiba satu tendangan menghajar pinggangnya hingga orang ini terpental, berteriak keras marah dan kesakitan.

"Bagaimana rasa air kencingku? Hangat dan sedap? Mau lagi? Ha...ha...ha!"

Seorang kakek bermata belok, kepala setengah botak dan salah satu daun kuping lebar terbalik berdiri di tempat itu, tertawa gelak-gelak sambil pegangi bagian bawah celananya yang lepek oleh air kencing. Siapa lagi kalau bukan kakek konyol si Setan Ngompol!

Surah Sentono tarik kain basah yang menempel di mukanya dan campakkan ke tanah sambil morutuk panjang pendek dan meludah berulang kali karena ada air kencing yang sempat masuk ke mulutnya. Begitu melihat Setan Ngompol, Surah Sentono menggembor marah. Dia belum tahu siapa sebenarnya kakek aneh ini. Karenanya selain marah juga menganggap enteng. Dengan sekali bergerak dan menggebuk dia mengira bisa membuat Setan Ngompol tergelimpang roboh bahkan menemui ajal!

"Jahanam' Kau minta mampus!" teriak Surah Sentono.

Di bagian lain Damar Sarka yang mengenali siapa adanya kakek berkuping terbalik itu tadinya hendak ikut menyerbu membantu Surah Sentono. Namun dia batalkan niat ketika melihat ada seorang lain muncul berkelebat bersama si kakek.

Orang itu ternyata adalah seorang gadis cantik berpakaian serba biru yang bukan lain adalah Liris Biru.

Damar Sarka terpesona, menyeringai, tenggorokan turun naik.

"Kakek juling mata jengkol! Betina cantik ini apamu?!"

"Nah, nah! Kau naksir rupanya!" sahut Setan Ngompol lalu tertawa gelak-gelak sambfl pegangi bagian bawah perut "Dengar, kami ampuni selembar nyawamu asal kau mau menyerahkan betina cantik ini padaku! Bagaimana? Apa jawabmu?!" Damar Sarka berucap sambil kedap-kedipkan sepasang matanya pada Liris Biru, murid mendiang Hantu Malam Bergigi Perak yang menemui kematian mengenaskan di tangan Sinto Gendeng.

Setan Ngompol usap-usap kepala, kembali tertawa bergelak.

Lalu dia berpaling pada Liris Biru dan bertanya.

"Sobatku muda Cah Ayu, bagaimana menurutmu? Apa kau suka ikut kepompong merah ini? Asal tahu saja, manusia satu ini punya banyak istri dan gendaknya bertebaran dimana-mana." Rupanya Setan Ngompol sudah kenal siapa dan tahu bagaimana adanya Damar Sarka.

Liris Biru tertawa cekikikan mendengar Setan Ngompol menganggap Damar Sarka yang mengenakan tarbus serta pakaian merah itu sebagai kepompong merah.

"Siapa sudi Kek. Masih jadi kepompong saja lagaknya sudah memuakkan. Apa iagi nanti kalau sudah keluar jadi ulat benaran!"

Liris Biru memang sudah jengkel pada Damar Sarka karena tadi dirinya dipanggil dengan sebutan betina seolah dia seekor binatang saja.

Dikatakan kepompong Damar Sarka jadi naik pitam. Dia berteriak pada temannya

"Surah! Kau bunuh Ki Tambakpati. Aku akan meringkus gadis konyol ini!"

Damar Sarka lalu melompat ke hadapan Liris Biru. langsung hendak memeluk gadis itu. Ulurkan kepala hendak mencium.

"Plaakk"

Satu tamparan keras melanda pipi kiri Damar Sarka hingga sudut bibirnya pecah berdarah. Tarbus merahnya terpental dari atas kepala, jatuh ke tanah. Kepalanya yang tersingkap ternyata hanya berambut di sebelah bawah, bagian atas botak plontos.

Bekas anggota Keraton Kaliningrat yang semula menganggap enteng Liris Biru bersurut mundur sambil pegangi pipinya yang mendenyut sakit. Ketika melihat darah membasahi jari-jari tangannya dia berteriak marah.

"Gadis keparat! Jangan mengira aku tidak tega menghajar dirimu!"3KEPOMPONG botak!" ejek Liris Biru. "Apa kau kira aku juga tidak tega menghajar mahluk jelek macammu?! Hik...hik.„hik Majulah biar sekarang kutampar pipi kananmu!"

Amarah Damar Sarka mendidih. Namun karena mengenali siapa adanya Setan Ngompol, dia tidak mau bertindak gegabah.

Dengan membentak dia bertanya.

"Gadis sialan! Gembel tua bangka itu apamu?!"

"Hik.. hik! Aku kira kau naksir aku. Tidak tahunya kau suka sama kakek tukang ngompol itu! Hik...hik! Tidak sangka kepompong botak rupanya doyan mahluk sejenis!"

Meledak amarah Damar Sarka. Nafsu bejatnya yang tadi berkobar melihat kecantikan serta keelokan dan kemulusan tubuh Liris Biru. berubah menjadi hawa pembunuhanl Dua tangan diangkat ke atas.

"Cleekkk!"

Terdengar suara berkeclekan. Sepuluh kuku jari mencuat panjang, berwarna merah pekat Dalam marahnya Damar Sarka mengeluarkan ilmu paling diandalkan yang disebut Cakar Darah.

Didahului bentakan garang dia menyerbu Liris Biru. Setiap dua tangannya berkelebat sepuluh larik sinar merah berkiblat di udara terlihat goresan menyerupai darah, berbuntal menyerang murid Hantu Malam Bergigi Perak dari depan dan samping kiri kanan.

Dari tempatnya berdiri Setan Ngompol walau tahu Liris Biru tidak mudah bisa dicelakai Damar Sarka namun si kakek tetap saja merasa kawatir. Ketika dia hendak melompat mendampingi gadis itu, Surah Sentono sudah lebih dulu menerjang ke arahnya.

Untuk menghadapi jurus-jurus berbahaya serangan lawan Liris Biru kerahkan ilmu meringankan tubuh. Berkelebat cepat Menghindari gempuran sambil sesekali susupkan serangan balasan.

Tujuh jurus berlalu cepat. Damar Sarka penasaran sekali karena jangankan mencelakai, menyentuh tubuh atau pakaian lawan saja dia tidak mampu. Dia berusaha mencari tahu siapa adanya gadis lawannya itu dengan memperhatikan ilmu silat yang dimainkan Liris Biru.

Memasuki jurus ke sembilan, dengan keluarkan suara menggembor Damar Sarka rubah dan percepat gerak jurus ilmu silatnya. Sosok tubuhnya masih terlihat jelas, namun dua tangan seolah berubah menjadi bayang-bayang, menyerang dalam gerakan-gerakan cepat tak terduga. Sepasang kakinya seperti tidak lagi menginjak tanah. Ternyata orang ini memiliki ilmu meringankan tubuh setingkat lebih tinggi dari yang dimiliki Liris Biru.

Jurus kesebelas.

"Breettt!"

Liris Biru terpekik. Bahu kiri baju birunya robek besar hingga sebagian auratnya tersingkap lebar mulai dari bahu sebelah depan sampai ke punggung.

Surah Sentono yang diam-diam rupanya juga tertarik pada Liris Biru. sambil lancarkan serangan ke arah Setan Ngompol berseru. "Damar! Jika kau tidak suka gadis cantik itu, jangan diciderai. Apa lagi sampai kau bunuh! Serahkan padaku!"

Baru saja bertoriak Surah Sentono keluarkan seman kaget karena tiba-tiba satu sosok menebar dan memuncratkan air kencing berkelebat di atas kepalanyal

"Jahanam setan alas" Surah Sentono momaki marah. Ini untuk kedua kalinya mukanya kena diselomoti air kencing.

Gerak serangan tangannya yang semula hendak dihantamkan ke depan kini dirubah ke atas. Mengarah aclangkangan Setan Ngompol yang barusan menyerangnya dengan jurus Setan Ngompol Mengencingi Pusara. Jika serangan Ini mengenai sasaran, celaka besar bagi Setan Ngompol Tidak mau berlaku ayal. Setan Ngompol hindari serangan Surah Sentono dengan mengembangkan dua kakinya. Begitu jotosan lawan lewat di belakang dia segera kucurkan air kencing sebanyak-banyaknya. Selagi Surah Sentono kelagapan oleh guyuran air kencing. Setan Ngompol hunjamkan tumit kirinya ke punggung orang hingga Surah Sentono terjerembab, setengah menungging jatuh di tanah!

"Hai! Kau belum dapatkan gadis itu! Mengapa sudah menungging duluan?!" seru Setan Ngompol mengejek. Sambil balikkan badan dia kembali lepaskan tendangan menghajar pantat Surah Sentono.

"Duukkk"

Surah Sentono menjerit keras karena ada bagian kaki Setan Ngompol yang menyerempet perabotan terlarangnya!

Tubuhnya tergeletak di tanah becek, mata mendelik, dada megap-megap dan dua tangan pegangi bagian bawah perut Setan Ngompol tertawa mengekeh sambil kucurkan air kencing!

Sadar kalau lawan memiliki kepandaian lebih tinggi dari dirinya.

Surah Sentono memutuskan lebih baik dia tinggalkan tempat itu.

Dia yakin Damar Sarka juga akan mengalami nasib celaka.Namun sebelum kabur dia masih berusaha lancarkan satu serangan Ilmu hitam. Sambil berguling ke lereng bukit dia lambaikan tangan kanan Dari tangan itu tiba-tiba melesat keluar seekor ular besar berwarna hitam berkilat.

Binatang jejadian ini meluncur di tanah, langsung menyerang ke arah Setan Ngompol yang masih asyik tertawa dan terkencing tanpa sadar kalau bahaya maut mengancam.

Hanya tinggal satu langkah lagi ular hitam siap mematuk perut Setan Ngompol, Ki Tambakpati berteriak lalu melompat Kaki kanannya dengan cepat menginjak ekor ular membuat kepala binatang jejadian ini tersentak ke atas. Walau tidak memiliki kepandaian silat namun dalam menghadapi ular Ki Tambakpati adalah pawangnya. Secepat kilat dia sambar leher ular.

"Kreek!"

Sekali meremas, leher ular hancur sampai ke tulang belulangnya.

Dess!"

Binatang jejadian itu berubah menjadi asap lalu lenyap dari pandangan mata. Setan Ngompol yang sadar apa yang barusan terjadi hentikan tawa, pegangi bagian bawah perutnya dan kucurkan air kencing.

"Ki Tambak, terima kasih kau telah selamatkan jiwaku," ucap Setan Ngompol.

Kita kembali dulu pada pertarungan antara Damar Sarka dan Liris Biru. Didahului teriakan penuh amarah si gadis menerjang lawan di hadapannya. Tanpa perdulikan keadaan tubuh yang tersingkap lebar di sisi kiri gadis ini menyerang dengan jurus Hantu Malam Berbagi Pahala. Jurus serangan ini sebenarnya dilakukan secara berdua. Biasanya Liris Biru melakukan bersama dengan Liris Merah kakaknya. Namun dilakukan sendirian tidak mengurangi kehebatan serangan. Tubuh Liris Biru melesat di udara. Kaki kanan menendang ke arah kepala sedang kaki kiri berkelebat ke perut.

Kejut Damar Sarka bukan alang kepalang melihat serangan cepat dan ganas ini. Terlebih lagi karena dia bisa mengenali jurus serangan yang dilancarkan lawan.

"Kaul Apa hubunganmu dengan Hantu Malam Bergigi Perak?!"

teriak Damar Sarka. Dia cepat berkelit ke samping untuk menghindari tendangan ke arah perut. Dua tangan serentak diangkat ke atas. Yang kiri untuk menahan gerak tendangan, tangan kanan untuk mencakar kaki kiri Liris Biru!

Liris Biru tidak bodoh. Walau dia mampu menghancurkan kepala lawan dengan tendangan kaki namun cakaran tangan kanan Damar Sarka masih bisa menyusup mencelakai paha kirinya, membuat dia cacat seumur hidup. Sambil berteriak keras gadis ini putar tubuhnya di udara lalu melayang turun. Begitu kaki kiri menyentuh tanah dia langsung menggebrak dengan jurus yang disebut Hantu Malam Menarik Gendewa Tangan kanan dengan kecepatan kilat melesat ke arah dada kiri tepat di arah jantung lawan.

Damar Sarka terbeliak kaget. Dia hampir tidak punya kesempatan untuk selamatkan dada dari serangan mematikan itu.

Pikirannya singkat saja. Dia memutuskan berjibaku menyerahkan dada namun bersamaan dengan itu sepuluh kuku jarinya melesat ganas ke arah batok kepala dan wajah Liris Biru.

Dalam keadaan seperti itu, baik Damar Sarka maupun Liris Biru tidak punya kesempatan lagi untuk menarik diri atau hentikan serangan. Keduanya akan akan sama-sama menemui ajal, paling tidak menderita cidera berat dan cacat sengsara selama-lamanya!

Hanya tinggal sepertiga jengkal lagi jotosan maut Hantu Malam Menarik Gendewa akan mendarat telak di dada kiri Damar Sarka dan sambaran Cakar Darah akan mengoyaK rengkah kepala serta muka Liris Biru, tiba-tiba satu bayangan hitam berkelebat disertai terdengarnya ucapan lembut

"Sahabat berpakaian biru. Mengapa ingin mengotorkan tangan menyentuh orang jahat ini. Mengapa menurutkan kemarahan dengan mengorbankan diri. Biar aku mewakili dirimu menjatuhkan hukuman atas dirinya."

Bersamaan dengan terdengarnya suara itu. tubuh Damar Sarka tertarik ke belakang. Jotosan maut Liris Biru mengambang di udara, menembus tempat kosong. Sepuluh kuku jari Damar Sarka hanya menggapai angin. Apa yang terjadi? Saat itu orang yang tadi berucap dengan suara lembut menarik Damar Sarka dua langkah ke belakang, sekaligus mencekal leher dan menekan kepalanya. Belum sempat Liris Biru melihat jelas siapa adanya orang itu tiba-tiba dua tangan bergerak dani "Kraakk!"

Leher Damar Sarka patah mengeluarkan suara menggidikkan Nyawanya putus kejapan itu juga.

Ketika tubuh Damar Sarka dilepas dan jatuh ke tanah baru Liris Biru, Setan Ngompol dan Ki Tambakpati melihat siapa adanya orang yang menghabisi bekas anggota Keraton Kaliningrat itu.

Orang ini ternyata pemuda cakap berbaju dan bercelana hitam.

Kening diikat kain merah Pada baju serta kain merah dlkening terdapat sulaman bunga dari benang perak dan benang emas.

Bibirnya dihias kumis kocll, pipi dan dagu tertutup janggut dan berewok tipis rapi. KI Tambakpati dan Setan Ngompol segera mendatangi sementara Liris Biru untuk beberapa saat hanya tegak memperhatikan.

"Anak muda. terima kasih kau telah menyelamatkan gadis sahabatku ini," ucap Setan Ngompol.

"Ilmu kepandaian Damar Sarka tidak rendah. Tapi kau menghabisinya begitu mudah dan cepat Anak muda. siapa kau adanya? Pasti kau murid seorang sakti ternama." Bertanya Ki Tambakpati.

Pemuda yang disapa tersenyum dan membungkuk memberi hormat pada dua kakek di hadapannya.

"Aku hanya seorang pengelana muda yang tengah mencari pengalaman dan kebetulan lewat. Kalau tidak ada aku pasti ada orang lain yang akan memberikan pertolongan. Bukankah semua jalan hidup ini sudah diatur dan ditentukan oleh Yang Maha Kuasa?"

Setan Ngompol ternganga. Ki Tambakpati angguk-anggukkan kepala mendengar ucapan BI pemuda. Setan Ngompol kemudian berpaling pada Liris Biru.

"Liris Biru, apakah kau tidak Ingin mengucapkan terima kasih pada sahabat muda yang telah menyelamatkan dirimu?"

"Aku" Liris Biru tidak mulnkukan apa yang dikatakan Setan Ngompol, ucapannya malah diputus. Pandangan mata mengarah pada pemuda di depannya, air muka menyatakan seperti ada yang menyekat jalan pikirannya saat itu.

"Liris..." Setan Ngompol menegur.

"Kek...."

Pemuda berpakaian hitam tersenyum. Dia berpaling pada Setan Ngompol dan berkata. "Gadis sahabatku ini masih terpengaruh oleh apa yang barusan terjadi. Ucapan terimakasih yang tidak dikatakan tapi disimpan di dalam hati adalah satu ketulusan abadi.

Kakek berdua, aku minta diri karena ada urusan penting yang harus aku lakukan di Kuto Gede."

Habis berkata begitu, tidak menunggu lebih lama pemuda berpakaian hitam segera tinggalkan tempat itu. Sebelum pergi dia melirik sekilas ke arah sosok Pendekar 212 Wiro Sableng yang terbaring pingsan di atas bambu.

Baik Setan Ngompol maupun Ki Tambakpati tidak berusaha mengejar. Keduanya mendatangi Liris Biru. Setan Ngompol menegur.

"Aku tidak tahu, apa yang terjadi dengan dirimu. Kau kelihatan seperti orang bingung. Kau tidak mengucapkan terima kasih pada pemuda yang telah menyelamatkan dirimu. Apa kau kesemsem, mendadak jatuh hati padanya?!"

Lirus Biru gelengkan kepala lalu memutar tubuh, memandang ke arah lenyapnya pemuda tadi.

"Kek, aku ingat kejadian beberapa waktu sebelum kakak Liris Merah dibunuh."

"Kejadian apa?" tanya Setan Ngompol yang saat itu merasa mau kencing lagi. Buru-buru dia pegangi bagian bawah celananya yang basah.

"Waktu itu aku dan Liris Merah berada dalam goa. Lewat lobang pengintai kami melihat kemunculan seorang pemuda tak dikenal.

Wajah dan ciri-ciri pemuda itu sangat sama dengan pemuda yang tadi menolong diriku..."

"Kalau begitu kalian sudah saling kenal." kata Ki Tambakpati pula.

Liris Biru menggeleng lalu melanjutkan ucapan "Kemunculannya mendatangkan tanda tanya kecurigaan. Mungkin sekali dia tengah melakukan penyelidikan..."

"Penyelidikan apa?" tanya Setan Ngompol.

"Kek, saat ini aku tidak bisa mengatakan. Lain waktu pasti aku ceritakan padamu." Jawab Liris Biru yang masih tetap merahasiakan perihal candu 50 kati yang tersimpan di dalam goa.

"Kakakku Liris Merah rupanya tertarik pada pemuda Itu. Ketika si pemuda pergi Liris Merah keluar dari goa. Katanya dia mau mengikuti pemuda itu. Namun kemudian nasib malang menimpa diri kakakku. Aku temui dirinya di tepi telaga, di balik sebuah batu besar dalam keadaan tanpa pakaian dan tak bernyawa lagi.

Seorang pemuda yang kupergoki berada di tempat itu melarikan diri...."

‘Kau sudah menceritakan kisah itu sebelumnya padaku," kata Setan Ngompol.

"Ya dan aku ingat benar Kek. Walau melihat hanya sekilas namun raut muka, ciri-ciri dan warna pakaian orang yang meniduri kakakku lalu membunuhnya dan kemudian kabur melarikan diri, sama dengan pemuda tadi."

Ki Tambakpati meraba dagunya lalu berkata. "Itu sebabnya tadi kau tampak bingung..."

"Dugaanku berat pemuda yang membunuh kakakku sama dengan pemuda yang tadi menolongku. Namun aku tadi merasa bimbang..."

"Kalau dia memang jahal mengapa tadi dia mau susah-susah menolong menyelamatkan dirimu dari Damar Sarka?" tanya Setan Ngompol pula.

"Orang jahat bisa punya seribu wajah seribu akal seribu tipuan.

Bukan mustahil dia sengaja menyelamatkan diriku karena kelak aku akan dijadikan korban berikutnya."

Setan Ngompol tahan air kencingnya yang hendak memancar Ki Tambakpati terdiam Puncak bukit mendadak terasa sunyi. karena saat itu hujan telah berhenti

"Untuk mengetahui bahwa memang dia yang telah membunuh kakakku, aku harus mengejar manusia satu itu. Dia bilang akan ke Kuto Gede. Aku akan mencarinya di sana. Kakek berdua, harap maafkan aku terpaksa meninggalkan kalian."

"Tunggu dulu! Jangan pergi sendirian," seru Ki Tambakpati Dia merasa kawatirakan keselamatan si gadis. Selain itu dia butuh Liris Biru untuk membantu membawa Pendekar 212 Wiro Sableng ke gubuknya di tikungan Kali Progo. Namun Liris Biru sudah keburu lenyap di lereng bukit sebelah timur.

Ki Tambakpati menarik dan melepas nafas panjang, berpaling pada Setan Ngompol. "Tinggal kita berdua, tua bangka sial.

Apakah kita sanggup membawa murid Sinto Gendeng itu ke gubukku di Kali Progo?"

"Mau dibilang apa? Itu harus kita lakukan berdua." Setan Ngompol pandangi wajah pucat dan sosok tak bergerak tubuh Pendekar 212 beberapa ketika lalu berkata. "Aku melihat, pendekar ini seperti mendekam satu malapetaka yang akan menghancurkan masa depannya."

Ki Tambakpati mengangguk. "Syukur kau sudah bisa menduga.

Aku sendiri masih belum jelas apa sebenarnya yang menimpa diri murid Sinto Gendeng ini dan apakah aku mampu mengobati."

Terbungkuk-bungkuk dua kakek itu kemudian mulai sama-sama menyeret potongan bambu di atas mana Pendekar 212 terikat pingsan. Sebentar-sebentar Setan Ngompol pegangi bagian bawah perutnya dengan salah satu tangan, menahan agar tidak pancarkan air kencing.4BEBERAPA ratus tahun silam. Sebelum kemunculan pemuda misterius berpakaian serba hitam membekal patung Kamasutra dan bunga tanjung, melakukan perkosaan atas diri para gadis dan membunuhnya.

Kawah Gunung Bromo. Tepat tengah malam. Udara dingin luar biasa. Keadaan gelap karena di langit tak ada bintang tak ada rembulan. Selain itu kabut tebal menutupi hampir seluruh kawah. Dalam keadaan seperti itu dimana mahluk hidup baik yang namanya manusia atau binatang tidak diharapkan berada di tempat itu, samar-samar di lamping kawah sebelah timur tampak berkelebat satu bayangan putih. Sepintas seperti setan yang terpesat gentayangan. Namun jika diperhatikan ternyata dia manusia juga adanya yaitu seorang kakak berjubah putih.

mengenakan kain hitam tebal untuk menutup kepala sampai ke kuduk dan sepasang telinga Alis janggut dan kumis tebal serta rambut yang tersembul di bawah penutup kepala semua tampak putih. Walau usia paling tidak telah lebih dari tujuh puluh tahun namun gerakannya begitu ringan dan cepat.

Pandangan matanya tajam mencari jalan yang akan di tempuh.

Dua kakinya tidak tersandung atau terpeleset dalam melangkah bahkan sesekali dia melompat dari satu bagian kawah ke bagian lainnya. Udara dingin yang sanggup membuat air menjadi beku seperti tidak dirasakannya Sesekali dia memasukkan tangan kanan ke dalam saku jubah sebelah kanan. Di dalam saku ini terdapat sebuah benda sakti berupa batu sebesar kepalan yang senantiasa memancarkan hawa hangat Dengan kesaktian batu inilah orang tua itu bisa bertahan dari hawa dingin luar biasa yang bisa membuat air menjadi beku.

Di satu tempat si kakek berhenti. Dia tegak meluruskan tubuh, mendongak menatap ke langit Setiap hembusan nafas yang keluar dari hidungnya membuat kepulan hawa dingin berwarna putih membersit di udara.

"Bulan tidak muncul. Bintang tidak kelihatan. Mudah-mudahan aku tidak salah menghitung hari. bulan dan tahun. Mudahmudahan aku segera menemukan batang pohon kayu besi yang aku tancapkan sebagai tanda tiga puluh tahun silam."

Kata-kata itu terucap dalam hati. Dengan sepasang matanya yang kelabu, orang tua berjubah putih kemudian memandang berkeliling Lalu mulutnya berkata perlahan. "Timur di sebelah kiri, barat di sebelah kanan. Aku harus menuju ke utara. Berarti lurus ke depan."

Begitu selesai berucap orang tua ini melangkah ke depan.

Kaki kiri menginjak satu tonjolan batu pada lereng kawah yang terjal. Dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuh dia pergunakan batu itu untuk menjadi alat pelontar diri, melesat ke udara setinggi dua tombak lalu melayang ke arah utara Beberapa kali berkelebat akhirnya dia sampai di bagian kawah sebelah utara.

Dia memilih satu tempat ketinggian untuk berhenti dan memperhatikan keadaan sekitarnya. Kabut putih dari dasar kawah masih terlalu tebal. Orang tua ini menunggu dengan sabar.

Tak selang berapa lama kabut mulai naik ke atas. Perlahan lahan bagian kawah yang tadi tertutup kini terlihat eelas. Dan orang tua ini lepaskan nafas lega ketika sepasang matanya membentur benda hitam batangan pohon kayu besi yang menancap di lereng kawah sekitar dua belas langkah di depannya.

Sekali melesat orang tua ini telah berada di depan batangan kayu besi hitam. Tiga puluh tahun lalu dia menancapkan potongan batang kayu itu di tempat itu. Setelah sekian lama waktu berlalu batang kayu itu masih ada di tempat itu. tidak lapuk bahkan nyaris tidak berubah. Si orang tua mengusap dan mencium batang kayu hitam. Lalu pandangan matanya dialihkan ke arah lamping kawah, tujuh langkah dari tempatnya berdiri. Dia menunggu dengan hati berdebar Mendongak ke langit. Sepasang mata membesar dan wajah tampak berseri ketika di langit dia melihat samar-samar muncul bulan sabit "Bulan sabit telah menampakkan diri. Tepat seperti yang diramalkan semula. Sebentar lagi aku akan melihat pemuda itu.

Pasti banyak yang berubah dengan dirinya usianya kini lima puluh lima tahun. Lebih dari setengah abad."

Si orang tua bergerak ke depan mendekati lamping kawah di hadapannya. Pada langkah ke enam dia berhenti lalu menduduk diri, bersila di tanah. Dua mata dipejam, dua tangan diletakkan di atas paha. Sikapnya seperti seseorang tengah "melakukan samadi.

Tak selang berapa lama orang tua ini mendengar langkahlangkah halus yang tak akan mungkin didengar oleh telinga

manusia biasa. Orang tua ini buka kedua matanya. Tepat pada saat itu dinding kawah di hadapannya terasa bergetar lalu mengeluarkan suara berderak. Pada dinding kawah kelihatan retakan dalam, berbentuk setengah lingkaran dengan ketinggian hampir satu setengah tombak. Perlahan-lahan retakan di sebelah atas gugus luruh dan jatuh ke bawah. Sesaat kemudian pada dinding kawah muncul lobang besar menyerupai mulut sebuah goa.

Di langit di atas kawah tiba-tiba terjadi satu keanehan. Kilat berkiblat membuat udara terang benderang seketika sampai ke dasar kawah Dalam kilatan cahaya terang itu di dalam goa si orang tua melihat satu sosok melangkah keluar. Di lain kejap di hadapan mulut goa telah berdiri seorang pemuda tampan mengenakan baju dan celana hitam. Wajahnya segar tertutup kumis, cambang bawuk serta jenggot tipis rapi. Pemuda ini menatap ke arah si orang tua lalu tersenyum.

"Dewa seru sekalian alam. Orang tua itu keluarkan seruan, setengah melompat dia menghambur ke mulut goa, jatuhkan diri di tanah sambil pegangi kaki si pemuda. Pemuda yang dipegangi kedua kakinya balas memegang bahu orang tua itu lalu berkata. Suaranya lembut

"Paman Darmasewara, berdirilah. Mengapa harus berlutut di hadapanku. Aku ini masih keponakanmu, bukan Raja bukan Dewa."

Si orang tua berdiri langsung memeluk dan menciumi pemuda Itu. Sepasang matanya berkaca-kaca.

"Suma Mahendra! Sulit aku percayai Tiga puluh tahun lalu aku meninggalkanmu waktu kau masuk menembus dinding kawah.

Kini kau berdiri di hadapanku tanpa perubahan sedikitpunl Kau tetap sebagai seorang pemuda tiga puluh tahun silam. Rambutmu, kumis dan janggut tidak menjadi panjang, tidak berubah warna.

Bahkan pakaianmu tidak lusuh sedikitpunl Kau seolah baru kutinggal petang tadi!"

"Kuasa dan kasih para Dewa sungguh besar terhadap diriku, Paman."

"Aku sungguh sangat bersyukur, Mahendra. Eh. lihat diriku!

Ketika aku mengantarkan kau ke kawah Gunung Bromo ini usiaku sekitar setengah abad. Kini lihat perubahan yang terjadi! Aku sudah menjadi kakek reot, rambut, kumis dan janggutku putih semua Separuh gigiku sudah tanggal ompong. Usiaku sekarang delapan puluh tahun, Suma. Dan kau seharusnya saat ini sudah berumur lima puluh lima tahun. Namun yang aku lihat kau tetap pada usiamu dulu, usia dua puluh lima tahun"

Pemuda bernama Suma Mahendra tersenyum "Paman, seperti yang disebutkan dalam kitab Jagat Pusaka Dewa, aku berhasil memindahkan pohon tanjung yang terletak di alun-alun Singosari. Lihatlah ke belakangmu!"

Saat itu terdengar suara menderu keras, seluruh kawah bergetar, membuat orang tua bernama Darmasewara tercekat dan berpaling ke belakang. Mata terbeliak, mulut ternganga.

"Dewa Penguasa Langit dan Bumi! Sungguh luar biasai"

ucap Darmasewara. Hanya mulut yang bersuara sementara sekujur tubuh laksana terpaku, diam tak bergerak. Di hadapannya, mengambang di atas kawah Gunung Bromo tegak menjulang sebatang pohon tanjung besar berbunga lebat.

Sebelumnya Darmasewara telah melihat ratusan, mungkin ribuan kali pohon tanjung itu yang tumbuh di alun-alun Kerajaan Singosari. Saking seringnya dia melihat, orang tua ini nyaris mengenali setiap sudut batang pohon, setiap cabang dan ranting serta pada saat-saat pohon Itu berbunga.

"Singosari akan geger besar begitu besok pagi semua orang melihat pohon tanjung besar di alun-alun tak ada lagi di tempatnya semula" Darmasewara gelengkan kepala terkagumkagum.

"Paman..."

Si orang tua palingkan kepala, memandang pada Suma Mahendra.

Tiga puluh tahun aku mendekam bersamadl di dalam perut kawah Gunung Bromo ternyata tidak semua permintaanku dikabulkan secara langsung oleh para Dewa. Dewa memberiku kekuatan luar biasa hingga aku mampu bertahan hidup, sehat dan tidak menjadi tua. Dewa memberiku kekuatan dan ilmu luar biasa untuk memindah pohon tanjung besar ke dalam kawah.

Kelak pohon itu nantinya akan muncul di pedataran pasir Tengger. Namun tidak semua mata manusia bisa melihatnya.

Aku sedih, tapi jauh dari kecewa. Dewa tidak mengabulkan permintaanku untuk mendapatkan ilmu kesaktian seperti yang tertulis dalam kitab Jagat Pusaka Dewa. Aku tidak diperkenankan untuk membalas dendam kematian Paman Tunggul Ametung. Lebih dari itu aku tidak mendapat restu untuk mengambil alih tahta Kerajaan Singosari. Paman, setelah tiga puluh tahun berlalu, apa yang terjadi dengan Kerajaan dan siapa sekarang yang berkuasa. Apakah masih Ken Arok, Raja yang telah membunuh pamanku dan saudara sepupumu itu?"

Darmasewara menghela nafas panjang lalu gelengkan kepala.

"Lima tahun setelah berkuasa hukum karma berlaku. Ken Arok dibunuh oleh anak tirinya sendiri yaitu Anusapati, putera Ken Dedes dari pamanmu Tunggul Ametung. Anusapati kemudian di bunuh oleh Tohjaya, putera Ken Arok dari istrinya Ken Umang.

Tahta berdarah berkelanjutan. Tohjaya dibunuh oleh Ranggawuni.

putera Anusapati. Sekarang Ranggawuni yang menduduki tahta Kerajaan Singosari."

"Selama ini apakah Paman mengabdikan diri pada Kerajaan?"

"Sri Baginda Ranggawuni adalah kerabat satu aliran darah kita. Namun sesuai petunjukmu sebelum masuk ke dalam kawah Gunung Bromo ini dulu, selama tiga puluh tahun aku menjauhkan diri dari segala hal dan kegiatan yang berhubungan dengan Kerajaan. Sri Baginda pernah menanyakan keberadaan dirimu dan meminta aku datang ke Istana. Namun sampai hari ini aku belum berani memperlihatkan diri. Kecuali kalau kau memberi petunjuk dan izin untuk melakukan."

"Sebaiknya Paman jangan dulu menemui Ranggawuni. Kita tidak tahu kemelut apa yang akan terjadi. Besok atau lusa bisa saja Ranggawuni dibunuh orang. Lalu Paman akan ikut menjadi korban, paling tidak dijebloskan masuk penjara."

"Suma, aku akan menuruti nasihatmu," kata Darmasewara pula.

Setelah mendengar penuturan pamannya dan merenung beberapa lama Suma Mahendra berkata. "Mungkin sekali karena perselisihan yang membawa dendam, darah dan nyawa berkepanjangan itu yang menyebabkan para Dewa tidak memberikan ilmu kesaktian padaku secara langsung dan juga tidak membenarkan aku mengambil alih tampuk Kerajaan. Ilmu yang aku harapkan itu tadinya akan dipergunakan untuk menghadapi Ken Arok yang sakti mandraguna. Namun sekarang segala sesuatunya telah berlalu. Ken Arok sendiri sudah tak ada lagi di permukaan bumi Ini. Aku sangat berterima kasih, walau tidak memberikan secara langsung padaku namun para Dewa tetap akan menurunkan ilmu kesaktian itu ke muka bumi ni. Seseorang kelak akan mendapat menerimanya mewakili diriku."

"Suma. kau mengatakan para Dewa tidak memberikan ilmu kesaktian padamu secara langsung. Dan ada seseorang yang akan menerimanya mewakili dirimu. Bagaimana maksudnya?' bertanya Darmasewara.

"Paman, ada satu berita sedih bagimu. Aku tidak akan pulang ke Singosari, tapi akan kembali masuk ke dalam goa.

Malam ini juga. Tiga hari dari malam ini aku akan menemui akhir dari perjalanan hidupku. Aku akan menghembuskan nafas terakhir..."

"Suma Mahendra' Kau bicara apa?!" ucap sang paman setengah bertenak saking kagetnya.

"Begitu petunjuk yang diberikan para Dewa dalam samadiku."

"Suma, apakah kau telah melakukan satu kesalahan selama kau bersamadi hingga Dewa menjadi marah?"

Pemuda tampan itu menggeleng. "Justru karena Dewa sayang padaku, maka petunjuk itu diberikan dan pasti akan terlaksana.

Paman tak usah memikirkan bagaimana nasib jazadku. Aku akan terkubur baik-baik di dasar kawah Gunung Bromo ini."

"Seandainya kau tidak mengikuti petunjuk dalam Kitab Jagat Pusaka Dewa itu dan tidak melakukan samadi. Mungkin kau tidak akan mengalami nasib seperti yang barusan kau katakan"

"Nasib seseorang sudah tertulis di dalam Kitab yang bernama Takdir. Sebagai manusia kita tidak perlu kecewa. Ini adalah satu kenyataan. Kematian adalah kenyataan yang akan dialami semua orang. Apakah dia seorang Raja atau seorang hamba sahaya rakyat jelata. Hanya sayang aku tidak dapat membalaskan sakit hati Kematian paman Tunggul Ametung Para Dewa tidak ingin tanganku berlumur darah akibat dendam berkepanjangan.

Kenyataannya dendam saling bunuh itu telah berlangsung." Suma Mahendra pandangi wajah tua Darmasewara dengan senyum lembut lalu berkata. "Paman, jika paman suka, paman boleh meninggalkan tempat ini. Aku akan masuk ke dalam goa..." Suma Mahendra pegang bahu pamannya. Sang paman pegang lengan pemuda itu erat-erat

"Kau belum menjawab pertanyaanku mengenai ilmu kesaktian yang akan diberikan secara tidak langsung. Kau mengatakan ada seseorang yang bakal mendapatkan ilmu kesaktian Ku. Apakah berarti..."

"Setelah aku mati, aku akan menitis pada diri seorang bayi.

Namun aku tidak tahu kapan kejadiannya. Mungkin mmggu atau bulan dimuka. Mungkin juga puluhan atau ratusan tahun kemudian. Bayi itulah kelak, yang setelah dewasa akan mendapatkan ilmu kesaktian seperti tertulis dalam Kitab Jagat Pusaka Dewa. Namun Paman, ada satu hal yang aku lihat dalam samadiku. Ada satu kekuatan alam roh yang datang dari negeri jauh Ingin mengacaukan keadaan. Aku melihat gurun pasir luas sekali. Jauh lebih luas dari gurun pasir Tengger. Aku melihat gunung yang terbuat dari tumpukan jazad perempuan. Di lereng gunung mengalir sebuah sungai yang airnya berwarna merah seperti darah, menebar bau busuk menjijikkan. Aku mendengar raung suara anjing yang seolah sangat ketakutan dan meratapi apa yang bakal terjadi. Lalu aku melihat ratusan bunga tanjung beterbangan, luruh jatuh masuk ke dalam sungai darah.

Warnanya yang putih kekuningan berubah menjadi semerah darah. Bunga yang tadinya suci itu kini telah dibungkus noda.

Paman, aku mohon kau menjaga Kitab Jagat Pusaka Dewa baik-baik. Jangan sampai jatuh ke tangan siapapun..."

"Aku akan melakukan pesanmu itu Suma." jawab si orang tua.

Kedua orang itu kemudian saling berpelukan. Darmasewara tinggalkan dasar kawah dengan mata berkaca-kaca. Suma Mahendra mengikuti langkah cepat sang paman dengan mulut tersenyum lalu perlahan-lahan balikkan diri, masuk kedalam goa.

Ketika Darmasewara sampai ke ujung kawah sebelah atas tiba-tiba dia mendengar suara deru seperti angin bertiup. Orang tua Ini berpaling, memandang ke dalam kawah Dia terheranheran melihat ratusan bunga tanjung yang ada di pohon besar mengambang di atas kawah, berlesatan masuk ke dalam goa tempat Suma Mahendra bersamadi. Bau harum semerbak bunga menebar dan tercium sampai ke atas kawah Namun orang tua ini jadi tercekat ketika bau harum itu mendadak berubah menjadi bau anyir busuk, menyengat jalan pernafasan hingga dia tak sanggup menahan muntah. Darmasewara Ingat ucapan Suma Mahendra. Bunga tanjung telah berubah menjadi bunga noda.KETIKA dua hari kemudian Darmasewara kembali ke tempat kediamannya di pinggiran Kotaraja, orang tua ini terkejut mendapatkan lemari jati yang ada dalam kamar terguling roboh di lantai. Bagian dinding kamar yang sebelumnya terlindung di balik lemari hancur berantakan. Pada dinding itu ada sebuah kotak kayu tempat dimana dia menyimpan Kitab Jagat Pusaka Dewa sejak tiga puluh tahun lalu. Kotak itu kini tak ada lagi di tempatnya. Raib bersama kitab yang ada di dalamnya!

Darmasewara jatuh terduduk di lantai kamar. Dia lebih baik mati dari pada menyaksikan kejadian ini. Sambil menutup wajah dengan kedua telapak tangannya dia berkata lirih.

"Dewa. saya mohon dengan segala kerendahan.siapapun yang telah mencuri Kitab Jagat Pusaka Dewa. jangan jadikan hal ini sebagai pangkal munculnya malapetaka."

Perlahan-lahan Darmasewara turunkan dua tangannya yang menutupi wajah. Ketika pandangannya membentur dinding di hadapannya, dia terkejut

"Astaga, sebelumnya tulisan itu tidak ada disitu!" ucapnya.

Saat itu di dinding kamar entah bagaimana kejadiannya tertera tulisan.

"Kitab Jagat Pusaka Dewa tidak dicuri orang. Kitab itu hanya perlu diselamatkan dan orang-orang yang berniat jahat" Darmasewara bangkit berdiri. Dia memandang seputar kamar.

"Siapa yang menulis? Aku tidak melihat orang masuk ke tempat ini!" Paman Suma Mahendra, saudara sepupu Tunggul Ametung ini melihat jendela terbuka. Secepat kilat dia melompat keluar rumah lewat jendela itu. Berkali-kali dia memutari rumah, menyelidik sampai ke luar halaman namun tak seorangpun yang kelihatan.5RATUSAN tahun setelah lenyapnya Suma Mahendra di dasar kawah. Desa Tumpang, di barat Gunung Bromo.

Pagi buta hari Jum'at Legi, dingin dan gelap. Aki Jarot memacu gerobak sapi sekencang yang bisa dilakukannya.

Tuminah. istrinya yang dukun beranak duduk tergoncanggoncang di sampingnya, berpegang erat pada tiang kayu di pinggiran gerobak. Susur dalam mulutnya dipindah kian kemari.

"Pakne. kalau kau memacu gerobak ini lebih kencang, kita berdua bisa mati terbalik. Maksud hendak menolong orang tidak kesampaian." Tuminah berkata cemas pada suaminya.

Aki Jarot mencambuk punggung sapi dengan cemeti, menjawab.

"Tadi kau sendiri yang minta diantar cepat-cepat Sudah diam saja.

Aku sudah bertahun-tahun menarik gerobak, sudah belasan tahun kenal jalan ke desa Tumpang. Mau takut apa?"

"Aku tidak takut Pakne, aku ingin sampean berhati-hati," jawab sang istri dengan nada mengalah.

Melewati sebuah tikungan, jalan yang ditempuh agak mendaki.

Sapi penarik gerobak tidak mampu berlari sekencang tadi lagi.

Tepat di puncak pendakian binatang ini berhenti berlari. Bukan karena keletihan, tapi ada seseorang di depan sana, berdiri di tengah jalan. Orang ini mengenakan jubah hitam dan ikat kepala seperti sorban juga berwarna hitam. Wajahnya yang putih tertutup kumis, janggut dan cambang bawuk hitam pekat, di dalam gelap tampak berkilat. Mungkin diberi minyak.

Tubuhnya menebar bau wangi kembang. Dari raut wajah serta perawakannya yang tinggi besar agaknya orang ini bukanlah penduduk asli setempat. Mungkin sekali dia seorang keturunan Arab atau berdarah India. Di tangan kanannya orang ini memegang sebuah kitab terkembang.

Sepertinya dia asyik membaca isi kitab. Aneh. selain tak masuk akal ada orang membaca kitab di malam buta di tengah jalan seperti itu, juga apakah dia bisa melihat di malam segelap itu?

Orang asing ini mengangkat tangan kiri ke atas. Telapak terkembang diarahkan ke depan pada sapi ponarik gerobak.

Gerak tangan inilah agaknya yang membuat binatang itu berhenti berlari.

"Ki sanak di tengah jalan, menyingkirlah. Kami harus melanjutkan perjalanan. Kami ada urusan pentingl Jangan menghadang di tengah jalan" Aki Jarot berteriak.

Orang berjubah hitam terus saja membaca kitab seperti tidak mendengarteriakan itu. Aki Jarot jadi jengkel.

"Pakne. orang itu kelihatannya bukan orang Jawa. Mungkin dia tidak mengerti ucapanmu berkata Tumlnah.

"Siapapun dia, kalau berada di tempat ini pasti mengerti bahasa di sini. Hantu sekalipun tahu apa yang aku ucapkan!"

jawab Aki Jarot. Lalu kembali dia berteriak. "Jangan salahkan kalau kau diterjang sapiku!" Lelaki separuh baya ini kemudian cambuk sapinya kuat-kuat, tali kekang disentak berulang kali.

Namun jangankan berlari, bergerakpun tidak binatang itu Malah sesaat kemudian sapi putih ini tekuk dua kaki depannya lalu rundukkan diri bersimpuh di tanah.

"Hai!" Aki Jarot berteriak kaget juga heran. Setelah menyuruh istrinya tetap duduk di atas gerobak dia melompat turun menemui orang berjubah hitam. Namun baru menindak tiga langkah, orang tinggi besar angkat tangan kirinya dan tiba-tiba saja langkah Aki Jarot tertahan. Dua kaki lelaki itu laksana dipantek ke tanah.

"Apa yang terjadi dengan diriku? Kau!" Aki Jarot berteriak kaget Tuminah turun dari gerobak menemui suaminya.

"Pakne. ada apa?"

"Orang berjubah hitam itu! Dia mengangkat tangan. Kakiku lantas saja tak bisa digerakkan. Pasti dia orang jahat! Mungkin begal!"

"Biar aku menemuinya." kata sang istri. Dalam hal-hal tertentu Tuminah memang perempuan pemberani. Dia turun dari gerobak lalu melangkah ke arah orang tinggi besar berjubah cian bersorban hitam yang masih tegak dengan sikap asyik membaca kitab.

Tuminah keluarkan susur dari dalam mulut lalu menegur orang di tengah jalan dengan suara keras. "Kalau kau memang begal, kami tidak punya apa-apa. Mau merampok apa?!"

Si jubah hitam tinggi besar perlahan-lahan tutup kitab yang dibaca lalu dimasukkan ke balik jubah. Dia menatap perempuan di depannya, tersenyum lalu membungkuk dan berkata.

Suaranya berat tapi lembut. Dialeknya terdengar kaku aneh.

"Bukankah Ibu ini dukun beranak bernama Tuminah yang tinggal di desa Samberrejo?"

"Sumberrejo. Kami tinggal di Sumberrejo. Bukan Samberrejo,"

jawab Tuminah. "Eh. sompoan tahu namaku. Sampean ini siapa? Sampean pasti bukan orang sini. Mengapa menghadang perjalanan kami?"

"Tuminah! Hati-hati! Orang itu pasti punya niat jahat!

Jangan bicara padanya! Kembali ke sini!" Aki Jarot berteriak, kawatir akan keselamatan istrinya.

"Aku bukan orang jahat," lelaki berjubah berucap. "Namaku Deewana Khan. Kau dan suamimu bukankah dalam perjalanan menuju desa Tumpang?"

"Benar," jawab Tuminah. Dia hendak masukkan susurnya ke dalam mulut kembali tapi tak jadi. Perempuan ini bertanya.

"Sampean pasti bukan penduduk sini. Bagaimana bisa tahu kemana kami mau pergi?"

"Di desa Tumpang ada seorang perempuan muda bernama Sulin, bersuamikan Tajurpambayan. Perempuan muda itu hendak melahirkan. Anak pertama. Dan Ibu ke Tumpang hendak menolongnya. Benar begitu?"

Tuminah tercengang mendengar ucapan orang tinggi besar Jubah hitam yang benar semua adanya. Sampean orang aneh.

Tahu kemana kami pergi dan apa yang hendak aku lakukan.

Kalau tahu kami mau menolong perempuan yang hendak melahirkan mengapa menghadang?"

"Aku tidak menghadang. Hanya ingin memberi tahu bahwa Ibu tidak perlu bersusah payah jauh-jauh pergi ke Tumpang.

Sudah ada orang lain yang akan menolong perempuan yang hendak melahirkan itu."

"Siapa? Mana boleh jadi? Mulai dari Sumbermanjing di selatan sampai Lawangan di utara hanya aku seorang dukun beranak..."

Orang mengaku bernama Deewana Khan tersenyum "Sudahlah, kau dan suamimu kembali saja ke Sumberrejo. Tak perlu mengawatirkan perempuan muda yang hendak melahirkan itu."

Habis berkata begitu orang berjubah membuat gerakan mengusap di depan wajah dan tubuh Tuminah. Tangan kanan kemudian diusapkan ke wajah dan tubuhnya sendiri. Saat itu juga wajah dan sosok orang ini berubah menjadi wajah dan sosok sama dengan Tuminah si dukun beranak!

Tuminah sampai keluarkan seruan tertahan saking kagetnya.

Suaminya Aki Jarot berteriak menyuruhnya menjauhi orang aneh itu. Namun Tuminah seperti tak berkuasa beranjak dari tempatnya.

Dengan tangan kanannya Deewana Khan mengambil susur yang dipegang Tuminah, lalu dimasukkan ke dalam mulut langsung dikunyah-kunyah!

"Ujud kita sama. Aku akan mewakilimu menolong Sulin melahirkan." Lelaki tinggi besar yang berubah menjadi Tuminah itu suaranya kini berubah menjadi suara perempuan, bahkan suara itu sama benar dengan suara si dukun beranak. "Sebelum aku pergi ada satu hal yang harus kalian ingat baik-baik. Kalian suami istri tidak pernah bertemu denganku, tidak akan pernah memberi tahu siapapun apa yang terjadi malam ini di tempat ini.

Kalau hal itu kalian langgar, akan ada kutuk penyakit yang membuat kalian berdua menemui ajal secara sengsara. Namun jika kalian mematuhi, berkah besar akan menjadi bagian kalian."

Deewana Khan alias Tuminah palsu memasukkan sesuatu ke dalam genggaman tangan kanan Tuminah. Ketika perempuan ini memperhatikan ternyata benda itu adalah sekeping perak.

Sepasang mata Tuminah berkilat-kilat

"Itu pembayar kebajikan hendak menolong orang." kata Tuminah jejadian.

"Tapi...tapi aku belum melakukan apa-apa. Aku belum menolong Sulin melahirkan."

"Budi baik dan kebajikan tidak selalu diperlihatkan dengan pekerjaan nyata. Niat yang luhur dalam hati sudah merupakan satu pahala besar. Ibu. kau dan suamimu kembalilah ke Sumberejo."

Habis berkata begitu Tuminah palsu angkat tangan kirinya ke atas. Tahu-tahu di tangan itu sudah ada kitab yang tadi dibaca sewaktu ujudnya masih merupakan lelaki tinggi besar.

Kitab dikembang, tubuh diputar. Sambil membaca kitab Tuminah palsu melangkah pergi. Hanya sesaat saja tubuhnya kemudian lenyap di telan kegelapan malam.

Saat itu Aki Jarot merasakan ke dua kakinya enteng dan bisa digerakkan lagi. Secara bersamaan sapi yang terduduk di tanah perlahan-lahan bangkit berdiri. Aki Jarot cepat menemui istrinya.

"Apa yang tadi diberikan orang itu padamu?" tanya Aki Jarot pada istrinya.

Tuminah buka genggaman tangan kanannya, memperlihatkan kepingan perak yang berkilau di dalam kegelapan. Aki Jarot sampai terbeliak.

Luar biasa. Kita jadi orang kaya Bune! Siapa sebenarnya orang tadi? Dia bisa merubah ujud menyerupai dirimu!"

"Pakne. baiknya kita lekas-lekas tinggalkan tempat ini.

Kembali ke Sumberrejo."

"Tunggu dulu." jawab sang suami. "Aku tadi mendengar orang itu mengatakan dia yang hendak menolong Sulin melahirkan. Aku kawatir..."

"Aku juga kawatir. Kawatir kalau mahluk jejadian itu sebenarnya adalah mahluk halus hantu pelayangan..." Tuminah merasa tengkuknya dingin dan memegang tangan suaminya erat-erat.

"Aku menduga orang tadi adalah tukang sihir jahat yang hendak melakukan sesuatu terhadap Sulin. Mungkin dia hendak membunuh perempuan itu atau bayinya Mungkin juga dia hendak menculik bayi yang nanti dilahirkan Sulin.

"Lalu apa yang kita lakukan sekarang" Maunya aku kita kembali saja ke Sumberrejo Kita sudah dapat rejeki besar..

"Kita bisa saja mendapat rejeki lebih besar" jawab Aki Jarot.

"Apa maksudmu Pakne?"

"Kita tidak kembali ke Sumberrejo. Tapi lanjutkan perjalanan ke Tumpang. Kita harus tahu apa yang akan dilakukan orang itu Jika benar dia hendak berbuat jahat kita harus mencegah. Jika kita berbuat begitu pasti kau akan dibujuknya dan diberi lagi tambahan kepingan perak!"

Rupanya perasaan serakah ketamakan sudah menyelinap di hati Aki Jarot Sang istri yang tidak begitu suka dengan sikap suaminya itu berkata.

"Tapi Pakne kalau kita ke Tumpang apa nanti tidak akan membuat ricuh?"

‘Ricuh? Ricuh bagaimana?'

‘Apa kau tadi tidak mendengar? Orang Itu berkata agar kita bersikap seolah tidak pernah bertemu dengan dia. Kita dilarang memberi tahu apa yang terjadi di sini pada siapapun.

Kalau sampai kita melanggar akan ada kutuk penyakit yang membuat kita sengsara bahkan menemui ajal "

"Bune kau percaya orang itu atau padaku suamimu? Lagi pula kita berniat baik! Melindungi bayi Sulin dan Tajur dari kemungkinan hendak diapa-apakan orang asing aneh itu!

Sudah, lekas naik ke gerobak. Kita berangkat ke Tumpang sekarang juga"

Tuminah tidak bisa membantah. Setelah memasukkan kepingan perak ke sebuah kantong kecil di balik siagen di pinggangnya perempuan ini naik ke atas gerobak.6BERSAMAAN dengan menyingsingnya fajar di ufuk sebelah timur, dari sebuah rumah di desa Tumpang terdengar suara tangis bayi, keras sekali. Itulah suara tangis bayi yang dilahirkan Sulin dengan pertolongan dukun beranak Tuminah palsu.

"Bayimu laki-laki. Den Ayu Sulin," memberi tahu dukun beranak yang disambut senyum bahagia serta perasaan syukur oleh Sulin.

Selesai bayi dibersihkan, diperlihatkan pada sang Ibu lalu dibaringkan di sampingnya Suami Sulin. Tajurpambayan tidak sabar lagi segera masuk ke dalam kamar. Dibelainya kepala dan diciumnya kedua pipi puteranya itu lalu Tajur mencium kening Sulin. Dengan hati-hati penuh kasih sayang Tajurpambayan kemudian coba menggendong puteranya. Diam-diam Tuminah pejamkan mata sesaat. Pikiran dan pandangan matanya melanglang jauh keluar rumah. Hatinya berucap. "Untuk sementara keadaan aman. Tapi pasti akan ada yang datang.

Aku harus berlaku waspada. Terutama menjelang putusnya tali pusar bayi, saat berlangsungnya penirisan...."

"Ibu Tuminah, saya berterima kasih. Kau telah menolong Kelahiran anak kami dengan setamat" Berkata Tajurpambayan.

Tuminah palsu alias perubahan ujud dari lelaki bernama Deewana Khan tersenyum.

"Den Mas. anakmu laki-laki Apakah kau sudah menyiapkan nama?" tanya Tuminah.

"Kami sudah sepakat kalau anak yang lahir seorang lakilaki maka akan diberi nama Cakra. Karena dia lahir tepat pada saat sang surya terbit maka kami memberikan nama tambahan Mentari. Jadi namanya adalah Cakra Mentari."

"Nama yang sangat bagus." Memuji Tuminah..... ( lanjutkan membaca setelah login gratis di sini )
Auto Promo BLOGGER Auto Promo INSTAGRAM Auto Promo TWITTER Auto Promo FACEBOOK Auto Promo LINKEDIN
JUDUL
Wiro Sableng #1 : Empat Berewok Dari Goa Sanggreng
Wiro Sableng #10 : Banjir Darah Di Tambun Tulang
Wiro Sableng #100 : Dendam Dalam Titisan
Wiro Sableng #101 : Gerhana Di Gajahmungkur
Wiro Sableng #102 : Bola Bola Iblis
Wiro Sableng #103 : Hantu Bara Kaliatus
Wiro Sableng #104 : Peri Angsa Putih
Wiro Sableng #105 : Hantu Jatilandak
Wiro Sableng #106 : Rahasia Bayi Tergantung
Wiro Sableng #107 : Hantu Tangan Empat
Wiro Sableng #108 : Hantu Muka Dua
Wiro Sableng #109 : Rahasia Kincir Hantu
Wiro Sableng #11 : Raja Rencong Dari Utara
Wiro Sableng #110 : Rahasia Patung Menangis
Wiro Sableng #111 : Hantu Langit Terjungkir
Wiro Sableng #112 : Rahasia Mawar Beracun
Wiro Sableng #113 : Hantu Santet Laknat
Wiro Sableng #114 : Badai Fitnah Latanahsilam
Wiro Sableng #115 : Rahasia Perkawinan Wiro
Wiro Sableng #116 : Hantu Selaksa Angin
Wiro Sableng #117 : Muka Tanah Liat
Wiro Sableng #118 : Batu Pembalik Waktu
Wiro Sableng #119 : Istana Kebahagiaan
Wiro Sableng #12 : Pembalasan Nyoman Dwipa
Wiro Sableng #120 : Kembali Ke Tanah Jawa
Wiro Sableng #121 : Tiga Makam Setan
Wiro Sableng #122 : Roh Dalam Keraton
Wiro Sableng #123 : Gondoruwo Patah Hati
Wiro Sableng #124 : Makam Ketiga
Wiro Sableng #125 : Senandung Kematian
Wiro Sableng #126 : Badik Sumpah Darah
Wiro Sableng #127 : Mayat Persembahan
Wiro Sableng #128 : Si Cantik Dalam Guci
Wiro sableng #129 : Tahta Janda Berdarah
Wiro Sableng #13 : Kutukan Empu Bharata
Wiro Sableng #130 : Meraga Sukma
Wiro Sableng #131 : Melati Tujuh Racun
Wiro Sableng #132 : Kutukan Sang Badik
Wiro Sableng #133 : 113 Lorong Kematian
Wiro Sableng #134 : Nyawa Kedua
Wiro Sableng #135 : Rumah Tanpa Dosa
Wiro Sableng #136 : Bendera Darah
Wiro Sableng #137 : Aksara Batu Bernyawa
Wiro Sableng #138 : Pernikahan Dengan Mayat
Wiro Sableng #14 : Sepasang Iblis Betina
Wiro Sableng #140 : Misteri Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #141 : Kematian Kedua
Wiro Sableng #142 : Kitab Seribu Pengobatan
Wiro Sableng #143 : Perjanjian Dengan Roh
Wiro Sableng #144 : Nyi Bodong
Wiro Sableng #145 : Lentera Iblis
Wiro Sableng #146 : Azab Sang Murid
Wiro Sableng #147 : Api Di Puncak Merapi
Wiro Sableng #148 : Dadu Setan
Wiro Sableng #149 : Si Cantik Dari Tionggoan
Wiro Sableng #15 : Mawar Merah Menuntut Balas
Wiro Sableng #150 : Misteri Pedang Naga Merah
Wiro Sableng #151 : Sang Pembunuh
Wiro Sableng #152 : Petaka Patung Kamasutra
Wiro Sableng #153 : Misteri Bunga Noda
Wiro Sableng #154 : Insan Tanpa Wajah
Wiro Sableng #155 : Sang Pemikat
Wiro Sableng #156 : Topan Di Gurun Tengger
Wiro Sableng #157 : Nyawa Titipan
Wiro Sableng #158 : Si Cantik Gila Dari Gunung Gede
Wiro Sableng #159 : Bayi Satu Suro
Wiro Sableng #16 : Hancurnya Istana Darah
Wiro Sableng #160 : Dendam Mahluk Alam Roh
Wiro Sableng #161 : Perjodohan Berdarah
Wiro Sableng #162 : Badai Laut Utara
Wiro Sableng #163 : Cinta Tiga Ratu
Wiro Sableng #164 : Janda Pulau Cingkuk
Wiro Sableng #165 : Bayi Titisan
Wiro Sableng #166 : Kupu-Kupu Giok Ngarai Sianok
Wiro Sableng #167 : Fitnah Berdarah Di Tanah Agam
Wiro Sableng #168 : Mayat Kiriman Di Rumah Gadang
Wiro Sableng #169 : Bulan Sabit Di Bukit Patah
Wiro Sableng #17 : Lima Iblis Dari Nanking
Wiro Sableng #170 : Kupu-Kupu Mata Dewa
Wiro Sableng #171 : Malam Jahanam Di Mataram
Wiro Sableng #172 : Empat Mayat Aneh
Wiro Sableng #173 : Roh Jemputan
Wiro Sableng #174 : Dua Nyawa Kembar
Wiro Sableng #175 : Sepasang Arwah Bisu
Wiro Sableng #176 : Dewi Kaki Tunggal
Wiro Sableng #177 : Jaka Pesolek Penangkap Petir
Wiro Sableng #178 : Tabir Delapan Mayat
Wiro Sableng #18 : Pendekar Pedang Akhirat
Wiro Sableng #180 : Sesajen Atap Langit
Wiro Sableng #181 : Selir Pamungkas
Wiro Sableng #182 : Delapan Pocong Menari
Wiro Sableng #183 : Bulan Biru Di Mataram
Wiro Sableng #184 : Dewi Dua Musim
Wiro Sableng #185 : Jabang Bayi Dalam Guci
Wiro Sableng #19 : Pendekar Dari Gunung Naga
Wiro Sableng #2 : Maut Bernyanyi Di Pajajaran
Wiro Sableng #20 : Hidung Belang Berkipas Sakti
Wiro Sableng #21 : Neraka Puncak Lawu
Wiro Sableng #22 : Siluman Teluk Gonggo
Wiro Sableng #23 : Cincin Warisan Setan
Wiro Sableng #24 : Penculik Mayat Hutan Roban
Wiro Sableng #25 : Cinta Orang Orang Gagah
Wiro Sableng #26 : Iblis Iblis Kota Hantu
Wiro Sableng #27 : Khianat Seorang Pendekar
Wiro Sableng #28 : Petaka Gundik Jelita
Wiro Sableng #29 : Bencana Di Kuto Gede
Wiro Sableng #3 : Dendam Orang-orang Sakti
Wiro Sableng #30 : Dosa Dosa Tak Berampun
Wiro Sableng #31 : Pangeran Matahari Dari Puncak Merapi
Wiro Sableng #32 : Bajingan Dari Susukan
Wiro Sableng #33 : Panglima Buronan
Wiro Sableng #34 : Munculnya Sinto Gendeng
Wiro Sableng #35 : Telaga Emas Berdarah
Wiro Sableng #36 : Dewi Dalam Pasungan
Wiro Sableng #37 : Maut Bermata Satu
Wiro Sableng #38 : Iblis Berjanggut Biru
Wiro Sableng #39 : Kelelawar Hantu
Wiro Sableng #4 : Keris Tumbal Wilayuda
Wiro Sableng #40 : Setan Dari Luar Jagad
Wiro Sableng #41 : Malaikat Maut Berambut Salju
Wiro Sableng #42 : Badai Di Parang Tritis
Wiro Sableng #43 : Dewi Lembah Bangkai
Wiro Sableng #44 : Topeng Buat WIRO SABLENG
Wiro Sableng #45 : Manusia Halilintar
Wiro Sableng #46 : Serikat Setan Merah
Wiro Sableng #47 : Pembalasan Ratu Laut Utara
Wiro Sableng #48 : Memburu Si Penjagal Mayat
Wiro Sableng #49 : Srigala Iblis
Wiro Sableng #5 : Neraka Lembah Tengkorak
Wiro Sableng #50 : Mayat Hidup Gunung Klabat
Wiro Sableng #51 : Raja Sesat Penyebar Racun
Wiro Sableng #52 : Guna Guna Tombak Api
Wiro Sableng #53 : Kutukan Dari Liang Kubur
Wiro Sableng #54 : Pembalasan Pendekar Bule
Wiro Sableng #55 : Misteri Dewi Bunga Mayat
Wiro Sableng #56 : Ratu Mesum Bukit Kemukus
Wiro Sableng #57 : Nyawa Yang Terhutang
Wiro Sableng #58 : Bahala Jubah Kecono Geni
Wiro Sableng #59 : Peti Mati Dari Jepara
Wiro Sableng #6 : Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga
Wiro Sableng #60 : Serikat Candu Iblis
Wiro Sableng #61 : Makam Tanpa Nisan
Wiro Sableng #62 : Kamandaka Si Murid Murtad
Wiro Sableng #63 : Neraka Krakatau
Wiro Sableng #64 : Betina Penghisap Darah
Wiro Sableng #65 : Hari-Hari Terkutuk
Wiro Sableng #66 : Singa Gurun Bromo
Wiro Sableng #67 : Halilintar Di Singosari
Wiro Sableng #68 : Pelangi Di Majapahit
Wiro Sableng #69 : Ki Ageng Tunggul Keparat
Wiro Sableng #7 : Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin
Wiro Sableng #70 : Ki Ageng Tunggul Akhirat
Wiro Sableng #71 : Bujang Gila Tapak Sakti
Wiro Sableng #72 : Purnama Berdarah
Wiro Sableng #73 : Guci Setan
Wiro Sableng #74 : Dendam Di Puncak Singgalang
Wiro Sableng #75 : Harimau Singgalang
Wiro Sableng #76 : Kutunggu Di Pintu Neraka
Wiro Sableng #77 : Kepala Iblis Nyi Gandasuri
Wiro Sableng #78 : Pendekar Gunung Fuji
Wiro Sableng #79 : Ninja Merah
Wiro Sableng #8 : Dewi Siluman Bukit Tunggul
Wiro Sableng #80 : Sepasang Manusia Bonsai
Wiro Sableng #81 ; Dendam Manusia Paku
Wiro Sableng #82 : Dewi Ular
Wiro Sableng #83 : Wasiat Iblis
Wiro Sableng #84 : Wasiat Dewa
Wiro Sableng #85 : Wasiat Sang Ratu
Wiro Sableng #86 : Delapan Sabda Dewa
Wiro Sableng #87 : Muslihat Para Iblis
Wiro Sableng #88 : Muslihat Cinta Iblis
Wiro Sableng #89 : Geger Di Pangandaran
Wiro Sableng #9 : Rahasia Lukisan Telanjang
Wiro Sableng #90 : Kiamat Di Pangandaran
Wiro Sableng #91 : Tua Gila Dari Andalas
Wiro Sableng #92 : Asmara Darah Tua Gila
Wiro Sableng #93 : Lembah Akhirat
Wiro Sableng #94 : Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #95 : Jagal Iblis Makam Setan
Wiro Sableng #96 : Utusan Dari Akhirat
Wiro Sableng #98 : Rahasia Cinta Tua Gila
Wiro Sableng #99 : Wasiat Malaikat


LOAD MORE INSPIRATIONS...

© www&mdot;nomor1&mdot;com · [email protected]&mdot;com · terms of use · privacy policy · 54.166.199.178
team developer · pt excenture indonesia · central park podomoro city · jakarta indonesia