Wiro Sableng #116 : Hantu Selaksa Angin
WIRO SABLENG

Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212

Karya: Bastian Tito

Episode : PETUALANGAN WIRO DI LATANAHSILAM

SENGATAN sinar matahari di wajah dan sekujur badannya menyadarkan Pendekar 212 Wiro Sableng. Perlahan-lahan dia buka kedua matanya tapi serta merta dipicingkan kembali, tak tahan oleh silaunya cahaya matahari. Sambil melindungi matanya dengan tangan kiri Wiro mencoba bangkit dan duduk di tanah.

"Ampun, sekujur tubuhku sakit bukan main. Tulangtulang serasa copot. Kepalaku mendenyut tak karuan. Apa yang terjadi dengan diriku...?" Wiro buka kembali sepasang matanya. Lalu memandang berkeliling. Dia dapatkan dirinya berada di satu kawasan berbatu-batu di kaki sebuah bukit kecil. Pakaiannya kotor bahkan ada robekanrobekan di beberapa tempat. Lengan serta kakinya lecet. Ketika dia meraba kening sebelah kiri ternyata kening itu benjut cukup besar. Di depan sana dia melihat beberapa pohon besar bertumbangan. Semak belukar berserabutan dan bertebaran di mana-mana.

"Kaki bukit batu... Pohon-pohon tumbang... Sunyi. Di mana ini... Bagaimana aku bisa berada di tempat ini?" Wiro kembali memandang berkeliling. Dia coba mengingat-ingat sambil menggaruk kepala. Seperti diceritakan dalam episode terdahulu, "Rahasia Perkawinan Wiro", sebelum dinikahkan oleh Lamahila, si nenek juru nikah itu telah memberi minuman yang disebut Embun Murni kepada Wiro. Akibat meneguk minuman aneh itu Wiro menjadi seperti hilang kesadarannya dan mau melakukan apa yang dikatakan si nenek. Bahkan dia tidak sadar kalau telah melakukan upacara pernikahan dengan Hantu Santet Laknat yang berubah ke ujud aslinya, berupa seorang dara cantik jelita bernama Luhrembulan.

"Edan!" Wiro tepuk keningnya sendiri. "Otakku tak bisa bekerja! Jangan-jangan otakku sudah tak ada lagi dalam batok kepala!" Wiro jitak-jitak keningnya sendiri hingga mengeluarkan suara tuk... tuk... tuk. Pendekar ini lalu menyeringai sendiri. "Ah...! Dari bunyinya jelas otakku masih ada dalam kepala. Tapi mengapa aku tak bisa berpikir, tak bisa mengingat-ingat! Agaknya aku harus menenangkan diri, atur jalan nafas dan peredaran darah!

Jangan-jangan telah terjadi sesuatu dengan diriku!" Wiro ingat pada senjatanya. Dia susupkan tangan ke balik pakaian. Dia merasa lega. Ternyata Kapak Maut Naga Geni 212 masih terselip di pinggangnya. Lalu batu sakti hitam pasangan kapak juga ada di dekat senjata itu.

Untuk sesaat Wiro genggam hulu kapak sakti bermata dua itu. Hawa sejuk memasuki tangannya, perlahan-lahan mengalir ke dalam tubuh. Di dalam aliran darah hawa sejuk itu berubah menjadi hangat. Bilamana perasaan dan pikirannya menjadi tenang, Wiro rubah duduknya jadi bersila. Dua tangan diletakkan di atas paha, mata dipejamkan. Begitu dirasakannya ada ketenangan dalam dirinya, sang pendekar mulai mengerahkan hawa sakti serta mengatur pernafasan dan aliran darah dalam tubuhnya. Tak selang berapa lama didahului dengan menghirup udara segar lewat hidung, kemudian perlahan-lahan menghembuskannya lewat mulut, Wiro buka sepasang matanya.

"Hemmm... Syukur otakku tidak sableng benaran. Kini aku ingat apa yang terjadi. Aku berada di puncak bukit ketika tiba-tiba badai datang mengamuk. Mungkin aku dihantam badai celaka itu, terlempar ke bawah bukit ini.

Sebelum terlempar aku ingat betul. Ada satu suara memanggil namaku. Siapa dia...? Luh... Luhrembulan! Astaga...! Bukankah gadis cantik penjelmaan Hantu Santet Laknat itu yang memanggil aku sebagai suaminya? Katanya aku dan dia telah dinikahkan oleh Lamahila. Ya Tuhan! Bagaimana semua itu bisa terjadi?!"

Pendekar 212 Wiro Sableng serta merta bangkit berdiri.

Dia memandang ke puncak bukit. "Luhrembulan... Apakah dia masih ada di atas bukit itu? Jangan-jangan badai telah mencelakainya. Apakah aku harus menyelidik naik ke atas bukit? Tapi kalau aku memang sudah jadi suaminya, bisabisa aku... Gila! Aku tak mau cari penyakit. Lebih baik segera aku angkat kaki saja dari tempat ini!" Wiro layangkan lagi pandangan ke arah puncak bukit lalu tanpa menunggu lebih lama dia segera balikkan badan untuk melangkah pergi. Tapi belum sempat langkah dibuat tibatiba dari balik serumpunan semak belukar melesat dua sosok tubuh. Lalu dari atas sebatang pohon miring, laksana seekor burung besar melayang turun seorang berpakaian serba hitam. Dari sepasang matanya menyambar dua larik kobaran api.

Murid Eyang Sinto Gendeng tersurut satu langkah. Dia cepat memasang kuda-kuda. Dua kaki tegak merenggang seperti dipantek ke tanah. Dua tangan disilang di depan dada. Saat itu dia dapatkan dirinya telah dikurung oleh tiga orang. Ternyata tidak cuma tiga! Orang ke empat muncul dari balik tumbangan pohon besar. Dia melangkah sambil menggoyang sebuah rebana yang ada kerincingannya di tangan kiri. Mukanya yang kempot keriputan cengar-cengir. Barisan giginya tonggos berserabutan ke depan. Setiap langkah yang dibuatnya seperti orang menari mengikuti suara kerincingan yang sesekali diseling tabuhan rebana. Di punggungnya tersisip sebuah payung terbuat dari rangkaian daun-daun kering. Lalu di sebelah bawah kelihatan celananya yang di bagian belakang selalu didodorkan ke bawah hingga pantatnya yang hitam kasap tersingkap ke mana-mana!

"Pelawak Sinting palsu! Jahanam ini dulu yang hampir mencelakaiku di sarangnya Hantu Muka Dua..." membatin Wiro. "Kabarnya sejak didamprat saudara kembarnya Si Pelawak Sinting asli, dia telah berubah baik. Sekarang dia muncul di sini! Apa membawa niat baik atau niat jahat! Apa dia muncul bersama yang lain-lain ini?"

Wiro melirik ke samping kiri. Di situ tegak sosok berjubah hitam berwajah dan bertubuh jerangkong. Makhluk ini bukan lain adalah Sang Junjungan, guru Hantu Santet Laknat. Sebelumnya Wiro memang tidak pernah melihat makhluk ini hingga tidak mengetahui siapa dia adanya.

Orang ke tiga berdiri berdampingan dengan orang ke empat. Yang di sebelah kanan ternyata adalah Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab. Otaknya yang terletak di atas kepala tampak mendenyut keras, mukanya mengelam pertanda orang tua berkepandaian tinggi ini tengah berusaha menindih hawa amarah yang saat itu menggelegak di dadanya. Dua matanya memandang garang tak berkesip ke arah Pendekar 212. Sebaliknya Wiro balas memandang dengan hidung dan mulut dipencongkan. Dalam hati dia berkata. "Bangsat tua yang otaknya di luar kepala ini yang telah mencelakai diriku. Kalau tidak ditolong Hantu Santet Laknat, tendangan beracunnya pasti membuat aku saat ini sudah berada di alam roh! Sialan betul!"

Di sebelah Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab tegak seorang kakek berpakaian serba ungu. Dialah Lawungu, kakek yang pernah disantet oleh Hantu Santet Laknat. Berkat sebuah sendok sakti terbuat dari emas bernama Sendok Pemasung Nasib kakek yang hampir meregang nyawa ini berhasil ditolong dan disembuhkan.

Tidak beda dengan Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab, kakek satu ini juga memandang penuh geram pada Wiro.

Seperti dituturkan dalam episode "Badai Fitnah Latanahsilam", demi menolong Pendekar 212 Wiro

Sableng, Hantu Santet Laknat mengikat Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab dengan ular jejadian yang sebenarnya adalah tali yang terbuat dari akar gantung pohon besar. Ilmu hitam si nenek ternyata berhasil membuat Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab tidak berdaya. Hantu Santet Laknat kemudian melarikan Wiro, membawanya ke sebuah gubuk di satu bukit di mana dia memberikan pengobatan pada sang pendekar hingga sembuh.

Begitu juga Lawungu. Ketika dia muncul dan hendak menolong Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab, Naga Kuning dan Setan Ngompol bersama Betina Bercula yang juga muncul tak terduga di tempat itu segera bertindak. Kakek satu ini berhasil mereka lumpuhkan dengan jalan menotok. Setelah itu baik Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab maupun Lawungu dipermainkan habis-habisan oleh ketiga orang itu. Lawungu dikencingi mulutnya oleh Setan Ngompol sedang Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab pakaiannya sebelah bawah perut disusupi berbagai binatang seperti kalajengking, kodok, semut rangrang, kadal, cacing dan sebagainya.

Bagaimana kini dua kakek sakti itu bisa membebaskan diri lain tidak adalah berkat pertolongan Si Pelawak Sinting palsu yang kebetulan lewat di tempat itu. Semula Si Pelawak Sinting yang otaknya agak miring angin-anginan ini tidak mau menolong kedua orang itu. Namun setelah dibujuk-bujuk akhirnya dia mau juga melepaskan ikatan di tubuh Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab lalu memusnahkan totokan yang membuat kaku tegak Lawungu. Malah kemudian karena ingin tahu apa yang hendak dilakukan dua kakek itu, Si Pelawak Sinting palsu mengikuti perjalanan keduanya.

"Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab dan Lawungu jelas tidak bersahabat denganku! Sebelumnya mereka hendak menggantungku. Nyawaku pasti amblas kalau tidak ditolong Hantu Santet Laknat. Si muka jerangkong ini melihat gerak-geriknya dia juga tidak berada di pihakku. Entah si Pelawak Sinting brengsek itu..." Begitu Wiro membatin. Dia memutuskan berdiam diri. Menunggu apa yang hendak diperbuat orang-orang yang telah mengurungnya itu. Ternyata Wiro tidak menunggu lama. Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab membuka mulut pertama kali. Suaranya keras lantang dan bergetar.

***2PEMUDA asing seribu laknat seribu keparat! Akhirnya kutemui juga kau! Kali ini jangan harap bisa lolos dari tanganku!"

"Orang tua! Percuma otakmu berada di luar kepala. Kau pasti masih saja menuduhku sebagai perusak dan penganiaya dua cucumu!"

"Hal itu sudah jelas!" ikut bicara Lawungu. "Sebelum sahabatku ini membunuhmu lekas kau memberitahu di mana beradanya nenek jahat bernama Hantu Santet Laknat itu!"

Seperti diketahui, Lawungu membekal dendam kesumat sangat besar terhadap si nenek karena Hantu Santet Laknatlah yang telah menyantet tubuhnya hingga hampir menemui ajal dalam keadaan membusuk. Sebenarnya diam-diam Lawungu dan Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab juga tengah mencari Setan Ngompol dan Naga Kuning yang beberapa waktu lalu telah mengerjainya. Tapi karena ada rasa takut terhadap Naga Kuning, maka Lawungu tidak menanyakan tentang kedua orang itu pada Wiro.

Wiro melirik ke arah orang bermuka tengkorak berbadan jerangkong yang dipanggil dengan sebutan Sang Junjungan. Orang ini tegak tak bergerak. Rambut putih di batok kepalanya kelihatan aneh. Di dalam sepasang matanya yang bolong kelihatan cahaya merah seperti ada kobaran api di dalam kepalanya. "Agaknya si makhluk jerangkong ini tidak datang bersama Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab dan kakek jubah ungu itu," Wiro menduga dalam hati.

Tiba-tiba ada suara kerincingan disusul suara rebana ditabuh. "Na... na... na... Ni... ni... ni!" Di sebelah sana si Pelawak Sinting mulai menyanyi sambil menari. Pantatnya tersingkap ogel-ogelan kian kemari!

"Jahanam sinting! Berhenti menabuh rebana! Tutup mulut dan berhenti menari! Aku tidak membawamu kemari! Kau yang mengikuti perjalanan kami berdua. Jadi harap kau tahu diri! Jangan mengacau urusan orang lain! Kalau tidak bisa berdiam diri lindang hapus dari sini!" Yang membentak penuh marah adalah Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab.

Dibentak seperti itu Si Pelawak Sinting tampak kaget. Mukanya yang keriput sampai pucat sesaat. Lalu dia geleng-geleng kepala. "Nasibku buruk amat! Karena hati gembira aku menari dan menyanyi. Tapi orang menganggap aku mengacau! Aku diusir pergi! Mungkin suaraku tidak bagus! Tarianku buruk!"

"Pelawak Sinting! Jangan kau mengomel tak karuan di sini!" Lawungu ikut membentak.

Si Pelawak Sinting letakkan rebananya di atas kepala. Lalu di atas rebana ini diletakkannya gagang daun payung. Walau melangkah sambil goleng-golengkan kepala tapi rebana dan payung itu tidak jatuh. Sembari berjalan ke arah satu pohon besar kakek ini menjawabi bentakan Lawungu dengan gerutuan.

"Terima kasih! Aku tidak mengomel. Hanya saja apa kau tidak bisa mengingat budi orang? Kalau aku tidak menemukan kalian berdua, kalau bukan aku yang menolong kalian akan mati membusuk di tengah rimba belantara! Tidak kalian usirpun aku memang ingin pergi!

Orang sinting macamku mana cocok di satu tempat dengan orang-orang hebat seperti kalian!" Si Pelawak Sinting songgengkan pantatnya lalu teruskan langkahnya. Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab marah bukan main. Lawungu hendak mengejar kakek itu tapi Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab cepat memberi isyarat dan berkata.

"Biarkan saja orang gila itu pergi! Kita tidak membutuhkannya lagi! Urusan kita adalah dengan pemuda jahanam ini!"

"Na... na... na! Ni... ni... ni! Terima kasih! Begitulah sifat manusia. Ketika membutuhkan, mengemis bahkan menjilat pantat orangpun mau! Hik... hik! Tapi kalau sudah terlepas dari kesulitan, uhhh... Sombongnya minta ampun. Hik... hik... hik!" Sambil melangkah ke arah pohon besar di depannya Si Pelawak Sinting palsu terus nyerocos. "Orang bijak berkata bahwa orang tua-tua itu menjadi pegangan hati dan perasaannya, menjadi cermin otak dan jalan pikirannya, menjadi panutan sikap dan tindakannya. Tapi kalian berdua semakin tua semakin lupa diri. Tidak heran kalau berkat dan perlindungan para Dewa tidak sampai atas diri kalian! Musibah berkepanjangan. Tidak heran makhluk yang namanya Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab kini tidak punya kemampuan lagi untuk jadi tempat bertanya dan tempat mencari jawab! Na... na... na! Ni... ni... ni! Hik... hik!"

Wajah Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab menjadi merah padam mendengar kata-kata Si Pelawak Sinting palsu itu. Wiro sendiri sempat tercengang tapi sekaligus membatin.

"Jangan-jangan apa yang dikatakan kakek sinting itu benar adanya. Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab telah kehilangan kepandaiannya dalam mengetahui banyak hal. Karena sikap dan perbuatannya telah banyak menyimpang. Tidak lagi mendapat restu Yang Kuasa!"

Otak di atas kepala Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab mendenyut keras seperti hendak meledak keluar. "Tua bangka jahanam ini harus kupatahkan batang lehernya sekarang juga!" katanya penuh geram.

"Sabar wahai kerabatku! Jangan sampai terpancing! Manusia tak berguna itu bisa kita urus kemudian. Yang penting pemuda ini dulu!" Kembali Lawungu memberi ingat sahabatnya itu.

Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab terpaksa tekan amarahnya yang meluap. Dia dan Lawungu berpaling kembali menghadapi Pendekar 212 Wiro Sableng. Akan halnya Si Pelawak Sinting ternyata kakek ini tidak benarbenar pergi. Begitu dia kelindungan di balik pohon, dengan satu lompatan enteng dia melesat ke atas pohon lalu duduk di salah satu cabang. Luar biasanya walau dia membuat lompatan cukup tinggi, rebana dan payung di atas kepalanya tidak bergerak seolah menempel erat. Kerincingan yang ada di sekeliling rebana juga tidak mengeluarkan suara sedikitpun!

"Pemuda asing! Apa kau mendadak jadi bisu! Tidak mau menjawab pertanyaanku! Di mana beradanya Hantu Santet Laknat! Kami tahu dia yang membawamu setelah mencelakai sahabatku ini!" Lawungu kembali membuka mulut.

"Dia memang membawaku. Dia mengobati luka dalam akibat tendangan beracun kakek yang otaknya di luar

kepala ini! Setelah menolong diriku dia pergi begitu saja. Di mana dia kini berada aku tidak tahu!"

"Hemmm..." Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab keluarkan suara bergumam. "Setelah menerima budi orang kau unjukkan sikap baik, sengaja melindungi dirinya. Tidak mau memberitahu di mana dia berada! Makin jelas bagiku kalau kau memang terlibat cinta dengan nenek jahat buruk itu!"

Wiro jadi kesal. Dalam hati dia membatin. "Tua bangka berotak geblek! Kalau kau melihat ujud asli Hantu Santet Laknat, rasanya aku berani bertaruh mencungkil mataku sendiri. Kau pasti terpikat habis-habisan padanya!" Wiro pandangi otak si kakek yang bertengger berdenyut di atas kepalanya. Murid Sinto Gendeng lalu meneruskan ucapannya.

"Aku memang tidak tahu di mana nenek itu berada! Bukan karena ingin melindunginya. Tapi karena aku orang tolol tidak tahu apa-apa! Sebaliknya kau orang pintar! Percuma kau bernama Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab kalau tidak mampu mengetahui di mana Hantu Santet Laknat berada. Mungkin benar ucapan Si Pelawak Sinting tadi. Kau telah kehilangan kepandaianmu karena kelewat sombong! Mulai hari ini biar kuganti namamu menjadi Hantu Sejuta Tolol Sejuta Dungu!"

Mendidihlah amarah Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab mendengar ejekan Pendekar 212. Apalagi Lawungu ikut membakar.

"Sahabatku! Orang tak mau memberi keterangan. Apalagi yang ditunggu. Kita habisi dia sekarang juga!"

"Kau benar Lawungu! Tanganku memang sudah gatal ingin menghajarnya! Dia tidak layak berada lebih lama di bumi Latanahsilam ini! Tempatnya adalah alam kematian! Rohnya akan tergantung sengsara antara langit dan bumi! Aku lebih puas jika aku sendiri yang menghabisinya!"

Begitu selesai berucap Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab langsung menerjang.

Sebenarnya melihat Wiro dalam keadaan hidup merupakan satu tanda tanya besar bagi kakek sakti yang otaknya ada di luar batok kepala ini. Sebelumnya dalam satu perkelahian dia berhasil menghantam dada Pendekar 212 dengan Tendangan Hantu Racun Tujuh. Selama ini tidak ada satu orangpun yang selamat dari tendangan itu. Kalaupun mampu bertahan maka dalam waktu dua hari akhirnya akan menemui ajal. Kalau Wiro masih hidup berarti memang ada seorang berkepandaian tinggi yang telah menolongnya. Tetapi sulit dipercaya kalau Hantu Santet Laknat yang menolong pemuda ini. Walau tadi dia menuduh Wiro mempunyai hubungan asmara dengan Hantu Santet Laknat namun setahu Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab si nenek sejak lama berseteru hebat dengan Wiro dan kawan-kawannya.

Sosok Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab melesat di udara. Kakek sakti ini siap melancarkan pukulan yang disebut Menara Mayat Meminta Nyawa. Ini merupakan salah satu serangan sangat berbahaya. Jelas si kakek memang ingin membunuh Wiro. Sang pendekar tentu saja tidak tinggal diam. Sebelumnya dia mempunyai rasa hormat dan kagum terhadap orang tua ini. Ternyata sifat dan sikap serta bicara Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab jauh berbeda dengan apa yang diduganya. Karenanya Wiropun tidak sungkan-sungkan lagi. Begitu dirinya diserang dia segera siapkan pukulan Sinar Matahari di tangan kanan sedang tangan kiri digerakkan untuk melancarkan pukulan Benteng Topan Melanda Samudera. Tiba-tiba dari arah kiri menggelegar satu bentakan. Suara bentakan ini seolah datang dari liang jurang batu yang dalam hingga untuk beberapa lamanya menggema di seantero tempat.

"Tahan serangan!"

Menyusul berkelebat satu bayangan hitam, membuat gerakan Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab tertahan. Sosoknya sesaat seperti mengapung di udara lalu terdorong ke samping.

Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab terkejut besar. Terlebih ketika dia melihat yang barusan memapaki serangan mautnya terhadap Pendekar 212 Wiro Sableng adalah si jubah hitam muka tengkorak tubuh jerangkong.

"Makhluk salah ujud! Tempatmu seharusnya di neraka! Jadi kalau kau sesat datang kemari jangan berani mencampuri urusan orang!" Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab membentak marah. "Setahuku bukankah kau adalah guru Hantu Santet Laknat. Kita memang tidak berada di satu pihak. Tapi adalah aneh kau membela pemuda asing yang menjadi musuh muridmu itu! Malah bukankah kau yang selama ini memberi perintah pada Hantu Santet Laknat untuk menghabisi pemuda asing ini bersama teman-temannya?! Jangan memaksa diriku untuk ikut menghabisi dirimu saat ini juga!"

Makhluk muka tengkorak yang dipanggil dengan sebutan Sang Junjungan tertawa bergelak.

"Otak anehmu rupanya tahu banyak. Kau tentunya makhluk paling pintar di bumi Negeri Latanahsilam ini. Tapi mengapa tadi pemuda itu menyebutmu sebagai Hantu Sejuta Tolol Sejuta Dungu! Ha... ha... ha...! Orang tua berotak aneh! Kau dengar baik-baik. Langit di atas bumi Latanahsilam ini boleh tetap sama. Samudera yang mengelilingi negeri ini juga tetap sama. Tapi ujud hubungan manusia bisa berubah!"

"Apa maksudmu?" tanya Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab.

"Sahabatku! Kau tidak perlu bicara berpanjang lebar pada makhluk yang kesasar datang dari liang kubur ini! Kau bunuh pemuda asing itu! Aku biar menghabisi jahanam sesat bermuka tengkorak bertubuh jerangkong ini!" Yang bicara adalah Lawungu.

Ketika Sang Junjungan memapasi serangan Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab, Pendekar 212 sebenarnya juga merasa heran. Semula dia menduga makhluk muka tengkorak itu menghalangi serangan Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab karena dia tidak ingin kedahuluan. Karena pasti dia juga membekal maksud untuk membunuh dirinya. Namun mendengar ucapan si muka tengkorak tadi, hati sang pendekar jadi bertanya-tanya.

Setuju akan ucapan Lawungu maka Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab segera menyerbu. Dari tangan kanannya yang dihantamkan ke arah Wiro menderu keluar satu gulungan sinar putih sebesar batang kelapa. Dalam jarak beberapa langkah dari Wiro tiba-tiba sinar ini memecah menjadi tujuh! Inilah kedahsyatan ilmu pukulan yang disebut Menara Mayat Meminta Nyawa!

Di bagian lain Lawungu sudah menghantam pula ke arah si muka tengkorak. Dua tangannya dipukulkan ke depan. Dua larik sinar ungu berkiblat dari ujung-ujung lengan jubahnya! Si muka tengkorak berseru keras ketika merasakan tubuhnya mulai dari kepala sampai ke kaki laksana dihimpit dua dinding batu!

"Pukulan Bumi Langit Menghimpit Roh!" teriak si muka tengkorak mengenali pukulan yang dilepaskan Lawungu.

***3SETELAH berteriak makhluk muka tengkorak tubuh jerangkong yang dikenal dengan panggilan Sang Junjungan itu angkat dua tangannya di depan dada, lalu ditepiskan ke kiri dan ke kanan. Bersamaan dengan itu dia goyangkan kepalanya. Dari sepasang matanya yang hanya merupakan bolongan melesat keluar dua larik lidah api. Lalu dari dua tangannya yang tadi dipukulkan menyilang menderu satu gelombang angin yang dahsyatnya bukan alang kepalang!

Wusss! Wusss!

Bummm!

Sang Junjungan terpental dua tombak.

Murid Eyang Sinto Gendeng dari Gunung Gede terbeliak kaget ketika melihat apa yang terjadi dengan sosok Sang Junjungan. Akibat pukulan Bumi Langit Menghimpit Roh yang dilancarkan Lawungu, tubuh makhluk muka tengkorak badan jerangkong itu ciut gepeng laksana habis digencet dua batu besar! Walau masih berdiri tapi tingginya hanya tinggal selutut. Dari tubuh gepeng itu mengepul asap kelabu. Dari mata, telinga, liang hidung dan mulutnya mengucur cairan putih.

"Aneh, apakah makhluk ini memiliki darah berwarna putih..." pikir Wiro. Dia terus memperhatikan.

Tubuh gepeng Sang Junjungan berdiri dengan lutut goyah, terhuyung limbung. Jubah hitamnya menjela-jela di tanah dan kelihatan hangus robek di beberapa bagian, menyembulkan sosok tubuhnya yang hanya merupakan tulang belulang putih. Sang Junjungan gerak-gerakkan kepalanya berulang kali. Dua tangannya digeliatkan ke samping. Lalu sepasang kakinya yang tinggal pendek dihentak-hentakkan ke tanah. Rambut putihnya berjingkrak tegak seperti kawat. Tiba-tiba, rrrttttt!

Seperti sebuah benda kenyal terbuat dari karet, tubuh Sang Junjungan membal ke atas, berubah panjang, kembali ke bentuknya semula!

Di bagian lain kakek berjubah ungu Lawungu terduduk di tanah. Mukanya yang penuh keriput kelihatan merah kelam dan mengepulkan asap seperti udang baru direbus. Bahu dan dadanya tersentak-sentak. Dari mulutnya mengucur darah merah. Jubah ungunya tak karuan rupa, hangus dan cabik-cabik di sana-sini. Matanya terbelalak memandang ke arah Sang Junjungan.

"Seumur hidup baru kali ini pukulan Bumi Langit Menghimpit Roh yang kulepaskan tidak sanggup memusnahkan lawan! Seharusnya dia sudah hancur ludes berkeping-keping." Lawungu batuk-batuk beberapa kali.

Dari mulutnya menyembur darah kental. "Aku terluka di dalam..." si kakek menyadari apa yang terjadi dengan dirinya. Dua tangannya cepat ditekapkan ke dada untuk mengalirkan tenaga dalam.

Dengan susah payah Lawungu coba bangkit berdiri. Mukanya semakin mengelam merah ketika di depan sana makhluk muka tengkorak keluarkan suara tertawa mengekeh. Tiba-tiba dari atas pohon terdengar suara rebana ditabuh, disusul gema suara kerincingan. Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab melirik ke atas pohon besar.

Ternyata Si Pelawak Sinting palsu berada di atas pohon itu, duduk berjuntai di salah satu cabang sambil memukul rebana dan menggoyang kerincingannya. Ketika tahu Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab melirik ke arahnya, kakek geblek ini julurkan lidahnya! Sang Junjungan kembali tertawa mengekeh. Lalu dia hentikan tawanya dan memandang dengan dua bolongan merah yang merupakan mata di kepala tengkoraknya.

"Sudah lama aku mendengar kehebatan pukulan sakti Bumi Langit Menghimpit Roh! Ternyata hanya ilmu kosong tak ada apa-apanya! Lawungu, apa kau masih punya daya menghadapiku barang dua tiga jurus lagi?!"

Rahang Lawungu sampai menggembung dan keluarkan suara bergemeretak saking marahnya mendengar ejekan orang. Kakek ini jadi kalap.

"Makhluk sesat keparat! Aku mengadu nyawa denganmu! Tempatmu di pusaran neraka! Aku akan kembalikan kau ke sana!"

Wuuuttt!

Tubuh Lawungu berkelebat. Sosoknya berubah menjadi bayang-bayang ungu. Dibarengi suara menggemuruh bayang-bayang ungu itu kemudian menebar menjadi lima, melabrak ke arah Sang Junjungan. Inilah serangan yang disebut Badai Lima Penjuru. Sosok Sang Junjungan seolah dihantam badai yang datang dari lima penjuru, semuanya melabrak dari arah depan!

Makhluk muka tengkorak keluarkan teriakan keras. Lalu melompat setinggi dua tombak. Sambil menghindari serangan Badai Lima Penjuru orang ini pukulkan dua tangannya ke depan. Belasan larikan sinar biru menggelegar di udara, bergulung membuntal membentuk dua jaring besar yang kemudian menukik menerpa ke arah Lawungu.

"Api Iblis Penjaring Roh!" seru Lawungu kaget. Dia yang sudah tahu kehebatan jaring api biru ini segera jatuhkan diri ke tanah lalu berguling menjauh. Jaring pertama jatuh di atas sebuak semak belukar. Semak belukar ini langsung tenggelam dan musnah dalam kobaran api. Jaring kedua mendarat di atas sebuah batu besar. Batu ini bergemeretak keras, hancur lebur dalam kepingan berwarna merah menyala!

Lawungu usap mukanya yang pucat. Tengkuknya keluarkan keringat dingin. Nyalinya bukan saja ciut akibat serangan ganas dua buah jaring api biru tadi, tapi dia juga jadi terperangah karena serangan Badai Lima Penjuru yang dilancarkannya hanya menghantam udara kosong lalu menyambar beberapa pohon besar hingga bertumbangan.

Dalam hati Lawungu membatin. "Kalau aku terus melayani makhluk ini dalam pertempuran jarak jauh, cepat atau lambat aku pasti akan kena dicelakainya. Tak ada jalan lain. Aku harus mengeluarkan ilmu Menyatu Jazad Dengan Alam. Tubuhnya harus aku pantek ke pohon atau ke batu. Tapi bagaimana caranya aku bisa merangsak mendekatinya!"

Sementara itu di bagian yang lain Pendekar 212 Wiro Sableng tengah menghadapi serbuan serangan Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab. Tubuh si kakek telah berubah menjadi bayang-bayang putih. Tendangan dan pukulannya mendera ganas. Wiro yang sebelumnya pernah berkelahi melawan Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab dan hampir menemui ajal akibat tendangan Hantu Racun Tujuh berlaku sangat hati-hati.

Dalam lima jurus pertama Wiro keluarkan jurus-jurus Ilmu Silat Orang Gila yang didapatnya dari Tua Gila. Walau dia bisa mengimbangi namun ada rasa khawatir lawan akan berhasil menjebol pertahanannya. Maka murid Sinto Gendeng menghantam dengan pukulan Benteng Topan Melanda Samudera, disusul dengan terjangan Segulung Ombak Menerpa Karang. Selagi lawan dibikin sibuk Wiro lanjutkan gerakannya dengan jurus-jurus hebat dari ilmu silat yang bersumber pada Kitab Putih Wasiat Dewa.

Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab tersentak kaget ketika merasakan gelombang serangan lawan mengeluarkan hawa aneh yang membuat tubuhnya tertekan ke belakang sementara kuda-kuda sepasang kakinya menjadi berat, membuat dia sulit bergerak cepat walau memiliki ilmu meringankan tubuh yang tinggi. Karenanya tidak menunggu lebih lama kakek ini segera keluarkan ilmu andalannya yaitu Memeluk Bumi Menghantam Matahari.

Tangan kiri Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab mendadak berubah menjadi panjang. Meluncur seperti ular besar, melibat ke bagian belakang Wiro. Bersamaan dengan itu tangan kanannya datang menggebuk dari depan. Pendekar 212 keluarkan seruan tertahan ketika tibatiba merasa lehernya kena dicekal lalu ditarik ke depan. Di saat yang sama dari depan datang melabrak jotosan tangan kanan lawan yang mempunyai daya berat atau bobot sebesar lima puluh kati!

Wiro cepat bentengi dirinya dengan jurus Membuka Jendela Memanah Matahari. Dua tangannya menghantam ke kiri dan ke kanan.

Bukk! Bukkk!

Dua lengan saling beradu. Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab hampir tidak percaya ketika merasa dua kakinya terangkat dari tanah sampai satu jengkal. Tangan kanannya yang dipakai menjotos seperti dihantam pentungan besi. Sambil menahan sakit kakek ini terpaksa melompat mundur. Wiro yang menyangka berhasil mendesak lawan dengan cepat kirimkan serangan susulan dalam jurus Kepala Naga Menyusup Awan. Tangan kanannya laksana kilat menyusup ke atas, mencari sasaran di dagu si kakek. Tetapi justru saat itu Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab telah menunggu dengan ilmu yang bisa membuat lawan menjadi kaku dan gagu tanpa menyentuh. Tangan kanannya diletakkan di otak di atas kepalanya. Lalu tangan kiri dipukulkan di depan.

"Pukulan Membuhul Urat Mengikat Otot! Wiro! Cepat menghindar!" Tiba-tiba ada orang berteriak.

Pendekar 212 serta merta ingat. Dengan ilmu itulah dulu dia pernah dilumpuhkan oleh Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab. Ketika dia dibawa lari diselamatkan Hantu Santet Laknat dia hanya mampu memusnahkan kelumpuhan pada jalan suaranya tapi dia sama sekali tidak sanggup membebaskan tubuhnya dari kekakuan.

"Benar-benar goblok kalau aku sampai dua kali kena dikerjai kakek sialan ini!" pikir Wiro. Tapi entah mengapa dua kakinya mendadak seperti hilang rasa. Otaknya masih bekerja menyuruhnya segera melompat tapi saat itu Wiro merasa seolah dia tidak punya kaki lagi!

"Celaka!" keluh murid Sinto Gendeng. "Kakek sialan ini pasti punya ilmu aneh! Aku tak bisa menggerakkan kaki! Aku tak bisa melompat selamatkan diri!"

Sesaat lagi angin pukulan yang melumpuhkan itu akan menyentuh muka dan tubuh Pendekar 212 mendadak ada suara siutan keras. Sebuah benda ungu melayang di udara, memapas antara Wiro dan Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab. Lalu terdengar suara orang berteriak.

"Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab! Tahan serangan!"

Kakek berjubah putih yang otaknya di atas kepala itu tersentak kaget Dia cepat menarik pulang tangannya ketika menyadari apa dan siapa yang melayang di hadapannya itu. Namun terlambat! Angin pukulan Membuhul Urat Mengikat Otot telah lebih dulu menerpa sosok yang melayang di depan Wiro. Begitu terkena sosok ini langsung kaku dan, buukkk! Jatuh bergedebuk keras di tanah!

"Lawungu!" teriak Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab lalu dengan cepat dia jatuhkan diri menubruk sosok Lawungu yang tergelimpang di tanah dalam keadaan kaku. Mulutnya terbuka tapi suaranya yang keluar hanya suara megapmegap.

Sang Junjungan tertawa mengekeh sambil rangkapkan tangan di depan dada. Dialah tadi yang telah melemparkan sosok Lawungu untuk dipakai sebagai tameng melindungi Pendekar 212 Wiro Sableng. Sebelumnya antara Lawungu dan Sang Junjungan kembali terjadi pertempuran hebat. Ternyata Lawungu tidak mampu menghadapi lawannya. Delapan jurus di muka dalam keadaan terdesak hebat, Sang Junjungan berhasil menggebuknya dengan beberapa pukulan. Ketika dia terhuyung hampir roboh, Sang Junjungan yang melihat bahaya besar mengancam Wiro segera sambar tubuh Lawungu lalu dilemparkannya ke arah Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab yang tengah melepas pukulan Membuhul Urat Mengikat Otot, Akibatnya tak ampun lagi serangan yang melumpuhkan itu menghantam kawan sendiri!

Suara tawa Sang Junjungan membuat Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab seperti dipanggang. Darahnya mendidih. Otak di dalam selubung bening di atas kepalanya mendenyut keras dan mengepulkan asap!

Perlahan-lahan dilepaskannya sosok Lawungu yang tadi dirangkulnya. Kepalanya diangkat. Sepasang matanya membeliak memandangi makhluk muka tengkorak. Tibatiba tokoh utama rimba persilatan Latanahsilam ini kebutkan lengan jubahnya kiri kanan. Didahului suara menderu dan sambaran sinar putih, sepuluh benda berbentuk paku hitam melesat ke arah makhluk muka tengkorak. Karena masih asyik tertawa ketika menyadari kalau dirinya dibokong orang, sepuluh paku hitam itu telah berada dekat sekali di depan kepala dan tubuhnya!

"Kurang ajar! Pembokong curang!" teriak Sang Junjungan. Dia cepat bergerak namun masih kalah cepat dengan datangnya sambaran sepuluh paku.

Tiba-tiba dari samping berkiblat satu sinar putih menyilaukan. Lalu di antara suara seperti tawon mengamuk terdengar suara berdentringan. Delapan paku hitam patah bermentalan. Dua lainnya terlempar entah ke mana. Sekilas Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab masih sempat melihat sosok senjata kapak bermata dua sebelum lenyap ke balik pakaian Pendekar 212 Wiro Sableng. Dari atas pohon kembali terdengar tabuhan rebana dan suara nyaring kerincingan si Pelawak Sinting. Kekeh panjang Sang Junjungan yang tadi sempat terhenti sewaktu diserang senjata rahasia yang dilepaskan Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab, kini kembali meledak. Di atas pohon Si Pelawak Sinting menimpali dengan tabuhan rebana dan goyangan kerincingan.

Walau darahnya mendidih, amarahnya menggelegak, namun Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab masih bisa menggunakan jalan pikiran sehat. Dalam keadaan seperti itu tidak ada gunanya dia melanjutkan pertempuran melawan dua musuh yang ternyata memiliki kepandaian tinggi itu. Dengan cepat dia angkat tubuh Lawungu lalu dipanggul di bahu kanan. Setelah lemparkan pandangan menyorot pada Sang Junjungan dan Wiro, kakek ini segera berkelebat pergi dari tempat itu. Sang Junjungan hentikan tawanya, mengusap muka tengkoraknya dengan telapak tangan yang hanya merupakan tulang belulang putih lalu berpaling ke arah Wiro.

"Anak muda! Lekas datang ke hadapanku!" Tiba-tiba Sang Junjungan berkata dengan suara lantang keras.

"Ah, makhluk salah kaprah ini pasti marah padaku! Aku lupa menghaturkan terima kasih. Padahal dia tadi sudah menyelamatkan diriku dari serangan Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab!" Sambil garuk-garuk kepala Wiro melangkah ke hadapan Sang Junjungan. Hatinya agak bimbang dan juga kecut. Seumur hidup baru sekali ini dia melihat makhluk bermuka tengkorak dan bertubuh jerangkong yang bukan saja memiliki kepandaian tinggi tapi juga bisa bicara! Sekaligus angker menyeramkan!

"Orang tua..." Wiro menegur.

"Tunggu dulu!" Sang Junjungan memotong. "Bagaimana kau bisa tahu aku ini orang tua! Padahal mukaku tidak berkulit tidak berdaging! Mukaku berbentuk tengkorak terdiri dari tulang! Dan gigi-gigiku masih utuh semua!" Wiro garuk-garuk kepalanya tak bisa menjawab.

Sang Junjungan tertawa mengekeh. Wiro merasa kuduknya dingin. Suara makhluk itu ketika bicara apalagi sewaktu tertawa terdengar aneh, seperti keluar dari jurang batu yang dalam. "Celaka betul makhluk satu ini. Aku tak tahu apa dia lawan atau teman."

"Makhluk muka tengkorak..."

"Wahai! Itu lebih tepat! Teruskan ucapanmu! Apa yang hendak kau ucapkan!" Sang Junjungan berkata.

"Tadi kau telah menyelamatkan diriku dari serangan Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab. Aku mengucapkan terima kasih padamu."

Sang Junjungan mendongak ke langit lalu kembali tertawa mengekeh.

"Tapi ada satu hal yang jadi pertanyaan bagiku!" Wiro berkata. "Antara kita tidak saling kenal sebelumnya. Mengapa kau menolongku?"

"Anak muda! Kau bernasib untung! Ketahuilah, sebelumnya justru aku telah memerintahkan seseorang untuk membunuhmu!"

Wiro terkejut "Lalu... lalu mengapa sekarang kau malah menyelamatkan diriku?" tanya murid Sinto Gendeng.

"Hal itu harus dan wajib kulakukan. Karena kau adalah menantuku!"

Kaget Wiro bukan olah-olah. Dia sampai tersurut dua langkah. Matanya memandang membelalak, mulut ternganga.

"Apa... apa maksudmu?" tanya Wiro dengan suara bergetar.

"Dengar baik-baik anak muda. Belum lama ini aku menyirap kabar bahwa kau telah melangsungkan pernikahan di Bukit Batu Kawin dengan Hantu Santet Laknat yang konon telah berubah ujud menjadi seorang gadis cantik jelita bernama Luhrembulan..."

"Aku tidak pernah..."

"Bicaraku belum habis!" menukas Sang Junjungan.

"Hantu Santet Laknat adalah muridku. Lebih dari itu dia telah kuanggap sebagai anak! Kalau kau kawin dengan dia bukankah berarti kau adalah menantuku? Yang juga bisa kuanggap sebagai anak pula?!"

"Celaka... celaka!" keluh Wiro berulang-ulang. Air mukanya tampak pucat. Ketika makhluk muka tengkorak melangkah mendekatinya, mau tak mau Wiro bertindak mundur.

"Anak muda, lekas kau berlutut di hadapanku. Aku mertuamu! Kau harus menaruh hormat dan patuh pada diriku! Ha... ha... ha!"

Wiro garuk kepalanya habis-habisan. Rasa takut membuat saat itu dia jadi kepingin kencing. Makhluk di hadapannya itu memiliki kesaktian luar biasa. Jika dia menolak berlutut makhluk itu pasti akan marah besar. Tapi jika dia mematuhi berlutut buntutnya bisa jadi panjang.

"Sialan betul! Aku tidak tahu makhluk ini apa lelaki apa perempuan. Atau banci! Aku harus mencari akal..." pikir murid Sinto Gendeng. Dia lalu melangkah mendekati makhluk muka tengkorak dengan tubuh membungkukbungkuk, seolah siap untuk berlutut di hadapan ‘sang mertua'.

Melihat sikap Wiro, Sang Junjungan dongakkan kepala tengkoraknya lalu tertawa panjang mengekeh. Saat itulah Wiro tiba-tiba membalikkan badannya lalu melompat ke balik pohon besar. Dari sini dia melesat ke belakang semak belukar lalu ambil langkah seribu, lari sekencang yang bisa dilakukannya.

"Menantu kurang ajar! Menantu tidak tahu diri! Mengapa kau berani lari?!" teriak Sang Junjungan marah sekali.

Di atas pohon besar tiba-tiba terdengar suara rebana ditabuh diseling suara kerincingan.

"Sang Junjungan! Jangankan dia anak manusia! Aku saja yang buruk ini kalau jadi menantumu pasti tidak bisa nyaman melihat tampangmu! Mana ada di negeri ini orang yang mau jadi menantu makhluk salah ujud sepertimu! Ha... ha... ha!"

"Monyet sinting di atas pohon! Siapa sudi mengambilmu jadi menantu! Berpakaian saja tidak keruan! Pantat hitam gosongmu kau tebar ke mana-mana! Coba kau makan dulu bekas tanganku ini!" Sang Junjungan gerakkan tangan kanannya.

Di atas pohon Si Pelawak Sinting tertawa gelak-gelak. Goyang dan tabuh rebananya lalu melompat lenyap, tepat ketika pukulan tangan kosong yang dilepaskan Sang Junjungan sampai dan menghantam cobang pohon tempatnya tadi duduk berjuntai. Cabang pohon itu hancur berkeping-keping!

***4OMBAK besar bergulung dahsyat dan memecah di teluk Labuntusamudera di kawasan selatan Negeri Latanahsilam. Seorang berpakaian serba kuning berlari kencang, berkelebat ke arah timur teluk tak lama setelah sang surya memunculkan diri siap menerangi jagat raya. Ketika segulung ombak luar biasa besarnya menderu di arah teluk, sosok berpakaian kuning itu yang ternyata adalah seorang nenek bermuka kuning hentikan larinya. Tiga buah sunting di atas kepalanya bergoyang-goyang. Nenek ini yang bukan lain adalah Hantu Selaksa Angin alias Hantu Selaksa Kentut alias Luhkentut diam sejenak. Dua matanya berkilat-kilat besar menatap ke arah laut. Didahului suara teriakan nyaring dia melompat setinggi dua tombak. Begitu dua kakinya menginjak pasir dia kembali lari. Kali ini bukan menyusuri teluk tapi malah ke arah laut, menyongsong datangnya gelombang ombak besar.

Byuuurrrrr! Ombak setinggi rumah itu bergulung lalu menimbun sosok berpakaian kuning dan akhirnya memecah di pasir hitam Teluk Labuntusamudera.

Butt... prett! Nenek berpakaian kuning pancarkan angin keras dari bagian bawah tubuhnya lalu tertawa gelak-gelak. Sekujur tubuhnya mulai dari atas kepala sampai ke kaki dan juga seluruh pakaian kuningnya basah kuyup. Dia baringkan tubuhnya di atas pasir. Dua kakinya dinaikkan ke atas dan ditendang-tendangkan. Kembali dari bagian bawah tubuhnya keluar suara butt prett-butt prett.

Beberapa kali ombak kecil datang mengguyur tubuhnya. Puas berbasah-basah Hantu Selaksa Angin bangkit berdiri lalu setengah berlari menuju pertengahan teluk. Di satu tempat yang kelindungan di balik kerapatan pohon-pohon kelapa dan semak belukar nenek ini menemukan sebuah goa batu. Tanpa ragu-ragu dia segera masuk ke dalam goa tersebut.

Bagian dalam goa berbentuk segi empat dengan atap batu menyerupai kerucut. Udara di tempat ini terasa sejuk. Hantu Selaksa Angin melangkah ke sudut kanan goa di mana terdapat hamparan tikar jerami kering. Perlahanlahan si nenek mendudukkan dirinya di atas tikar jerami itu. Dia menatap sejurus ke langit-langit goa yang berbentuk kerucut lalu dari mulutnya meluncur ucapan.

"Wahai guruku, Datuk Tanpa Bentuk Tanpa Ujud, aku muridmu datang menghadap..."

Suara si nenek menggema perlahan di dalam goa batu itu. Dia menunggu tak bergerak sambil sepasang matanya yang kuning menatap terus ke langit-langit goa. "Tak ada jawaban, jangan-jangan dia tak ada di sini... Atau mungkin dia marah karena sejak pergi dulu aku tak pernah mengunjunginya di tempat ini." Hantu Selaksa Angin membatin. Setelah menunggu sesaat lagi dia kembali mengulang. "Guru, apakah kau ada di dalam goa? Aku muridmu datang menghadap."

Tiba-tiba di ujung kerucut langit-langit goa kelihatan satu bintik kecil memancarkan cahaya putih terang. Lalu terdengar suara halus menggema di dalam goa.

"Hantu Selaksa Angin muridku. Aku gembira kau akhirnya muncul. Tadinya aku merasa kecewa karena setelah belasan tahun baru sekali ini kau kembali ke goa. Sejak kau meninggalkan goa belasan tahun silam aku menyirap kabar di luar sana telah terjadi banyak hal. Aku berharap rakhmat akan menjadi bagian penghuni Negeri Latanahsilam. Tetapi justru malapetaka dan bencana terjadi di mana-mana, maksiat dan dosa berkubang di hampir setiap penjuru negeri. Muridku, harap kau ceritakan padaku apa yang telah kau alami dan lakukan selama ini. Bagaimana dengan penyakit dirimu, apakah kau berhasil mendapat kesembuhan? Yang paling penting apakah selama ini kau telah mampu mengetahui siapa dirimu adanya?"

"Wahai Guru, aku gembira kau telah menyirap apa yang terjadi di luaran sana. Hingga aku tidak perlu menutur berpanjang lebar. Mengenai perihal penyakitku, aku berhasil menemukan seorang pemuda asing dan dua kawannya. Konon mereka datang dari negeri seribu dua ratus tahun mendatang. Pemuda inilah yang telah memberitahu obat yang harus kumakan agar penyakit kentutku lenyap. Belasan tahun aku kentut terus-terusan tanpa bisa ditahan. Gara-gara ubi yang menjadi makanan satu-satunya selama aku berada di goa ini..."

Di langit-langit goa kembali ada kelihatan bintik yang memancarkan sinar terang tadi. Lalu menyusul suara menggema dari makhluk yang dipanggil guru oleh si nenek.

"Jadi penyakit kentutmu benar-benar telah lenyap wahai muridku?"

"Lenyap habis seluruhnya memang tidak. Masih ada tertinggal sedikit. Tapi justru aku sengaja tak mau menghilangkannya. Karena terdengarnya indah bagus. Begitu kata pemuda yang menolongku itu..."

Gema tawa sang guru yang dipanggil dengan nama Datuk Tanpa Bentuk Tanpa Ujud mememuhi goa. Bintik terang kembali bercahaya.

"Muridku, dulu kentutmu panjang dan berulang-ulang. Aku ingin mendengar bagaimana bunyinya sekarang setelah diobati oleh pemuda asing itu..."

"Kalau guru memang mau mendengar, akan kulakukan. Mohon maafmu Guru. Terus terang sejak tadi sebenarnya aku memang sudah tidak tahan mau kentut!" kata Hantu Selaksa Angin pula sambil menekap mulutnya menahan ketawa. Lalu butt prett! Dia pancarkan kentutnya. Karena berada di dalam ruangan batu maka kentut itu menggema beralun-alun!

Kembali sang guru yang tidak kelihatan rupa ataupun ujudnya itu tertawa gelak-gelak. "Muridku, obat apa yang telah diberikan pemuda itu hingga kau mendapatkan kesembuhan seperti sekarang ini?"

"Dia meyuruh saya makan kibul ayam sebanyak tujuh puluh tujuh buah..."

"Kibul ayam. Benda apa itu, bagaimana ujudnya?" bertanya Datuk Tanpa Bentuk Tanpa Ujud.

"Itu Guru... Bagian lancip yang menempel di pantat ayam..." menerangkan Hantu Selaksa Angin.

"Aha...!" Datuk Tanpa Bentuk Tanpa Ujud berseru lalu tertawa gelak-gelak (Mengenai riwayat kibul ayam ini harap baca episode sebelumnya berjudul "Hantu Langit Terjungkir").

"Muridku, jika kau sudah puas dengan kentutmu yang indah itu, berarti kau telah mencapai kesembuhan. Apakah kau telah menghaturkan terima kasihmu pada pemuda dari negeri seribu dua ratus tahun mendatang itu?"

"Aku memang merencanakan untuk mencarinya dan menyampaikan rasa terima kasihku. Namun sebelum hal itu kesampaian kuketahui dia ternyata seorang jahanam besar..."

"Jahanam besar bagaimana maksudmu, muridku?"

"Dia menimbulkan bencana busuk dan keji di manamana!"

"Bencana busuk keji yang bagaimana?"

"Dia ternyata seorang pemuda hidung belang. Dia telah merusak kehormatan seorang gadis baik-baik bernama Luhjelita. Kemudian merusak kehormatan dua orang cucu Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab. Kabarnya dia juga berselingkuh dengan Peri Angsa Putih. Lalu diketahui pula dia juga yang telah menghamili Peri Bunda!"

Sang Datuk yang tidak kelihatan ujudnya terdengar mendesah dan tarik nafas dalam. "Muridku, kalau benar pemuda itu telah menebar kekejian di mana-mana sungguh sangat disayangkan. Namun antara kau dengan dirinya ada hutang piutang yang harus dilunasi. Dalam membalas budi seseorang kau tidak boleh melihat siapa dia adanya. Dia pernah menolong dirimu, berarti kau harus berusaha membalas budinya..."

"Aku telah melakukan banyak hal untuknya. Juga menolong dua temannya..."

"Kalau itu kau rasakan pantas dan sudah cukup memang tak perlu kau berbuat terlalu banyak. Tapi mengenai kekejian yang dikabarkan telah dilakukannya, kurasa harus kau selidiki kebenarannya. Tidak baik menuduh seseorang busuk, jahat dan keji kalau tidak ada saksi jujur dan bukti nyata..."

"Mengenai kemesuman yang dilakukan pemuda itu terhadap dua cucu Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab, tokoh itu sendiri yang bicara memberi kesaksian..."

"Muridku, Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab memang adalah satu tokoh besar dan sangat dihormati di Negeri Latanahsilam. Bukan saja karena ilmu silat dan kesaktiannya yang tinggi, tapi juga karena dengan kemampuannya melihat ke masa depan dan masa silam, membaca segala sesuatu yang bersifat gaib. Namun belakangan ini rasa-rasanya dia telah banyak melakukan penyimpangan-penyimpangan. Dia terlalu banyak mendekatkan diri dalam urusan dunia dan kepentingan diri sendiri. Akibatnya lama kelamaan dia kehilangan kemampuan untuk melihat ke dalam alam gaib. Aku meragukan kemampuannya. Apakah dia memang masih bisa diandalkan sebagai tokoh tempat bertanya dan mencari jawab. Sebagai contoh, dia hanya menurutkan kata hati, kemarahan dan dendam kesumat atas musibah yang menimpa dua cucunya. Tapi apakah dia pernah menyelidik? Aku menyirap kabar dua cucunya itu mempunyai kelainan yang menjijikan... Jadi muridku, dalam segala suatu perkara, penyelidikan adalah sangat penting. Jangan hanya percaya pada apa yang kita dengar saja. Jangan hanya percaya pada berita yang disampaikan orang dari mulut ke mulut..."

"Nasihatmu akan aku perhatikan Datuk..."

"Sekarang ada hal lain yang lebih penting dari penyakit kentutmu itu. Yaitu mengenai penyakit yang menyangkut ingatanmu pada masa silam. Apakah kau sudah mendapatkan kesembuhan? Apakah kau sudah mengetahui siapa dirimu sebenarnya serta riwayat atau asal usul dirimu?"

Karena Hantu Selaksa Angin alias Hantu selaksa Kentut tidak segera menjawab, sang Datuk yang tidak kelihatan orangnya dan hanya terdengar suaranya berkata. "Sekedar mengingatkanmu wahai muridku. Seperti yang aku pernah ceritakan padamu, kau kutemukan tergeletak pingsan di atas lumpur hitam di antara batu-batu besar yang bertebaran di muara sungai Lahulupanjang. Mungkin kau salah satu korban yang dihanyutkan banjir besar yang sebelumnya terjadi di kawasan utara. Perutmu gembung sampai ke dada. Aku memerlukan tujuh hari tujuh malam untuk mengeluarkan air kotor yang ada dalam perut dan rongga dadamu. Ketika hari ke dua belas kau siuman ternyata kau tidak ingat siapa dirimu, tak ingat apa yang telah terjadi dengan dirimu. Juga tidak ingat asal usulmu. Kemudian kuketahui ada satu luka besar di belakang kepalamu. Mungkin ini akibat benturan dengan benda keras. Aku rasa, benturan inilah yang telah mempengaruhi daya ingatanmu..."

Mendengar penjelasan sang Guru, Hantu Selaksa Angin pegang dan usap-usap bagian belakang kepalanya. Dia merasakan ada bagian kepala yang agak menonjol. Cidera luka yang telah sembuh dan meninggalkan bekas. Sang Datuk teruskan ucapannya.

"Namun... muridku, aku juga menaruh dugaan.

Hilangnya daya ingatmu mungkin juga disebabkan oleh satu penderitaan sangat berat yang bersarang mulai dari hati sampai ke pikiranmu. Kemudian, ketika kau siuman kau mempunyai satu sifat aneh. Yakni suka akan warna dan benda apa saja yang berwarna kuning. Itu sebabnya kau membuat sendiri jubah berwarna kuning. Mengecat wajahmu dengan jelaga kuning. Memakai sunting dan subang serta kalung dan gelang warna kuning. Selama bertahun-tahun aku memberi pelajaran ilmu silat dan kesaktian padamu di dalam goa ini, aku berusaha menyembuhkan kesadaranmu. Tetapi tidak berhasil. Mungkin selama kau berada di luar sana ada sesuatu yang mampu membuat kau mengingat-ingat siapa dirimu sebenarnya?"

Si nenek terdiam sejurus. Lalu gelengkan kepala.

"Aku yakin selama belasan tahun di luaran kau bertemu banyak orang. Apakah tidak satupun di antara mereka yang menimbulkan rasa ingat dalam dirimu...?"

"Aku tidak bisa memastikan wahai Guru. Hanya saja..."

Hantu Selaksa Kentut mendongak ke langit-langit ruangan, memperhatikan bintik terang yang ada di ujung kerucut pertanda gurunya masih berada di tempat itu. "Hanya saja satu kali aku memang pernah bertemu beberapa kali dengan seorang kakek aneh. Dia berjalan dan mempergunakan dua tangannya sebagai kaki. Kakek ini dijuluki Hantu Langit Terjungkir. Satu kali dia pernah menyebutkan ‘asap'. Samar-samar aku ingat dulu ada seseorang yang sangat suka pada ikan asap atau ikan pindang itu. Tapi aku lupa siapa orangnya. Aku berusaha menyelidik, meneliti wajah kakek itu. Walau aku berhasil melihat jelas-jelas wajahnya tapi kesadaranku tetap saja tidak muncul. Daya ingatku tidak datang. Aku tidak bisa mengetahui siapa dia sebenarnya."

"Aku bisa membantu. Menurut kabar yang aku sirap nama sebenarnya dari kakek berjuluk Hantu Langit Terjungkir itu adalah Lasedayu. Dia pernah mendekam selama puluhan tahun di Lembah Seribu Kabut. Apakah nama dan penjelasanku ini bisa menimbulkan satu daya ingat dalam benakmu wahai muridku?"

Nenek wajah kuning berusaha keras mengerahkan daya ingatnya. Matanya dipejamkan. Namun sampai keringat memercik di keningnya dia tak mampu mengingat.

"Maafkan diriku Guru. Aku tidak tahu siapa adanya orang bernama Lasedayu itu."

"Kalau begitu aku sarankan padamu agar kau mencari kakek berjuluk Hantu Langit Terjungkir itu. Ikuti ke mana dia pergi sampai kau mendapatkan satu petunjuk mengenai dirinya."

"Hal itu akan aku lakukan Guru..."

"Selain itu kau juga harus berusaha mencari Hantu Raja Obat. Siapa tahu dia bisa menyembuhkan penyakitmu."

"Baik Guru. Petunjukmu akan aku laksanakan. Maaf Guru, aku mau kentut dulu..."

Butt... prett!

Sang Guru yang dipanggil dengan sebutan Datuk Tanpa Bentuk Tanda Ujud tertawa panjang. "Muridku, belum lama berselang beberapa kali aku mendapat petunjuk dari alam gaib. Suatu senja ketika aku berada di tempat ini, tiba-tiba ada satu cahaya terang menggantung di depan goa.

Hidungku membaui sesuatu yang sangat harum. Aku berusaha mendekati cahaya itu agar bisa melihat lebih jelas. Namun seperti ada satu kekuatan yang membuat aku tidak bisa mendekati cahaya itu. Kemudian kudengar satu suara gaib berkata padaku. ‘Wahai anak manusia, ketahuilah, akan terjadi satu peristiwa besar di bumi Negeri Latanahsilam ini. Karena itulah, sebelum hari kejadian, lakukan sesuatu. Carilah Allah. Dialah Tuhanmu Seru Sekalian Alam, Maha Besar dan Maha Pengasih Maha Penyayang, Penguasa Tunggal Jagat Raya, Pencipta Langit dan Bumi serta Makhluk yang ada di antaranya termasuk dirimu.' Muridku, apakah kau mendengar kata-kataku?"

"Aku mendengar wahai Datuk," jawab nenek muka kuning.

"Aku tidak mengerti ucapan gaib itu. Aku berusaha membuka mulut hendak bertanya tapi mulutku terkatup, lidahku seperti terkancing. Kemudian cahaya terang benderang yang ada di depan goa lenyap. Begitu juga bau harum semerbak. Saat itu mendadak aku bisa membuka mulut dan bertanya. ‘Suara dari alam gaib! Siapakah kau adanya?!' Di kejauhan terdengar jawaban. Tapi ucapannya hanya pengulangan dari kata-kata yang kudengar sebelumnya. Aneh, apa kiranya yang akan terjadi di Negeri Latanahsilam ini. Lalu siapa yang dimaksudkan dengan Allah oleh suara gaib itu. Siapa pula Tuhan. Bagaimana aku harus mencari? Setahuku bukankah para Dewa yang menjadi junjungan dan pelindung kita semua di negeri ini?"

"Tunggu dulu!" Hantu Selaksa Angin berkata. "Aku ingat, aku pernah mendengar. Orang-orang dari negeri seribu dua ratus mendatang itu. Kalau aku tidak salah mereka pernah menyebut nama itu. Tuhan... Gusti Allah..."

"Kalau benar begitu wahai muridku, ada satu tugas baru lagi bagimu. Selidikilah melalui orang-orang itu siapa adanya Tuhan dan Gusti Allah itu. Tapi yang lebih penting saat ini bagimu ialah mendahului mencari kesadaran atau dirimu sendiri..."

"Aku mengerti Datuk..."

"Aku telah memberi banyak ilmu kepandaian padamu. Pergunakan semua itu di jalan yang baik. Jika kau tidak ada pertanyaan atau ingin mengatakan sesuatu, aku akan segera meninggalkan tempat ini."

"Datuk Guruku, sebelum kita berpisah, aku mohon, sudilah Datuk memperlihatkan bentuk diri dan ujud Datuk padaku... Selama belasan tahun kita bersama, banyak pelajaran dan budi baik yang aku terima darimu. Tapi tidak barang sekalipun aku pernah melihat jazad darimu."

Bintik terang di langit-langit goa yang berbentuk kerucut kelihatan bersinar menyilaukan. Lalu terdengar suara sang Datuk. "Muridku, saat ini aku belum bisa memperlihatkan diri. Dan aku tidak bisa berjanji kapan aku bisa terlihat oleh mata insani sepertimu. Harap kau tidak kecewa. Suatu kali kita pasti akan bertatap ujud. Selamat tinggal muridku. Datanglah ke goa ini jika kau menemukan sesuatu..."

"Terima kasih Datuk," kata Hantu Selaksa Angin lalu membungkuk sampai keningnya hampir menyentuh lantai goa. Karena duduk dalam sikap menungging si nenek tidak bisa menahan kentutnya. Akibatnya butt prett! Kentutnya memancar. Di langit-langit goa bintik terang lenyap, pertanda Datuk Tanpa Bentuk Tanpa Ujud tak ada lagi di tempat itu.

***5SEBELUM mengikuti apa yang akan dilakukan Hantu Selaksa Angin alias Hantu Selaksa Kentut setelah dia meninggalkan goa di teluk Labuntusamudera itu, kita kembali pada Luhcinta dan Luhsantini. Seperti dikisahkan dalam episode sebelumnya, "Rahasia Perkawinan Wiro",

kedua orang itu meninggalkan Bukit Batu Kawin setelah menyaksikan upacara pernikahan Pendekar 212 Wiro Sableng dengan Hantu Santet Laknat yang berubah menjelma menjadi seorang gadis cantik bernama Luhrembulan. Karena datang terlambat Luhsantini dan Luhrembulan tidak mengetahui siapa sebenarnya Luhrembulan itu.

Luhcinta yang masih berada dalam keadaan pingsan akibat tidak tahan melihat upacara pernikahan Wiro dengan Luhrembulan, oleh Luhsantini dilarikan ke goa di mana mereka sebelumnya berada. Luhsantini membaringkan Luhcinta di lantai goa lalu setelah memeriksa keadaan gadis itu, istri Hantu Bara Kaliatus ini cepat-cepat mengerahkan tenaga dalamnya ke tubuh Luhcinta melalui pergelangan tangan dan dada. Karena pingsannya Luhcinta bukan akibat cidera atau luka dalam maka sesaat kemudian gadis ini sadarkan diri.

Begitu siuman, belum lagi dia membuka mata dari mulutnya keluar desahan halus. "Wiro... Wiro. Kau tahu perasaanku terhadapmu. Sampai hati kau..." Ingatan Luhcinta semakin pulih. Dia berusaha menahan isak lalu membuka matanya. Pandangannya membentur wajah Luhsantini. "Kau..." desis Luhcinta karena tidak mengira kalau ada orang lain di tempat itu. Mungkin malu karena telah ketelepasan bicara, Luhcinta balikkan dirinya menghadap ke dinding goa.

Luhsantini diam memperhatikan. Dalam hati dia berkata. "Dugaanku ternyata benar. Gadis ini memang mencintai pemuda asing bernama Wiro itu... Apa yang harus aku lakukan untuk menolongnya? Pernikahan Wiro dengan gadis tak dikenal itu tak mungkin dibatalkan.

Berarti Luhcinta akan kehilangan orang yang dicintainya selama-lamanya..."

"Luhsantini..." tiba-tiba terdengar suara Luhcinta.

"Aku di sini Luhcinta. Ada apa? Ada sesuatu yang bisa kulakukan untukmu...?"

"Aku tahu, aku ingat. Kau pasti yang membawaku dari bukit itu ke sini... Aku berterima kasih padamu, Luhsantini."

"Benar, kau tak usah khawatir. Kau tidak cidera atau mengalami luka apa-apa..."

"Aku tahu. Walau tak ada cidera atau luka yang terlihat di mata namun... Ada luka yang tak mungkin terlihat oleh mata lain. Hanya aku yang bisa merasakannya wahai Luhsantini."

Luhsantini jadi terdiam haru mendengar kata-kata Luhcinta itu. Dipegangnya bahu si gadis.

"Luhsantini..."

"Yaa...?"

"Apakah benar apa yang kita saksikan di Bukit Batu Kawin itu?" tanya Luhcinta. Air mata yang tak terbendung mulai mengalir jatuh ke pipinya yang pucat. Luhsantini tak kuasa menjawab. Sementara itu tanpa setahu kedua orang itu di luar goa seseorang menyelinap dan mencuri dengar semua pembicaraan Luhsantini dan Luhcinta. Dari pakaian hitam serta mukanya yang tertutup lapisan tanah liat berjelaga hitam sudah dapat diterka orang ini adalah Si Penolong Budiman, manusia aneh berkepandaian tinggi.

"Kau masih ada di sampingku Luhsantini?"

"Ya, aku masih di sini. Di dalam goa ini bersamamu. Aku tidak akan meninggalkanmu..."

"Kau baik sekali. Aku sangat berterima kasih. Tetapi mengapa kau tidak menjawab pertanyaanku tadi?"

Luhsantini gigit bibirnya. Matanya jadi ikut berkaca-kaca karena dia bisa merasakan keperihan hati Luhcinta kehilangan orang yang dikasihinya. "Kau harus tabah, Luhcinta..."

"Aku cukup tabah Luhsantini. Sejak kecil kesengsaraan hidup telah mendera diriku. Laksana hantaman palu godam di besi panas, membuat diriku menjadi seorang yang sanggup kukuh dalam ketabahan. Tetapi, mengapa kejadian dan perubahan yang satu ini begitu tiba-tiba? Begitu berat hingga bahuku tak sanggup memikulnya? Aku masih belum bisa menemukan ayahku dan kini aku kehilangan seorang calon ayah." Luhcinta seka air mata yang berderai jatuh di pipinya.

Di luar goa, Si Penolong Budiman sesaat tampak termenung. "Tidak kusangka dia sangat mencintai pemuda itu. Ah..." Orang ini menarik nafas dalam lalu gelenggelengkan kepalanya.

"Ketabahan tidak mengajarkan kita untuk berputus asa wahai Luhcinta..." terdengar suara Luhsantini.

"Aku tidak putus asa. Tapi cobaan ini datangnya begitu bertubi-tubi..."

"Luhcinta, jangan sampai kehilangan pemuda itu kau seolah menemui jalan buntu dalam hidupmu. Seolah kau sampai di satu jalan di mana pada ujung jalan menghadang sebuah jurang batu yang dalam dan gelap. Aku sendiri mengalami nasib yang jauh lebih parah dari keadaanmu. Aku kehilangan suami dan juga kehilangan seorang anak darah dagingku sendiri. Kau jauh masih beruntung. Masa depan masih terbuka lebar di hadapanmu..."

"Aku menyangsikan wahai Luhsantini, apakah aku masih punya masa depan. Dari kehancuran masa silam apa yang bisa diambil sebagai pegangan masa depan. Dan sekarang aku mengalami nasib seperti ini..." Luhcinta kembali menyeka air matanya.

"Luhcinta, siapakah gadis yang beruntung mempersuamikan pemuda itu?"

Saat itu seperti terngiang kembali di telinga Luhcinta suara lantang Lamahila si juru nikah. "Wiro Sableng dan Luhrembulan. Kalian berdua telah aku nikahkan disaksikan langit dan bumi. Apa yang kalian ucapkan didengar oleh para Dewa dan semua roh yang tergantung antara langit dan bumi. Semoga kalian mendapat berkah. Saat ini kalian telah resmi menjadi suami istri."

Luhcinta mendadak merasa sekujur tubuhnya menjadi dingin. Dia menggigil. Melihat ini Luhsantini berkata.

"Cuaca memang buruk akhir-akhir ini. Aku akan mencari kayu untuk menyalakan unggun. Biar goa ini menjadi hangat..."

"Tidak usah Luhsantini, aku masih bisa menahan gejolak cobaan ini. Pertanyaanku tadi... kau tahu siapa adanya gadis yang menjadi istri Wiro itu?"

"Aku tak pernah melihat gadis itu sebelumnya. Lamahila menyebut namanya Luhrembulan. Satu nama yang juga rasanya asing bagiku dan bagi semua orang di Negeri Latanahsilam ini..."

"Apapun keanehan yang terjadi rasanya tidak mungkin Wiro mengawini seorang yang tidak dikenalnya. Berarti Wiro sebelumnya memang telah lama mengenal Luhrembulan..."

"Sulit aku menduga wahai Luhcinta. Aku merasa seperti ada keanehan dalam semua kejadian ini..."

"Kejadian bagaimana maksudmu?"

"Entahlah, aku tidak bisa mengatakan tapi aku dapat merasakan," jawab Luhsantini. Lalu sambil membelai rambut Luhcinta, Luhsantini berkata. "Maafkan kalau pertanyaanku ini menyinggung perasaanmu wahai Luhcinta. Namun aku ingin tahu, apakah selama ini pemuda itu mengetahui kalau kau mencintainya...?"

"Aku tak tahu. Aku tak bisa menduga," jawab Luhcinta dengan mata basah menatap tak berkedip pada Luhsantini.

"Kau tak pernah mengatakan terus terang padanya dengan ucapan atau tanda isyarat bahwa kau mencintainya?"

Luhcinta tersenyum sedih. "Luhsantini, kita ini samasama perempuan. Mana mungkin perempuan berlancang diri terlebih dulu menyatakan cintanya terhadap seorang pemuda?"

"Aku mengerti..."

"Lagi pula sejak beberapa waktu belakangan ini aku banyak diselimuti rasa bingung."

"Kau bingung? Apa yang membuatmu bingung?"

"Pertama, kenyataan bahwa begitu banyak gadis dan perempuan jatuh cinta terhadap pemuda itu..."

"Wahai! Bagaimana kau bisa berkata begitu. Apa kau punya bukti...?"

"Untuk melihat seorang jatuh cinta tidak perlu bukti segala. Dari sikap, cara bicara, bahkan cara memandang saja kita sudah bisa mengetahui bahwa seorang mencintai seorang lainnya."

"Kalau kau tahu coba katakan siapa saja yang menurutmu telah jatuh cinta pada pemuda asing itu!"

"Misalnya saja Luhjelita. Lalu Luhtinti. Yang paling gila Si Hantu Santet Laknat. Kemudian Peri Angsa Putih. Dan terakhir sekali Peri Bunda, bahkan Peri Sesepuh!"

Luhsantini geleng-gelengkan kepala lalu sambil tersenyum. "Untung aku tidak termasuk dalam daftarmu..."

"Masih ada hal lain yang menimbulkan kebingungan dalam diriku," melanjutkan Luhcinta.

"Apa?"

"Di seluruh Negeri Latanahsilam kini tersiar kabar kalau Wiro telah melakukan hubungan mesum dengan Luhjelita. Kemudian merusak kehormatan dua cucu Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab. Juga ada kemungkinan telah melakukan hubungan badan dengan Hantu Santet Laknat. Yang paling menghebohkan ialah tuduhan bahwa pemuda itu telah menghamili Peri Bunda!"

Di luar goa kembali Si Penolong Budiman menarik nafas dalam mendengar pembicaraan kedua orang itu. Namun sekali ini tarikan nafasnya agak keras hingga terdengar sampai ke dalam goa.

"Tunggu..." bisik Luhsantini. "Aku merasa ada seseorang di luar sana. Aku akan menyelidik..."

"Kita sama-sama menyelidik" kata Luhcinta lalu bangkit berdiri.

"Tak ada siapa-siapa!" kata Luhsantini sambil memandang sekitar goa. "Padahal tadi jelas sekali aku mendengar seperti ada suara orang menarik nafas..."

"Kita masuk saja. Mungkin hanya suara desau angin atau dedaunan yang saling bergesek," kata Luhcinta. Dia memegang lengan Luhsantini. Kedua orang itu masuk kembali ke dalam goa.

Ke mana lenyapnya Si Penolong Budiman? Ketika menyadari kehadirannya sudah diketahui orang dengan cepat manusia berwajah tanah liat ini melesat ke satu pohon besar berdaun lebat. Dia mendekam bersembunyi di sana. Begitu Luhcinta dan Luhsantini masuk kembali ke dalam goa cepat-cepat dia melompat ke pohon yang lain lalu lenyap tak kelihatan lagi. Sepanjang larinya kembali ke telaga di mana dia meninggalkan Hantu Langit Terjungkir, hatinya terasa goncang. Batinnya berulang kali berkata.

"Gadis itu... Dia mencintai pemuda asing itu? Luhcinta, dia mencintai Wiro! Ah...!"

Kembali ke dalam goa. Luhcinta dan Luhsantini melanjutkan pembicaraan mereka. "Aku tidak menyalahkan begitu banyak gadis dan perempuan bahkan sampai ke bangsa Peri jatuh cinta terhadap pemuda asing itu. Selain kegagahan wajahnya serta ketinggian ilmunya, dia mudah bergaul dengan siapa saja. Tapi biar ada seribu orang mencintainya, apakah dia mencintai salah satu dari mereka?"

"Pertanyaanmu itu sudah terjawab Luhsantini. Wiro telah memilih Luhrembulan sebagai istrinya. Berarti gadis itulah yang dicintainya."

Luhsantini menarik nafas panjang. Sambil gelengkan kepala dia berkata. "Seperti kataku tadi, ada keanehan di balik pernikahan pemuda asing dan gadis tak dikenal bernama Luhrembulan itu. Aku tidak tahu apa adanya. Biar nanti keadaan yang akan mengungkapnya sendiri. Lalu mengenai kebingunganmu karena tersiar kabar bahwa pemuda itu telah berbuat mesum di mana-mana, kalau memang itu benar sungguh sangat disayangkan. Aku tak tahu lagi mau bicara apa. Tapi Luhcinta, kalau boleh aku mengatakan, sebaiknya pembicaraan ini tidak usah kita perpanjang. Jangan kau sampai berlarut-larut tenggelam dalam perasaan hatimu sendiri."

"Aku setuju," jawab Luhcinta perlahan. Namun dalam hati gadis ini berkata. "Luhsantini, kau tidak tahu atau mungkin berpura-pura tidak tahu. Saat ini aku bukan saja tenggelam dalam perasaan, tapi telah tenggelam dalam kehancuran. Sejak lama aku berputus asa karena tidak kunjung dapat mengungkap rahasia kehidupan diriku, tidak dapat menemukan di mana dan siapa sebenarnya ayahku. Dari kenyataan yang ada aku terlahir sebagai seorang anak dari dua kakak beradik. Perkawinan yang membawa malapetaka. Apakah aku ini masih pantas disebut manusia?"

"Luhcinta... apa yang ada dalam pikiran dan hatimu?" bertanya Luhsantini ketika dilihatnya sepasang mata Luhcinta tampak memandang sayu dan kosong. Ada sekelumit senyum menyeruak di bibir Luhcinta. Dulu bibir itu merah merekah memancarkan kesegaran yang memikat. Kini bibir itu tampak pucat seolah tak berdarah. Tapi hanya sesaat. Di lain ketika Luhsantini melihat sepasang mata gadis di hadapannya itu mengeluarkan kilatan aneh. Lalu terdengar Luhcinta berkata. "Luhsantini, aku ingin menyelidik. Harus! Aku ingin tahu siapa sebenarnya gadis bernama Luhrembulan itu!"

Luhsantini pandangi wajah Luhcinta seketika. Sebenarnya dia ingin menasihati agar Luhcinta tidak perlu melakukan hal itu. Namun khawatir perasaan dan jiwa si gadis akan semakin tertekan Luhsantini akhirnya berkata.

"Jika itu keinginanmu, sebaiknya kita datangi tempat kediaman si juru nikah Lamahila!"

"Tepat! Kita cari nenek itu sekarang juga!" kata Luhcinta. Kedua orang itu segera bangkit berdiri.

Namun sebelum sempat melangkah ke mulut goa tibatiba di luar sana terdengar suara tawa bergelak dahsyat sekali.

"Dua perempuan di dalam goa! Jangan kalian berani menyelidik persoalan menyangkut anak dan menantuku! Ini peringatan dariku! Dan ini contoh akibatnya kalau berani lancang melanggar!"

Di luar goa terdengar deru angin keras sekali. Menyusul berkiblatnya cahaya merah seperti ada lidah api membeset turun dari langit.

Wussss!

Bummmm!

Braaakkk!

Mulut goa batu hancur berkeping-keping. Kepingannya berpelantingan di udara, berubah menjadi bara-bara menyala. Di dalam goa Luhsantini dan Luhcinta cepat jatuhkan diri ke lantai batu. Lidah api menderu lewat di atas punggung mereka.

"Kurang ajar! Siapa berani main gila terhadap kita!"

teriak Luhsantini marah. Sambil lepaskan satu pukulan tangan kosong mengandung tenaga dalam tinggi, perempuan berpakaian serba merah ini menerobos keluar. Tapi sampai di luar tidak kelihatan siapa-siapa. Hanya di kejauhan terdengar suara bergelak, menggema di seantero tempat lalu lenyap.

"Aneh, tak bisa kuduga siapa adanya manusia itu!" kata Luhsantini.

"Dia menyebut Luhrembulan dan Wiro sebagai anak dan menantunya! Siapa dia?!" kata Luhcinta pula sambil kepalkan tinju.

"Melihat pukulan yang dilancarkannya bukan mustahil dia adalah Hantu Bara Kaliatus..." ujar Luhsantini. "Tapi kau tahu, aku adalah bekas istrinya. Aku tak punya anak perempuan..."

"Mungkin tanpa setahumu, suamimu itu telah kawin dengan perempuan lain? Bukankah perpisahan kalian berdua cukup lama, seumur seorang gadis remaja?"

Luhsantini menatap wajah Luhcinta dalam-dalam.

Dipegangnya lengan gadis itu seraya berkata. "Aku tidak tahu Luhcinta, tak bisa aku menduga... Masakan selama ini tak pernah tersiar kabar kalau Hantu Bara Kaliatus punya istri lagi dan punya anak? Wiro sebagai menantunya? Wahai! Tak masuk di akalku!" Luhsantini terdiam beberapa saat. Lalu dia bertanya. "Bagaimana sekarang? Apa yang akan kita lakukan?"

"Walau ada orang mengancam, aku tetap akan menyelidik siapa adanya Luhrembulan. Aku akan mencari nenek juru nikah bernama Lamahila itu..." jawab Luhcinta penuh kepastian. Tekadnya teguh dan bulat sudah!

***6KITA ikuti dulu ihwal kakek berjuluk Hantu Langit Terjungkir yang aslinya bernama Lasedayu, ayah kandung dari empat orang anak yang terlahir membawa tanda bunga dalam lingkaran pada lengan sebelah atas. Sebegitu jauh dia telah bertemu dengan dua orang yang memiliki tanda tersebut yakni Lakasipo alias Hantu Kaki Batu dan Latandai alias Hantu Bara Kaliatus.

Pagi itu Hantu Langit Terjungkir tegak bersandar di batang sebuah pohon tak jauh dari tepi telaga. Kaki ke atas kepala ke bawah, dua tangan dipergunakan sebagai kaki. Tangan kanannya yang cidera akibat hantaman tongkat tulang Sang Junjungan masih dibalut dengan segulung pelepah pisang. Begitu sosok berjubah hitam bermuka dilapisi tanah liat hitam muncul di hadapannya, dia segera menegur.

"Sahabat bermuka tanah liat, sejak pagi kau menghilang tanpa memberitahu ke mana kau pergi. Begitu kembali kulihat kau berubah sikap..."

"Kek, apa maksudmu?" tanya orang bermuka tanah liat yang di Negeri Latanahsilam dikenal dengan panggilan Si Penolong Budiman.

"Walau wajahmu tertutup tanah liat hitam, tetapi aku tahu kau sedang diselimuti rasa gundah yang amat sangat. Kau tengah tenggelam dalam rasa bingung. Bukankah begitu adanya?"

"Anu Kek... Bagaimana tanganmu yang patah?"

Hantu Langit Terjungkir tertawa mengekeh. Sambil pegang lengannya yang cidera dia berkata. "Tanganku sudah banyak kesembuhannya. Tapi jangan kau mengalihkan pembicaraan. Apa yang merisaukan hatimu? Katakan dari mana kau sejak pagi buta tadi?"

Karena didesak akhirnya Si Penolong Budiman bercerita juga. "Kau ingat ceritaku bahwa Luhsantini dan Luhcinta berada di sebuah goa tak jauh dari telaga ini?"

"Wahai! Aku memang sudah menduga kau pasti menyelinap ke sana. Di mana bunga mekar berada, ke situ biasanya kumbang melayang. Tentu banyak sekali yang kalian bicarakan..."

"Tidak Kek, aku memang ke sana tapi bukan untuk bercakap-cakap dengan mereka. Aku justru mencuri dengar pembicaraan dua perempuan itu..."

"Kau bangsa orang yang suka menguping rupanya.

Coba kau ceritakan apa saja yang kau dengar," kata Hantu Langit Terjungkir pula. Lalu dia rebahkan tubuhnya di tanah.

Si Penolong Budiman menuturkan semua pembicaraan Luhsantini dan Luhcinta yang sempat didengarnya di dalam goa sebelum dia kemudian terpaksa meninggalkan tempat itu karena takut ketahuan.

"Pemuda asing itu. Namanya Wiro Sableng. Aku kenal dia. Dia pernah menyelamatkan nyawaku. Tapi mengenai gadis bernama Luhrembulan sungguh tak pernah aku mengetahui siapa dirinya. Setahuku di Negeri Latanahsilam ini tidak ada gadis bernama seperti itu..." Si kakek menatap ke dalam mata Si Penolong Budiman.

"Sahabatku, aku merasakan dari nada bicara dan tekanan suaramu. Setiap kau menyebut nama Luhcinta, ada suatu getaran menguasai dirimu. Apakah kau mencintai gadis itu wahai sahabatku?"

"Kek, aku..."

Hantu Langit Terjungkir tertawa mengekeh. "Katakan saja terus terang..."

"Dia mencintai pemuda asing bernama Wiro Sableng itu!"

"Kalaupun memang begitu tapi sekarang apa artinya lagi? Bukankah si pemuda telah kawin dengan gadis bernama Luhrembulan? Kau punya kesempatan besar untuk mendapatkan Luhcinta... Kau harus cepat, jangan membuang-buang waktu!"

"Kau ini ada-ada saja Kek. Mukaku saja begini! Mana ada gadis yang mau padaku!" Si Penolong Budiman gelenggelengkan kepalanya. "Tidak mungkin Kek, tidak mungkin..."

"Maksudmu tidak mungkin dia mau denganmu? Ha...ha... ha! Aku tahu di balik lapisan tanah liat itu kau memiliki wajah tak kalah gagah dengan pemuda asing bernama Wiro Sableng itu. Sekarang tinggal terserah padamu. Apakah kau akan tetap menyembunyikan wajahmu di balik tanah liat?"

"Aku telah bersumpah tidak akan menanggalkan tanah liat ini sebelum apa yang tengah kuselidiki terungkap secara nyata!" Si Penolong Budiman lupa kalau dia pernah memperlihatkan wajah aslinya pada Luhcinta.

"Kerabatku," kata Hantu Langit Terjungkir. "Jangan suka mudah bersumpah. Lagi pula urusan selidik menyelidik itu bisa diatur kemudian. Yang penting kau harus cepat-cepat berusaha mendapatkan Luhcinta. Jika kau malu, aku mau jadi perantara menemuinya. Mengatakan padanya bahwa kau mencintainya! Setuju?!"

"Jangan Kek! Aku harap jangan kau lakukan hal itu!"

"Aneh kau ini! Mau tapi malu. Suka tapi berpura-pura!"

"Aku tidak malu, aku tidak berpura-pura..."

"Lalu apa sebenarnya?! Jangan-jangan kau ini sebenarnya seorang perempuan adanya! Ha... ha... ha!"

"Aku tidak bisa mengatakan padamu Kek..."

"Kalau begitu katakan pada kami!" tiba-tiba ada suara menyeruak. Membuat kaget Hantu Langit Terjungkir dan Si Penolong Budiman. Jika ada dua orang mendatangi tempat itu tanpa mereka mendengar dan mengetahui lebih awal, itu sudah cukup menjadi pertanda bahwa mereka memiliki ilmu kepandaian tinggi. Tak menunggu lama, dari balik sebuah batu besar hitam di tepi telaga berkelebat muncul dua sosok. Satu mengenakan jubah hijau pekat satunya lagi berjubah kuning gelap.

Hantu Langit Terjungkir goyangkan kepalanya agar bisa melihat jelas siapa yang datang. Si Penolong Budiman cepat bangkit berdiri dan memutar tubuh. Yang berjubah kuning gelap adalah seorang kakek berambut putih kelabu awut-awutan. Mata kanan sipit kecil sebaliknya mata kiri besar membeliak. Di pinggangnya kakek ini membekal sebilah senjata berbentuk clurit besar berwarna hitam legam.

Di sebelah kakek berjubah kuning gelap tegak berdiri seorang nenek yang penampilannya luar biasa aneh dan menggidikkan. Kulit muka, dada dan perutnya seperti terkelupas. Hidungnya nyaris gerumpung. Bola mata kanannya terbujur keluar, setengah tergantung di pipinya yang tidak berdaging. Nenek ini tidak mempunyai tangan kanan alias buntung. Tapi di atas keningnya menempel satu potongan tangan yang ternyata adalah kutungan tangan kanan sendiri! Seperti si kakek dia membekal sebilah clurit berwarna putih berkilauan.

Siapakah dua tua bangka aneh ini? Dalam rimba persilatan Latanahsilam mereka pernah dikenal dengan julukan Sepasang Hantu Bercinta. Si kakek bernama Lajahilio sedang si nenek bernama Luhjahilio. Selama puluhan tahun mereka mengelana, hidup bersama bermesraan tanpa nikah. Itu sebabnya mereka dijuluki Sepasang Hantu Bercinta.

Seperti banyak para tokoh di masa itu, sepasang kakek ini ternyata telah jatuh ke tangan Hantu Muka Dua dan dijadikan kaki tangan suruhannya. Akibatnya mereka bentrokan dengan berbagai pihak. Terakhir sekali mereka bertempur menghadapi Luhcinta. Walau Luhcinta banyak mengalah dan mengingatkan kedua orang itu agar kembali ke jalan yang benar namun mereka tidak mau perduli.

Terutama si nenek yang terus mendesak Luhcinta dengan serangan-serangan ganas. Akhirnya terpaksa Luhcinta menghajar nenek itu dengan pukulan sakti disebut Pukulan Kasih Mendorong Bumi. Si nenek amblas ke dalam dinding batu. Ketika kakek kekasihnya menariknya keluar dari batu, dirinya menjadi cacat mengerikan, terutama di bagian wajah, dada dan perut. Kulit serta dagingnya terkelupas, menyembulkan tulang putih menggidikkan! Mata kanannya terbetot keluar! (Mengenai riwayat Lajahilio dan Luhjahilio harap baca dua episode sebelum ini berjudul "Rahasia Patung Menangis" dan "Rahasia Mawar Beracun").

Saat itu Hantu Langit Terjungkir telah bangkit berdiri, dua tangan menginjak bumi, dua kaki naik ke atas. Dari balik celah-celah rambut putihnya dia perhatikan gerakgerik dua tamu tak diundang itu.

Si Penolong Budiman walau berdiri dengan sikap tenang sambil rangkapkan dua tangan di depan dada namun penuh waspada. Luhjahilio perhatikan Hantu Langit Terjungkir dengan wajah sinis sementara mata kanannya yang melotot keluar bergerak-gerak mengerikan. Mata kirinya melirik sekilas pada Si Penolong Budiman. Mulutnya dipencongkan lalu dia berkata.

"Hantu Langit Terjungkir, aku mengenali siapa dirimu. Kau bangsa manusia yang tidak pernah berdusta!"

"Terima kasih atas pujianmu itu! Siapa yang memuji biasanya membekal maksud tersembunyi!" menyahuti Hantu Langit Terjungkir.

Luhjahilio kembali sunggingkan wajah sinis. Jari-jari tangan kanannya yang menempel di atas keningnya kelihatan bergerak-gerak. Di sampingnya Lajahilio mendekat dan berbisik. "Aku tidak takut pada manusia yang hidup menyungsang itu. Tapi harap kau berhati-hati pada manusia yang mukanya dilapisi tanah liat hitam itu. Kalau aku tidak salah menduga, bukankah dia berjuluk Si Penolong Budiman? Ingat, dia yang dulu menghancurkan pedang kita dengan Ilmu Keppeng!" (Baca episode berjudul "Rahasia Patung Menangis").

"Aku ingat!" jawab si nenek. "Tapi kau diam sajalah Lajahilio. Biar aku yang bicara. Biar aku yang mengatur! Kau harus bersiap-siap. Jika aku memberi isyarat kau langsung membokong Hantu Langit Terjungkir!" Memang antara dua kekasih yang hidup selama puluhan tahun itu si nenek memiliki ilmu silat dan kesaktian satu tingkat lebih tinggi.

Luhjahilio kemudian alihkan perhatiannya pada Hantu Langit Terjungkir. "Makhluk yang hidupnya menyungsang, kaki ke atas kepala ke bawah. Harap kau memberitahu di mana beradanya gadis bernama Luhcinta itu!"

Sementara Si Penolong Budiman terkejut mendengar pertanyaan si nenek, Hantu Langit Terjungkir keluarkan tawa mengekeh. Diam-diam Si Penolong Budiman khawatir kalau Hantu Langit Terjungkir memberitahu di mana beradanya Luhcinta. Maka dia memberi isyarat dengan kedipan mata. Namun dia tidak mengetahui apakah si kakek mengerti arti isyaratnya itu.

"Luhjahilio..." kata Hantu Langit Terjungkir. "Biasanya hanya seorang pemuda yang menanyakan di mana beradanya seorang gadis cantik. Tapi kau yang neneknenek buruk justru yang mengajukan pertanyaan... Aku mungkin masih bisa mengerti seandainya kekasihmu si Lajahilio itu yang bertanyakan Luhcinta! Ha... ha... ha!"

"Tua bangka keparat! Jangan kau berani menghina istriku!" hardik Lajahilio marah besar. Dia hendak menerjang tapi cepat dipegang oleh Luhjahilio.

"Istrimu katamu...?!" ujar Hantu Langit Terjungkir sambil sibakkan rambut putih yang menutupi wajahnya. Bola matanya berputar-putar memperhatikan Lajahilio lalu tertawa gelak-gelak. "Sejak kapan kau kawin dengan nenek itu? Siapa yang mengawinkan kalian? Ha... ha... ha! Kalian mau aku bicara tidak berdusta tapi kalian sendiri bicara tidak karuan!"

Lajahilio tak dapat lagi menahan amarahnya. Sekali terjang saja kaki kanannya menderu ke arah dada Hantu Langit Terjungkir. Ini bukan tendangan biasa. Sekali mengenai sasarannya dada Hantu Langit Terjungkir pasti akan hancur luluh!

"Lajahilio! Kau buas sekali! Jangan-jangan sudah lama kekasihmu si nenek buruk itu tidak mau bermesraan denganmu! Ha... ha... ha!"

Hantu Langit Terjungkir kerahkan hawa sakti yang didapatnya sewaktu berada di Lembah Seribu Kabut (Baca Episode berjudul "Rahasia Kincir Hantu"). Sekujur badannya mendadak sontak memancarkan sinar kebirubiruan disertai menebarnya hawa dingin. Tubuh si kakek berubah laksana kabut, melesat mumbul ke atas. Tendangan Lajahilio mendera udara kosong kemudian menghantam pohon besar tempat Hantu Langit Terjungkir tadi tegak bersandar.

Braakkk!

Pohon yang batangnya seukuran pemelukan manusia itu hancur berkeping-keping. Lalu dengan suara menggemuruh tumbang ke tanah!

Lajahilio menggembor keras lalu berteriak. "Hantu salah ujud! Aku mau lihat apa kau bisa lolos dari senjataku ini!" Lalu manusia berjubah kuning gelap ini gerakkan tangan kanannya ke pinggang di mana terselip senjatanya yang berbentuk sebuah clurit besar berwarna hitam legam. "Kekasihku, jangan turutkan amarahmu! Biarkan aku bicara dulu dengan kakek jahanam itu! Soal nyawanya kurasa bisa kita urus kemudian!"

Lajahilio banting kaki mendengar kata-kata si nenek. Dia berusaha menepiskan tangan kekasihnya itu, tapi si nenek mencekalnya dengan kencang. "Turuti kemauanku! Atau kau tidak ingin aku punya kesempatan untuk membalas dendam?!"

"Huh!" Lajahilio unjukkan tampang merengut. Masih penuh geram dia sisipkan senjatanya kembali ke pinggang.

Si nenek Luhjahilio berpaling pada Hantu Langit Terjungkir. "Sekarang harap kau memberitahu di mana beradanya gadis bernama Luhcinta itu! Jika kau berani macam-macam aku akan biarkan kekasihku mencincang tubuhmu mulai dari kaki sampai kepala!"

"Nenek sesat! Orang telah memindahkan tangan kananmu ke kening! Seharusnya itu sudah cukup menjadi pelajaran dan peringatan bagimu! Tapi rupanya kau memang tidak bisa dibuat sadar!"

"Keparat hidup menyungsang! Jangan banyak mulut di hadapanku! Tanganku sebenarnya sejak tadi sudah gatal untuk mempesiangi tubuhmu! Kau mau mengatakan di mana gadis bernama Luhcinta itu atau mampus sekarang juga?!" Tangan kiri si nenek bergerak ke pinggang di mana tergantung clurit putih berkilat.

Hantu Langit Terjungkir tidak takut ancaman orang. Sambil menyeringai dia berkata.

"Aku baru memberitahu kalau kau mau mengatakan mengapa kau mencari gadis itu?" tanya Hantu Langit Terjungkir pula.

"Kau bertanya aku akan menjawab!" kata si nenek pula. "Kau lihat keadaan mukaku! Kau lihat dada dan perutku. Putih hanya tinggal tulang belulang. Lihat hidungku! Lihat mata kananku yang terjulur keluar! Ini semua adalah akibat perbuatan gadis bernama Luhcinta itu! Dia memukulku hingga melesak masuk ke dalam dinding batu!"

"Wahai! Kau memang patut dikasihani! Tetapi mengapa gadis itu menghajarmu kalau tidak ada sebab musababnya?!"

"Tua bangka jahanam! Jangan kau memperpanjang pembicaraan dengan segala macam pertanyaan! Lekas katakan di mana Luhcinta berada!" Tangan kiri si nenek bergerak menggenggam gagang clurit besar yang memantulkan cahaya angker berkilauan terkena sinar matahari. Di sampingnya si kakek yang jadi kekasihnya tidak tinggal diam. Dia juga segera menghunus senjatanya.

***7TAHAN! Tunggu! Jangan mengeroyok aku dengan dua sabit besar itu! Setahuku dulu kalian memiliki senjata berbentuk pedang terbuat dari batu merah. Mana senjata itu sekarang?! Sudah kalian jual karena kehabisan biaya hidup?! Ha... ha... ha!"

Wuuttt!

Clurit putih di tangan kiri Luhjahilio berkelebat dan tahutahu bagian tajamnya sudah melingkar di leher Hantu Langit Terjungkir. Sekali renggut saja leher kakek ini pasti akan amblas putus.

Seperti diketahui, ilmu kepandaian Hantu Langit Terjungkir alias Lasedayu telah amblas dirampas Hantu Muka Dua. Peristiwanya terjadi ketika Hantu Muka Dua dengan mempergunakan sebuah sendok emas sakti yang didapatnya dari makhluk bernama Lamanyala, berhasil mencungkil pusar Lasedayu yakni bagian tubuh yang menjadi pusat segala kesaktiannya. Walau tidak memiliki ilmu kesaktian lagi, namun secara diam-diam di tempat kediamannya di Lembah Seribu Kabut, Lasedayu berhasil menghimpun kekuatan tenaga dalam dan ilmu baru yang cukup dapat diandalkan dan bukan sembarangan orang bisa menjajalnya. Itu sebabnya walau lehernya sudah dikalungi Luhjahilio dengan clurit besar, dia masih bisa cengar-cengir, malah julur-julurkan lidahnya. Lalu dia berkata. "Aku hidup sudah puluhan tahun. Sudah lebih dari cukup! Kalau kau memutuskan leherku saat ini, aku akan sangat berterima kasih, Luhjahilio. Lakukanlah!"

"Tua bangka gila! Kau benar-benar minta mati! Aku masih mau memberi kesempatan! Katakan di mana Luhcinta!"

"Wahai...! Kalau kau sangat mendesak baiklah akan aku katakan. Harap kau pasang telinga. Dengar baik-baik!"

"Kek, jangan kau beritahu!" teriak Si Penolong Budiman.

"Jangan campuri urusan orang!" bentak Lajahilio. Sekali berkelebat tahu-tahu ujung clurit hitamnya sudah mendekam di atas perut manusia bermuka tanah liat itu!

Sekali tangan itu bergerak, jebollah perut orang dan ususnya akan berhamburan keluar!

Si Penolong Budiman tampak tenang saja. Tapi diamdiam dia segera kerahkan tenaga dalam pada dua tangannya. Kalau perlu dia siap untuk sama-sama mati mengadu jiwa dengan Lajahilio.

"Tenang... Tenang semua!" Hantu Langit Terjungkir berkata. "Aku akan beritahu di mana gadis itu berada..."

"Katakan cepat! Dari tadi kau cuma berceloteh tak karuan!" bentak Luhjahilio.

"Gadis itu berada di tempat yang aku tidak tahu!" kata Hantu Langit Terjungkir pula lalu tertawa gelak-gelak.

"Keparat jahanam! Mampus kau!" teriak Luhjahilio.

Tangan kirinya yang memegang clurit putih siap disentakkan.

Di sebelah sana Lajahilio juga tidak berdiam diri. Tanpa banyak cerita dia siap menekankan ujung clurit hitamnya untuk merobek perut Si Penolong Budiman!

Namun dalam keadaan yang sangat menegangkan itu tidak terduga mendadak berkelebat satu bayangan kuning.

Butt! Prett!

Gerakan bayangan yang sangat sebat disertai bunyi suara kentut mau tak mau menyita perhatian Sepasang Hantu Bercinta yang siap menghabisi Hantu Langit Terjungkir dan Si Penolong Budiman. Ternyata tidak hanya kelebatan bayangan kuning dan suara kentut yang muncul. Di saat bersamaan dua larik sinar kuning berbentuk tombak menderu ke arah Luhjahilio dan Lajahilio!

"Tombak Kuning Pengantar Mayat!" teriak Luhjahilio dan Lajahilio hampir berbarengan. Tampang sepasang kakek nenek ini menjadi seputih kain kafan. Keduanya sama-sama jatuhkan diri menghindari sambaran sinar kuning sambil tetap meneruskan niat untuk menghabisi dua lawan mereka. Namun saat itu Hantu Langit Terjungkir dan Si Penolong Budiman sudah bergerak lebih dahulu!

Dua kaki Hantu Langit Terjungkir yang ada di udara tibatiba sekali melesat ke bawah. Dua tumitnya menghantam ke arah batok kepala Luhjahilio. Si nenek tahu betul kehebatan dua kaki lawan. Terlambat dia selamatkan diri batok kepalanya akan amblas dihantam dua tumit Hantu Langit Terjungkir. Selagi perhatiannya tersita pada serangan lawan, dia cepat rundukkan kepala sementara tangan kirinya bekerja, menarik clurit besar yang melingkar di leher Hantu Langit Terjungkir. Tapi sekali ini si nenek kalah cepat dengan gerakan tangan kanan lawan. Hantaman dua kaki yang dilancarkan Hantu Langit Terjungkir ke arah kepala Luhjahilio sebenarnya hanya tipuan belaka. Begitu perhatian lawan terbagi dan membuat gerakan mengelak, Hantu Langit Terjungkir cepat melesat mumbul ke atas untuk lepaskan leher dari kalungan clurit. Bersamaan dengan itu tangan kanannya dipukulkan.

Bukkkk!

Kraaakkk!

Luhjahilio terpental dua tombak, bergulingan di tanah sambil keluarkan suara raungan. Dari mulutnya menyembur darah kental. Clurit putihnya terlepas jatuh entah ke mana. Ketika dia bangkit terbungkuk-bungkuk sambil pegangi dadanya yang remuk dilabrak jotosan tangan kanan Hantu Langit Terjungkir, mata kanannya yang sebelumnya terbujur kini tak kelihatan lagi. Mata itu kini hanya tinggal lobang digenangi darah menggidikkan. Matanya yang satu bergerak liar kian kemari mencari cluritnya. Kemudian nenek ini keluarkan seruan tertahan ketika di sebelah sana dilihatnya kekasihnya tergeletak tak bergerak!

Walau lolos dari maut, namun Hantu Langit Terjungkir ternyata mengalami cidera cukup parah. Ketika tadi dia menghantam si nenek, dia pergunakan tangan kanannya. Kakek ini lupa kalau tangannya itu masih dibalut dan belum sembuh betul dari patah akibat hantaman tongkat tulang Sang Junjungan beberapa waktu lalu. Begitu dipergunakan menghantam dada lawan, tak ampun lengan yang patah itu ambruk kembali! Si kakek terguling di tanah, menggeliat-geliat menahan sakit. Si Penolong Budiman cepat menghampiri orang tua ini, mendukungnya dan membawanya ke tempat yang aman dekat sebuah batu besar di tepi telaga.

"Kek, kau tak apa-apa?"

"Sial betul nasibku! Mengapa aku begitu tolol pergunakan tangan kanan memukul lawan! Tangan ini pasti sudah patah lagi! Celaka betul!"

"Aku akan menolongmu. Mari kulihat dulu lenganmu,"

kata Si Penolong Budiman sambil hendak membuka pelepah pisang yang membalut lengan si kakek.

"Jangan pikirkan diriku. Awasi dulu sepasang kakek nenek sesat itu! Mereka tidak segan-segan membokong kita secara curang!"

"Tak usah khawatir Kek. Si nenek cidera berat akibat pukulanmu! Kekasihnya kakek satu itu agaknya tak akan sadar dalam waktu satu minggu!"

Apa yang terjadi dengan Lajahilio seperti yang disaksikan oleh si nenek kekasihnya?

Ketika tadi sinar kuning berbentuk tombak menghantam ke arahnya mau tak mau perhatian Lajahilio jadi terbagi. Dia merasa masih punya kesempatan untuk menambus perut Si Penolong Budiman. Karena itu sambil jatuhkan diri ke samping dia betot celuritnya demikian rupa. Namun manusia muka tanah liat telah lebih dulu bergerak. Tangan kiri memukul lengan Lajahilio hingga dirinya terpental ke samping. Bersamaan dengan itu tangan kanannya didorongkan ke depan. Gerakannya perlahan saja. Dari tangan kanan itu menyembur keluar selarik sinar hitam yang merebak berbentuk kipas. Dalam larikan sinar hitam berkilauan sinar-sinar terang aneh seperti bunga api.

"Pukulan Menebar Budi!" teriak Lajahilio. Kakek ini serta merta menyingkir selamatkan diri. Tapi terlambat. Larikan sinar hitam keburu menyapu tubuhnya mulai dari dada sampai ke lutut!

Wuuuusss!

Lajahilio menjerit keras. Tubuhnya mencelat sampai tiga tombak lalu terkapar di tanah tak berkutik lagi. Pakaiannya mulai dari dada sampai ke lutut tampak hangus mengepulkan asap hitam!

Pukulan yang barusan dilepaskan si muka tanah liat memang pukulan yang disebut Pukulan Menebar Budi. Pukulan hebat inilah yang membuat dia menjadi terkenal di Negeri Latanahsilam dan sangat ditakuti lawan. Pukulan Menebar Budi tersebut berjumlah tujuh yakni Pukulan Menebar Budi Hari Pertama sampai Pukulan Menebar Budi Hari ke Tujuh. Yang tadi dilepaskannya untuk menghantam Lajahilio adalah Pukulan Menebar Budi Hari Pertama.

Akibatnya seperti disaksikan sendiri. Kalau sampai dia menghantam dengan Pukulan Menebar Budi Hari ke Dua, saat itu nyawa si kakek sudah tidak tertolong lagi. Rupanya manusia muka tanah liat ini masih mempunyai rasa belas kasihan hingga tidak mau menjatuhkan tangan terlalu keras. Tapi karena jarak mereka begitu dekat maka akibat yang menimpa Lajahilio sungguh parah walau orang ini tidak sampai meregang nyawa.

"Jahanam! Kau membunuh kekasihku!" teriak Luhjahilio. Terhuyung-huyung nenek yang juga mengalami cidera parah ini jatuhkan diri ke atas tubuh Lajahilio lalu menggerung keras. Di antara suara gerungan itu tiba-tiba terdengar suara tawa mengikik disusul suara butt prett!

"Luhjahilio nenek sesat! Kau dan kekasihmu samasama tak tahu diri! Masih untung orang tidak membunuh kekasihmu itu! Kau sendiri, apa peringatanku masih kurang jelas? Aku sudah memindahkan tangan kananmu ke jidat! Tapi kau masih saja menjalani hidup jahat dan sesat! Apa tanganmu yang satu lagi mau aku pindahkan ke selangkangan?! Hik... hik... hik...!"

Mata kanan Luhjahilio kucurkan darah. Mata kirinya bergerak berputar memandang ke arah sosok serba kuning yang tertawa cekikikan di hadapannya.

"Hantu Selaksa Angin! Aku menyatakan perang tujuh turunan denganmu! Kau akan rasakan pembalasanku!"

Nenek muka kuning songgengkan pantatnya lalu butt prett! Dia pancarkan kentutnya. "Tua bangka tolol! Anak saja kau tidak punya, apalagi cucu! Bagaimana kau bisa bicara tak karuan menyatakan perang tujuh turunan?! Hik... hik... hik! Bagusnya kau lekas angkat kaki dari tempat ini! Bawa kekasihmu itu selagi bisa diselamatkan!"

Luhjahilio meludah ke tanah. Ludahnya bercampur darah. Dengan matanya yang tinggal satu dia membeliak memandang ke arah Si Penolong Budiman.

"Makhluk muka tanah liat, nasibmu tak akan kalah sengsara dari nenek keparat itu! Lihat saja pembalasanku nanti!" Habis berkata begitu Luhjahilio lalu coba mengangkat tubuh kekasihnya. Maksudnya hendak didukung di pundak kirinya. Ternyata dia tidak mampu melakukan.

"Aku mau menolongmu mendukung kakek butut itu. Katakan saja kau mau bawa dia ke mana dan kau mau bayar aku dengan apa?! Hik... hik... hik!"

Mendengar ejekan Hantu Selaksa Angin itu Luhjahilio jadi mendidih amarahnya. Melupakan keadaan dirinya sendiri dia sambar clurit hitam milik Lajahilio yang tergeletak di tanah lalu menyerbu Hantu Selaksa Angin. Dalam satu gebrakan saja dia sudah kirimkan dua babatan dan satu bacokan.

Butt prett!

Hantu Selaksa Angin pancarkan kentutnya lalu cepat berkelebat. Ketika lengan jubah kirinya dikebutkan, selarik cahaya kuning berkiblat. Seperti tadi waktu menolong Hantu Langit Terjungkir dan makhluk muka tanah liat, nenek muka kuning itu kembali lepaskan pukulan Tombak Kuning Pengantar Mayat. Walau diserang dengan pukulan sakti itu, namun Luhjahilio tetap nekad, terus saja menerjang dengan clurit besar di tangan kiri. Hantu Selaksa Angin arahkan pukulan saktinya ke tangan kiri lawan.

Cahaya kuning berbentuk tombak kembali berkiblat di udara.

Traanggg!

Luhjahilio terpekik keras. Clurit hitamnya patah dua dan terlepas mental. Tangan kirinya bergetar keras dan ada rasa sakit seperti ditusuk puluhan jarum. Sadar dalam keadaan seperti itu dia tak bakalan dapat menghadapi lawan, Luhjahilio banting-banting kaki. Dengan tangan kirinya dia cekal leher berjubah kuning Lajahilio lalu seret si kakek meninggalkan tempat itu sambil keluarkan kutuk serapah.

"Nenek sesat! Kalau saja kau tahu diri akan kukembalikan tangan kananmu ke tempat semula!" kata nenek muka kuning mengantar kepergian Luhjahilio.

Mendengar ucapan itu Luhjahilio hentikan langkahnya dan berteriak.

"Aku tidak perlu belas kasihanmu nenek muka comberan! Kalau tiba saatnya aku akan pindahkan nyawamu ke pusaran neraka langit ke tujuh!"

Butt prett!

Hantu Selaksa Angin alias Hantu Selaksa Kentut jawab ucapan Luhjahilio dengan pancaran kentutnya lalu tertawa cekikikan. Tak lama setelah Luhjahilio meninggalkan tempat itu bersama kekasihnya, Hantu Selaksa Angin berpaling ke arah orang bermuka tanah liat yang tengah menolong Hantu Langit Terjungkir. Nenek muka kuning ini segera mendekati. Dia perhatikan sebentar keadaan si kakek lalu berkata. "Huh! Seperti anak kecil! Cuma sakit sedikit saja tapi mengerang tak putus-putus!"

Hantu Langit Terjungkir sibakkan rambut yang menutupi kepalanya. "Tua bangka tukang kentut! Kau rupanya! Kau tidak merasa bagaimana sakitnya karena bukan kau yang cidera!"

Si kakek tempelkan belakang tangan kirinya ke bibir lalu preettt! Dia tirukan suara kentut si nenek. Hantu Selaksa Angin tertawa cekikikan. "Kau masih pandai menirukan kentutku! Padahal suara dan irama kentutku sudah berbeda dari dulu! Hik... hik..... ( lanjutkan membaca setelah login gratis di sini )
Auto Promo BLOGGER Auto Promo INSTAGRAM Auto Promo TWITTER Auto Promo FACEBOOK Auto Promo LINKEDIN
JUDUL
Wiro Sableng #1 : Empat Berewok Dari Goa Sanggreng
Wiro Sableng #10 : Banjir Darah Di Tambun Tulang
Wiro Sableng #100 : Dendam Dalam Titisan
Wiro Sableng #101 : Gerhana Di Gajahmungkur
Wiro Sableng #102 : Bola Bola Iblis
Wiro Sableng #103 : Hantu Bara Kaliatus
Wiro Sableng #104 : Peri Angsa Putih
Wiro Sableng #105 : Hantu Jatilandak
Wiro Sableng #106 : Rahasia Bayi Tergantung
Wiro Sableng #107 : Hantu Tangan Empat
Wiro Sableng #108 : Hantu Muka Dua
Wiro Sableng #109 : Rahasia Kincir Hantu
Wiro Sableng #11 : Raja Rencong Dari Utara
Wiro Sableng #110 : Rahasia Patung Menangis
Wiro Sableng #111 : Hantu Langit Terjungkir
Wiro Sableng #112 : Rahasia Mawar Beracun
Wiro Sableng #113 : Hantu Santet Laknat
Wiro Sableng #114 : Badai Fitnah Latanahsilam
Wiro Sableng #115 : Rahasia Perkawinan Wiro
Wiro Sableng #116 : Hantu Selaksa Angin
Wiro Sableng #117 : Muka Tanah Liat
Wiro Sableng #118 : Batu Pembalik Waktu
Wiro Sableng #119 : Istana Kebahagiaan
Wiro Sableng #12 : Pembalasan Nyoman Dwipa
Wiro Sableng #120 : Kembali Ke Tanah Jawa
Wiro Sableng #121 : Tiga Makam Setan
Wiro Sableng #122 : Roh Dalam Keraton
Wiro Sableng #123 : Gondoruwo Patah Hati
Wiro Sableng #124 : Makam Ketiga
Wiro Sableng #125 : Senandung Kematian
Wiro Sableng #126 : Badik Sumpah Darah
Wiro Sableng #127 : Mayat Persembahan
Wiro Sableng #128 : Si Cantik Dalam Guci
Wiro sableng #129 : Tahta Janda Berdarah
Wiro Sableng #13 : Kutukan Empu Bharata
Wiro Sableng #130 : Meraga Sukma
Wiro Sableng #131 : Melati Tujuh Racun
Wiro Sableng #132 : Kutukan Sang Badik
Wiro Sableng #133 : 113 Lorong Kematian
Wiro Sableng #134 : Nyawa Kedua
Wiro Sableng #135 : Rumah Tanpa Dosa
Wiro Sableng #136 : Bendera Darah
Wiro Sableng #137 : Aksara Batu Bernyawa
Wiro Sableng #138 : Pernikahan Dengan Mayat
Wiro Sableng #14 : Sepasang Iblis Betina
Wiro Sableng #140 : Misteri Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #141 : Kematian Kedua
Wiro Sableng #142 : Kitab Seribu Pengobatan
Wiro Sableng #143 : Perjanjian Dengan Roh
Wiro Sableng #144 : Nyi Bodong
Wiro Sableng #145 : Lentera Iblis
Wiro Sableng #146 : Azab Sang Murid
Wiro Sableng #147 : Api Di Puncak Merapi
Wiro Sableng #148 : Dadu Setan
Wiro Sableng #149 : Si Cantik Dari Tionggoan
Wiro Sableng #15 : Mawar Merah Menuntut Balas
Wiro Sableng #150 : Misteri Pedang Naga Merah
Wiro Sableng #151 : Sang Pembunuh
Wiro Sableng #152 : Petaka Patung Kamasutra
Wiro Sableng #153 : Misteri Bunga Noda
Wiro Sableng #154 : Insan Tanpa Wajah
Wiro Sableng #155 : Sang Pemikat
Wiro Sableng #156 : Topan Di Gurun Tengger
Wiro Sableng #157 : Nyawa Titipan
Wiro Sableng #158 : Si Cantik Gila Dari Gunung Gede
Wiro Sableng #159 : Bayi Satu Suro
Wiro Sableng #16 : Hancurnya Istana Darah
Wiro Sableng #160 : Dendam Mahluk Alam Roh
Wiro Sableng #161 : Perjodohan Berdarah
Wiro Sableng #162 : Badai Laut Utara
Wiro Sableng #163 : Cinta Tiga Ratu
Wiro Sableng #164 : Janda Pulau Cingkuk
Wiro Sableng #165 : Bayi Titisan
Wiro Sableng #166 : Kupu-Kupu Giok Ngarai Sianok
Wiro Sableng #167 : Fitnah Berdarah Di Tanah Agam
Wiro Sableng #168 : Mayat Kiriman Di Rumah Gadang
Wiro Sableng #169 : Bulan Sabit Di Bukit Patah
Wiro Sableng #17 : Lima Iblis Dari Nanking
Wiro Sableng #170 : Kupu-Kupu Mata Dewa
Wiro Sableng #171 : Malam Jahanam Di Mataram
Wiro Sableng #172 : Empat Mayat Aneh
Wiro Sableng #173 : Roh Jemputan
Wiro Sableng #174 : Dua Nyawa Kembar
Wiro Sableng #175 : Sepasang Arwah Bisu
Wiro Sableng #176 : Dewi Kaki Tunggal
Wiro Sableng #177 : Jaka Pesolek Penangkap Petir
Wiro Sableng #178 : Tabir Delapan Mayat
Wiro Sableng #18 : Pendekar Pedang Akhirat
Wiro Sableng #180 : Sesajen Atap Langit
Wiro Sableng #181 : Selir Pamungkas
Wiro Sableng #182 : Delapan Pocong Menari
Wiro Sableng #183 : Bulan Biru Di Mataram
Wiro Sableng #184 : Dewi Dua Musim
Wiro Sableng #185 : Jabang Bayi Dalam Guci
Wiro Sableng #19 : Pendekar Dari Gunung Naga
Wiro Sableng #2 : Maut Bernyanyi Di Pajajaran
Wiro Sableng #20 : Hidung Belang Berkipas Sakti
Wiro Sableng #21 : Neraka Puncak Lawu
Wiro Sableng #22 : Siluman Teluk Gonggo
Wiro Sableng #23 : Cincin Warisan Setan
Wiro Sableng #24 : Penculik Mayat Hutan Roban
Wiro Sableng #25 : Cinta Orang Orang Gagah
Wiro Sableng #26 : Iblis Iblis Kota Hantu
Wiro Sableng #27 : Khianat Seorang Pendekar
Wiro Sableng #28 : Petaka Gundik Jelita
Wiro Sableng #29 : Bencana Di Kuto Gede
Wiro Sableng #3 : Dendam Orang-orang Sakti
Wiro Sableng #30 : Dosa Dosa Tak Berampun
Wiro Sableng #31 : Pangeran Matahari Dari Puncak Merapi
Wiro Sableng #32 : Bajingan Dari Susukan
Wiro Sableng #33 : Panglima Buronan
Wiro Sableng #34 : Munculnya Sinto Gendeng
Wiro Sableng #35 : Telaga Emas Berdarah
Wiro Sableng #36 : Dewi Dalam Pasungan
Wiro Sableng #37 : Maut Bermata Satu
Wiro Sableng #38 : Iblis Berjanggut Biru
Wiro Sableng #39 : Kelelawar Hantu
Wiro Sableng #4 : Keris Tumbal Wilayuda
Wiro Sableng #40 : Setan Dari Luar Jagad
Wiro Sableng #41 : Malaikat Maut Berambut Salju
Wiro Sableng #42 : Badai Di Parang Tritis
Wiro Sableng #43 : Dewi Lembah Bangkai
Wiro Sableng #44 : Topeng Buat WIRO SABLENG
Wiro Sableng #45 : Manusia Halilintar
Wiro Sableng #46 : Serikat Setan Merah
Wiro Sableng #47 : Pembalasan Ratu Laut Utara
Wiro Sableng #48 : Memburu Si Penjagal Mayat
Wiro Sableng #49 : Srigala Iblis
Wiro Sableng #5 : Neraka Lembah Tengkorak
Wiro Sableng #50 : Mayat Hidup Gunung Klabat
Wiro Sableng #51 : Raja Sesat Penyebar Racun
Wiro Sableng #52 : Guna Guna Tombak Api
Wiro Sableng #53 : Kutukan Dari Liang Kubur
Wiro Sableng #54 : Pembalasan Pendekar Bule
Wiro Sableng #55 : Misteri Dewi Bunga Mayat
Wiro Sableng #56 : Ratu Mesum Bukit Kemukus
Wiro Sableng #57 : Nyawa Yang Terhutang
Wiro Sableng #58 : Bahala Jubah Kecono Geni
Wiro Sableng #59 : Peti Mati Dari Jepara
Wiro Sableng #6 : Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga
Wiro Sableng #60 : Serikat Candu Iblis
Wiro Sableng #61 : Makam Tanpa Nisan
Wiro Sableng #62 : Kamandaka Si Murid Murtad
Wiro Sableng #63 : Neraka Krakatau
Wiro Sableng #64 : Betina Penghisap Darah
Wiro Sableng #65 : Hari-Hari Terkutuk
Wiro Sableng #66 : Singa Gurun Bromo
Wiro Sableng #67 : Halilintar Di Singosari
Wiro Sableng #68 : Pelangi Di Majapahit
Wiro Sableng #69 : Ki Ageng Tunggul Keparat
Wiro Sableng #7 : Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin
Wiro Sableng #70 : Ki Ageng Tunggul Akhirat
Wiro Sableng #71 : Bujang Gila Tapak Sakti
Wiro Sableng #72 : Purnama Berdarah
Wiro Sableng #73 : Guci Setan
Wiro Sableng #74 : Dendam Di Puncak Singgalang
Wiro Sableng #75 : Harimau Singgalang
Wiro Sableng #76 : Kutunggu Di Pintu Neraka
Wiro Sableng #77 : Kepala Iblis Nyi Gandasuri
Wiro Sableng #78 : Pendekar Gunung Fuji
Wiro Sableng #79 : Ninja Merah
Wiro Sableng #8 : Dewi Siluman Bukit Tunggul
Wiro Sableng #80 : Sepasang Manusia Bonsai
Wiro Sableng #81 ; Dendam Manusia Paku
Wiro Sableng #82 : Dewi Ular
Wiro Sableng #83 : Wasiat Iblis
Wiro Sableng #84 : Wasiat Dewa
Wiro Sableng #85 : Wasiat Sang Ratu
Wiro Sableng #86 : Delapan Sabda Dewa
Wiro Sableng #87 : Muslihat Para Iblis
Wiro Sableng #88 : Muslihat Cinta Iblis
Wiro Sableng #89 : Geger Di Pangandaran
Wiro Sableng #9 : Rahasia Lukisan Telanjang
Wiro Sableng #90 : Kiamat Di Pangandaran
Wiro Sableng #91 : Tua Gila Dari Andalas
Wiro Sableng #92 : Asmara Darah Tua Gila
Wiro Sableng #93 : Lembah Akhirat
Wiro Sableng #94 : Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #95 : Jagal Iblis Makam Setan
Wiro Sableng #96 : Utusan Dari Akhirat
Wiro Sableng #98 : Rahasia Cinta Tua Gila
Wiro Sableng #99 : Wasiat Malaikat


LOAD MORE INSPIRATIONS...

© www&mdot;nomor1&mdot;com · [email protected]&mdot;com · terms of use · privacy policy · 172.68.65.87
team developer · pt excenture indonesia · central park podomoro city · jakarta indonesia