Wiro Sableng #140 : Misteri Pedang Naga Suci 212
WIRO SABLENG

Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212

Karya: Bastian Tito

Episode : 113 LORONG KEMATIAN

Wakil Ketua melangkah cepat memanggul tubuh Hantu Muka Dua. Setelah melewati sebuah pintu besi, dia hentikan langkah dan berpaling pada Satria Pocong yang berjalan mengikutinya.
"Untung tadi Yang Mulia Ketua tidak sampai Menanyakan soal caping milik Kakek Segala Tahu. Kau sempat memeriksa benda itu ?"
"Sudah, tapi saya tidak menemukan gulungan kain putih yang kita cari."

"Apa ucapanmu bisa kupercaya?" tanya wakil ketua barisan manusia pocong 113 lorong kematian sambil dua matanya menatap lurus dan tajam pada sepasang mata anak buahnya.

"Saya tidak berdusta. Saya tidak punya keperluan apa apa atas benda itu." Menjawab Satria Pocong.

"Yang Mulia Ketua pernah bilang benda itu luar biasa penting. Menyangkut kelangsungan masa depan seratus tiga belas lorong kematian dan rencana pembentukan sebuah partai yang bakal menguasai seantero rimba persilatan tanah Jawa dan tanah seberang."

"Saya pernah mendengar hal itu..." ucap Satria Pocong.

Lalu dan balik jubah putihnya orang ini keluarkan caping milik Kakek Segala Tahu. "Silahkan Wakil Ketua memeriksa sendiri"

"Simpan saja. Saat ini aku mempercayai semua ucapanmu. Kalau kemudian kau ternyata berdusta, aku akan merajam dirimu tiga hari tiga malam sebelum nyawamu kucabut! Camkan itu baik baik!"

"Saya mengerti Wakil Ketua." Satria Pocong masukkan kembali caping bambu ke balik jubahnya.

Wakil Ketua serahkan tubuh Hantu Muka Dua pada anak buahnya. "Tunggu aku di depan Rumah Tanpa Dosa. Jangan melakukan apapun sampai aku datang!"

"Wakil Ketua mau kemana?" tanya Satria Pocong.

"Sesuai perintah Yang Mulia Ketua, aku akan menemui Dewa Tuak di ruangannya. Aku harus memeriksa tua bangka satu itu. Gadis muridnya lenyap dan kamar Yang Mulia Ketua. Mungkin dia yang punya pekerjaan."

Satria Pocong mengangguk. Panggul sosok Hantu Muka Dua di bahu kiri lalu cepat cepat tinggalkan tempat itu. Wakil Ketua menyusuri lorong di mana terdapat deretan ruang batu. Di depan sebuah pintu besi dia berhenti. Ada satu jendulan di batu ini. Pintu besi terbuka. Engselnya keluarkan suara berkereketan.

Di sudut kamar, di atas satu tempat tidur terbuat dan batu, duduk seorang kakek berpakaian putih lusuh. Wajah pucat, tubuh kelihatan lemas. Rambut putih acak acakan. Janggut dan kumis putih tidak karuan. Di lantai ruangan, dekat kepala tempat tidur batu, teronggok helai jubah dan kain putih penutup kepala. Orang tua ini yang bukan lain adalah Dewa Tuak adanya pandangi sosok manusia pocong yang masuk lalu berkata.

"Lagi lagi kau datang berhampa tangan. Kukira kau membawa tuak kayangan untukku!"

Wakil Ketua tutup pintu besi, perhatikan orang tua di atas tempat tidur batu seraya berucap dalam hati.

"Seingatku dia sudah dicekoki Iebih dan empat cangkir minuman pelupa diri pelupa ingatan. Nyatanya ingatannya tidak sepenuhnya leleh. Dia masih ingat pada minuman kesayangannya itu. Tidak heran Yang Mulia Ketua masih terus menyekapnya di tempat ini. Manusia satu ini masih berbahaya. Aku akan menyuruh orang untuk memberi minuman tambahan padanya."

Sejurus kemudian Wakil Ketua Barisan Manusia Pocong berkata.

"Selama kau belum mau mengenakan jubah dan kain putih penutup kepala, jangan harap aku akan memberikan tuak padamu!"

"Aku sudah bilang, jubah dan penutup kepala tidak pantas jadi dandanan tua bangka sepertiku! Para gadis cantik tidak dapat melihat wajahku yang walau sudah keriputan ini tapi masih merangsang! Ha.. ha. .ha!"

"Tua bangka edan. Alasan tolol!" bentak Wakil Ketua.

Dewa Tuak menyeringai. Kepala didongakkan. Mulut dibuka. Dua tangan diangkat ke atas seolah memegang sebuah benda panjang. Sikap si kakek seperti seseorang yang meneguk minuman sungguhan. Mata meram melek dan dari tenggorokannya yang bergerak naik turun keluar suara gluk...gluk...gluk!

"Gila! Bagaimana mungkin!" ujar Wakil Ketua dalam hati.

Dewa Tuak tertawa bergelak. Belakang telapak tangan kirinya dipakai mengusap mulut, seperti orang yang barusan benar benar habis meneguk minuman enak.

"Tuakku terasa tawar. Tapi lumayan. Daripada meneguk air comberan...." Dewa Tuak kembali tertawa sambil mengusap usap perutnya yang kempes.

Wakil Ketua hentakkan kaki kanannya ke lantai hingga ruangan batu itu bergetar. "Dewa Tuak! Jangan bertingkah macam macam yang membuatku jengkel!"

"Oala! Sampeyan jengkel rupanya. Mana aku tahu! Padahal aku tidak macam macam. Cuma satu macam! Ha...ha...ha!"

"Aku datang untuk menanyakan perihal muridmu!"

"OaIa, kapan aku punya murid? Aku lupa."

"Muridmu, gadis bernama Anggini lenyap dari kamar Yang Mulia Ketua! Ini pasti kau punya pekerjaan. Kau sembunyikan dimana gadis itu?"

Dewa Tuak pentang lebar lebar matanya.

"Aku tidak pernah ingat kalau punya murid. Aku tidak kenal siapa gadis bernama Anggini itu. Di tempat ini mana mungkin aku main sembunyi sembunyian. Pintu celaka itu selalu dikunci. Bagaimana mungkin aku bisa keluar?"

"Beberapa waktu lalu ketika ada seorang tokoh rimba persilatan dijebloskan kedalam Seratus Tiga Belas Lorong Kematian, kau diberi kebebasan keluar kamar ini. Kesempatan itu pasti kau pergunakan untuk melarikan dan menyembunyikan muridmu!"

Dewa Tuak tertawa. Dia kembali membuat sikap seperti orang tengah meneguk minuman dan dalam sebuah bumbung.

"Gluk! Gluk...gluk!"

"Mengurusi diriku saja, aku tak mampu, apalagi mengurusi orang lain! Sudah, pergi sana! Lama lama aku muak melihatmu. Aku mau kentut!"

"Kakek jahanam! Jangan kau berani main main padaku!"

"Aku tidak main main. Aku memang mau kentut sungguhan!" Habis berkata begitu Dewa Tuak turun dan tempat tidur batu, badannya membungkuk dan pantat disonggengkan. Lalu!

"Buuuttt....... Buuutt....... buttttttt!"

Dewa Tuak keluarkan kentut, tiga kali berturut turut, panjang dan keras. Selagi pantatnya keluar suara kentut, dan mulutnya si kakek keluarkan suara mengekeh.

Ruangan batu itu buncah oleh bau kentut luar biasa busuk "Jahanam kurang ajar!"

Wakil Ketua angkat kaki kanannya dan bukkk!

Satu tendangan mendarat di pantat Dewa Tuak. Suara tawa mengekeh si kakek berubah jadi jeritan keras. Tubuhnya terlempar, kening membentur dinding batu itu hingga benjut besar. Si kakek melingkar tak bergerak di lantai, mata terpejam, mulut meringis kesakitan.

"Kalau aku kembali dan kau masih belum mengenakan jubah serta penutup kepala itu, akan aku patahkan batang lehermu!" Wakil Ketua lalu keluar dan kamar, pintu besi dibanting keras.

Dewa Tuak usap usap pantatnya. "Untung tidak remuk tulang bokongku! Edan! Tendangan bangsat itu keras juga! Weleh...!"

Dewa Tuak buka sepasang mata. Pandangannya membentur onggokan jubah dan kain putih penutup kepala. Si kakek mencibir. "Mungkin sudah saatnya aku harus mengenakan pakaian dan penutup kepala sialan ini! Dari pada ditendang lagi, apa lagi kalau sampai dipatahkan Ieherku. Hik...hik...hik. Sebelum mengenakan jubah dan penutup kepala itu, aku mau minum tuak dulu ah!" Lalu Dewa Tuak dongakkan kepala, buka mulut dan dua tangan dikeataskan, mata merem melek dan leher naik turun. "Gluk...gluk. . .gluk!"

***Satria Pocong berdiri tak bergerak di hadapan Rumah Tanpa Dosa. Sepasang matanya sesekali melirik ke arah bangunan, menatap ke bagian atas. Setiap berada di dekat rumah itu dia selalu merasa takut. Kini dia berada di situ dengan beban tubuh Hantu Muka Dua di bahu kiri.

Yang disebut Rumah Tanpa Dosa ini adalah sebuah rumah panggung terletak di seberang Iembah kecil. Di sebelah atas ada sebuah pintu dan delapan jendela dalam keadaan tertutup. Mulai dari atap yang terbuat dan ijuk sampai tiang penyangga bangunan dan tangga berputar menuju ke atas, semua berwarna putih. Di bawah atap, dekat tangga setengah Iingkaran, menjulai ke bawah hampir menyentuh tanah seutas tali besar. Tali ini berhubungan dengan sebuah genta atau lonceng besar yang terletak di depan pintu bangunan.

Di dalam rumah panggung putih yang disebut Rumah Tanpa Dosa inilah diam Yang Mulia Sri Paduka Ratu, seorang gadis berambut hitam panjang yang hidup dengan nyawa kedua setelah mendapat satu kekuatan majis aneh dan benda berupa batu yang disebut Aksara Batu Bernyawa. Sang Ratu yang memiliki kesaktian luar biasa ini berada di bawah kekuasaan Yang Mulia Ketua Barisan Manusia Pocong Seratus Tiga Belas Lorong Kematian.

Walau cukup lama memanggul tubuh Hantu Muka Dua, Satria Pocong di halaman rumah Tanpa Dosa tetap berdiri tak bergerak. Setiap dua kakinya terasa capai atau bahunya terasa pegal maka cepat cepat ia mengucap. "Hanya penintah Yang Mulia Ketua yang harus dilakukan! Hanya Yang Mulia Ketua seorang yang wajib dicintai!"

Satu bayangan putih berkelebat. Satria Pocong lepaskan nafas lega. Wakil Ketua akhirnya muncul dan tegak di sampingnya.

"Tidak ada kejadian apa apa di tempat ini?" Wakil Ketua bertanya.

"Sepi sepi saja." Jawab Satria Pocong.

Wakil Ketua memperhatikan arah delapan jendela dan pintu rumah pintu.

"Saatnya kita minta Yang Mulia Sri Paduka Ratu keluar," kata Wakil Ketua pula lalu melangkah mendekati tali besar yang menjulai ke permukaan tanah. Ada sedikit debaran di dada manusia pocong ini ketika jari jaritangan kanannya menyentuh dan menggenggam tali. Terlebih ketika dia menggerakan tangan menarik tali. Saat itu juga genta di bawah atap mengeluarkan suara berkumandang. Tanah di halaman Rumah Tanpa Dosa bergetar. Tiang rumah panggung berderak. Satria Pocong merasakan dua kakinya goyah dan tubuhnya sebelah atas gontai seperti ditiup angin. Wakil Ketua Ietakkan tangan kiri di depan dada lalu mendongak dan berseru.

"Yang Mulia Sri Paduka Ratu. Kami diutus oleh Yang Mulia Ketua Barisan Manusia Pocong Seratus Tiga Belas Lorong Kematian untuk satu permintaan yang harus kau laksanakan!"

Wakil Ketua menanik genta sekali lagi. Lalu menunggu. Sementara itu di selatan bukit batu tak jauh dari jalan masuk ke dalam 113 lorong kematian, Ratu Duyung tercekat ketika mendengar suara menggema dari kejauhan. Tanah yang dipijaknya seperti dialiri getaran aneh. Ratu Duyung berpaling pada Setan Ngompol yang tegak di sampingnya sambil memegangi bagian bawah perut agar tidak membersit air kencingnya.

"Kek, kau dengar suara aneh itu?"

Setan Ngompol anggukkan kepala. "Seperti suara lonceng besar."

Ratu Duyung segera keluarkan cermin saktinya. Sepasang matanya yang biru memperhatikan tak berkesip. Setan Ngompol ulurkan kepala ikutan melihat Mula mula tampak tebaran asap tipis.

"Jangan jangan tak mempan lagi...." Ucap Ratu Duyung dalam hati agak khawatir. Namun perlahan lahan asap tipis dalam cermin bulat berangsur lenyap. Kini muncul satu bangunan berwarna putih. Ratu Duyung berpaling pada si kakek.

"Rumah putih itu pernah muncul sebelumnya dalam cermin beberapa waktu lalu. Bangunan penuh rahasia menyimpan satu kekuatan dahsyat."

Baru saja Ratu Duyung berucap begitu tiba tiba di sebelah utara kembali terdengar gema suara aneh. Cermin bulat bergetar. Satu hawa aneh berkekuatan hebat tiba tiba menghantam Ratu Duyung. Gadis ini terpekik, terjajar beberapa langkah dan jatuh duduk di tanah. Wajahnya tampak pucat. Setan Ngompol sudah lebih dulu terjengkang di tanah dan kucurkan kencing.

"Rumah putih itu..." desisnya dengan dada turun naik "Aku yakin itu tempatnya markas manusia pocong."

***2Setelah berdiam diri sesaat untuk menenangkan hati dan mengatur jalan darahnya, Ratu Duyung berdiri. Sebenarnya melalui cermin sakti dia ingin memantau lagi. Menjajagi dimana beradanya Wiro. Namun khawatir akan diserang kekuatan dahsyat yang tidak kelihatan Ratu Duyung simpan cermin saktinya di balik pakaian lalu tinggalkan tempat itu sambil memberi isyarat pada si kakek di sebelahnya untuk mengikuti.

"Kita mau kemana?" tanya Setan Ngompol.

"Aku yakin markas manusia pocong ada di arah utara. Kita menuju ke sana."

Setan Ngompol raba telinga kanannya yang terbalik, peras celananya yang basah oleh air kencing lalu cepat cepat mengikuti Ratu Duyung yang telah jalan duluan.

***Kembali ke halaman Rumah Tanpa Dosa. Belum lenyap gema suara genta, belum hilang getaran di tanah, delapan jendela rumah putih terpentang. Ada hembusan angin aneh keluar lewat jendela yang terbuka disertai tebaran asap putih. Sesaat kemudian pintu bangunan ikut terbuka.

"Siapa di luar sana?"

Tiba tiba suara perempuan bertanya. Keluar dan bagian atas rumah panggung putih.

"Saya Wakil Ketua bersama seorang Satria Pocong. Kami diutus Yang Mulia Ketua untuk satu keperluan yang harus dilaksanakan oleh Yang Mulia Sri Paduka Ratu!" Wakil Ketua memberi jawaban dengan berteriak.

Sunyi beberapa saat ketika pada saat Yang Mulia Sri Paduka Ratu diharapkan keluar, justru dari dalam rumah panggung putih terdengar suara orang bernyanyi.

Kematian datang tidak disangka

Di dalam bukit batu

Ada seratus tiga belas lorong

Siapa masuk akan tersesat

Tidak ada jalan keluar

Sampai kematian datang menjemput

Di dalam lembah

Ada Rumah Tanpa Dosa

Inilah tempatnya...Di halaman Rumah Tanpa Dosa, Wakil Ketua Barisan Manusia Pocong 113 Lorong Kematian berteriak keras.

"Yang Mulia Sri Paduka Ratu! Yang Mulia Ketua telah berulangkali memperingatimu agar tidak menyanyi! Jangan membuat Yang Mulia Ketua gusar dan marah!"

Sunyi lagi. Lalu satu bayangan putih muncul di pintu. Tampak satu sosok tinggi semampai dibalut jubah terbuat dan kain putih lembut dan halus berkilat. Di bawah kain putih penutup kepala menjulai rambut hitam panjang hampir menyentuh pinggul. Pada bagian kening dan kain penutup kepala melingkar sebuah mahkota kecil berwarna hijau memancarkan cahaya berkilau. Di depan pintu sosok ini berhenti sebentar. Dua mata memandang ke bawah. Menatap ke arah Wakil Ketua, lalu ke arah sosok berjubah putih di atas panggulan bahu Satria Pocong.

"Yang Mulia Ketua mengutusmu ke sini untuk satu urusan. Wakil Ketua, harap katakan urusan apa?" Sosok di atas rumah panggung putih yaitu Yang Mulia Sri Paduka Ratu ajukan pertanyaan.

"Kami membawa seorang tawanan. Yang Mulia Ketua meminta agar Yang Mulia Sri Paduka Ratu menyedot semua ilmu kesaktian yang dimiIikinya."

"Hanya perintah Yang Mulia Ketua harus dilakukan! Hanya Yang Mulia Ketua seorang yang wajib dicintai!"

"Jangan membuang waktu. Harap Yang Mulia Sri Paduka Ratu segera melaksanakan perintah!" kata Wakil Ketua pula.

Untuk turun ke bawah Sri Paduka Ratu bisa mempergunakan tangga setengah Iingkaran. Tapi dia tidak melakukan hal itu. Dengan satu gerakan enteng tanpa suara sama sekali, seperti seekor burung besar, dalam gerakan yang begitu indah Sri Paduka Ratu melompat, melayang turun ke tanah. Di lain saat dia telah berdiri di hadapan Wakil Ketua dan Satria Pocong.

"Ini manusia yang akan disedot ilmu kesaktiannya?" tanya Sri Paduka Ratu sambil menatap tubuh yang tergeletak di bahu kiri Satria Pocong.

"Pakaian dan kain penutup kepalanya hampir sama dengan kalian berdua."

"Dia bukan anggota Barisan Manusia Pocong Seratus Tiga Belas Lorong Kematian," menjelaskan Wakil Ketua.

Wakil Ketua memberi isyarat. Anak buahnya turunkan sosok Hantu Muka Dua dan bahu kiri lalu ditegakkan di tanah. Karena dalam keadaan tertotok tanpa bisa bergerak ataupun berbicara, Hantu Muka Dua tegak kaku seperti patung. Hanya dua matanya yang aneh berbentuk segi tiga menatap angker ke arah Yang Mulia Sri Paduka Ratu.

"Dari matanya yang aneh aku bisa memaklumi manusia ini memang memiliki ilmu kesaktian yang luar biasa. Tapi baunya aneh. Dia seperti bukan mahluk alam sini. Beri tahu siapa namanya."

"Nama aslinya kami tidak tahu. Orang orang yang kenal menyebut dia Hantu Muka Dua! Konon dia bukan mahluk alam kita. Tapi berasal dan alam seribu dua ratus tahun silam. Silahkan Yang Mulia Sri Paduka Ratu menyaksikan dan menyelidik sendiri!" Selesai berucap Wakil Ketua tanggalkan kain yang menutupi kepala Hantu Muka Dua.

Orang lain mungkin akan terkesiap kaget bahkan ngeri melihat keadaan kepala Hantu Muka dua. Betapa tidak. Kepala itu memiliki dua wajah. Satu di sebelah depan, satunya di bagian belakang. Wajah sebelah depan berkulit putih kekuningan sedang bagian belakang hitam berkilat. Keduanya mewujudkan wajah seorang lelaki berusia sekitar empat puluhan.

Di balik kain penutup kepala walau kening mengerenyit dan mata menyipit namun air muka Yang Mulia Sri Paduka Ratu tidak memperlihatkan rasa gentar. Dengan tenang ia melangkah mendekati Hantu Muka Dua. Dari mulutnya keluar ucapan.

"Hanya perintah Yang Mulia Ketua yang harus dilaksanakan!"

Di hadapan Yang Mulia Sri Paduka Ratu dua wajah Hantu Muka Dua tiba tiba berubah. Warnanya yang tadi hitam dan putih kini sama sama menjadi merah. Tampang itu bukan berwujud manusia biasa tapi lebih menyerupai tampang raksasa. Mulut berbibir tebal, taring mencuat. Cambang hijau berubah merah. Sesuai ujud dan sifatnya iniIah satu pertanda bahwa Hantu Muka Dua berada dalam kemarahan luar biasa!

Kalau Wakil Ketua dan Satria Pocong tercekat kaget melihat perubahan dua wajah Hantu Muka Dua, sebaliknya Yang Mulia Sri Paduka Ratu tertawa pendek.

"Mungkin ini mahluk jejadian yang kesasar dan rimba belantara. Mungkin kau memang memiliki ilmu kesaktian setinggi langit sedalam samudera! Namun semua kehebatanmu itu berakhir hari ini! Harus kau serahkan padaku! Mulai yang ada di batok kepala sampai yang ada di telapak kakimu!"

Tenggorokan Hantu Muka Dua turun naik. Bola matanya yang berbentuk segi tiga warna hijau pantulkan cahaya bergidik tapi tidak punya kemampuan untuk melancarkan serangan berupa sinar maut. Raja Diraja dari segala Hantu dari Negeri Latanahsilam ini berusaha kerahkan tenaga dan hawa sakti untuk memusnahkan totokan yang menguasai dirinya, namun sia sia.

Sementara itu bersamaan dengan akhir ucapannya, sosok Yang Mulia Sri Paduka Ratu tiba tiba melayang ke atas. Serentak dengan itu tangan kanannya menyambar ke atas batok kepala Hantu Muka Dua. Telapak tangan menempel pada ubun ubun mahluk dari Negeri Latanahsilam ini.

"Dess! Dess! Dess!

Sekujur tubuh Hantu Muka Dua bergetar hebat. Sepasang mata mendelik. Tenggorokan mengeluarkan suara seperti sapi digorok. Untuk kedua kalinya wajahnya depan belakang berubah mengerikan. Tampang raksasa lenyap, berganti dengan wajah kakek keriput pucat pasi. Ini merupakan pertanda bahwa Hantu Muka Dua berada dalam keadaan kaget dan takut besar.

Dari batok kepala Hantu Muka Dua mengepui asap kelabu. Lalu ada cahaya biru mengalir dari telapak kaki, menjalar ke atas dan akhirnya keluar dari ubun ubun. Cahaya biru itu disedot, melesat masuk ke dalam tangan kanan Yang Mulia Sri Paduka Ratu, terus menjalar ke seluruh jalan darah dalam tubuhnya. Begitu cahaya biru mencapai bagian kepala, kelihatan kain penutup kepala serta mahkota kecil memancarkan sinar biru sangat benderang.

Hantu Muka Dua yang sebeiumnya dalam keadaan tertotok tak bisa bergerak tak bisa bersuara, keluarkan suara raungan keras mengerikan. Tubuh seperti benang basah, terkulai iemah. Wajahnya yang tua keriputan, depan belakang semakin putih. Ketika sosoknya hampir roboh ke tanah tiba tiba ada suara mengiang di kedua telinganya kiri kanan. Kepala Hantu Muka Dua tersentak.

Seperti ada kekuatan aneh yang masuk ke dalam tubuhnya lewat suara mengiang itu mendadak bola matanya yang berwarna hijau dan berbentuk segi tiga pancarkan cahaya berkilat aneh, menatap Sri Paduka Ratu. Malah tangan kirinya yang menunjuk nunjuk kini bergerak berusaha hendak memegang tubuh perempuan itu. Dari mulutnya keluhan suara hek...hek...hek berkepanjangan disertai lelehan air liur berwarna biru!

"Sreettt!"

Tangan kiri Hantu Muka Dua berhasil menggapai Jubah putih Sri Paduka Ratu.

"Ihh!"

Yang Mulia Sri Paduka Ratu cepat mundur satu langkah Lalu hentakkan kaki kanannya. Tanah bergetar hebat. Hantu Muka Dua tergelimpang roboh. Tangan kirinya yang tadi sempat menyentuh pakaian Sri Paduka Ratu kelihatan berwarna putih dan mengepulkan asap. Satria Pocong cepat memeriksa keadaan Hantu Muka Dua. Tubuh itu dingin sekali. Ketika diraba urat besar di leher terasa denyutan.

"Wakil Ketua, orang ini masih hidup!" Satria Pocong memberi tahu. "Biar saya selesaikan sekalian!" Satria Pocong angkat tangan kanannya siap hendak menggebuk batok kepala Hantu Muka Dua yang tergelimpang tak berdaya.

"Ajalnya hanya tinggal beberapa kejapan mata. Buang dia ke dalam jurang di belakang lorong," perintah Wakil Ketua. "Biar dia tersiksa lebih dulu sebelum menemui kematian!"

Satria Pocong segera panggul tubuh Hantu Muka Dua. Aneh sosok orang itu kini terasa sangat enteng seolah dia memanggul batangan bambu.

"Wakil Ketua, aku sudah melaksanakan perintah. Aku akan kembali masuk ke dalam Rumah Tanpa Dosa. Harap kau tidak berlama lama berada di sekitar tempat ini."

Wakil Ketua tidak segera berlalu. Mulutnya keluarkan suara berdecak. Dia berkata, "Seorang gadis tawanan, bernama Anggini, lenyap dari kamar Yang Mulia Ketua. Mungkin melarikan diri. Jika Yang Mulia Sri Paduka Ratu melihatnya harap memberi tahu kami Kalau bisa tangkap sekalian dan serahkan padaku!"

Sri Paduka Ratu putar tubuh, melangkah ke arah tangga setengah Iingkaran. Sebelum melesat ke atas rumah panggung ia berhenti sebentar dan berpaling pada Wakil ketua lalu mendongak dan berkata.

"Yang barusan kau katakan bukan penintah Yang Mulia Ketua. Kau dan anak buahmu berkewajiban mencari tawanan yang kabur itu. Bukan aku!"

"Ck...ck...ck..." Mulut Wakil Ketua berdecak berulang kali.

Walaupun telinganya panas mendengar ucapan itu namun dia segera saja angkat kaki dan halaman Rumah Tanpa Dosa. Tapi dalam hati dia berkata, "Lihat saja, Kalau aku punya kesempatan dan berhasil mencuri rahasia dirimu akan aku sedot habis seluruh ilmu kesaktianmu lewat lubang paling bawah di tubuhmu! Setelah itu kau akan jadi budak pemuas nafsuku!"

Begitu menginjakkan kaki di lantai atas rumah panggung, Yang Mulia Sri Paduka Ratu berpaling memperhatikan sosok Hantu Muka Dua yang dilarikan Satria Pocong dari halaman Rumah Tanpa Dosa. Sang Ratu usapkan tangannya dan dada sampai perut.

"Aneh," ucapnya dalam hati. "Mahluk satu itu benar benar luar biasa. Memiliki dua wajah yang bisa berubah ubah. Orang lain pasti sudah leleh tubuhnya kusedot begitu rupa.

" Yang Mulia Sri Paduka Ratu kembali mengusap tubuhnya sebelah depan. "Matanya itu.... Apa yang dilihatnya, apa yang diperhatikannya?"

Satria Pocong yang memanggul Hantu Muka Dua lenyap di kejauhan. Sri Paduka Ratu putar tubuh lalu masuk ke dalam bangunan. Tak lama kemudian sayup sayup terdengar suaranya menyanyi.

Kehidupan muncul secara aneh

Kematian datang tidak disangka

Di dalam bukit batu

Ada seratus tiga belas lorongSiapa masuk akan tersesat

Tidak ada jalan keluar

Sampai kematian datang menjemput...***3Pendekar 212 Wiro Sableng berdiri di pinggir timur jurang batu. Memandang ke bawah tak terlihat dasar jurang karena tertutup pohon pohon besar berdaun lebat dan rimbunan pohon bambu. Sayup sayupWiro mendengar suara air mengalir ke bawah berarti di dasar jurang yang tak kelihatan itu ada genangan air atau semacam telaga.

Murid Eyang Sinto Gendeng berpaling pada Wulan Srindi yang tegak di sebelahnya. "Apa kataku. Ini jadinya mengikuti petunjuk nenek bau pesing itu!"

"Wiro, jangan kau berkata begitu. Nenek itu adalah gurumu sendiri!"

"Siapa bilang dia bukan guruku? Tapi Wulan, kau saksikan tak ada jalan masuk lewat bagian belakang bukit bukit batu yang jadi markas manusia pocong itu! Kau percaya pada ucapan Eyang Sinto Gedeng. Inilah jadinya! Pakai ilmu bambu. Setiap ada jalan masuk dari depan pasti ada jalan masuk dan belakang. Ilmu bambu...Huh! Di dalam jurang aku lihat banyak pohon bambu. Makan saja bambu itu!"

Sambil tersenyum Wulan Srindi pegang punggung Wiro.

"Saat ini kita berada di bagian terpendek dan lebarnya jurang. Bagaimana kalau kita bergerak ke arah barat, menyusuri panjangnya pinggiran jurang. Mungkin kita akan menemukan sesuatu."

"Sudah setengah nyasar, biar nyasar benaran. Aku mengikuti apa katamu saja," ucap Wiro masih kesal.

Cukup lama mereka menyusuri pinggiran jurang di belakang bukit batu. Di satu tempat ketinggian Wiro dan Wulan Srindi berhenti. Saat itu mereka berada di deretan pohon pohon tinggi berbatang sebesar pemelukan tangan.

"Wiro lihat!" Tiba tiba Wulan Srindi keluarkan ucapan sambil menyibakkan semak belukar di depannya.

Wiro sibakkan pula semak belukar di sebelah depan yang menutupi pemandangan. Dua mata terpentang lebar. Di seberang jurang, gundukan batu hitam berjejer bertumpuk tumpuk, membentuk dinding hitam kokoh dan tinggi. Di bagian tengah dinding, antara dua buah batu menyerupai tiang hitam tumbuh dua buah pohon berdaun lebat. Di sebelah belakang ada tumbuhan merambat, melekat ke dinding agak terlindung oleh dua pohon berdaun lebat. Di belakang pohon terdapat satu tangga batu seratus undak menuju ke dinding yang ditutupi tumbuhan merambat.

Sepasang mata Wiro memperhatikan tak berkesip.

"Kalau ada tangga berarti ada pintu, berarti ada jalan masuk. Tapi aku tidak melihat sebuah pintupun di bagian atas tangga batu...." Ucap Wiro.

"Pintu yang kau cari terhalang daun pohon lebat dan tertutup tumbuhan merambat"

"Bagaimana kau tahu?" tanya Wiro penasaran. Lalu dia hendak mengerahkan ilmu menembus pandang. Tapi tidak jadi. Khawatir kekuatan gaib akan menghantam dirinya lagi seperti yang sudah sudah.

"Petunjuk gurumu bukan isapan jempol. Di sebelah depan satu satunya jalan masuk ke dalam Seratus Tiga Belas Lorong Kematian adalah mulut goa. Siapa masuk lewat goa itu akan tersesat seumur umur sampai akhirnya menemui ajal. Di sebelah belakang tenyata ada pintu masuk lain. Terlindung oleh daun dan tumbuhan merambat."

"Kalau di situ memang ada pintu berarti Eyang Sinto betul," kata Wiro menyeringai dan sambil garuk kepala.

"Yang jadi pertanyaan sekarang apakah pintu itu memang dipergunakan untuk jalan keluar masuk. Kau lihat sendiri. Tangga batu itu menuju pinggiran jurang. Buntu! Lalu apa kegunaan pintu kalau memang di dinding itu ada pintu tersembunyi?"

"Betul, apa kegunaan pintu itu." Mengulang Wulan Srindi. "Kalau orang membuat pintu, lantas tidak ada kegunaannya, buat apa?"

"Bisa saja sebagai jebakan," kata Wiro pula.

Wulan Srindi pegang lengan Wiro. Menarik pemuda itu melangkah sepanjang pinggiran jurang dan berhenti tepat di jurusan dinding batu yang ada tangganya. Si gadis memperhatikan ke arah kejauhan. Lalu memperhatikan ke arah kakinya sendiri. Pandangan terus melebar ke arah sekitarnya. Wiro ikuti perbuatan Wulan Srindi. Dua orang ini kemudian sama sama melepas nafas tercekat.

"Apa yang ada dalam pikiranmu?" tanya Wiro.

"Apa yang ada dalam benakmu?" balik bertanya Wulan Srindi.

"Aku melihat batu di pinggiran jurang sebelah sini agak kurang lumutnya." Kata Wiro pula.

"Itu yang pertama. Yang kedua nyaris tidak ada semak belukar di sekitar sini. Berarti ada yang pernah merambasnya. Berarti tempat ini, yang jika ditarik garis lurus berhadap hadapan dengan bagian dinding batu yang aku kira ada pintunya itu. Wiro, keras dugaanku tempat ini sering dilalui orang."

"Wulan, yang jadi pertanyaan jika banyak orang lewat sini, apakah mereka pergi dan datang ke dinding batu? Lalu bagaimana caranya? Tidak mungkin melompat, apa lagi terbang. Siapapun orang sakti dan memiliki ilmu meringankan tubuh hebat sekalipun tak mungkin sanggup melompat dari sini sampai ke sana atau sebaliknya."

"Apapun kesulitannya kita harus mampu menyeberang dan menyelidik bagian dinding batu yang ditutupi tumbuhan merambat itu."

"Jarak dua pinggiran jurang terlalu jauh. Kita tidak mungkin melompat atau turun ke bawah lalu naik lagi di sebelah sana. Jurang ini terlalu dalam. Kita tidak tahu ada apa di dasarnya. Mungkin ular atau binatang buas lainnya. Mungkin juga ada dedemit penghuni jurang...."

"Kita harus mencari akal," kata Wulan sambil menggigit bibir. Pandangannya diarahkan ke berbagai jurusan. Ketika dia memperhatikan ke arah tiga pohon tinggi yang tumbuh tak jauh di sisi kanan, gadis ini tersenyum.

"Aku tahu apa yang ada dalam benakmu. Kau ingin menumbangkan salah satu pohon itu untuk dijadikan jembatan dan sini ke dinding seberang sana. Menurut perhitunganku kelebaran jurang paling sedikit lima puluh kaki. Tinggi pohon ini sampai ke pucuknya paling banyak empat puluh kaki."

"Jarak yang terpaut sekitar sepuluh kaki bisa kita atasi dengan melompat." Setelah memperhatikan akar pohon, Wulan Srindi melanjutkan. "Akar pohon ini dari jenis yang melebar ke samping, bukan menghujam ke dalam tanah. Wiro, keluarkan kapak saktimu. Akar pohon harus diputus baru bisa ditumbangkan."

"Enak saja kau bicara. Kapak saktiku bukan alat untuk menebang pohon!"

"Kalau begitu kita berdua harus pergunakan kekuatan tenaga dalam. Tunggu apa lagi? Dorong batang pohon yang di tengah. Kalau akarnya terbongkar pasti pohonnya tumbang."

Wiro dan Wulan mencari bagian batang yang baik untuk tempat meletakkan dua telapak tangan dan selanjutnya mulai mendorong pohon iu. Namun sampai tangan mereka licin oleh keringat walau batang pohon bergerak, akarnya tidak terbongkar dari tanah. Kedua orang itu terus mencoba sambil kerahkan tenaga dalam yang mereka miliki.

"Preettt!"

"Pendekar kurang ajar!" maki Wulan Srindi seraya melompat menjauhi Wiro. "Mendorong pohon saja sampai keluar kentut!"

"Siapa yang kentut?" tukas Wiro dengan mata mendelik.

"Kalau bukan kamu apa ada setan yang kentut di tempat itu!" Wulan Srindi semakin marah. "Kalaupun ada setan aku belum pernah mendengar ada setan bisa kentut!"

Wiro gosok gosok pantatnya sendiri. Tangannya kemudian ditempelkan ke hidung. "Kalau aku memang kentut pasti bau! Nyatanya tanganku tidak bau! Kau mau cium?"

Wulan Srindi mencibir.

"Ayo kita dorong sekali lagi pohonnya," kata Wiro.

Wulan Srindi menggeleng. "Percuma, pohon tidak tumbang malah kentutmu yang bermuncratan!"

"Kalau begitu biar aku pergunakan pukulan sakti saja."

Kata Wiro Jadi jengkel mendengar kata kata si gadis.

"itu lebih baik. Dan pada kau nanti kentut lagi!" jawab Wulan Srindi.

"Sial! Jangan bicara soal kentut lagi! Pokoknya aku tidak kentut! Sumpah!" Murid Sinto Gendeng mundur menjauhi pohon. Tangan kiri menggaruk kepala, tangan kanan menyiapkan pukulan "Dewa Topan Menggusur Gunung". Diarahkan ke bagian paling bawah pohon tinggi di depan.

"Wiro, tunggu!" tiba tiba Wulan Srindi berseru.

"Ada apa?"

"Lihat!"

Wulan Srindi menunjuk ke seberang jurang.

"Astaganaga..." Wiro mengucap setengah berolok.

Saat itu bagian dinding yang tertutup tumbuhan merambat kelihatan bergeser ke samping hingga membentuk sebuah celah tinggi dan lebar.

"Apa kataku! Kau lihat sendiri! Ternyata memang ada pintu di dinding itu!" kata Wulan Srindi.

"Pintu rahasia," ucap Wiro.

Sesaat kemudian dan ruang agak gelap di balik pintu yang barusan terbuka keluarlah manusia pocong memanggul sosok besar seorang berjubah tanpa kain putih penutup kepala. Si manusia pocong menuruni tangga batu yang memiliki seratus undakan dan membawanya ke tepi jurang.

"Wiro! Si manusia pocong melemparkan orang yang dipanggulnya ke dalam jurang!" ucap Wulan Srindi.

"Aneh!"

"Tidak aneh kalau orang itu memang anggota barisan manusia pocong yang sudah mati," kat Wiro pula.

"Kalau begitu yang jadi pertanyaan mengapa orang itu mati. Dibunuh?"

Manusia pocong yang barusan melemparkan orang berjubah ke dalam jurang untuk beberapa lama masih berdiri di tepi jurang. Dia mengomel sendiri karena orang yang dilempar ternyata menyangsrang di antara kerapatan ranting dan kelebatan daun pohon di dalam jurang, juga tertahan oleh sebuah cabang cukup besar. Sebelum tinggalkan tepian jurang, sepasang matanya melirik ke seberang. Di balik kain penutup kepala mukanya menyeringai. Dalam hati dia berkata,

"Yang Mulia Ketua dan Wakil Ketua pasti senang jika kulapori sudah ada dua tokoh rimba persilatan menyelinap ke bagian belakang markas."

Tak ama kemudian Wiro dan Wulan melihat manusia pocong tadi menaiki tangga, masuk ke dalam pintu. Setelah itu pintu rahasia di dinding batu tertutup kembali.

"Saatnya kita menyeberang ke sana." Kata Wiro. Dia melangkah mendekati pohon besar yang akan ditumbangkan dan dipergunakan sebagai jembatan untuk menyeberang. Tenaga dalam dialirkan. Hawa sakti disalurkan ke tangan. Wiro lalu hantam bagian bawah pohon dengan pukulan "Dewa Topan Menggusur Gunung"...

"Wuttt!"

"Braakkk!"

"Reeetttttt! Bummmm!"

Pukulan sakti pemberian Tua Gila dan Pulau Andalas itu menghancurkan bagian bawah pohon besar, membongkar akar yang menjalar ke enam bagian tanah lalu masuk dengan suara bergemuruh tumbang melintas di atas jurang.

Seperti yang diperhitungkan Wiro, ujung pohon ternyata tidak sampai menyentuh pinggiran jurang batu di seberang sana. Selain itu karena tumbangnya miring, jarak yang terpaut menjadi Lebih jauh dan sepuluh langkah.

"Kau siap?" tanya Wiro.

Wulan Srindi mengangguk. Kedua orang itu kerahkan ilmu meringankan tubuh dan segera meniti batang pohon yang melintang di atas jurang batu. Menjelang akan sampai ke ujung pohon Wiro menyempatkan memandang ke bawah kanan, ke arah orang yang tadi dilempar dan menyangsrang di atas pohon. Jaraknya hanya terpisah sekitar dua jangkauan tangan. Dia bisa melihat sosok dan wajah orang itu. Gerakan kakinya yang tengah meniti batang pohon serta merta terhenti. Wulan Srindi hampir menabrak tubuhnya.

"Apa yang kau lakukan? Mengapa berhenti mendadak? Gila! Kita bisa sama sama jatuh!" teriak Si gadis.

"Orang itu." Ucap Wiro.

"Aku...aku mengenalinya. Dia Hantu Muka Dua, mahluk dari negeri seribu dua ratus silam. Coba kau perhatikan kepalanya. Di memiliki dua wajah. Satu di depan satu di belakang. Saat ini wajahnya seperti kakek. itu bukan wajah aslinya. Dia dalam ketakutan luar biasa."

"Turut keteranganmu, dia adalah musuh besarmu sewaktu berada di alam lain. Dia muncul di alam kita untuk mengejar dan membunuhmu! Aku pernah cerita dan punya dugaan kalau bangsat itu yang hendak memperkosa Bidadari Angin Timur! Lalu dia pula yang menyeranq kita waktu di bukit batu."

"Wulan, semua yang kau katakan betul adanya."

"Lalu mengapa kau berhenti? Apa yang hendak kau lakukan?"

"Aku ingin tahu apa yang terjadi dengan dirinya. Jika manusia pocong melemparkannya ke dalam jurang berarti dia bukan anggota barisan manusia pocong."

"Belum tentu. Bisa saja dia anggota yang berbuat salah besar lalu dibunuh dan mayatnya dibuang ke dalam jurang."

"Wulan, manusia itu masih belum jadi mayat. Lihat, tangan kanannya bergerak gerak. Dia berusaha mengangkat tangan, berusaha melambai ke arah kita. Mungkin dia ingin minta tolong..."

"Perduli setan! Orang jahat seperti dia kenapa diperdulikan? Biar dia mati nyangsrang di atas pohon itu. Ayo jalan, Wiro! Kalau kita terus terusan berdiri di sini lama lama batang pohon ini bisa melengkung dan roboh. Kita berdua bakalan mati konyol jatuh ke dalam jurang!"

"Aku tidak tega meninggalkannya. Aku bisa menolongnya."

"Jangan terlalu berbaik budi dengan seorang musuh besar. Keselamatan kita saja tidak ada yang menjamin. Kau mau mauan menolong orang! Sudah gila apa!"

Wulan mendorong bahu Wiro. Murid Sinto Gendeng garuk kepala. Sesaat jadi bingung.

"Wulan, Hantu Muka Dua pernah masuk ke dalam lorong kematian. Maksudku kita bisa menanyainya. Mungkin dan dia kita bisa mendapat keterangan yang besar manfaatnya."

"Aku pernah masuk ke lorong jahanam itu! Aku sudah ceritakan semua yang aku ketahui! Di dalam lorong kematian ada beberapa tokoh yang perlu diselamatkan. Kau akan ke lorong atau mau menolong bangsat satu itu?"

Wiro tidak menjawab. Tiba tiba pemuda ini menjatuhkan diri ke bawah, bergayut pada batang pohon.

"Benar benar sableng! Apa yang kau lakukan, Wiro?" teriak Wulan Srindi.

"Aku memberi jalan padamu! Lewatlah cepat! Tunggu aku di tangga batu."

"Pendekar goblok! Seumur hidup baru hari ini aku menyaksikan seorang pendekar mau maunya menolong musuh besarnya! Kau akan mati karena ketololanmu sendiri!" Dengan kesal Wulan Srindi tinggalkan Wiro, meniti batang pohon, bergerak hati hati di sela sela ranting dan begitu sampai di ujung pohon dia Iesatkan diri, membuat lompatan sejauh lima belas kaki lebih dan berhasil mendarat di undakan tangga batu ke tiga.

Setelah memperhatikan Wulan Srindi sebentar Wiro putar tubuhnya sedemikian rupa hingga kini dia berada dalam keadaan duduk di cabang pohon. Dengan cepat dia buka baju putihnya. Pakaian ini dibuntal demikian rupa hingga membentuk tali sepanjang lebih sepuluh jengkal.

"Hantu Muka Dua!" Wiro berteriak. "Kalau aku lemparkan ujung pakaian padamu, cepat tangkap! Pegang kuat kuat. Aku akan menarikmu ke batang pohon ini!"

Hantu Muka Dua tidak menjawab karena jalan suaranya berada dalam keadaan ditotok. Wiro lemparkan pakaian putihnya yang kini berbentuk tali. Ujung pakaiannya jatuh tepat di bahu kiri Hantu Muka Dua

"Hantu Muka Dua! Tunggu apa lagi? Lilitkan ujung pakaian ke lenganmu. Pegang kuat kuat! Kau akan aku tarik!"

Hantu Muka Dua dengan wajah masih berupa kakek keriput hanya bisa menatap ke arah Pendekar 212. Dua tangannya terkulai lemah di kedua sisi, sama sekali tidak bisa digerakkan.

"Hantu Muka Dua! Kau mendengar teriakanku! Cepat pegang ujung pakaian!" Wiro kembali berteriak. Tak ada jawaban. Tak ada gerakan.

"Jangan jangan mahluk itu sudah jadi mayat," pikir Wiro.

"Tapi tadi salah satu tangannya mampu digerakkan membuat lambaian. Atau mungkin dia sudah pasrah, tak mau ditolong." Di atas pohon sosok Hantu Muka Dua bergoyang goyang menyangsrang terlentang. Penasaran Wiro tarik pakaiannya. Dalam hati ia berkata.

"Lebih baik aku mengikuti ucapan Wulan Srindi. Buat apa susah susah menolong mahluk satu ini." Perlahan lahan Wiro berdiri di atas cabang pohon.

Sebelum beranjak pergi untuk terakhir kalinya dia melihat ke arah Hantu Muka Dua. Saat itu dilihatnya tangan kanan mahluk dan negeri Lahtanahsilam itu bergerak sedikit. Jari terkembang, telapak melambai.

"Edan!" maki murid Sinto Gendeng. Namun rasa kasihan kembali muncul dalam hatinya. Ujung pakaian dibuhul membentuk simpul cukup lebar. Simpul ini menyebabkan kepanjangan tali buatan itu jadi berkurang. Wiro memperhatikan. Bagian tubuh Hantu Muka Dua yang paling dekat adalah kaki kanannya yang terangkat ke atas. Wiro lemparkan ujung tali berbentuk simpul ke anah tangan kiri itu. Meleset. Tali jatuh ke bawah. Sekali lagi dicoba. Ujung tali tepat jatuh di kaki kiri Hantu Muka Dua tapi simpul tidak masuk ke kaki. Wiro goyang goyangkan ujung tali yang dipegangnya. Simpul bergerak turun. Begitu mencapai pergelangan kaki kiri, dengan cepat Wiro menyentakkan hingga simpul menjerat keras.

"Mudah mudahan saja tali dan baju butut ini cukup kuat untuk menahan tubuh tinggi besar Hantu Muka Dua. Kalau sampai putus tamat riwayatnya."

"Hantu Muka Dua. Aku akan menarik tubuhmu!" Wiro berteriak memberi tahu. Duduk di atas batang dengan dua kaki disilang merangkul batang pohon kuat kuat, Wiro mempergunakan dua tangan untuk menarik Hantu Muka Dua. Jelas bukan pekerjaan mudah melakukan hal itu. Salah salah Wiro sendiri bisa terseret oleh beban berat dan amblas jatuh di dalam jurang. Namun herannya murid Sinto Gendeng ini dapatkan ternyata tubuh Hantu Muka Dua yang besar dan tinggi itu enteng sekali. Dia seperti menarik sebatang ranting pohon kering.

Begitu sosok Hantu Muka Dua berada di dekatnya, Wiro sentakkan tangan kanannya hingga Hantu Muka Dua terbetot dan jatuh tepat di atas bahu kanannya. Lagi lagi Wiro dibuat heran. Tubuh Hantu Muka Dua yang tinggi besar itu terasa ringan hingga Wiro mampu bergerak dan berdiri di atas batang pohon. Tidak ada waktu untuk mencari tahu keanehan itu Wiro cepat meniti batang pohon yang membelintang di atas jurang. Di ujung pohon dia membuat lompatan, melesat di udara dan melayang turun di samping kin tangga batu seratus undak. Ketika memperhatikan ke arah tangga batu di samping kanan, Wiro tersentak kaget. Wulan Srindi yang tadi dilihatnya berada di undakan tangga batu ketiga kini tidak ada lagi di tempat itu!

"Gadis bengal. Pergi kemana dia?" pikir Wiro. "Wulan!"

Wiro berteriak memanggil. Tak ada jawaban.

"Wulan!" terlak Wiro lebih keras hingga suaranya menggema ke seantero tempat dan bergaung di dalam jurang. Tetap tak ada jawaban. Wiro baringkan tubuh Hantu Muka Dua di samping tangga batu. Dia lalu melompat ke atas tangga, memandang berkeliling, mencari cari. Sekali lagi dia berteriak memanggil Wulan Srindi. Tak ada jawaban, apalagi kelihatan sosoknya. Selagi Wiro kebingungan tiba tiba terdengar suara suitan di kejauhan. Suara suitan ini disahuti oleh suitan lain dan arah yang berbeda.

"Orang orang Seratus Tiga Belas Lorong Kematian sudah mengetahui kehadiranku..." ucap Wiro dalam hati. Dia melompat turun dari tangga batu, menghampiri Hantu Muka Dua.

Rasa cemas mulai menggerayangi diri murid Sinto Gendeng ini. "Tidak mungkin Wulan Srindi pergi begitu saja. Kalau orang orang lorong membawanya kabur masakan aku tidak melihat. Masakan dia tidak melakukan perlawanan..." Wiro memperhatikan bagian dinding batu yang tertutup tumbuhan rambat. Lalu menyelidik ke tepi jurang di depan tangga batu seratus undak.

"Gila! Apa yang terjadi dengan gadis itu!" pikir Wiro.

Sambil garuk garuk kepala dia mendekati Hantu Muka Dua kembali.

"Mahluk Latanahsilam Hantu Muka Dua! Kita bertemu pada saat yang tidak karu karuan! Apa yang terjadi denganmu?" Wiro ajukan pertanyaan.

Tenggorokan Hantu Muka Dua bergerak turun naik.

Namun dan mulutnya tak ada suara yang keluar. Tubuh tergeletak kaku. Wajah depan belakang masih berupa wajah kakek keriput. Pertanda dirinya masih berada dalam ketakutan besar. Mungkin sekali saat itu dia takut kalau Wiro akan menghabisi dirinya. Maklum saja, silang sengketa permusuhan dan dendam kesumat dia dengan Wiro sewaktu masih berada di negeri 1200 tahun silam luar biasa hebatnya. Tambahan lagi beberapa waktu lalu dia sengaja hendak merusak kehormatan Bidadari Angin Timur karena diketahuinya gadis itu adalah kekasih musuh besarnya itu. Perbuatan keji yarg tidak kesampaian itu adalah salah satu cara dia membalaskan dendam kesumat sakit hati terhadap Wiro. Dan kini dalam keadaan dirinya tidak berdaya Wiro muncul di hadapannya. Selain takut amat sangat juga ada tanda tanya besar dalam hati Hantu Muka Dua. Mengapa pemuda musuh besarnya itu mau menyelamatkan dirinya.

***4Hantu Muka Dua menatap Wiro dengan pandangan kosong. Mukanya depan belakang yang berwujud kakek keriput tetap menunjukkan rasa takut amat sangat.

"Aku bertanya kau tak menjawab. Apa kau tuli atau gagu?!" Wiro kembali membuka mulut.

Hantu Muka Dua masih tidak keluarkan jawaban.

Wiro sandarkan mahluk dan negeri 1.200 tahun silam itu ke dinding batu. Karena kesal waktu menyandarkan Wiro sengaja menghempaskan punggung Hantu Muka Dua ke dinding batu. Tetap saja Hantu Muka Dua tidak bersuara tidak bergerak, kecuali tenggorokannya yang turun naik. Wiro lalu perhatikan sekujur tubuh mahluk itu. Periksa bagian leher serta singkapkan jubah putih di bagian dada orang. Tak ada tanda tanda bekas totokan.

"Heran, apa yang terjadi dengan mahluk sialan ini!" maki Wiro dalam hati. Lalu dia ingat. Tubuh Hantu Muka Dua selain tinggi juga besar kekar. Namun mengapa keadaannya luar biasa enteng? Untuk beberapa lama Wiro melangkah mundar mandir sambil matanya terus mengawasi Hantu Muka Dua. Karena agak tertutup rambut tanda itu nyaris tidak kelihatan kalau dia tidak memperhatikan dengan teliti. Tanda itu menyerupai bekas telapak tangan dengan jari jari yang mengembang.

"Tanda aneh", ucap Wiro dalam hati.

"Kalau ada orang sakti memukul kepalanya pasti kepala ini sudah hancur! Banyak hal ingin aku tanyakan padanya. Bagaimana caraku membuat dia mampu bicara!"

Wiro berlutut di hadapan Hantu Muka Dua. Dua jari tangannya ditusukkan ke beberapa bagian tubuh mahluk dan negeri Latanahsilam itu. Sosok Hantu Muka Dua hanya meliuk sedikit lalu kembali diam. Saking kesalnya Wiro kemudian pukul batok kepala mahluk itu.

"Desss!"

Suara seperti benda gembos terdengar bersamaan dengan mengkeretnya tubuh Hantu Muka Dua. Kepala yang dipukul jatuh ke dada. Dada turun ke perut dan bagian perut melosoh ke pangkal paha. Sesaat kemudian seperti lenturnya karet, kepala, dada dan perut itu naik ke atas dan bentuknya kembali seperti semula. Murid Sinto Gendeng sampai terperangah dan terduduk di tanah saking kagetnya melihat apa yang terjadi.

"Mahluk geblek! Ada yang tak beres dengan dirimu!" ucap Wiro. Lalu dia bangkit berdiri.

"Aku tak punya waktu lama lama mengurusi dirimu!" Wiro hendak melompat ke alas tangga batu.

"Huk...huk...hukkk..."

Tiba tiba mulut Hantu Muka Dua keluarkan suara seperti orang mau muntah.

"Nah, nah! Akhirnya kau bersuara juga!"

"Hukkk...huk...hukkk..."

"Apa yang terjadi dengan dirimu. Aku lihat kau dipanggul keluar dan balik dinding balu ini lalu dilempar ke jurang. Apakah kau anggota Barisan Manusia Pocong Seratus Tiga Belas Lorong Kematian?!"

"Hukk...hukk! Hukkk..."

"Tubuhmu enteng sekali! Apakah..."

"Hukkk...huukkk...hukk!"

"Setan alas! Apa kau lak bisa bicara lain selain hukk...hukk...hukk melulu?!" Saking kesalnya Wiro tampar pipi kanan Hantu Muka Dua.

Saat itu juga wajah Hantu Muka Dua depan belakang mendadak sontak berubah menjadi wajah raksasa lengkap dengan taring mencuat. lnilah kehebatan dan keangkeran mahluk dan negeri 1.200 tahun silam. Dua mukanya depan belakang bisa berubah sesuai dengan perasaan yang menguasai dirinya yaitu muka wajar, muka takut, muka marah dan muka nafsu.

"Nah, nah! Kau ternyata masih punya perasaan! Tampangmu depan belakang berubah jadi muka raksasa tanda kau lagi marah! marah padaku! Ha...ha...ha!" Wiro tertawa sambil garuk garuk kepala.

"Hukkk...hukkkkk!" Lagi lagi Hantu Muka Dua keluarkan suara seperti orang mau muntah sementara wajahnya perlahan lahan kembali berubah menjadi wajah kakek kakek dengan sepasang mata memandang ke depan. Bersamaan dengan itu Wiro melihat mahluk ini berusaha mengangkat tangan kanannya. Walau tergontai gontai, gerakan tangan itu seperti berusaha menggapai sesuatu. Dua mata menatap ke depan, sayu tidak berkesip.

Wiro garuk garuk kepala. Dia memandang ke belakang, ke samping sambil bertanya tanya dalam hati.

"Apa yang diperhatikan mahluk ini? Ada sesuatu yang hendak dipegangnya. Apa?"

"Hantu Muka Dua! Kau menghabiskan waktuku saja!"

Wiro akhirnya melompat ke atas tangga batu, menaikinya hingga mencapai bagian dinding yang tertutup tumbuhan merambat. Dia meraba kian kemari.

"Aneh, jelas di bagian ini aku tadi melihat dinding batu terbuka menyerupai pintu! Mengapa rata semua, tidak ada tanda tandanya?" Dengan jari jari tangannya Wiro merenggut tumbuhan merambat dan kini dia berhadapan dengan dinding batu hitam, kotor berlumut.

"Kalau di sini ada pintu, berarti disini ada jalan masuk! Seberapa tebalnya dinding batu ini. Kalau kuhantam dengan pukulan sakti masakan tidak jebol!"

Pendekar 212 alirkan tenaga dalam dan hawa sakti ke tangan kanan. Pukulan sakti yang hendak dikeluarkannya adalah Segulung Ombak Menerpa Karang dengan pengerahan tenaga dalam setengah dan yang dimilikinya. Wiro turun ke anak tangga dua puluh Lima. Dua kaki tegak merenggang. Dua tangan perlahan lahan diangkat dan arah pinggang ke atas lalu dihantamkan ke arah dinding batu hitam, tepat pada bagian yang diperkirakannya merupakan pintu rahasia.

"Wutttt! Wuttt!"

"Bummm! Bummm!

Dinding batu bergetar hebat. Dua pukulan sakti menyebabkan gelegar panjang di dalam jurang. Namun dinding batu tetap berdiri kokoh. Pukulan sakti yang dilepaskan Wiro untuk menjebol dinding malah berbalik menghantam ke arahnya. Pendekar 212 berteriak kaget.

Darah menyembur dan mulut. Tubuh mencelat mental ke belakang, ditunggu jurang batu yang dalam!

Lapat lapat dikejauhan terdengar suara perempuan bernyanyi.

Di dalam lorong ada kesepian

Di dalam kesepian ada kehidupan

Di dalam lorong ada kesunyian

Di dalam kesunyian ada kematianBelum lagi suara nyanyian sirap mendadak ada suara "Preett!" Suara orang kentut! Dan seperti ada yang mendorong dan belakang, tubuh Pendekar Pendekar 212 yang akan amblas masuk ke dalam jurang batu mental ke depan, jatuh terkapar di undakan tangga batu ke delapan puluh dan delapan puluh satu. Wiro merasa sekujur tubuhnya sebelah depan seperti remuk. Untuk beberapa saat lamanya dia hanya bisa tergeletak tak bergerak. Mulut meringis menahan sakit, mata setengah terpejam. Ketika merasa ada cairan hangat dan asin di dalam mulut, murid Sinto Gendeng ini sadar kalau dirinya telah terluka di dalam!

"Gila! Kekuatan setan apa yang membalikkan pukulanku!" Walau menahan sakit namun otak sang pendekar masih bisa bekerja.

Kekuatan daya pukulan sakti yang dilepaskannya dan berbalik menghantam dirinya itulah yang membuat tubuhnya sebelah depan serasa remuk dan terluka di sebelah dalam. Namun aneh dorongan keras dan arah belakang yang tak kalah hebatnya sama sekali tidak membuatnya cidera.

"Ada kekuatan Jahat dan arah depan menghantam tubuhku. Pasti datangnya dan arah Seratus Tiga Belas Lorong Kematian. Lalu kekuatan dan belakang yang menyelamatkan diriku! Siapa? Orang yang kentut tadi?"

Wiro memandang berkeliling. Tak ada siapa siapa kecuali Hantu Muka Dua yang masih duduk tersandar ke dinding batu. Masih bisa garuk garuk kepala.

Wiro semburkan ludah campur darah. Dengan menahan sakit dia berusaha bendiri dan berteriak. "Siapa yang barusan kentut?!" Tak ada jawaban. Diperhatikannya

Hantu Muka Dua. Mahluk ini masih tetap tak bergerak dan tempatnya semula, tersandar ke dinding batu.

"Jelas tadi aku mendengar suara orang kentut! Tak mungkin mahluk sialan satu ini yang keluarkan angin!"

Wiro mendadak sadar. Dia harus melakukan sesuatu untuk meredam luka dalam yang dialaminya. Sang pendekar duduk bersila di tangga. Alirkan hawa sakti ke bagian dada dan tarik nafas dalam lalu dilepaskan lagi.

Demikian dilakukan berulang kali. Setelah itu sambil mengusap dada Wiro alihkan pandangan ke dinding batu yang barusan dihantamnya dengan pukulan sakti. Mau tak mau ada rasa bergidik di dalam hatinya. Pukulan Segulung Ombak Menerpa Karang tidak mampu membobol dinding batu itu. Bahkan membekas sedikitpun tidak! Kekuatan apa sebenarnya yang tersembunyi di balik dinding? Lalu suara perempuan menyanyi tadi? Wiro berpikir pikir akan menghantam dinding batu dengan Pukulan Sinar Matahari namun ada rasa kawatir, kekuatan gaib seperti tadi akan membalikkan pukulan sakti itu lalu menghantam dirinya sendiri! Dia bisa benar benar celaka! Malah mungkin mati konyol dengan sekujur tubuh hangus!

"Apa yang harus aku lakukan? Bagaimanapun juga aku harus bisa masuk ke dalam sana! Dewa Tuak ada di sana. Orang tua itu harus kuselamatkan. Kakek Segala Tahu dan juga Wulan Srindi mungkin sekali ada di sana. Jahanam! Siapa sebenarnya penguasa lorong kematian itu? Apakah ilmunya setinggi langit sedalam samudera?! Berbahaya dan sulit dijajagi!"

Wiro garuk garuk kepala berulang kali.

"Mungkin aku harus menunggu sampai pintu rahasia terbuka dan ada orang keluar dan dalam sana. Tapi sampai berapa lama aku musti menunggu sementara para tokoh dan sahabat di dalam terancam keselamatannya? Gila betul! Wiro meludah lagi. Ludahnya masih merah bercampur darah.

"Satu satunya cara mungkin aku harus pergunakan ilmu itu. Sebelumnya aku pernah kucoba. Tapi terhalang oleh Wulan Srindi Tak ada jalan lain. Rasanya saat ini aku harus mengeluarkan ilmu itu" Wiro melompat turun dan tangga. Dia memilih berdiri di sebelah kanan sementara Hantu Muka Dua berada di sebelah kiri tangga batu.

Duduk bersila di tanah Wiro pejamkan mata. Dua tangan diletakkan di atas paha kiri kanan. Perlahan lahan dia mulai mengosongkan pikiran. Bersamaan dengan itu jalan pendengarannyapun mulai ditutup. Dalam hati Wiro melafal Basmallah tiga kali berturut turut. Lalu disusul dengan ucapan Meraga Sukma juga sebanyak tiga kali. Apa yang tengah dilakukan oleh Pendekar 212 saat itu adalah menerapkan imu kesaktian yang disebut "Meraga Sukma". Dengan ilmu kesaktian ini raga atau ujud kasarnya akan tetap tinggal sebagaimana biasa namun roh atau sukmanya akan keluar dan dalam tubuh kasar. Sukma ini selanjutnya akan memiliki kemampuan untuk masuk kemana saja walaupun terhalang dinding tebal. Atau menerobos masuk ke satu tempat melalui lobang atau celah sekecil apapun.

Sebelumnya Wiro hendak menerapkan iImu kesaktian ini ketika berada di depan goa yang merupakan jalan masuk ke dalam 113 Lorong Kematian. Namun Wulan Srindi yang tidak sabaran saat itu mengajaknya cepat cepat berlalu. Seperti diceritakan dalam serial Wiro Sableng berjudul "Meraga Sukma" ilmu kesaktian langka ini didapat Pendekar 212 dan! seorang sàkti di kawasan samudera selatan yang dikenal dengan nama Nyi Roro Manggut.

Sesaat setelah Wiro mengucapkan kata kata Meraga Sukma dalam hati, sekujur tubuhnya terasa bergetar. Tidak seperti yang pernah kejadian sebelumnya, keringat membasahi wajah dan badan. Beberapa saat berlalu. Di bawah tanah yang didudukinya seolah ada bara api membakar. Wiro merasa pening. Ujud gaib atau sukmanya tidak mampu keluar dan dalam tubuh kasar. Beberapa saat berlalu. Saputan angin tencium menebar bau setanggi! Wiro merasa bulu tengkuknya merinding. Akhirnya sang pendekar buka sepasang mata.

"Apa yang terjadi? Aku tidak mampu menerapkan ilmu kesaktian itu. Mungkin ilmu itu sudah lenyap, tak lagi aku miliki? Mengapa tengkukku terasa meninding? Biar kucoba sekali lagi."

Wiro kembali duduk bersila penuh khidmat, kosongkan pikiran dan pendengaran. Mengucapkan Basmallah dan Meraga Sukma sebanyak tiga kali. Wiro merasa tubuhnya enteng sekali. Mengira ilmu kesaktian itu akan berhasil dikeluarkannya mendadak harumnya bau setanggi membucah seantero tempat. Lalu satu kekuatan dahsyat, laksana angin topan datang dan arah dinding batu, menggemuruh melabrak dirinya!

Pendekar 212 berteriak kaget. Jatuhkan diri ke tanah tapi tetap saja kena disapu hantaman angin hingga terguling kencang ke arah jurang. Sesaat lagi dirinya akan tercebur ke dalam jurang, seperti tadi ada satu kekuatan aneh mendorong tubuhnya hingga dia terlempar kembali ke depan dan terhenyak di tanah!

"Apa yang terjadi dengan diriku! Mengapa aku tidak sanggup menerapkan ilmu kesaktian itu. Siapa yang barusan menolongku," ucap Wiro dengan dada turun naik dan nafas tersengal.

Seperti tadi ada rasa asin dalam mulutnya. Ketika dia meludah, ludahnya merah kental bercampur darah. Dia terluka di bagian dalam kembali! Berubahlah paras murid Sinto Gendeng ini. Hantaman kekuatan gaib tadi telah membuat dirinya cidera di sebelah dalam untuk kedua kali!

"Dari pada penasaran biar aku coba sekali lagi!" Kata Wiro dalam hati. Dia sengaja pindah duduk ke bagian depan lain dan dinding batu. Dua tangan diletakkan di ujung lutut. Mata dipejamkan. Pikiran dikosongkan dan jalan pendengaran ditutup. Baru saja dia hendak melafalkan Basmallah, tiba tiba di depannya terdengar suara angin menderu, lebih keras dan lebih dahsyat dan yang tadi menghantam dirinya.

"Bocah tolol! Memangnya kau punya nyawa berapa berani mengadu jiwa?!' Tiba tiba ada suara perempuan berteriak disusul tawa cekikikan. Bersamaan dengan itu Wiro merasa rambut gondrongnya dijambak. Di lain saat dia sudah pindah duduk di atas tangga batu pada undakan ke dua puluh empat. Ketika jambakan di kepalanya terlepas, Wiro cepat berpaling. Dia tak melihat siapa siapa!

Tiba tiba dia mendengar suara tawa cekikikan perempuan. Berpaling ke kanan Wiro tersentak kaget ketika melihat siapa yang ada di arah sana.

"Nyi Roro Manggut!" Seru Pendekar 212.

Seruan Wiro disambut suara tawa cekikikan.

"Hik...hik...hik! Pemuda sableng! Kau masih mengenali diriku! Heran, kenapa kau kelayapan sampai jauh jauh kesini dan berpakaian cuma tinggal sepotong celana?!"

"Bajuku dijadikan tali untuk menolong orang", jawab Wiro. Lalu dia menimpali "Nek, aku juga heran! Ngapain Nyi Roro sendiri ikutan keluyuran bersamaku sampai di sini!"

Ucapan Wiro disambut orang dengan tawa panjang.

"Weleh! Siapa yang ikutan kamu datang kesini"

Walau luka dalamnya cukup parah dan sekujur tubuh sakit bukan main, Wiro yang tidak mau melupakan sopan santun serta peradatan cepat melompat turun dan atas tangga batu, terbungkuk bungkuk menjura di hadapan satu sosok nenek bertubuh cebol. Sepasang matanya besar jernih tapi juling. Muka yang berkulit keriput dihias sebuah hidung pesek hampir sama rata dengan pipi.

"Nyi Roro, terima salam hormatku. Apa kau yang tadi menolongku tapi juga sekaligus menebar kentut prat pret prat pret?!"

"Enak saja kau bicara! Kentutnya bau apa tidak?" Si nenek bertanya sambil kepalanya termanggut manggut.

Wiro garuk kepala lalu mendongak, hidung mengendus endus.

"Tidak Nyi Roro. Kentutnya tidak bau," jawab Wiro pula.

"Kalau kentutku pasti bau! Berarti bukan aku yang kentut!"

"Lalu...?!"

***5Nenek berambut putih yang disanggul di atas kepala sunggingkan senyum. Kepala mengangguk angguk seperti orang kesedakan. IniIah Nyi Roro Manggut. Orang kepercayaan Nyi Roro Agung, penguasa samudera kawasan selatan. Nenek sakti inilah yang memberikan ilmu Iangka Meraga Sukma kepada Wiro dengan Ratu Duyung yang sebelumnya juga adalah penghuni samudera selatan.

"Yang menolongmu memang aku! Tapi soal kentut jangan menuduh diriku!" Si nenek menjawab.

Wiro garuk kepala. "Berarti kakek yang punya dua muka itu yang kentut?!"

Nyi Roro Manggut menoleh ke arah Hantu Muka Dua yang sampai saat itu masih menjelepok di tanah, duduk tersandar ke dinding batu.

"Bau mahluk itu terasa aneh. Menyembunyikan banyak rahasia. Aku mencium bahaya besar dibalik dua wajahnya yang menyeramkan. Matanya menatap kosong namun dibalik kekosongan itu dia seolah melihat sesuatu. Jari jari tangan kanannya bergetar. Ingin digerakkan, ingin diangkat karena hendak berusaha mengambil sesuatu. Dia orang yang katamu kau tolong dengan mengorbankan baju bututmu?!"

"Kau suka padanya?"

"Bocah geblek!" Nyi Roro Manggut berteriak marah.

Matanya sampai mendelik besar.

Wiro tertawa dan seenaknya menggoda lagi. "Dia bukan mahluk sembarangan, Nek. Kalau mukanya dua berarti anunya juga dua. Siapa yang ha ha hi hi dengan dia pasti puas!"

"Anak kurang ajar! Apa maksudmu dengan kata kata ha ha hi hi itu?!"

"Maaf Nek," jawab Wiro sambil nyengir. "Aku hanya bergurau."

"Benar benar sableng! Kau tengah menghadapi urusan besar! Masih bisa bergurau!" Kepala si nenek tersentak sentak, dagunya manggut manggut. Wiro garuk garuk kepala.

"Nyi Roro, apakah kau tahu kita berada di mana?"

"Kau yang akan menerangkan padaku." Jawab Nyi Roro Manggut.

"Di balik dinding batu ini ada satu tempat yang disebut Seratus Tiga Belas Lorong Kematian. Lorong ini merupakan sarang dan gerombolan orang yang dikenal sebagai manusia pocong...."

"Manusia ya manusia. Pocong ya pocong! Mana ada manusia sekaligus pocong...."

"Maksudku...."

"Sudahlah, aku lebih tahu dari kamu!" potong Nyi Roro Manggut.

"Kalau begitu kau bisa menolongku", kata Wiro cepat.

Kepala si nenek menggangguk angguktapi ini bukan merupakan gerakkan tanda dia mengiyakan ucapan Wiro.

"Aku muncul di sini bukan untuk menolongmu!"

"Lalu....?" tanya Wiro sambil garuk kepala.

"Aku mencari seseorang."

"Siapa Nyi Roro?"

"Apa perlumu mencari tahu?!" sentak si nenek.

"Bukan maksudku lancang, Nyi Roro. Tapi... sudahlah. Walau kau tak mau memberi tahu aku sudah bisa menduga siapa orang yang kau cari itu."

"Siapa?" Kini Nyi Roro Manggut yang balik bertanya.

"Apa perlu aku memberi tahu?!" Wiro menggoda sambil senyum senyum.

Dan balik pinggang celananya Wiro mengeluarkan sebuah kaleng butut lalu digoyang hingga mengeluarkan suara berkerontang. Berubahlah paras Nyi Roro Manggut.

"Kau memegang kaleng miliknya. Orangnya dimana?"

Suara si nenek agak tercekat ketika mengajukan pertanyaan. Wiro lalu menuturkan riwayat bagaimana dia mendapatkan kaleng milik Kakek Segala tahu itu. Termasuk penemuan kuburan tak jauh dan sebuah jurang. Air muka Nyi Roro Manggut menunjukkan rasa kawatir. Terlebih setelah Wiro mengatakan dugaan bahwa besar kemungkinan Kakek Segala Tahu telah diculik oleh orang orang 113 Lorong Kematian.

"Aku kawatir apakah dia masih hidup. Berikan kaleng itu padaku." Kata Nyi Roro Manggut pula.

Wiro serahkan kaleng milik Kakek Segala Tahu kepada si nenek dan Nyi Roro Manggut lalu memegang kaleng itu dengan kedua tangan. Mata dipejamkan, kepala yang termanggut manggut sedikit diangkat ke atas. Sesaat kemudian mulutnya berucap perlahan.

"Aku merasa ada sedikit hawa hangat. Dia masih hidup. Tapi keadaannya sangat sengsara..." Nyi Roro Manggut tarik nafas panjang lalu buka kedua matanya. Sesaat dia pandangi yang ada di dalam pegangan tangan kanannya. Kaleng berisi batu batu kerikil digoyang. Wiro hendak mencegah tapi terlambat. Suara kerontangan kaleng menggema ke suluruh penjuru, menggaung sampai ke dalam jurang. Tanah, dinding dan tangga batu seratus undak bergetar!

Tiba tiba Nyi Roro Manggut terpekik. Satu sambaran angin keras membuat kaleng yang dipegangnya mencelat mental dan jatuh ke dalam jurang. Si nenek sendiri ikut tersapu terpental namun dengan jungkir balik di udara sambil dorongkan dua tangan ke depan dia berhasil menahan hantaman angin dahsyat dan melayang turun, injakkan kaki di tanah.

"Luar biasa kekuatan gaib itu", ucap si nenek bertubuh cebol ini.

"Nyi Roro, kita berdua harus bisa masuk ke dalam lorong...."

Nyi Roro Manggut menggeleng. "Aku terlalu jauh berada dan dalam asalku. Selain itu kekuatan gaib yang ada di dalam lorong tak mungkin kusentuh...."

"Kalau kau saja berkata begitu bagaimana aku?" ujar Wiro pula.

"Tadi aku mencoba mengeluarkan ilmu Meraga Sukma untuk bisa menembus masuk ke dalam lorong. Tapi gagal. Aku mencium bau setanggi. Malah ada satu kekuatan dahyat kemudian menghantamku. Apakah aku telah kehilangan ilmu yang kudapat darimu itu Nyi Roro?"

Si nenek menggeleng.

"Tidak, kau masih memiliki ilmu kesaktian itu. Namun seperti penjelasanku dulu sewaktu ilmu itu aku berikan. Ada kemungkinan suatu saat kau tidak bisa menerapkan ilmu itu. Ingat, semua apa yang kita miliki, semua kepandaian dan kesaktian yang dipunyai manusia keampuhannya sangat tergantung pada kuasa dan ridhonya Gusti Allah. Selain itu di tempat ini ada satu kekuatan dahsyat dan alam lain yang sulit ditandingi. Kekuatan itu merupakan kekuatan roh! Dan roh paling suka bau setanggi!"

"Kalau begitu tidak ada yang bakal bisa menembus masuk ke dalam lorong kematian untuk menyelamatkan perempuan perempuan hamil dan para tokoh yang diculik. Aku kawatir Wulan Srindi saat ini juga menuju ke sini. Aku tidak tahu berada dimana mereka sekarang. Jangan jangan...."

Nyi Roro Manggut terdiam sesaat. Kemudian mulutnya berucap perlahan.

"Kekuatan roh hanya bisa ditandingi oleh roh pula. Tapi, mungkin ini semua sudah kehendak Gusti Allah...."

"Tidak bisa! Kita tidak bisa berkata seperti itu Nyi Roro! Apapun yang terjadi aku harus bisa masuk ke dalam lorong. Kalau tidak bisa lewat jalan rahasia di tempat ini aku akan kembali ke bagian depan bukit batu dan memasuki lorong dan mulut gua. Tidak perduli aku akan tersesat dan menemui ajal di dalam lorong!"

Melihat Nyi Roro Manggut diam saja Wiro jadi penasaran.

"Nyi Roro, kau orang sakti. Mustahil kau tidak bisa memberi pertolongan. Atau mungkin cuma berupa petunjuk. Tadi kau sendiri telah menyelidiki. Kakek Segala Tahu ada dalam lorong. Keadaannya mengawatirkan. Apakah kau tidak ingin menolongnya?"

Bukannya menjawab si nenek malah balik bertanya.

"Ketika kau berkunjung ke tempatku di dasar samudera. Setelah aku memberikan Ilmu Meraga Sukma, sebelum kau pergi aku pernah menitipkan sebuah kipas padamu. Dengan pesan agar diserahkan pada Kakek Segala Tahu. Apakah kipas itu sudah kau berikan padanya?" (Baca serial Wiro Sableng berjudul "Meraga Sukma")

Wiro terkejut. Dia meraba pinggang celana sebelah kanan. Lalu beralih ke pinggang kiri. Dia menemukan benda yang dicarinya. Sebuah kipas kayu cendana dikeluarkannya dan balik pinggang celana. Wiro garuk garuk kepala.

"Anu Nek, kipasnya masih ada padaku. Aku tidak ingat. Tapi kalau tidak keliru sampai saat ini aku belum sempat bertemu dengan Kakek Segala Tahu. Kau ingin mengambil kipas ini kembali?"

Nyi Roro Manggut kelihatan kecewa tapi masih bisa tersenyum.

"Kemarikan, biar kupegang sebentar kipas itu," katanya.

Kipas kayu cendana diambil lalu dikembangkan. Di sebelah dalam kipas itu penuh dengan ukiran bagus sekali. Di bagian tengah kipas ada gambar seorang pemuda gagah dan seorang gadis cantik. Nyi Roro letakkan kipas itu di atas kening, mata dipejam dan mulut komat kamit entah merapal apa. Tiga larik sinar biru berpijar lima kali berturut turut dari kepala Nyi Roro ke badan kipas. Kipas kemudian diserahkan kembali pada Wiro.

"Simpan saja, kalau bertemu berikan pada orangnya."

"Nyi Roro, maafkan aku karena lalai memenuhi pesanmu..." Wiro masukkan kipas kayu cendana ke balik pinggang celana.

"Huk...huk...huk...huk!"

Di dinding batu sebelah sana Hantu Muka Dua keluarkan suara seperti mau muntah. Nyi Roro melirik, Wiro berpaling.

"Nyi Roro, tadi kau berkata. Orang itu melihat sesuatu dan ingin mengambil sesuatu itu. Sebelumnya aku memang melihat sikapnya yang aneh itu. Kalau kau mau menerangkan apakah yang dilihatnya itu."

"Mengapa tidak kau tanyakan sendiri padanya?"

"Tubuhnya kaku, mulutnya gagu".

"Dia tidak gagu. Hanya lidahnya kena dikancing orang."

"Maksud Nyi Roro?"

"Sudahlah...."

"Nyi Roro, maukah Nyi Roro menyempatkan diri memeriksa keadaan orang itu barang sebentar? Nyi Roro saksikan sendiri walau tubuhnya terkulai lemah perawakannya tinggi dan besar. Tapi ketika aku menolong dan memanggulnya, tubuhnya seenteng kertas! Kalau dia bisa dibikin bicara mungkin banyak rahasia di dalam lorong yang bisa kita ketahui..."

"Begitu....?"

Nyi Roro manggut manggut lalu melangkah mendekati Hantu Muka Dua. Wiro mengikuti. Di hadapan Hantu Muka Dua nenek cebol itu berdiri memperhatikan. Dia melihat tanda berupa.

Telapak dan jari jari tangan di atas kepala Hantu Muka Dua. Si nenek geleng geleng kepala.

"Turut apa yang aku lihat, orang ini bukan mahluk dan alam kita..."

"Kau benar Nyi Roro, dia datang dan negeni seribu dua ratus tahun silam..."

"Dia memiliki ilmu kesaktian luar biasa. Tapi sekarang ilmunya itu sudah lenyap. Dirampas orang dengan cara menyedot lewat kepala. Lihat tanda telapak tangan dan lima jari di kulit kepalanya. itu menyebabkan tubuhnya sekujur tubuhnya menjadi sangat lemah dan berubah menjadi enteng. Mahluk lain pasti sudah amblas nyawanya disedot begini rupa."

"Kau tahu siapa yang menyedot ilmu kesaktiannya itu, Nyi Roro?" tanya Wiro.

Si nenek cebol tidak menjawab. Melainkan ulurkan tangan kiri dan cekik tenggorokan Hantu Muka Dua kuat kuat.

"Hueekkkk!"

Mulut Hantu Muka Dua terbuka lebar seperti mau muntah. Mata mendelik. Lidahnya terjulur. Pendekar 212 Wiro Sableng melengak kaget sampai tersurut satu langkah! Lidah yang terjulur panjang itu ternyata berada dalam keadaan terbuhul!

"Itu yang membuat dia tidak bisa bicara!" Menjelaskan Nyi Roro Manggut.

"Bagaimana sampai lidahnya jadi seperti ini?"

"Akibat sedotan dahsyat di kepalanya."

Nyi Roro Manggut cabut jepitan kayu pada rambutnya yang dikonde hingga konde terlepas dan rambutnya yang putih sepinggang tergerai ke bawah. Dengan jepitan kayu itu kemudian mengait lidah Hantu Muka Dua sampai terlepas. Tenggorokan Hantu Muka Dua turun naik. Mulutnya mengeluarkan suara mendesah panjang berulang kali. Lidahnya terluka. Mukanya depan belakang berubah ubah beberapa kali. Sesaat merupakan wajah kakek keriput, dilain kejap berupa muka raksasa bercaling.

Nyi Roro buang ke tanah jepitan kayu bernoda darah yang tadi dipakai membuka buhulan lidah Hantu Muka Dua.

"Nyi Roro, kau tahu siapa yang melakukan penyedotan itu?" Wiro ulangi pertanyaannya tadi.

"Roh?" Wiro mengulang heran sambil garuk kepala.

"Benar. Dan kau akan kawin dengan roh itu!"

Murid Sinto Gendeng tersentak kaget.

"Nyi Roro, jangan kau bergurau. Mana ada manusia kawin dengan roh."

Si nenek cebol tersenyum.

"Aku tahu, kau menyimpan secarik kain di dalam kantong hitam yang tergantung di pinggangmu. Kau pernah membacanya...,"

"Eh, bagaimana kau tahu perihal kain itu?' Wiro menggaruk kepala. "Kain itu memang ada tulisannya. Aku pernah membacanya...."

"Sudah keluarkan saja dan baca sekali lagi apa yang tertulis disitu." Kata Nyi Roro dengan kepala terangguk angguk.

***6Wiro mengeruk kantong kain di pinggang yang dipergunakan sebagal tempat menyimpan batu sakti hitam pasangan Kapak Naga Geni 212. Di kantong itu pula dia menyimpan secarik kain putih yang di dapatnya terselip di bawah caping milik Kakek Segala Tahu.

"Baca yang keras biar aku bisa mendengar," kata Nyi Roro Manggut pula.

Wiro mulai membaca.

Batas antara kebaikan dan kejahatan adalah kebijaksanaan

Kehidupan yang terjadi tanpa Izin Yang Kuasa

Akan menimbulkan bencana malapetaka dimana mana

Jika kehidupan pertama tidak dimusnahkan

Rimba persilatan akan kiamat

Dalam kiamat tangan tangan jahat akan menjadi penguasa

Darah mengalir sederas air sungai di musim hujan

Nyawa tiada artinya lagi

Hanya pernikahan dengan mayat yang sanggup menjadi tumbal penyelamat

Jika pemilik pertama nyawa kedua seorang perempuan

Nikahkan dia dengan seorang perjaka

Jika pemilik nyawa kedua seorang laki laki

Nikahkah dia dengan seorang perawan

Pernikahan adalah sesuatu yang sakral

Dalam kesakralan ada kesucian

Dalam kesucian ada jalan untuk selamat

Maka kematian abadi akan menjadi jalan keselamatan"Bagaimana?" tanya Nyi Roro Manggut.

"Apanya yang bagaimana, Nek?" balik bertanya Wiro.

Nenek cebol tertawa lebar hingga hidungnya yang pesek penyet benar benar jadi sama rata dengan pipi kiri kanan.

"Kau sudah siap?" Kembali Nyi Roro bertanya yang membuat Wiro tambah heran.

"Siap? Siap apa?"

Nyi Roro tertawa cekikian. "Aku bertanya apa kau sudah siap nikah dengan roh?"

Wiro terperangah. Sambil garuk garuk kepala murid Sinto Gendeng ini berkata.

"Dengan gadis manusia

sungguhan saja aku belum sempat dan belum tentu mau nikah. Apalagi dengan roh!" Lalu sang pendekar tertawa sendiri.

"Kau tahu, tulisan di atas kain putih itu bukan sembarangan tulisan dan dibuat oleh orang yang juga bukan sembarangan. Seseorang telah memberikan kain itu pada Kakek Segala Tahu. Aku tidak tahu siapa orangnya! Tapi semua tujuan adalah untuk memusnahkan mahluk mahluk jahat yang gentayangan seperti pocong! Kain itu menjadi rebutan beberapa tokoh, termasuk manusia manusia pocong penguasa Seratus Tiga Belas Lorong Kematian. Mereka ingin tahu apa yang tertera di situ lalu mencari penangkalnya. Bocah sableng. Kau tahu, satu satunya jalan untuk menghancurkan mereka adalah melalui pernikahanmu dengan roh yang ada di dalam lorong..."

"Roh perempuan...?" tanya Wiro.

"Tentu saja roh perempuan! Apa kau mau kawin dengan laki laki sejenismu juga?" tukas Nyi nora Manggut lalu tertawa cekikikan.

Wiro garuk garuk kepala.

"Maksudku masuk ke dalam lorong adalah untuk menyelamatkan perempuan perempuan yang diculik. Termasuk para sahabat dan para tokoh."

"Kau tidak akan mampu melakukan itu karena kau tidak sanggup menghadapi kekuatan roh. Buktinya kau tidak sanggup menjebol dinding batu yang ada pintu rahasianya itu! Dengar bocah sableng, satu satunya cara adalah melumpuhkan roh itu hanya dengan cara menikahinya."

"Gila! Aku tidak mau!" ucap Wiro sambil mengusap tengkuknya yang mendadak menjadi dingin dan merinding.

"Jadi kau tidak mau masuk ke dalam lorong? Membatalkan semua rencana?"

"Bukan tidak mau masuk ke dalam lorong! Tapi tidak mau nikah dengan roh!"

"Anggap saja nikah dengan gadis sungguhan."

Wiro tak bisa menjawab lagi. Malah kini dia jadi tertawa gelak gelak.

"Syukur " katanya Nyi Roro Manggut pula.

"Syukur apa Nek?"

"Kau tertawa gelak gelak. Tandanya kau senang dan suka nikah dengan roh!"

Wiro mencibir dan keluarkan suara seperti orang kentut dari mulutnya.

"Prett!"

Ada yang membalas. Dengan kentut sungguhan! Wiro kaget, memandang berkeliling. Dia tidak melihat orang lain di tempat itu, Nyi Roro tertawa cekikikan. Wiro pandangi nenek ini. Dia tahu bukan Nyi Roro yang barusan kentut. Lalu siapa?

"Sudah, segala kentut kau urusi." Kata Nyi Roro pula.

"Kau tidak punya waktu banyak. Kau harus segera masuk ke dalam Seratus Tiga Belas Lorong Kematian. Tadi kau bertanya padaku mengenai mahluk bermuka dua itu. Walau tubuhnya sangat lemah, kurasa sekarang dia sudah bisa bicara."

"Aku memang banyak pertanyaan untuknya," sahut Wiro lalu mendatangi Hantu Muka Dua. Begitu sampai di hadapan Hantu Muka Dua Wiro bukannya ajukan pertanyaan tapi justru mendamprat mahluk dan negeri latanahsilam itu.

"Nenek itu sudah menolong membuka buhul lidahmu! Apakah kau tidak punya adat tidak tahu diri untuk mengucapkan terima kasihmu padanya?"

Hantu Muka Dua batuk batuk. Mukanya depan belakang masih berupa muka kakek kakek keriput pertanda masih ada rasa takut menghinggapi dirinya. Mendengar kata kata Wiro tadi ia segera menggeser tubuh, lalu masih dalam keadaan duduk dia bungkukkan tubuh ke arah Nyi Roro Manggut dan keluarkan ucapan.

"Nyi Roro, aku Hantu Muka Dua dan negeri Latanahsilam sangat berterima kasih padamu. Kau telah melepaskan siksa diriku dan lidah yang terkancing."

Walau sudah bisa bicara namun suara Hantu Muka Dua perlahan sekali karena tubuhnya sangat lemah. Nyi Roro Manggut pencongkan mulut lalu melirik pada Wiro.

Hantu Muka Dua kemudian putar tubuhnya menghadap ke arah Wiro. Kembali dia membungkukkan badan lalu berkata

"Aku juga sangat berterima kasih padamu. Aku sudah tewas kalau bukan kau yang menolongku. Mengingat perseteruan kita di negeri Latanahsilam, aku sungguh tidak mengerti mengapa kau mau mengorbankan nyawa menyelamatkanku."

"Semua silang sengketa di negerimu sudah berlalu. Kau sekarang berada di alam lain." Jawab Wiro.

"Ketika kau terdesak melawanku, dua manusia pocong muncul menolongmu. Kau dilarikan ke dalam lorong. Apakah kau salah seorang dari mereka? Mungkin juga kau biang kerok pimpinan Barisan Manusia Pocong mahluk celaka itu!"

Hantu Muka Dua gelengkan kepala. Tampang kakek keriputnya tampak tegang. "Aku bukan anggota Barisan Manusia Pocong. Apalagi pimpinannya. Mereka menculik aku..."

"Perlu apa mereka menculik dirimu?" yang bertanya Nyi Roro Manggut.

"Semula aku juga tidak mengerti. Ternyata mereka punya maksud jahat. Mereka membawa aku menemui seseorang yang disebut Yang Mulia Sri Paduka Ratu."

Wiro dan Nyi Roro saling pandang.

"Jadi Yang Mulia Sri Paduka Ratu itu rupanya yang jadi pimpinan Barisan Manusia Pocong." Ujar Wiro sambil rangkapkan dua tangan di atas dada sementara Nyi Roro tegak angguk anggukkan kepala.

"Turut apa yang aku lihat sang Ratu bukanlah pimpinan Barisan Manusia Pocong. Ilmunya memang luar biasa tapi dia berada di bawah kekuasaan dan perintah yang disebut Yang Mulia Ketua. Selain itu ada lagi yang dipanggil dengan sebutan Wakil Ketua. Dia punya kebiasaan mengeluarkan suara berdecak ck. . .ck.. .ck."

"Kau melihat wajah wajah semua orang itu? Tahu siapa mereka?"

Hantu Muka Dua gelengkan kepala. Semua mahluk yang ada dalam lorong mengenakan jubah putih dan kain penutup kepala putih. Termasuk yang dipanggil dengan sebutan Ratu.

"Kau dibawa menghadap Ratu. Apa yang kemudian terjadi?"

"Ratu menyedot seluruh tenaga dalam dan ilmu kesaktian yang ada di tubuhku'" jawab Hantu Muka Dua.

Lalu dia tundukkan kepala memperlihatkan bekas telapak tangan dan jari jari sang Ratu di kulit kepalanya.

Murid Sinto Gendeng raba tengkuknya sendiri, lalu berbisik pada Nyi Roro.

"Kalau yang namanya Ratu itu kerjanya hanya menyedot tenaga dalam dan kesaktian orang, dapat dibayangkan betapa luar biasa tenaga dalam dan ilmu kesaktian yang kini dimilikinya. Sudah berapa orang saja yang kena disedotnya? Bagaimana mungkin hal itu bisa terjadi? Dia bukan pimpinan Barisan Manusia Pocong. Mengapa disuruh menyedot tenaga dalam dan ilmu kesaktian orang?"

"Aku punya dugaan, di balik semua kejadian ini ada satu rahasia besar. Ada satu kejadian luar biasa yang akan meluluh Iantakkan rimba persilatan tanah Jawa. Tokoh Seratus Tiga Belas Lorong Kematian mempergunakan tangan orang untuk melaksanakan hal itu. Mungkin Yang Mulia Sri Paduka Ratu itu. Dan firasatku mengatakan Ratu itulah yang bakal jadi calon jodoh untuk dinikahkan dengan dirimu!"

"Apa Nek?" tanya Wiro dengan mata terbelalak. Nyi Roro hanya senyum senyum.

"Turut keteranganmu tadi yang akan nikah dengan aku adalah sebangsa roh. Sekarang ternyata malah muncul seorang Ratu."

"Bocah tolol. Yang namanya Roh itu bisa saja nyangsrang di pohon, nempel di batu, main air di sungai atau masuk ke dalam tubuh manusia hidup atau yang sudah mati, atau nemplok di pantatmu! Hi...hik...hik!"

"Aku tidak mengerti..." Wiro garuk garuk kepala. Dia mendekati Hantu Muka Dua dan bertanya. "Setelah Ratu menyedot tenaga dalam dan kesaktianmu, apa yang kemudian terjadi?"

"Wakil Ketua memerintah seorang Satria Pocong membuang diriku ke dalam jurang di belakang markas. Masih untung aku tidak amblas jatuh sampai ke dasar jurang. Tubuhku tersangkut menyangsrang di pohon sampai kau muncul menyelamatkan diriku. Sekali lagi aku sangat berterima kasih padamu..."

"Aku sempat melihat kau dipanggul keluar dan pintu rahasia di dinding sana. Apa yang kau ketahui mengenal pintu itu?" tanya Wiro pula.

"Pintu batu penuh rahasia. Hanya bisa dibuka dan dalam lewat satu kekuatan gaib. Tidak ada satu kekuatan lain yang bisa membuka pintu dan menjebol pintu itu dan luar..."

"Selain Ketua, Wakil Ketua dan Ratu ada berapa banyak manusia pocong di dalam lorong?"

"Aku tidak tahu pasti. Mungkin beberapa orang saja. Bolak balik aku hanya melihat Wakil Ketua dan seorang bawahannya." Jawabnya Hantu Muka Dua.

Wiro garuk garuk kepala.

"Coba kau ingat ingat. Selama kau berada di dalam lorong mungkin ada hal atau peristiwa lain yang terjadi? Atau mungkin kau bertemu orang lain yang jadi tawanan. Mungkin juga melihat perempuan perempuan bunting?"

"Waktu aku dibawa dan dijebloskan dalam ruangan batu, aku melihat deretan kamar berpintu besi. Lalu masuk seorang perempuan bunting. Dia mencekoki aku dengan sejenis minuman. Kalau aku tidak salah minuman itu disebut Minuman Selamat Datang. Konon siapa saja yang meneguk minuman itu akan lupa diri dan akan tunduk seperti kerbau dipasung. Dalam setiap hal mereka selalu mengumandangkan ucapan Hanya perintah Yang Mulia Ketua yang harus dilakukan! Hanya Yang Mulia Ketua seorang yang wajib dicintai! Ternyata minuman itu tidak mempan padaku. Aku lalu ditotok. Aku berada dalam keadaan kaku ketika Ratu menyedot tenaga dalam dan ilmu kesaktian yang ada dalam diriku"

***7Wiro geleng geleng kepala. Nyi Roro manggut manggut.

"Sudah? Hanya itu saja yang bisa kau ceritakan? Atau. .."

"Ada satu kejadian lain," kata Hantu Muka Dua pula.

"Sewaktu aku dipanggul dalam perjalanan ke tempat Ratu..."

"Tunggu," memotong Nyi Roro. "Kau bilang dibawa ke tempat Ratu. Apakah tempat itu di dalam markas, di dalam lorong atau Ratu punya tempat tersendiri?"

"Ratu punya kediaman sendiri. Letaknya di seberang sebuah lembah kecil. Berbentuk satu rumah panggung berwarna putih. Di bawah atapnya ada sebuah genta besar..."

"Ah. . .Suara genta itu rupanya suara aneh yang pernah aku dengar beberapa kali..." Ucap Wiro. "Hantu Muka Dua, teruskan keteranganmu."

"Sewaktu aku dipanggul menuju tempat kediaman Ratu, di dalam lorong terjadi satu kehebohan. Seorang gadis culikan lenyap dan kamar ketiduran Ketua Barisan Manusia Pocong."

Air muka murid Sinto Gendeng jadi berubah.

"Kau tahu siap adanya gadis itu?"

"Turut ucapan Wakil Ketua dan seorang bawahannya gadis itu adalah murid seorang tokoh silat yang diculik. Tokoh itu kalau aku tidak salah berjuluk Dewa Tuak."

"Anggini!" seru Wiro.

"Gadis itu pasti Anggini! Kurang ajar! Kalau manusia manusia pocong itu berani menyentuh Anggini aku bersumpah akan membunuh dan mencincang lumat tubuh mereka semua!"

"Wiro, waktu kita tidak banyak. Ada lagi yang ingin kau tanyakan padanya?"

"Aku memperhatikan gerak gerikmu. Nyi Roro tadi juga menyebutkan. Kau pernah bersikap seperti melihat sesuatu. Tanganmu berusaha menggapai. Apa yang sebenarnya terjadi?"

Sepasang mata Hantu Muka Dua yang berbentuk segi tiga hijau berputar. Setelah batuk batuk beberapa kali dan mukanya menjadi merah, baru mahluk ini keluarkan ucapan.

"Keselamatan diriku. Aku melihat sebuah benda yang bisa menyelamatkan diriku dari keadaan seperti sekarang ini." Suara Hantu Muka Dua perlahan sekali sehingga Wiro terpaksa membungkuk dan dekatkan telinganya ke mulut orang.

"Kau melihat benda yang bisa menyelamatkan dirimu. Benda apa? Dimana kau melihatnya?" Tanya Wiro sementara Nyi Roro Manggut memperhatikan sambil rangkapkan dua tangan di atas dadanya.

"Berbentuk cahaya putih..."

Wiro menggaruk kepala. "Kau tidak tahu benda apa itu?"

"Tidak jelas karena mataku silau terkena cahayanya. Tampaknya seperti... mungkin seperti ikat pinggang dalam keadaan tergulung."

"Benda putih. Bercahaya. Seperti gulungan ikat pinggang....... ( lanjutkan membaca setelah login gratis di sini )
Auto Promo BLOGGER Auto Promo INSTAGRAM Auto Promo TWITTER Auto Promo FACEBOOK Auto Promo LINKEDIN
JUDUL
Wiro Sableng #1 : Empat Berewok Dari Goa Sanggreng
Wiro Sableng #10 : Banjir Darah Di Tambun Tulang
Wiro Sableng #100 : Dendam Dalam Titisan
Wiro Sableng #101 : Gerhana Di Gajahmungkur
Wiro Sableng #102 : Bola Bola Iblis
Wiro Sableng #103 : Hantu Bara Kaliatus
Wiro Sableng #104 : Peri Angsa Putih
Wiro Sableng #105 : Hantu Jatilandak
Wiro Sableng #106 : Rahasia Bayi Tergantung
Wiro Sableng #107 : Hantu Tangan Empat
Wiro Sableng #108 : Hantu Muka Dua
Wiro Sableng #109 : Rahasia Kincir Hantu
Wiro Sableng #11 : Raja Rencong Dari Utara
Wiro Sableng #110 : Rahasia Patung Menangis
Wiro Sableng #111 : Hantu Langit Terjungkir
Wiro Sableng #112 : Rahasia Mawar Beracun
Wiro Sableng #113 : Hantu Santet Laknat
Wiro Sableng #114 : Badai Fitnah Latanahsilam
Wiro Sableng #115 : Rahasia Perkawinan Wiro
Wiro Sableng #116 : Hantu Selaksa Angin
Wiro Sableng #117 : Muka Tanah Liat
Wiro Sableng #118 : Batu Pembalik Waktu
Wiro Sableng #119 : Istana Kebahagiaan
Wiro Sableng #12 : Pembalasan Nyoman Dwipa
Wiro Sableng #120 : Kembali Ke Tanah Jawa
Wiro Sableng #121 : Tiga Makam Setan
Wiro Sableng #122 : Roh Dalam Keraton
Wiro Sableng #123 : Gondoruwo Patah Hati
Wiro Sableng #124 : Makam Ketiga
Wiro Sableng #125 : Senandung Kematian
Wiro Sableng #126 : Badik Sumpah Darah
Wiro Sableng #127 : Mayat Persembahan
Wiro Sableng #128 : Si Cantik Dalam Guci
Wiro sableng #129 : Tahta Janda Berdarah
Wiro Sableng #13 : Kutukan Empu Bharata
Wiro Sableng #130 : Meraga Sukma
Wiro Sableng #131 : Melati Tujuh Racun
Wiro Sableng #132 : Kutukan Sang Badik
Wiro Sableng #133 : 113 Lorong Kematian
Wiro Sableng #134 : Nyawa Kedua
Wiro Sableng #135 : Rumah Tanpa Dosa
Wiro Sableng #136 : Bendera Darah
Wiro Sableng #137 : Aksara Batu Bernyawa
Wiro Sableng #138 : Pernikahan Dengan Mayat
Wiro Sableng #14 : Sepasang Iblis Betina
Wiro Sableng #140 : Misteri Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #141 : Kematian Kedua
Wiro Sableng #142 : Kitab Seribu Pengobatan
Wiro Sableng #143 : Perjanjian Dengan Roh
Wiro Sableng #144 : Nyi Bodong
Wiro Sableng #145 : Lentera Iblis
Wiro Sableng #146 : Azab Sang Murid
Wiro Sableng #147 : Api Di Puncak Merapi
Wiro Sableng #148 : Dadu Setan
Wiro Sableng #149 : Si Cantik Dari Tionggoan
Wiro Sableng #15 : Mawar Merah Menuntut Balas
Wiro Sableng #150 : Misteri Pedang Naga Merah
Wiro Sableng #151 : Sang Pembunuh
Wiro Sableng #152 : Petaka Patung Kamasutra
Wiro Sableng #153 : Misteri Bunga Noda
Wiro Sableng #154 : Insan Tanpa Wajah
Wiro Sableng #155 : Sang Pemikat
Wiro Sableng #156 : Topan Di Gurun Tengger
Wiro Sableng #157 : Nyawa Titipan
Wiro Sableng #158 : Si Cantik Gila Dari Gunung Gede
Wiro Sableng #159 : Bayi Satu Suro
Wiro Sableng #16 : Hancurnya Istana Darah
Wiro Sableng #160 : Dendam Mahluk Alam Roh
Wiro Sableng #161 : Perjodohan Berdarah
Wiro Sableng #162 : Badai Laut Utara
Wiro Sableng #163 : Cinta Tiga Ratu
Wiro Sableng #164 : Janda Pulau Cingkuk
Wiro Sableng #165 : Bayi Titisan
Wiro Sableng #166 : Kupu-Kupu Giok Ngarai Sianok
Wiro Sableng #167 : Fitnah Berdarah Di Tanah Agam
Wiro Sableng #168 : Mayat Kiriman Di Rumah Gadang
Wiro Sableng #169 : Bulan Sabit Di Bukit Patah
Wiro Sableng #17 : Lima Iblis Dari Nanking
Wiro Sableng #170 : Kupu-Kupu Mata Dewa
Wiro Sableng #171 : Malam Jahanam Di Mataram
Wiro Sableng #172 : Empat Mayat Aneh
Wiro Sableng #173 : Roh Jemputan
Wiro Sableng #174 : Dua Nyawa Kembar
Wiro Sableng #175 : Sepasang Arwah Bisu
Wiro Sableng #176 : Dewi Kaki Tunggal
Wiro Sableng #177 : Jaka Pesolek Penangkap Petir
Wiro Sableng #178 : Tabir Delapan Mayat
Wiro Sableng #18 : Pendekar Pedang Akhirat
Wiro Sableng #180 : Sesajen Atap Langit
Wiro Sableng #181 : Selir Pamungkas
Wiro Sableng #182 : Delapan Pocong Menari
Wiro Sableng #183 : Bulan Biru Di Mataram
Wiro Sableng #184 : Dewi Dua Musim
Wiro Sableng #185 : Jabang Bayi Dalam Guci
Wiro Sableng #19 : Pendekar Dari Gunung Naga
Wiro Sableng #2 : Maut Bernyanyi Di Pajajaran
Wiro Sableng #20 : Hidung Belang Berkipas Sakti
Wiro Sableng #21 : Neraka Puncak Lawu
Wiro Sableng #22 : Siluman Teluk Gonggo
Wiro Sableng #23 : Cincin Warisan Setan
Wiro Sableng #24 : Penculik Mayat Hutan Roban
Wiro Sableng #25 : Cinta Orang Orang Gagah
Wiro Sableng #26 : Iblis Iblis Kota Hantu
Wiro Sableng #27 : Khianat Seorang Pendekar
Wiro Sableng #28 : Petaka Gundik Jelita
Wiro Sableng #29 : Bencana Di Kuto Gede
Wiro Sableng #3 : Dendam Orang-orang Sakti
Wiro Sableng #30 : Dosa Dosa Tak Berampun
Wiro Sableng #31 : Pangeran Matahari Dari Puncak Merapi
Wiro Sableng #32 : Bajingan Dari Susukan
Wiro Sableng #33 : Panglima Buronan
Wiro Sableng #34 : Munculnya Sinto Gendeng
Wiro Sableng #35 : Telaga Emas Berdarah
Wiro Sableng #36 : Dewi Dalam Pasungan
Wiro Sableng #37 : Maut Bermata Satu
Wiro Sableng #38 : Iblis Berjanggut Biru
Wiro Sableng #39 : Kelelawar Hantu
Wiro Sableng #4 : Keris Tumbal Wilayuda
Wiro Sableng #40 : Setan Dari Luar Jagad
Wiro Sableng #41 : Malaikat Maut Berambut Salju
Wiro Sableng #42 : Badai Di Parang Tritis
Wiro Sableng #43 : Dewi Lembah Bangkai
Wiro Sableng #44 : Topeng Buat WIRO SABLENG
Wiro Sableng #45 : Manusia Halilintar
Wiro Sableng #46 : Serikat Setan Merah
Wiro Sableng #47 : Pembalasan Ratu Laut Utara
Wiro Sableng #48 : Memburu Si Penjagal Mayat
Wiro Sableng #49 : Srigala Iblis
Wiro Sableng #5 : Neraka Lembah Tengkorak
Wiro Sableng #50 : Mayat Hidup Gunung Klabat
Wiro Sableng #51 : Raja Sesat Penyebar Racun
Wiro Sableng #52 : Guna Guna Tombak Api
Wiro Sableng #53 : Kutukan Dari Liang Kubur
Wiro Sableng #54 : Pembalasan Pendekar Bule
Wiro Sableng #55 : Misteri Dewi Bunga Mayat
Wiro Sableng #56 : Ratu Mesum Bukit Kemukus
Wiro Sableng #57 : Nyawa Yang Terhutang
Wiro Sableng #58 : Bahala Jubah Kecono Geni
Wiro Sableng #59 : Peti Mati Dari Jepara
Wiro Sableng #6 : Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga
Wiro Sableng #60 : Serikat Candu Iblis
Wiro Sableng #61 : Makam Tanpa Nisan
Wiro Sableng #62 : Kamandaka Si Murid Murtad
Wiro Sableng #63 : Neraka Krakatau
Wiro Sableng #64 : Betina Penghisap Darah
Wiro Sableng #65 : Hari-Hari Terkutuk
Wiro Sableng #66 : Singa Gurun Bromo
Wiro Sableng #67 : Halilintar Di Singosari
Wiro Sableng #68 : Pelangi Di Majapahit
Wiro Sableng #69 : Ki Ageng Tunggul Keparat
Wiro Sableng #7 : Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin
Wiro Sableng #70 : Ki Ageng Tunggul Akhirat
Wiro Sableng #71 : Bujang Gila Tapak Sakti
Wiro Sableng #72 : Purnama Berdarah
Wiro Sableng #73 : Guci Setan
Wiro Sableng #74 : Dendam Di Puncak Singgalang
Wiro Sableng #75 : Harimau Singgalang
Wiro Sableng #76 : Kutunggu Di Pintu Neraka
Wiro Sableng #77 : Kepala Iblis Nyi Gandasuri
Wiro Sableng #78 : Pendekar Gunung Fuji
Wiro Sableng #79 : Ninja Merah
Wiro Sableng #8 : Dewi Siluman Bukit Tunggul
Wiro Sableng #80 : Sepasang Manusia Bonsai
Wiro Sableng #81 ; Dendam Manusia Paku
Wiro Sableng #82 : Dewi Ular
Wiro Sableng #83 : Wasiat Iblis
Wiro Sableng #84 : Wasiat Dewa
Wiro Sableng #85 : Wasiat Sang Ratu
Wiro Sableng #86 : Delapan Sabda Dewa
Wiro Sableng #87 : Muslihat Para Iblis
Wiro Sableng #88 : Muslihat Cinta Iblis
Wiro Sableng #89 : Geger Di Pangandaran
Wiro Sableng #9 : Rahasia Lukisan Telanjang
Wiro Sableng #90 : Kiamat Di Pangandaran
Wiro Sableng #91 : Tua Gila Dari Andalas
Wiro Sableng #92 : Asmara Darah Tua Gila
Wiro Sableng #93 : Lembah Akhirat
Wiro Sableng #94 : Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #95 : Jagal Iblis Makam Setan
Wiro Sableng #96 : Utusan Dari Akhirat
Wiro Sableng #98 : Rahasia Cinta Tua Gila
Wiro Sableng #99 : Wasiat Malaikat


LOAD MORE INSPIRATIONS...

© www&mdot;nomor1&mdot;com · [email protected]&mdot;com · terms of use · privacy policy · 172.68.65.57
team developer · pt excenture indonesia · central park podomoro city · jakarta indonesia