Wiro Sableng #105 : Hantu Jatilandak
WIRO SABLENG

Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212

Karya: Bastian Tito

Episode : PETUALANGAN WIRO DI LATANAHSILAM

DI ATAS RUNTUHAN BATU KARANG SAAT ITU BERDIRI SATU SOSOK TINGGI KURUS BERWUJUD MANUSIA YANG HANYA MENGENAKAN SEHELAI CAWAT KECIL TERBUAT DARI KULIT KAYU. SEKUJUR TUBUHNYA, MULAI DARI UBUN- UBUN SAMPAI KE KAKI MENYERUPAI WARNA POHON JATI. NAMUN DITUMBUHI BULU-BULU TEBAL KERAS DAN PANJANG SERTA RUNCING SEPERTI BULU LANDAK. SEPASANG MATANYA DITEDUHI DUA ALIS HITAM TEBAL DIBAWAH HIDUNGNYA YANG SELALU KEMBANG KEMPIS MENEKUK KUMIS LEBAT. DAUN TELINGANYA PANJANG DAN LEBAR, JUGA DITUMBUHI DURI-DURI SEPERTI BULU LANDAK.SESEKALI DIA MELUDAH KE TANAH. LUDAHNYA BERWARNA KUNING PEKAT! "MAKHLUK BERBULU LANDAK! WAHAI! TIDAK DAPAT TIDAK KAU PASTILAH MAKHLUK YANG TUJUH PULUH TAHUN SILAM KUBERI NAMA HANTU JATILANDAK!" MAKHLUK DI ATAS BATU TIDAK BERGERAK DAN TIDAK BERKESIP. HANYA DARI TENGGOROKANNYA TERDENGAR SUARA MENGGEMBOR. LALU SEPERTI TADI DIA MELUDAH KE TANAH. "HANTU MUKA DUA! AKU SUDAH TAHU SIAPA DIRIMU DARI KAKEKKU TRINGGILING LIANG BATU! AKU TIDAK SUKA KEHADIRANMU DI PULAU INI! LEKAS KEMBALI KE PERAHUMU! TINGGALKAN PULAU! ATAU SEKUJUR TUBUHMU AKAN KUTABURI DENGAN DURI BERACUN!"



1LAUT tenang. Tiupan angin pada layar membuat perahu kecil itu meluncur laju di permukaan air laut.

Lelaki bertubuh kekar berambut gondrong yang mukanya ditumbuhi janggut, kumis dan cambang bawuk lebat duduk di bagian haluan. Dua kakinya terbungkus batu berbentuk bola yang beratnya puluhan kati. Namun anehnya perahu kecil itu tidak terjungkat ke belakang oleh beratnya dua bola batu itu. Lelaki ini duduk tak bergerak, memandang tak berkesip ke depan.

Dia adalah Lakasipo, bekas Kepala Negeri Latanahsilam bergelar Bola-Bola Iblis namun lebih dikenal dengan berjuluk Hantu Kaki Batu.

Di bagian depan perahu sosok manusia aneh yang tingginya hanya sebatas lutut Lakasipo duduk saling berpegangan. Di wajah masing-masing jelas terlihat rasa gamang dan khawatir yang amat sangat. Dengan keadaan tubuh mereka sebesar itu, meluncur cepat di atas perahu dan memandang berkeliling hanya hamparan laut yang kelihatan tentu saja ketiganya menjadi ngeri. Malah kakek yang di ujung kanan sejak tadi terduduk dengan mulut terkancing mata mendelik dan tengkuk dingin sementara dari bawah perutnya mengucur air kencing tak berkeputusan.

Tiga manusia cebol yang ada di bagian depan perahu itu bukan lain adalah si kakek julukan Setan Ngompol, bocah bernama Naga Kuning dan Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 Wiro Sableng.

"Sebenarnya aku tidak suka dengan perjalanan ini!" berkata Naga Kuning.

"Aku juga!" kata Setan Ngompol.

"Tapi kau yang memaksa aku agar ikut kek! Padahal aku sudah ada rencana menemui Luhkimkim, gadis di Latanahsilam itu!"

"Kita sudah ada di atas perahu dan dalam perjalanan.

Mengapa baru sekarang kalian berkata tidak suka!" menjawab Wiro. "Tapi masih ada kesempatan untuk kembali! Apa kalian berdua bisa berenang?"

"Eh, apa maksudmu Pendekar 212?" tanya Setan Ngompol.

"Mencebur ke dalam laut dan berenang kembali ke daratan Latanahsilam!"

"Kau bicara tidak pakai pikiran!" kata Setan Ngompol dengan muka cemberut.

Naga Kuning berkomat-kamit lalu berpaling ke bagian belakang perahu. "Lakasipo! Kau yang pertama sekali merencanakan perjalanan ini!"

Lakasipo yang sejak tadi memandang ke depan, alihkan pandangannya pada tiga manusia cebol di bagian depan perahu. "Betul sekali wahai saudaraku Naga Kuning! Tapi jangan lupa. Semua ini atas petunjuk berdasarkan cerita Peri Angsa Putih. Kita semua menyetujui sama-sama berangkat! Lalu sekarang apa lagi?!"

"Menurutmu, apakah kita benar-benar bisa mencari dan menemui makhluk bernama Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab Ku?" tanya Wiro.

"Betul," ucap Setan Ngompol. "Laut seluas ini, kita harus mencari satu pulau yang kita tidak tahu dimana letaknya, tak tahu apa namanya. Hanya ada petunjuk samar!"

"Turut cerita Hantu Muka Dua adalah makhluk Jahat luar biasa. Kalau dia seperti itu, gurunya tentu lebih jahat lagi. Dan Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab ini adalah guru Hantu Muka Dua! Kita semua pasti celaka!"

"Coba kalian timbang-timbang," kata Setan Ngompol menyambung ucapan Naga Kuning tadi. "Peri Angsa Putih tahu cerita itu dari kakeknya si Hantu Tangan Empat. Menurutku Hantu Tangan Empat tidak begitu suka pada kita bertiga. Jangan-jangan dia sengaja mengarang cerita untuk mencelakai kita semua!"

Wiro garuk-garuk kepala. Apa yang dikatakan temantemannya itu mungkin betul adanya. Dia berpaling memandang ke arah Lakasipo. Lalu kembali terdengar si Setan Ngompol berkata. "Lakasipo, selagi belum terlambat ada baiknya kau memutar haluan. Kita kembali ke Latanahsilam!"

"Kalian semua seolah takut melihat bayangan sendiri.

Bukankah perjalanan ini kita lakukan demi untuk mencari jalan agar kalian bertiga bisa kembali ke negeri kailan? Bukankah hanya Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab itu satu-satunya tempat bertanya? Hantu Tangan Empat sudah kita coba. Dia tak bisa menolong. Kita sudah berusaha mencari Batu Sakti Pembalik Waktu.

Tidak berhasil. Ini adalah petunjuk terakhir yang harus kita tempuh. Kalau kalian memaksa mau kembali apa sulitnya bagiku memutar haluan!" Lakasipo celupkan tangan kanannya ke dalam air laut, siap untuk merubah haluan.

"Tunggu!" ujar Pendekar 212 Wiro Sableng. "Peri Angsa Putih tidak akan menipu kita. Hantu Tangan Empat walau kita tidak tahu pasti hatinya tapi kurasa juga tidak punya maksud mencelakai kita. Yang jadi pertanyaan sekarang, seandainya kita berhasil menemui guru Hantu Muka Oua, apakah dia benar-benar mau menolong kita? Jangan perjalanan gila ini hanya menghasilkan satu kesia-siaan!"

"Turut riwayat yang pernah kudengar puluhan tahun silam," kata Lakasipo pula, "Sebenarnya Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab itu adalah seorang sakti berhati polos! Otaknya dipenuhi berbagai ilmu pengetahuan.

Hantu Muka Dua kemudian mempergunakan kesempatan. Secara licik dia mencari tahu apa-apa yang harus dilakukannya agar bisa menjadi Raja di Raja Segala Hantu di Latanahsilam. Begitu dia mendapatkan apa yang dimaunya, sang guru lalu dibuatnya menjadi tidak berdaya. Dibawa dan dikucilkan di se buah pulau yang menurut Peri Angsa Putih adalah pulau pertama sehari perjalanan ke arah tenggara.

Kalaupun kita tidak berhasil, menurut hematku berbuat sesuatu adalah lebih baik dari pada tidak melakukan apa-apa sama sekali. Kecuali jika kalian memang tidak benar-benar ingin kembali ke negeri kalian. Kau misalnya Naga Kuning. Mungkin kau memilih tetap tinggal di Latanahsilam karena sudah terpikat dengan Luhkimkim. Dan kau kakek Setan Ngompol juga sama karena sudah kecantol pada nenek yang dandanannya menor acak-acakan bernama Luhlampiri itu. Bagaimana dengan kau Wiro?!"

Ditanya begitu Pendekar 212 jadi menyeringai sambil garuk-garuk kepala.

"Mungkin dia terpikat pada Peri Sesepuh yang bertubuh besar gembrot membal dan suka ngongkong itu!" Yang menjawab Naga Kuning lalu bocah ini tertawa cekikikan. "Hik... hik... hik!" Setan Ngompol ikut-ikutan geli sambil pegangi bawah perutnya.

"Aku menuruti jalan pikiranmu Lakasipo," Murid Sinto Gendeng berkata, membuat Naga Kuning dan Setan Ngompol jagi cemberut. "Buruk dan baik nasib kita di kemudian hari belum dapat dipastikan. Berharap tanpa berusaha adalah bodoh! Kita teruskan perjalanan!"

"Naga Kuning dan Setan Ngompol! Kalian sama mendengar keputusan saudara kita Wiro Sableng, Mulai sekarang jangan ada diantara kita yang terus-terusan merasa bimbang mengadakan perjalanan ini!"

Baru saja Lakasipo berkata begitu tiba-tiba langit di atas laut tampak berubah mendung. Dari selatan angin kencang bertiup mengeluarkan suara mengerikan.

Ombak besar mulai bergulung-gulung di kejauhan.

Perahu kecil yang ditumpangi keempat orang itu terbanting kian kamari. Wiro dan Naga Kuning dicekam rasa takut. Setan Ngompol mulai terkencing-kencing lagi.

"Topan badai menyerang laut!" seru Lakasipo.

Kalian bertiga lekas ke sini!"

Wiro, Naga Kuning dan Setan Ngompol cepat lari mendatangi Lakasipo. Oleh Lakasipo ketiga orang ini segera diselipkannya di balik sabuk kulit yang melilit di pinggangnya. Lalu dengan cepat dia menurunkan layar perahu untuk menghindari terpaan angin. Dengan kedua tangannya yang dipergunakan sebagai dayung dia mengayuh. Perahu meluncur pesat. Namun hantaman angin dan ombak raksasa membuat perahu itu mencelat lima tombak ke udara. Ketika jatuh ke permukaan laut, kembali ombak besar menghantam. Perahu hancur berkeping-keping. Sosok Lakasipo yang diberati dua bola batu langsung tenggelam ke dalam amukan air taut.

Dia kerahkan tenaga dalam untuk melenyapkan gaya berat pada dua kakinya. Secara luar biasa Lakasipo berhasil membuat dua kakinya yang terbungkus bolabola batu mengambang di atas permukaan laut yang dilanda badai itu. Namun setiap kali dia coba menaikkan tubuhnya ke atas, hantaman ombak atau terpaan angin selalu membuat dia kembali tenggelam. Berulang kali dicoba tetap saja sia-sia. Dalam keadaan habis tenaga Lakasipo akhirnya jatuh pingsan dan roboh tenggelam ke dalam air.

*

* *Ketika Lakasipo sadar didapati dirinya terkapar tertelentang di atas pasir pantai. Dia mencoba bangkit namun tak berhasil. Sekujur tubuhnya terasa sakit dan tulang-tulangnya seolah bertanggalan dari persendian.

Memandang ke atas dilihatnya langit biru disaputi cahaya kekuningan. Dia tak dapat menduga apakah saat itu pagi atau menjelang sore. Tiba-tiba Lakasipo ingat pada tiga saudara angkatnya. Dia meraba ke pinggang. Hatinya lega begitu menyentuh tiga sosok tubuh cebol. Setelah mengumpulkan seluruh tenaga akhirnya Lakasipo berhasil bangkit dan duduk di atas pasir. Wiro, Naga Kuning dan Setan Ngompol memang masih terikat dibalik sabuk kulitnya. Namun ketiga orang ini terkulai tak bergerak.

"Jangan-jangan mereka mati semual" pikir Lakasipo.

Dengan cepat dia tanggalkan ikat pinggangnya. Begitu ikatan lepas tiga sosok tubuh itu jatuh bergulingan ke atas pangkuannya. Masih tetap tidak ada satupun yang bergerak. Pucatlah wajah Lakasipo.*

* *

2"CELAKA!" membatin Lakasipo. Satu persatu dimbilnya ketiga sosok cebol itu. Diperiksa dan didekatkannya ke telinganya. Dia masih bisa mendengar detak-degup jantung walaupun perlahan.

"Wahai...." Lakasipo pegang Setan Ngompol dan Naga Kuning di tangan kiri. Tangan kanan mencekal sosok Wiro Sableng. Ketiga orang itu dipegangnya kaki ke atas kepala ke bawah. Perlahan-lahan air laut mengucur keluar dari mulut mereka. Masih belum puas Lakasipo tempelkan perut ketiga orang itu ke dadanya.

Begitu dia menekan, Wiro, Naga Kuning dan Setan Ngompol sama keluarkan suara seperti orang muntah.

Air kambali mengucur keluar. Lalu ketiganya terdengar batuk-batuk. Penuh perasaan lega Lakasipo baringkan ketiga orang itu di atas pasir.

Wiro yang pertama sekali sadar, membuka mata lalu bangkit dan duduk. Dia merasa ngeri melihat ombak yang bergulung lalu memecah di pasir pantai.

Mengingat-ingat apa yang terjadi dia lalu berpaling pada Lakasipo dan bertanya, sementara Naga Kuning dan Setan Ngompol telah mulai siuman dan memandang kian kemari dengan muka pucat. Ketika mendengar deburan ombak di pasir pantai keduanya jadi ketakutan dan berdiri terhuyung-huyung.

"Lakasipo! Kita berada di mana?!" bertanya murid Sinto Gendeng.

Lakasipo memandang berkeliling. Ketika dia mem buka mulut hendak menjawab, yang keluar dari mulutnya bukan suara tapi semburan air laut! Celakanya muntahan air itu jatuh mengguyur ketiga orang yang ada di depannya. Setan Ngompol memaki panjang pendek. Naga Kuning menyumpah-nyumpah. Wiro sendiri menggerutu habis-habisan dan cepat sekamukanya yang terguyur muntahan.

"Untung cuma air, tidak bercampur dengan yang lain-lain! Sialan betul!" Wiro mengomel.

"Saudara-saudaraku, maafkan aku! Aku tak sengaja...."

"Kalau bicara jangan menghadap kami! Kulihat perutmu buncit tanda masih banyak air di dalamnya!" teriak Naga Kuning.

Lakasipo batuk-batuk. Benar saja. Dari mulutnya kembali menyembur air. Untung dia mendengar peringatan Naga Kuning tadi. Waktu muntahnya menyembur dia palingkan mukanya ke samping hingga air yang dimuntahkannya tidak menyirami ketiga orang Ku.

Wiro memandang ke arah barat. Dia melihat sosok mentari tengah menggelincir menuju titik tenggelamnya.

"Lakasipo, kulihat sebentar lagi matahari segera tenggelam. Malam akan tiba. Lekas kau mencari tahu di mana kita berada saat ini...."

Lakasipo memandang berkeliling. "Tak bisa aku menduga wahai Wiro. Melihat pada bentuk pantai yang membelok di ujung kiri dan kanan agaknya kita berada di satu pulau...."

"Pulau tempat kediaman guru Hantu Muka Dua?" tanya Naga Kuning.

"Lagi-lagi aku tak bisa menduga wahai sahabatku...."

"Kalau begitu kita harus segera bergerak mencari tahu. Paling tidak sebelum malam tiba kita ada tempat untuk berlindung!" kata Wiro pula lalu berdiri dan mendahului melangkah dan meninggalkan tempat itu.

Lakasipo cepat mengangkat Wiro, Naga Kuning dan Setan Ngompol. Sambil melangkah dia berkata.

"Di sebelah sana ada deretan panjang pohonpohon besar. Kita akan menyelidik ke sana...."

Begitu sampai di deretan pohon-pohon yang tadi dilihatnya di kejauhan, Lakasipo hentikan langkah, memandang dengan muka mengernyit.

"Pohon-pohon aneh! Tumbuhnya rapat sekali! Dan dipenuhi duri mulai dari ranting sampai ke batang!" Berseru Wiro yang ada dalam dukungan Lakasipo.

Lakasipo maju mendekat. "Kau betul Wiro. Seumur hidup baru sekali ini aku melihat pohon-pohon seperti Ini. Bentuknya seperti pohon jati. Tapi mengapa ditumbuhi duri-duri panjang. Tumbuhnya juga rapat. Jika tidak hati-hati sulit bagi seseorang bisa lolos di antara dua pohon...."

"Di belakang deretan pohon-pohon itu hanya ada kegelapan menghitam," berkata Setan Ngompol. "Saat Ini masih siang. Kalau malam tiba pasti sangat gelap Di sebelah sana. Tangan di depan mata mungkin tak bisa kelihatan...."

Lakasipo tampak diam seolah tengah berpikir.

"Lakasipo, mengapa kau diam saja?!" bertanya Naga Kuning.

"Wahai! Aku tengah menghubungkan ucapanucapan kalian dengan satu riwayat yang pernah kudengar..."

jawab Lakasipo. "Pohon-pohon jati berduri seperti duri bulu landak. Rimba belantara hitam gelap.

Kelam.... Ini semua mengingatkan aku pada dua hal.

pertama Jatilandak. Kedua hutan Lahitamkelam."

"Jatilandak itu, nama orang atau apa?" bertanya Wiro.

"Nama Hantu. Hantu Jatilandak. Salah satu dedengkot Hantu. Tapi kabarnya dia berada di bawah kekuasaan dan taklukan Hantu Muka Dua!" Menerangkan Lakasipo.

"Jangan-jangan pulau ini adalah pulau kediamannya Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab, gurunya Hantu Muka Dua! Berarti kita sudah berada di pulau tujuan!" kata Naga Kuning setengah berseru.

"Ssst.... Jangan bicara terlalu keras," kata Lakasipo.

"Kita belum bisa memastikan berada di pulau apa. Tapi dugaanku ini bukan pulau kediaman guru Hantu Muka Dua. Aku lebih yakin ini adalah pulau sarangnya Hantu Jatilandak...."

"Lakasipo," kata Wiro sambil pukulkan tangannya ke dada lelaki yang dikenal dengan julukan Hantu Kaki Batu itu. "Di sebelah sana kulihat ada dua pohon yang tumbuh lebih renggang. Mungkin ada jalan atau mungkin kita bisa menemukan petunjuk di tempat itu."

Lakasipo memandang ke arah yang ditunjuk Wiro.

Memang benar. Tidak seperti di tempat lain dimana semua pohon jati berduri tumbuh sangat rapat, di sebelah sana ada dua pohon, diikuti pohon-pohon lain di deretan sebelah belakang, tumbuh lebih jarang satu sama lain. Segera saja Lakasipo melangkah cepat menuju tempat itu.

"Duukk... duukkk... duuukkkk!"

Langkah-langkah kaki batu Lakasipo menghunjam di pasir pantai. Mengeluarkan suara keras dan menggetarkan seantero tempat.

"Wahai! Kita memang bisa lewat di sini! Kelihatannya ini jalan setapak yang sengaja dibuat orang." Berkata Lakasipo begitu sampai di antara dua pohon jati besar yang tumbuh renggang. Demikian juga deretan pohonpohon di sebelah belakang, "Berarti pulau ini ada penghuninya!" kata Wiro pula.

"Betul, yaitu Hantu Jatilandak..." jawab Lakasipo.

"Apakah makhluk bernama Hantu Jatilandak ini Jahat atau baik?" tanya Naga Kuning.

"Tak dapat kupastikan. Yang jelas dia adalah setengah manusia setengah binatang. Manusia seperti kita bisa saja dijadikan mangsa, dikunyah dan ditelan bulat-bulat. Kita harus berhati-hati!"

Si kakek Setan Ngompol langsung terkencing mendengar kata-kata Lakasipo itu.

Lakasipo melangkah melewati dua pohon jati berduri di sebelah depan. Walau pohon-pohon itu tumbuh renggang namun dia harus berhati-hati. Dia berusaha agar tubuhnya jangan sampai tergurat oleh ujung-ujung duri yang tumbuh berserabutan di sekujur batang pohon. Apa lagi kalau duri-duri itu mengandung racun jahat yang bisa mencelakai dirinya bahkan mungkin bisa membunuh!

Hati-hati Lakasipo terus bergerak. Dia melewati deretan pohon jati kedua, ketiga dan keempat. Pada deretan kelima di mana keadaan mulai agak suram Lokasipo hentikan langkahnya. Matanya memandang tak berkesip ke depan. Dia melihat satu keanehan.

Keanehan mana juga dilihat oleh tiga sosok cebol yang ada dalam dukungannya.

Pohon-pohon jati di kiri kanan pada deretan kelima dan seterusnya tidak lagi berbentuk pohon jati berduri tapi lebih menyerupai patung kayu bertampang seram setinggi satu setengah kali tinggi Lakasipo. Patungpatung ini berdiri berjajar demikian rupa, membentuk barisan seolah memagari jalan kecil yang ada di sebelah tengah.

"Aneh," bisik Wiro pada Naga Kuning dan Setan Ngompol. "Bagaimana ada patung di tempat seperti ini. Siapa yang membuat dan menyusunnya begitu rupa. Aku yakin jumlahnya puluhan, mungkin ratusan!"

"Aku ada firasat kita mulai menghadapi bahaya besar Wiro," balas berbisik Setan Ngompol dengan suara bergetar dan menekan bagian bawah perutnya kencang-kencang agar tidak ngompol.

"Lakasipo, apa yang hendak kau lakukan? Tetap di sini, atau kembali ke pantai. Atau kau akan terus melangkah melewati patung-patung itu!" Bertanya Murid Sinto Gendeng. Diam-diam dia .kerahkan tenaga dalam ke tangan kanan, menghimpun kesaktian ilmu pukulan Sinar Matahari. Dibanding dengan keadaannya dulu yang sosoknya hanya sebesar jari, kini berubah menjadi sebesar betis, dia merasa lebih leluasa mengerahkan kesaktiannya. Paling tidak jika diserang atau dilepaskannya akan lebih hebat dari pada waktu dia hanya sebesar jari.

"Menurutku jalan antara deretan patung ini menuju ke satu tempat. Aku memilih bergerak maju melewatinya.

Bagaimana pendapatmu?" Bertanya Lakasipo.

"Aku setuju kita jalan terus. Tapi hati-hati. Coba kau perhatikan. Patung-patung kayu jati itu bukan patung biasa. Setiap persendiannya dibuat demikian rupa seperti persendian manusia hidup. Berarti patungpatung kayu itu bisa berputar atau bergerak pada bagian leher, tangan, pinggang dan kaki!"

"Astaga! Wahai! Kau memang betul Wiro. Jika kau tidak memberi tahu hal itu tidak sempat menjadi perhatianku.

Jadi memang aku, kita semua harus berhatihati.

Awas, kalian semua pasang mata pasang telinga.

Aku mulai bergerak melangkah!"

"Dukk... duukkk!"

Gerakan langkah kaki Lakasipo menggetarkan tanah. Patung-patung kayu tampak bergoyang.

Lakasipo maju dua langkah. Dia melewati patung kayu deretan pertama di kiri kanan. Ketika dia hampir sampai pada deretan patung kayu kedua tiba-tiba terdengar suara berkereketan. Tangan-tangan patung pada deretan kedua itu bergerak ke atas lalu dengan cepat turun ke bawah mengemplang ke arah batok kepala Lakasipo!

Lakasipo berseru kaget, cepat dia membungkuk rundukkan kepala. Baru saja dia berhasil selamatkan diri tiba-tiba terdengar teriakan Wiro.

"Lakasipo! Awas di belakangmu!"

Lakasipo cepat berpaling. Astaga! Ternyata dua patung pada deretan pertama yang barusan dilewatinya tengah melancarkan tendangan. Satu mengarah pinggang, satu menerabas ke arah kaki!

Lakasipo cepat menghindar selamatkan diri. Dia berhasil berkelit dari tendangan yang menghantam ke arah pinggang. Namun kasip menghindari tendangan yang menghajar kakinya.

"Bukkk!"

Tendangan kaki kayu mendarat di kaki kanan lakasipo. Walau kaki itu diselubungi batu yang beratnya puluhan kati tapi tetap saja kaki itu terpental dan tak ampun lagi Lakasipo jatuh terbanting di tanah. Di saat yang sama tiga patung lainnya sama-sama mengangkat kaki lalu serentak dihunjamkan ke perut, dada dan kepala Lakasipo.

"Celaka!" seru Wiro. Dia berteriak. "Lakasipo! Lekas kau buat gerakan berputar. Pergunakan kaki kirimu untuk menghantam!"

Walau saat itu kaki kanannya sakit bukan main namun Lakasipo turuti apa yang dikatakan Wiro. Dengan mengerahkan tenaga dalam, dalam keadaan masih terduduk di tanah Lakasipo membuat gerakan berputar dan menghantam dengan kaki kirinya.

"Wuuuuttttt!"

"Praakkk... praakkk... praaakkk!"

Tiga kaki patung kayu yang barusan siap membunuhnya hancur berantakan. Tiga patung terpental dan jatuh berantakan di sela-sela pohon-pohon jati berduri!

Perlahan-lahan sambil memandang berkeliling, penuh waspada Lakasipo bangkit berdiri.

"Wiro, bagaimana...? Kita terus memasuki deretan patung-patung kayu ini atau kembali ke pantai?' bertanya Lakasipo.

"Kita kembali saja ke pantai!" menjawab Setan Ngompol.

"Sudah kepalang tanggung! Kita terus saja!" jawab Wiro.

‘Ya, aku setuju. Kita jalan terus! Lakasipo, kalau cuma patung kayu kau pasti sanggup menghancurkan jika mereka kembali menyerang!" kata Naga Kuning pula.

Lakasipo tetapkan hati. Dia kembali melangkah.

"Duuukkkk... duukkkk!"* *Sebelum melanjutkan apa yang terjadi dengan Lakasipo, Wiro dan Naga Kuning serta si Setan Ngompol di pulau itu, kita kembali dulu pada satu peristiwa besar di masa beberapa puluh tahun silam dan terjadi di Negeri Latanahsilam. Negeri 1200 tahun silam....3PERI BUNDA menatap rawan dengan sepasang matanya yang bening tapi suram ke arah timur. Lalu dia berpaling pada Peri Sesepuh yang bertubuh gemuk luar biasa dan duduk di kursi batu pualam merah dengan mata terpejam. "Peri Sesepuh, aku tahu kau tidak tidur. Wahai apa yang ada di dalam benakmu?" Menegur Peri Bunda.

Yang ditanya tidak segera menjawab. Tak selang berapa lama baru terdengar suara Peri Sesepuh. Perlahan dan halus.

"Apa yang ada di benakku sama dengan apa yang ada di benakmu wahai Peri Bunda. Mengapa kau masih bertanya? Bukankah sejak malam tadi kita berada di puncak bukit sepi dan dingin ini, meninjau dan menduga-duga apa yang kiranya telah dan akan terjadi...."

Perl Bunda mengusap wajahnya yang cantik. Beberapa kali dia menghela nafas dalam lalu berkata.

"Malam tadi rembulan muncul dengan warna merah sepertl darah. Di barat angin bertiup mengeluarkan suara aneh halus seolah suara seruling yang ditiup mengantar kepergian roh ke alam atas langit. Di selatan sayup-sayup terdengar deru gelombang di tengah laut tapi seolah tidak pernah memecah mencapai pantai berpasirr. Di utara Gunung Latinggimeru mengeluarkan suara menggemuruh halus. Mungkin ada dinding gunung yeng retak dan lahar panas mengalir ke luar.

Mungkin gunung itu siap untuk meletus. Lalu di sebelah timur... sampai saat ini tak ada cahaya kuning benderang.

Apakah sang surya tidak akan muncul hari ini...?"

Perlahan-lahan Peri Sesepuh membuka sepasang matanya yang sejak tadi dipejamkan. Di tempat terbuka dan dingin seperti di puncak bukit itu wajahnya yang gembrot masih saja dibasahi oleh keringat. Dia menatap ke ufuk timur. Arah yang dibelakangi Peri Bunda.

"Sang surya tidak pernah mengingkari janji wahai Peri Bunda. Di ufuk timur dia akan selalu terbit setiap pagi. Putar tubuhmu. Lihatlah ke timur. Fajar telah menyingsing. Sang surya telah terbit. Tapi demi segala Peri dan Dewa, demi semua Roh yang ada di antara langit dan bumi. Lihatlah wahai Peri Bunda! Mengapa sinar sang surya terhalang oleh tabir aneh kehitaman...?!"

Peri Bunda putar tubuh palingkan kepala. Begitu matanya memandang ke jurusan timur sana, berubahlah parasnya. "Kau benar wahai Peri Sesepuh. Sang surya tak pernah ingkar janji. Dia muncul pagi ini seperti jutaan pagi sebelumnya. Tetapi ada tabir hitam seolah menutupi cahayanya yang putih benderang. Pertanda apakah ini wahai Peri Sesepuh? Apakah benar dugaan kita berdua. Bayi pencemar segala tuah yang ditunggu telah lahir malam menjelang pagi tadi?"

"Perasaan dan dugaanku mengatakan begitu...."

"Kalau itu benar telah terjadi, berarti kita harus siap menghadapi segala nista dan petaka."

Peri Sesepuh anggukkan kepala. "Wahai Peri Bunda, aku terpaksa harus segera kembali. Para Peri yang lain harus diberitahu agar mereka juga siap. Kau tetap di sini. Tunggu kedatangan Peri Angsa Putih membawa berita."

"Peri Sesepuh, tunggu! Jangan pergi dulu. Nista dan petaka apakah yang akan menimpa Negeri Atas Langit sehubungan dengan kejadian lahirnya bayi pencemar segala tuah itu?"

"Banyak wahai Peri Bunda. Namun tidak semua bisa ku beritahu padamu. Hanya beberapa saja.

Misalnya, angin tak akan berhembus lagi selama setahun penuh. Kalaupun masih berhembus angin itu akan disertai hawa pengap dan bau yang tidak sedap. Air akan berhenti mengucur dari tempat ketinggian ke tempat rendah. Berarti ada kawasan yang bakal menderita kekeringan sepanjang tahun. Lalu bunga-bunga akan menjadi layu. Pucuk tak akan menjadi buah. Buah yang ada akan jatuh ke tanah dalam keadaan busuk...."

Peri Bunda jadi terdiam mendengar keterangan Peri Sesepuh itu.

"Aku pergi sekarang.wahai Peri Bunda. Susul aku jika kau sudah bertemu dan menerima kabar dari Peri Angsa Putih."

Peri Sesepuh gulungkan kain sutera merah tipis diseputar dadanya yang tersingkap. Lalu perlahanlahan tubuhnya bersama kursi batu pualam, melayang ke alas, makin tinggi, makin jauh dan akhirnya lenyap riah pemandangan.

"Heran..." kata Peri Bunda perlahan. "Telah beberapa kali hal seperti ini terjadi. Mengapa masih ada saja Peri yang melanggar larangan?"

Perl Bunda tatapkan matanya ke arah timur kembali.

Di lurusan itu keadaan semakin terang namun tabir hitam masih menutupi pemandangan. Tiba-tiba melesat sebuah benda aneh yang tidak jelas perwujudannya.

Bersamaan dengan itu menggelegar suara keras menggaung panjang dan lama.

"Seperti suara tangisan bayi. Tapi juga menyerupai lolongan srigala...." Peri Bunda usap tengkuknya yang jadi dingin sementara matanya mengikuti benda yang melayang di udara. Demikian cepatnya benda ini melesat hingga sebelum sang Peri sempat berkedip benda itu telah lenyap dari pandangan matanya. "Benda apa itu wahai gerangan. Aku mencium bau amisnya darah.

Jangan-jangan...."

Belum sempat Peri Bunda menyelesaikan ucapan hatinya tiba-tiba di atasnya melayang satu benda putih disertai suara menguik keras. Benda ini dengan cepat bergerak turun dan ternyata adalah seekor angsa raksasa berwarna putih. Dari atas punggung binatang ini melompat turun seorang gadis cantik mengenakan pakaian terbuat dari sejenis kain sutera halus berwarna putih. Tubuh dan pakaiannya menebar bau harum semerbak, nyaris menutup keharuman bau tubuh dan pakaian biru Peri Bunda.

"Wahai Peri Angsa Putih, kau muncul tepat pada saatnya. Apakah kau datang membawa berita yang ditunggu-tunggu?"

Peri Angsa Putih, peri cantik bermata biru anggukkan kepala. "Wahai Peri Bunda. Di mana gerangan Peri Sesepuh?'

"Peri Sesepuh telah lebih dulu kembali. Kau akan memberi keterangan padaku di sini atau kita samasama menemui Peri Sesepuh?'

"Aku.... Waktuku singkat. Biar kuceritakan saja padamu apa yang terjadi. Nanti kau saja yang menyampaikan pada Peri Sesepuh...."

"Kalau begitu lekas terangkan padaku apa yang telah terjadi. Benarkah semua dugaan dan kira-kira sesuai dengan kenyataan yang ada?"

"Memang benar adanya wahai Peri Bunda. Duga dan sangka tidak jauh meleset dari kenyataan. Pertanda alam kita dan segala tuah akan tercemar sepanjang tahun. Mungkin akan ditambah lagi dengan menebarnya sejenis penyakit menular."

Berubahlah paras Peri Bunda mendengar katakata terakhir Peri Angsa Putih itu.

"Penyakit menular katamu wahai Peri Angsa Putih?'

Yang ditanya mengangguk.

"Wahai! Peri Sesepuh tidak menyebutkan ihwal penyakit itu. Bagaimana kau bisa tahu?"

"Kakekku yang memberitahu," jawab Peri Angsa Putih.

"Maksudmu Hantu Tangan Empat?" tanya Peri tunda.

Kembali Peri Angsa Putih mengangguk.

"Celakai Apa jadinya kita semua. Apa jadinya negeri kita."

"Kita harus siap menghadapi apapun yang terjadi wahai Peri Bunda. Bukankah hal semacam ini sudah beberapa kali terjadi? Bahkan mungkin....?" Peri Angsa Pulih tidak teruskan ucapannya.

Perl Bunda yang juga disebut sebagai Simpul Agung Segala Peri atau Peri Junjungan Dari Segala Junjungan menatap lekat-lekat ke wajah Peri Angsa Putih.

Pandangan matanya seolah menyelidik jauh ke balik mata dan jalan pikiran Peri cantik itu.

"Kau tidak meneruskan ucapanmu tadi wahai Peri Angsa Putih. Apa maksudmu dengan kata-kata Bahkan mungkin...."

Sesaat Perl Angsa Putih jadi agak terkesiap. Namun dia segera tersenyum untuk menutupi keterkejutannya atas pertanyaan yang tidak terduga itu.

"Sudahlah, waktuku tidak banyak. Lagi pula Peri Sesepuh tentu sangat menantikan kedatanganmu.

Sebaiknya aku segera saja menuturkan apa yang telah terjadi...." Tapi Peri Bunda gelengkan kepala.

"Penuturanmu memang penting. Tapi bagiku penjelasanmu atas kata-katamu tadi tak kalah pentingnya.

Wahai, harap kau sudi memberi jawaban atas pertanyaanku tadi, Peri Angsa Putih." Setelah berucap diam-diam dalam hatinya Peri Bunda membatin. "Apa maksud ucapan kerabatku ini. Jangan-jangan dia mengetahui apa yang ada dalam hatiku."

Sebaliknya Peri Angsa Putih diam-diam juga menjadi gelisah dan berkata dalam hati. "Peri Bunda pasti telah tahu apa yang akan terjadi di masa puluhan tahun mendatang. Jangan-jangan dia mencurigai diriku...."

"Peri Angsa Putih, kau belum menjawab. Kau belum memberi penjelasan."

"Dari pada dia mendesak, lebih baik aku mendesak duluan!" kata Peri Angsa Putih dalam hati. Maka diapun berkata. "Hatimu dan hatiku, pikiranmu dan pikiranku, penglihatanmu ke masa depan dan penglihatanku rasanya tidak banyak berbeda wahai Peri Bunda. Namun jika aku salah mohon maafmu. Apa kau sependapat denganku bahwa dunia kita semakin lama semakin mengalami banyak perubahan? Batas antara kita bangsa Peri dan manusia di bawah langit semakin tipis laksana kabut pagi yang mudah pupus ditelan sinar mentari?"

"Peri Angsa Putih! Wahai! Bagaimana kau berani berkata begitu?!" ucap Peri Bunda setengah berseru.

Dalam hati dia berkata. ‘Dugaanku tidak meleset. Dia bisa membaca jauh ke lubuk hatiku! Daripada menjadi urusan lebih baik aku mengalah sementara."

"Wahai Peri Angsa Putih, katamu waktumu singkat.

Baiklah. Aku tidak akan mengganggu dengan pertanyaan-pertanyaan lagi. Segera saja kau ceritakan apa yang tolah terjadi...."*

* *

4GEROBAK yang ditarik kuda berbulu putih belang hitam itu berhenti di depan bangunan besar terbuat dari kayu besi. Saat itu di penghujung malam menjelang pagi. Perempuan tua yang duduk di samping pemuda sais gerobak melompat turun. Gerakannya gesit dan enteng. Di pinggangnya tergantung satu bungkusan besar. Di depan pintu bangunan dia hentikan langkah, memandang pada lelaki yang keluar menyambutnya.

Perempuan tua itu ludahkan gumpalan sirih dan tembakau di dalam mulutnya lalu bertanya.

"Apa aku datang terlambat wahai Lahambalang?"

"Nenek Luhumuntu. Keadaannya gawat sekali. Aku khawatir...."

Perempuan tua itu tidak menunggu sampai lelaki bernama Lahambalang menyelesaikan ucapannya. Dengan cepat dia masuk ke dalam bangunan, langsung menuju ke sebuah kamar dari dalam mana terdengar suara erangan berkepanjangan.

Di ambang pintu kamar si nenek mendadak hentikan langkah. "Lahambalang! Kegilaan apa yang aku lihat ini!

Siapa yang mengikat tangan dan kakinya!"

"Tidak ada jalan lain Nek! Dia selalu berontak.

Memukul dan menendang. Melihat aku sepertinya dia hendak membunuhku!"

"Gila dan aneh! Perempuan yang hendak melahirkan bisa bersikap seperti itu!" Luhumuntu masuk ke dalam kamar yang diterangi dua buah obor besar. Tiga langkah dari ranjang kayu kembali gerakannya tertahan.

Di atas tempat tidur kayu itu tergeletak menelentang seorang perempuan. Wajahnya yang cantik tertutup oleh keringat serta kerenyit menahan sakit.

Dari mulutnya yang terbuka keluar erangan ditingkahi desau nafas yang membersit dari hidung. Perempuan ini memiliki perut besar dan tertutup sehelai rajutan rumput kering. Ketika pandangannya membentur sosok si nenek, dua matanya membeliak besar dan dari mulutnya keluar suara menggereng seperti suara babi hutan.

"Tua bangka buruk! Siapa kau?!"

Lahambalang cepat mendekat dan berkata. "Wahai istriku Luhmintari, nenek ini Luhumuntu, dukun beranak di Latanahsilam yang akan menolongmu melahirkan "Menolong aku melahirkan?!" Sepasang mata perempuan di atas ranjang kayu semakin membesar dan Wajahnya tambah beringas. "Siapa yang akan melahirkan?! Aku tidak akan melahirkan!"

"Tenanglah Luhmintari. Orang akan menolongmu...."

"Aku tidak akan melahirkan! Aku tidak butuh pertolongan! Tidak akan ada apapun yang keluar dari perutku! Tidak akan ada bayi keluar dari rahimku! Kau dengar wahai Lahambalang?! Kau dengar nenek buruk dukun beranak celaka?!" Habis membentak seperti itu Luhmintari tertawa panjang.

Si nenek dukun beranak jadi merinding. Dia dekati Lahambalang dan berbisik. "Suara istrimu kudengar lain.

Tawanya kudengar aneh...."

Baru saja Luhumuntu berkata begitu tiba-tiba dari perut besar Luhmintari terdengar suara gerengan dan bersamaan dengan itu di kejauhan terdengar suara lolongan anjing hutan. Dukun beranak Luhumuntu tarik rumput kering yang menutupi tubuh Luhmintari. Begitu perut yang hamil besar Ku tersingkap, si nenek langsung tersurut. Lahambalang sendiri keluarkan seruan tertahan lalu mundur dua langkah.

Lazimnya perut perempuan hamil, biasanya menggembung besar dan licin. Namun yang dilihat oleh Luhumuntu dan Lahambalang adalah satu perut yang di dalamnya seperti ada puluhan duri. Permukaan perut Luhmintari kelihatan penuh tonjolan-tonjolan runcing dan tiada hentinya bergerak-gerak mengerikan.

"Demi Dewa dan Peri.'" ujar Lahambalang dengan suara bergetar. "Apa yang terjadi dengan istriku!"

Dukun beranak Luhumuntu angkat tangan kirinya.

"Lahambalang, istrimu akan segera kutangani. Harap kau cepat keluar dari kamar ini."

"Nenek Luhumuntu, kalau boleh aku ingin menungguinya sampai dia melahirkan..." kata Lahambalang pula.

"Keluar!" teriak Luhumuntu.

Mau tak mau Lahambalang keluar juga dari kamar itu. Si nenek segera membanting pintu. Ketika dia melangkah mendekati tempat tidur kembali Luhmintari perlihatkan tampang beringas.

"Nenek celaka! Kau juga harus keluar dari kamar ini!"

"Luhmintari, aku akan menolongmu melahirkan! Aku akan melepaskan ikatan pada dua kakimu! Jangan kau berbuat yang bukan-bukan!"

"Kau yang berkata dan akan berbuat yang bukan bukan!" sentak Luhmintari. "Aku tidak hamil! Aku tidak akan melahirkan! Tak ada bayi dalam perutku! Tak ada bayi yang akan keluar dari rahimku! Hik... hik... hik!"

"Tenang Luhmintari. Kau jelas hamil besar dan siap melahirkan. Kau akan melahirkan seorang bayi hasil hubungan sebagai suami istri dengan Lahambalang...."

Si nenek mendekati kaki tempat tidur. Dengan hati-hati dia lepaskan ikatan pada dua kaki Luhmintari. Begitu dua kaki lepas, kaki yang kanan bergerak menendang.

"Bukkk!"

Si nenek Luhumuntu terpekik dan terpental ke dinding.

Di luar Lahambalang berteriak. "Nenek Luhumuntu!

Ada apa?!"

Luhumuntu usap-usap perutnya yang tadi kena tendang. "Tidak apa-apa Lahambalang! Kau tak usah khawatir!" Lalu si nenek memandang pada Luhmintari dan berkata. "Sebagai dukun aku berkewajiban menolongmu melahirkan. Apapun yang akan keluar dari rahimmu aku tidak perduli!" Lalu dengan cepat si nenek kembangkan dua kaki Luhmintari. Dengan dua tangannya dia menekan perut perempuan itu.

Luhmintari meraung keras. Dari dalam perutnya keluar suara menggereng. Di kejauhan kembali terdengar suara lolongan anjing hutan.

"Jangan sentuh perutku! Pergi!"

Si nenek dukun beranak tidak perdulikan teriakan Luhmintari. Dua tangannya menekan semakin kuat.

Luhmintari menjerit keras. Lalu terdengar suara robek besar. Bersamaan dengan itu ada suara tangisan kecil.

Seperti suara tangisan bayi tapi disertai gerengan!

Luhumuntu terpekik ketika ada suatu benda melesat dan menyambar perutnya. Nenek ini mundur terhuyung-huyung. Ketika dia memperhatikan keadaan dirinya ternyata di bagian perut ada tiga guratan luka cukup dalam dan mengucurkan darah! Dari sudut kamar terdengar suara tangisan bayi aneh! Di atas ranjang kayu sosok Luhmintari tidak bergerak sedikitpun.

Tubuhnya yang penuh keringat perlahan-lahan menjadi dingin.

"Braaakkk!"

Pintu kamar terpentang hancur. Lahambalang melompat masuk. Dia tidak perdulikan si nenek dukun beranak yang tegak terbungkuk-bungkuk sambil pegangi perutnya yang luka bergelimang darah. Dia melangkah ke arah ranjang. Namun gerakannya serta merta tertahan. Dua kakinya seperti dipantek ke lantai.

Matanya membeliak besar. Sosok istrinya tergeletak tidak bergerak. Mata mendelik mulut menganga.

Perutnya robek besar dan darah masih mengucur mengerikan!

"Luhmintari!" teriak Lahambalang. Dia memandang seputar kamar. Begitu melihat si nenek dia kembali berteriak. "Nenek Luhumuntu! Apa yang terjadi dengan istriku! Aku mendengar tangisan bayi! Mana anakku?!"

Sambil sandarkan punggungnya ke dinding kamar si nenek menjawab. "Istrimu tewas wahai Lahambalang!

Tewas ketika melahirkan bayinya! Bayinya ternyata bukan bayi biasa! Bayi itu tidak keluar secara wajar tapi melalui perut istrimu yang tiba-tiba pecah robek besar!"

"Aku tidak percaya! Kau... kau pasti memakai cara gila! Kau pasti merobek perut istriku dengan pisau!"

"Aku tidak pernah membawa pisau wahai Laham belang," Jawab si nenek. Tubuhnya melosoh ke lantai.

Dua tangannya masih mendekapi perutnya yang luka.

"Mana bayiku! Mana anakku!" teriak Lahambalang.

SI nenek Luhumuntu angkat tangan kirinya. Dengan gemetar dia menunjuk ke sudut kamar.

"Itu....bennda yang di sudut sana. Itulah bayimu.

Kuharap kau bisa menabahkan diri menghadapi kenyataan ini wahai Lahambalang...."

Lahambalang berpaling ke arah yang ditunjuk.

Karena tidak tersentuh cahaya api obor, sudut kamar yang ditunjuk si nenek agak gelap. Namun Lahambalang masih bisa melihat satu benda bergelimang darah tergeletak di sana.

"Anakku..." desis Lahambalang. Dia mendatangi dan membungkuk. Tiba-tiba jeritan keras menggeledek dari mulutnya. "Tidaaaakkkk!"

"Lahambalang, kataku kau harus tabah menghadapi kenyataan..." berucap si nenek dukun beranak.

"Tidaaaakkkk!" teriak Lahambalang sekali lagi. "Itu bukan bayiku! Itu bukan anakku!"

"Lahambalang, betapapun kau tidak mengakui itu bukan anak bukan bayimu! Tapi itulah yang keluar dari perut Istrimu!"

Lahambalang tutupkan dua tangannya ke mukanya lalu menggerung keras. Di sebelah sana, di sudut yang kegelapan terdengar suara tangisan bayi aneh karena disertai suara menggereng halus. Sosok yang menggeletak masih berlumuran darah di sudut kamar itu memang satu sosok menyerupai bayi kecil. Tapi sekujur tubuhnya mulai dari kepala sampai ke kaki penuh ditumbuhi duri-duri aneh berwarna kecoklatan!

"Lahambalang, Itu anakmu. Itu bayimu! Jangan biarkan dia kedinginan di sudut kamar...." Terdengar nenek Luhumuntu berucap.

Sekujur tubuh Lahambalang bergeletar. Mulutnya mengucapkan sesuatu tapi tidak jelas kedengaran apa yang dikatakannya.

"Lahambalang, ambil anakmu. Dukung bayi itu...."

Lahambalang pejamkan dua matanya. Tenggorokannya turun naik, sesenggukan menahan tangis.

"Apa yang terjadi dengan diri kami! Wahai istriku Luhmintari. Nasibmu... nasibku... nasib anak kita. Apa semua ini karena kau melanggar larangan? Karena sebenarnya sebagai seorang Peri kau tidak boleh kawin denganku manusia biasa? Kalau ini memang satu kutukan, sungguh kejam dan jahat!"

Tiba-tiba Lahambalang bangkit berdiri. Mukanya kelihatan menjadi sangat mengerikan. Dadanya bergemuruh turun naik. Dua tangannya mengepal. Satu teriakan dahsyat keluar dari mulutnya.

"Wahai para Peri di atas langit! Kalau ini benar kutukan dari kalian! Mengapa istriku yang kalian bunuh!

Mengapa bayi tak berdosa ini yang kalian bikin cacat!

Mengapa tidak diriku yang kalian bikin mati! Kejam!

Jahat! Peri terkutuk keparat! Aku akan mencari seribu jalan melakukan pembalasan!"

Habis berteriak begitu Lahambalang membungkuk mengambil sosok bayi aneh yang tergeletak di sudut kamar. Lalu dia lari keluar bangunan. Seperti gila sambil lari tidak henti-hentinya dia berteriak.

"Ini bukan anakku! Ini bukan bayiku! Kalian menukar bayiku dengan makhluk celaka ini! Peri jahat Peri jahanam! Tunggu pembalasanku!"

Dalam gelap dan dinginnya malam menjelang fajar itu Lahambalang lari terus membawa bayi aneh yang tiada hentinya menangis. Lelaki ini baru hentikan lari nya ketika dapatkan dirinya tahu-tahu telah berada di ujung sebuah tebing. Di depannya menghadang satu jurang lebar. Di kejauhan terbentang lautan luas. Di sebelah timur langit mulai terang tanda sang surya siap memunculkan diri.

"Ini bukan bayiku! Ini bukan anakku! Para Peri di asas langit tunggu pembalasanku!" Dengan tubuh bergeletar lahambalang angkat bayi bergelimang darah dan penuh duri aneh itu. Sang bayi menangis keras.

Di kejauhan seolah datang dari tengah laut terdengar suara lolongan srigala. Di dahului teriakan keras dan panjang Lahambalang lemparkan bayi di tangan kanannya Bayl malang itu melesat jauh ke udara, lenyap dari pemandangan seolah menembus langit.

Lahambalang pandangi tangannya berlumuran darah lalu menatap ke langit. Sekali lagi lelaki ini menjerit dahsyat!*

* *

5LAMA Peri Bunda termenung mendengar penuturan Peri Angsa Putih itu. Berkali-kali pula dia menghela nafas dalam. Akhirnya sang Peri berkata. "Wahai Peri Angsa Putih, aku akan segera menemui Peri Sesepuh. Sebelum pergi bisakah aku mempercayai dua buah tugas padamu?"

"Aku siap melakukan apa yang menjadi perintahmu wahai Peri Bunda," jawab Peri Angsa Putih walau sebenarnya dia merasa kurang senang.

"Mulai saat ini kau harus memata-matai, apa yang dilakukan Lahambalang. Kemudian harap kau menyelidiki dimana jatuhnya bayi aneh itu. Kau harus mendapatkan dan mengambilnya baik dalam keadaan hidup ataupun mati. Bayi itu harus cepat dibawa ke alam atas langit dan diserahkan pada Peri Sesepuh."

Peri Angsa Putih mengangguk. Dia membungkuk memberi hormat lalu melompat ke atas Laeputih, angsa raksasa yang jadi tunggangannya. Namun sebelum dia bergerak pergi dilihatnya Peri Bunda mengangkat tangan kanan, menatap padanya dengan mulut terbuka tanpa suara.

"Wahai Peri Bunda, masih adakah sesuatu yang hendak kau katakan?" tanya Peri Angsa Putih.

Peri Bunda masih belum membuka mulut seolah ada kebimbangan di hatinya untuk berucap. Setelah menarik nafas lebih dulu baru dia berkata.

"Kau mungkin tidak suka membicarakan walau barang sebentar. Namun jika tidak ada kejelasan rasanya aku seperti diikuti bayang-bayang sendiri...."

"Apakah yang merisaukan hatimu, Wahai Peri Bunda?"

Mulutnya bertanya namun dalam hati Peri Angsa Putih mulai menduga-duga.

"Tadi aku sempat membicarakan: Hatiku dan hati mu, pikiranku dan pikiranmu, penglihatanku dan penglihatanmu ke masa depan rasanya tidak banyak berbeda. Lalu kau bilang bahwa dunia kita semakin lama semakin mengalami banyak perubahan. Batas antara kita bangsa Peri dan manusia di bawah langit semakin tipis. Laksana kabut pagi yang mudah pupus ditelan cahaya mentari. Kejadian bangsa Peri kawin dengan manusia biasa telah berulang kali terjadi walau mereka harus menerima hukuman dan kutuk. Kau katakan: Malah mungkin.... Tapi tidak kau teruskan ucapanmu.

Wahai Peri Angsa Putih, kita sama melihat kenyataan dan aku tidak mau berlaku munafik. Kehidupan kita bangsa Peri dalam segala kelebihannya namun masih memiliki serba kekurangan. Jika aku mau menyebut salah satu diantaranya adalah kita tidak memiliki dan hampir jarang merasakan bahagia jalinan kasih sayang.

Kasih sayang antara kita dengan kaum lelaki...."

"Wahai Peri Bunda, aku khawatir ada yang mendengar pembicaraan kita ini...." Peri Angsa Putih cepat memotong.

Peri Bunda gelengkan kepala. "Kenyataan tidak bisa dirubah. Akan tetap ada sampai akhir zaman. Peri Angsa Putih, apakah yang aku lihat sama dengan apa yang kau lihat. Apakah firasatku sama dengan firasatmu..,.

Apakah kau mau berterus terang?"

Peri Angsa Putih terdiam sejenak. Perlahan-lahan air mukanya bersemu merah.

"Wahai! Kulihat rona wajahmu menjadi merah.

Berarti dugaanku tidak salah. Jika kau tidak mau mengungkap, aku tidak akan malu-malu mengatakannya wahai Peri Angsa Putih."

"Kalau begitu sebaiknya biar kau saja yang berterus terang wahai Peri Bunda," jawab Peri Angsa Putih pula.

Peri Bunda menarik nafas dalam dua kali lalu berucap. "Firasat dan penglihatanku melihat. Di masa puluhan tahun mendatang. Entah kapan tepatnya tetapi pasti akan muncul di alam kita lelaki-lelaki gagah kepada siapa kita akan jatuh cinta. Namun bagaimana berbagi rasa dan cinta kalau orang yang kita kasihi itu adalah orang yang sama? Lalu kita akan mengenal hidup berurai air mata. Kita akan mengenal yang disebut rasa cemburu. Rasa rindu dan tidak mungkin terjadi apa yang disebut api dalam sekam. Kalau tiba saatnya meledak alam atas langit tempat kediaman kita akan menjadi geger...."

Dua Peri Ku untuk beberapa lamanya tak satupun yang bicara. Suara silir tiupan angin terdengar jelas saking sunyinya tempat Ku.

"Peri Bunda, masa puluhan tahun itu cukup lama bagi kita untuk mempersiapkan diri. Mudah-mudahan kita semua akan lebih dewasa menghadapi perubahan.

Memang kita bukan manusia biasa. Namun rasa dan hati kita tak bisa dipendam. Kita tidak mungkin menipu diri sendiri. Bahagia, cinta dan kasih sayang adalah dambaan semua makhluk hidup, termasuk kita bangsa Peri."

Peri Bunda anggukkan kepala. "Kau benar Wahai Peri Angsa Putih. Benar sekali! Aku akan segera kembali.

Harap kau melaksanakan tugas yang kuberikan tadi."

Perl Angsa Putih menjura hormat. Lalu dia mengusap leher angsa putih tunggangannya. Binatang raksasa Ini mengepakkan sayap dan melesat ke arah timur.*

* *

6BAYI laki-laki aneh yang sekujur tubuhnya ditumbuhi semacam duri berwarna coklat dan masih berselubung darah itu melesat di udara lalu lenyap ditelan kegelapan malam di sebelah barat. Namun tak selang berapa lama, setelah mencapai titik tertingginya bayi ini melayang ke bawah.

Di saat yang hampir bersamaan, di sebuah pulau di kawasan laut sebelah barat. Fajar yang menyingsing di ufuk timur masih belum mampu menerangi pulau itu. Masih terbungkus kegelapan, di satu bukit yang tertutup rapat oleh pohon-pohon jati berbentuk aneh, dalam sebuah lobang batu tampak melingkar sebuah benda yang tak dapat dipastikan apa adanya. Benda ini bergulung aneh, tertutup oleh sejenis sisik tebal berwarna hitam pekat. Benda ini bukan benda mati karena ada denyutan tiada henti dan setiap berdenyut sisik yang menutupinya tegak berjingkrak!

Ketika bayi Lahambalang melayang jatuh ke atas pulau, sosok aneh di liang batu itu tiba-tiba bersuit keras dan panjang lalu melesat ke atas. Dan astaga!

Ternyata dia adalah satu sosok makhluk hidup yang punya kepala, tangan dan kaki seperti manusia. Namun masih sulit dipastikan apakah makhluk itu benar-benar manusia. Sekujur tubuhnya, mulai dari ubun-ubun sampai ke kaki tertutup sisik tajam yang senantiasa bergerak-gerak, rebah lalu berdiri lalu rebah lagi terus menerus. Wajahnya tidak ketahuan mana mulut mana hidung. Matanya hanya merupakan dua buah tonjolan bulat yang lancip di sebelah tengah, seperti combong putih buah kelapa!

Makhluk bersisik hitam ini mendongak ke langit ketika melihat sosok bayi yang jatuh ke bawah. Lalu dari mulutnya yang tidak ketahuan entah berada di sebelah mana kembali melengking satu jeritan keras seolah merobek langit malam, menembus suara deru angin dan deburan ombak di pantai pulau.

Belum lenyap lengking jeritan itu tiba-tiba terdengar suara bergemuruh mendatangi. Bukit jati di atas pulau itu bergetar aneh. Di lain saat muncullah sepasang makhluk aneh mengerikan. Berupa dua ekor landak raksasa yang berjalan cepat dengan empat kakinya. Namun begitu sampai di hadapan makhluk bersisik, dua ekor landak ini pergunakan dua kaki bolakangnya seperti kaki manusia dan dua kaki depan sebagai tangan. Lalu dua binatang ini membungkuk seolah memberi hormat pada makhluk bersisik.

Makhluk bersisik di tepi liang batu angkat tangan kanannya. Sambil menjerit keras dia menunjuk ke langit. Ke arah sosok bayi Lahambalang yang tengah melayang jatuh ke atas pulau.

Dua ekor landak yang ternyata satu jantan satu betina palingkan kepala ke arah yang ditunjuk lalu sama-sama keluarkan jeritan keras.

"Laeruncing dan Laelancip! Apa yang aku lihat puluhan tahun silam dan pernah kukatakan pada kalian kini menjadi kenyataan! Selamatkan bayi itu!"

Satu suara menyerupai suara manusia menggema di tempat itu. Siapakah yang bicara? Ternyata makhluk bersisik di tepi liang batu!

Mendengar ucapan itu dua ekor landak raksasa, Laeruncing yang jantan dan Laelancip yang betina keluarkan pekik keras. Lalu sekali mereka cakarkan dua kaki ke tanah, saat itu juga tubuh mereka laksana sambaran kilat melesat ke udara! Lalu terjadilah satu hal yang luar biasa. Dua landak raksasa itu melesat demikian rupa menyongsong ke arah melayang jatuhnya bayi Lahambalang. Di satu titik di udara, ketiganya bertemu.

"Seettt... settt!"

Dua landak raksasa melesat dan bergerak demikian rupa, tahu-tahu telah mengapit dan menjepit sosok bayi di tengah-tengah. Di udara dua ekor landak ini membuat gerakan berputar tujuh kali lalu melesat turun ke arah pulau. Dalam waktu singkat dua ekor landak itu telah mendarat di tanah dekat liang batu, di hadapan makhluk yang tubuhnya tertutup sisik. Bayi Lahambalang yang beberapa saat sempat diam kini mulai menangis.

"Wahai Laeruncing dan Laelancip! Kau telah menjalankan tugasmu dengan baik!"

Dua ekor landak raksasa keluarkan suara gerengan halus. Makhluk bersisik kembali berkata.

"Apa yang aku lihat puluhan tahun silam kini menjadi kenyataan. Wahai Laeruncing dan Laelancip!

Bayi laki-laki yang bentuk tubuhnya penuh ditumbuhi tanduk-tanduk kecil seperti tubuh kalian itu sesungguhnya itulah bayi yang kalian tunggu-tunggu selama tiga ratus tahun! Bayi itu adalah anak kalian berdua!"

Dua ekor landak kembali menggereng. Mereka bergerak mendekati si bayi lalu ulurkan kepala dan mulai menjilati sosok bayi itu. Anehnya begitu dijilati sang bayi segera saja berhenti menangis!

"Laeruncing dan Laelancip! Kalian sudah mendapatkan anak yang kalian dambakan selama ratusan tahun Sekarang menjadi kewajiban kalian untuk memelihara dan membesarkannya. Ajarkan semua ilmu kepandaian yang kalian punya. Kecuali satu ilmu yang kalian tidak miliki. Yaitu bagaimana caranya bicara. Aku yang akan mengajarkan ilmu berbicara itu pada anak kalian! Dan kepadanya wahai Laeruncing dan Laelanclp aku akan memberikan nama. Sesuai dengan keadaan pulau ini yang penuh ditumbuhi pohon-pohon jati berduri seperi bulu landak, sesuai pula dengan keadaan dan bentuk kalian aku akan menamakan anak Hantu Jatilandak!"

Laeruncing dan Laelancip ulurkan dua tangan ke depan dan angguk-anggukkan kepala tanda mengerti.

"Kailan berdua boleh pergi. Jaga anak itu baik-baik.

Jika ada apa-apa yang kalian tidak mengerti, temui aku di Liang Batu Hitam ini! Aku Tringgiling Liang Batu adalah kakek dari bayi itu!"

Dua ekor landak menggereng halus, kembali anggukanggukkan kepala. Laeruncing, landak yang jantan pergunakan mulutnya untuk mengangkat bayi yang diberi nama Lajatilandak itu ke atas punggung betinanya yaitu Laelancip. Baru saja dua landak raksasa ini hendak bertindak pergi tiba-tiba di langit ada benda pulih menyambar turun disertai teriakan memerintah.

"Semua makhluk di atas pulau! Jangan ada yang berani bergerak! Aku datang membawa perintah!"

"Wuuuttt... wuttt!" Ada dua sayap raksasa mengepak deras membuat pohon-pohon jati berduri bergoyang goyang. Sesaat kemudian seekor angsa putih telah mendarat di atas sebuah batu besar, tak jauh dari makhluk bersisik berdiri dan hanya beberapa tombak dari dua ekor landak raksasa. Bau sangat harum memenuhi tempat itu.

Laeruncing dan Laelancip keluarkan suara menggereng.

Bayi di atas landak betina tiba-tiba keluarkan tangisan. Makhluk bersisik putar kepalanya. Dua mata combongnya bergerak-gerak. Dari balik sisik di mukanya keluar ucapannya.

"Berabad-abad telah berlalu. Tak pernah selama ini seorang Peripun muncul datang ke pulau dan singgah di hutan Lahitamkelam. Gerangan angin apakah wahai Peri cantik yang aku lupa namanya datang ke tempat ini? Perintah apa yang kau bawa bersama kemunculanmu?"

Gadis cantik berpakaian sutera putih di atas punggung angsa raksasa menatap makhluk bersisik itu beberapa saat lamanya. Lalu dia melirik pada dua ekor landak raksasa. Dalam hati dia berkata. "Aku tidak melihat bayi yang kucari. Tapi di atas salah seekor landak raksasa Ku ada satu makhluk kecil yang tubuhnya ditumbuhi duri-duri seperti bulu landak. Dan sosok kecil ini menangis antara suara bayi dan suara binatang.

Mungkin itu bayinya Lahambalang dan Luhmintari?"

Peri Angsa Putih kembali memandang ke arah makhluk bersisik lebat, kaku dan keras.

"Aku Peri Angsa Putih dari Negeri Atas Langit.

Kedatanganku membawa tugas. Tugas yang menjadi perintah bagi kalian yang ada di sini. Patuh akan perintah wahai! Itulah segala rahasia hidup tanpa bencana.

Aku datang untuk mengambil sosok kecil yang ada di atas punggung landak raksasa itu!"

Mendengar kata-kata Peri Angsa Putih, sepasang mata makhluk bersisik yang bernama Tringgiling Liang Batu seperti hendak melompat. Sisik di sekujur tubuhnya berjingkrak kaku. Dari tenggorokannya keluar suara menggembor.

Di tempat lain, dua ekor landak raksasa menggarang keras. Yang jantan langsung tegak berdiri membelakangi betinanya. Sepasang matanya yang hitam kecoklatan membersitkan sinar menggidikkan. Dua tangannya dipentang ke depan. Kakinya bergerak melangkah mendekati angsa putih.* *

7LAERUNCING! Tegur Tringgiling Liang Batu."Tetap di tempatmu!" Lalu makhluk ini berpaling pada Peri Angsa Putih. "Peri Angsa Putih, bagiku adalah aneh seorang Peri dari Negeri Atas Langit menginginkan satu bayi yang tidak ada sangkut paut dengan dirinya! Siapa gerangan yang memberimu tugas tak masuk akal itu wahai Peri Angsa Putih?!"

"Justru karena bayi berduri itu ada sangkut pautnya dengan kami para Peri dari Negeri Atas Langit maka kami ingin mengambilnya!"

"Wahai! Mungkin kau bisa memberi keterangan lebih rinci hingga aku tidak menduga keliru!"

"Baik, jika itu maumu. Bayi yang tubuhnya berduri itu dilahirkan dari rahim seorang Peri yang tersesat kawin dengan manusia bernama Lahambalang! Ibunya meninggal ketika melahirkan. Sang ayah telah menjadi gila. Berarti tidak ada yang memelihara bayi itu. Kami para Peri mengambil alih tanggung jawab merawat anak tersebut!"

Tringgiling Liang Batu angguk-anggukkan kepala.

"Sungguh baik budi para Peri Negeri Atas Angin. Tapi apa kau lupa, atau tidak tahu, atau mungkin pura-pura tidak tahu. Semua kejadian menyangkut Peri sesat dan suaminya yang bernama Lahambalang itu, sampai lahirnya bayi yang malang itu! Adalah pekerjaan jahat para Peri Negeri Atas Langit! Termasuk kau! Kalian telah menjatuhkan hukum dan kutuk keji! Sekarang apa perlunya kalian ingin mengambil orok itu!"

Berubahlah paras Peri Angsa Putih mendengar kata kata Tringgiling Liang Batu itu. Setelah dadanya yang tergoncang tenang kembali, maka berkatalah Peri cantik ini.

"Setiap kesalahan ada hukumannya. Setiap masalah ada jalan keluarnya! Kami punya aturan sendiri yang harus ditaati dan dipatuhi. Siapa saja yang melanggar akan terkena hukuman. Di dalam tubuh bayi itu mengalir darah Peri. Kami tidak akan membiarkannya hidup di dunia ini...."

"Peri Angsa Putih, kau dan teman-temanmu di atas sana bukan saja telah berbuat terlalu jauh, tapi kini malah bertindak teramat jauh. Bayi itu adalah cucuku.

Orok itu adalah anak dari Laeruncing dan Laelancip, dua landak raksasa yang ada di hadapanmu. Kalau kau berani menyentuhnya sekalipun sisikku akan terkelupas dan rohku akan terpendam di dasar laut menjadi ganjalan pulau ini, aku tidak akan menyerahkannya kepada siapapun!"

"Kalau begitu terpaksa aku mempergunakan kekerasan. Aku tidak suka. Tapi wahai! Apa boleh buat!"

Habis berkata begitu Peri Angsa Putih melesat ke arah Laelancip si landak betina. Tangan kanannya menyambar ke punggung landak. Namun di saat itu pula laeruncing si landak jantan melompat ke depan dan hantamkan tangannya yang berduri ke arah lengan Perl Angsa Putih.

Melihat datangnya serangan berbahaya ini Peri Angsa Putih cepat tarik tangan kanannya. Tapi terlambati "Breett!"

Lengan bajunya yang terbuat dari sutera putih robek besar disambar duri-duri lancip tangan Laeruncing.

Marahlah Peri Angsa Putih. Sambil menghantamkan kaki kirinya ke kepala Laeruncing, tangan kanannya lepaskan satu pukulan tangan kosong. Sinar putih berkelebat.

Tahu kalau serangan tangan kosong itu lebih berbahaya dari pada tendangan kaki, Laeruncing cepat bergerak hindari serangan sambaran sinar putih.

"Bukkk!"

Tendangan Peri Angsa Putih mendarat telak di bahu kanan Laeruncing. Landak raksasa menggereng keras sementara tubuhnya terpental sampai dua tombak tapi tidak mengalami cidera. Sebaliknya Peri Angsa Putih keluarkan keluhan tertahan dan cepat melangkah mundur. Ketika dia meneliti kaki kirinya ternyata ada dua duri landak menancap. Satu pada kaki pakaiannya, satu lagi dekat tumitnya. Sang Peri cepat cabut dua duri yang panjangnya hampir dua jengkal itu. Baru saja dia mencabut tiba-tiba di belakangnya Laelancip, si landak betina menyerangnya dengan ganas. Belum lagi serangan itu sampai, di dahului gerengan keras Laeruncing telah menyerbu pula. Kalau yang jantan menyerang dengan tubuh berduri seperti manusia maka Laelancip si betina menyerang melompat-lompat, lebih banyak mempergunakan mulutnya yang bertaring dari pada dua kaki depannya. Bayi yang ada di punggungnya menangis makin keras.

Walau berilmu tinggi ternyata tidak mudah bagi Peri Angsa Putih menghadapi dua lawan itu. Namun begitu kesabarannya hilang dan berpikir buat apa membuang-buang waktu, maka dia segera saja keluarkan ilmu kesaktian yang berpusat pada sepasang matanya.

Dua mata sang Peri yang berwarna biru tiba-tiba melesatkan dua larik sinar biru. Satu menghantam ke arah laeruncing, satunya lagi ke arah Laelancip.

Melihat serangan yang sangat berbahaya itu Tringgiling Uang Batu berseru keras. Tubuhnya melesat ke udara. Sambil melesat tubuh itu bergulung melingkar lalu menggelinding ke arah Peri Angsa Putih. Seluruh Sisik yang ada di kepala dan tubuhnya berdiri tegak seolah ratusan pisau yang siap membantai.

Sadar ganasnya serangan Tringgiling Liang Batu, Peri Angsa Putih terpaksa melompat sebelum serangan dua larik sinar birunya sempat menghantam lawan.

tak urung sisik-sisik di punggung Tringgiling Liang Batu masih sempat merobek ujung pakaiannya. Ketika dia menjejakkan kaki di tanah kembali dilihatnya makhluk bersisik itu telah tegak sambil mendukung bayi berduri di tangan kirinya!

"Kau inginkan orok ini wahai Peri Angsa Putih!

Silakan ambil dari tanganku kalau kau mampu! Tapi jika kau berpikir tidak mampu melakukannya sebaiknya lekas tinggalkan pulau ini!"

Merasa ditantang dan dianggap enteng Peri Angsa Pulih kerahkan seluruh kekuatan yang dimilikinya. Dari dua matanya kembali melesat cahaya. Kali ini sangat biru dan menyilaukan.

"Rrrtttttt!"

"Rrrrttttr!"

Dua larik cahaya biru itu mendarat bertubi-tubi, menghantam kepala dan tubuh Tringgiling Liang Batu.

Asap hitam yang berasal dari tubuhnya serta asap biru dari dua larik sinar sakti yang keluar dari mata Peri Angsa Putih mengepul keluarkan letupan-letupan Keras.

Tringgiling Liang Batu mendongak lalu tertawa panjang. "Satu hari satu malam kau boleh menyerangku dengan seluruh ilmu yang kau punya! Sampai matamu melompat copot kau tidak akan mampu membunuhku wahai Peri Angsa Putih. Jadi jangan harap kau bisa dapatkan orok cucuku ini!'

"Sisik Baja Dewa!" kata Peri Angsa Putih dalam hati menyebut ilmu yang dimiliki Tringgiling Liang Batu.

"Ini satu lagi kelemahan para Dewi di Negeri Atas Langit!

Kalau bukan para Peri yang membujuk, tidak nanti para Dewa akan memberikan ilmu kesaktian itu pada makhluk satu ini. Sekarang lihat akibatnya! Sisik yang melindungi kepala dan sekujur tubuhnya benar-benar atos laksana baja! Aku tidak mampu menghadapinya!"

Peri Angsa Putih terus kerahkan seluruh kesaktiannya hingga dua sinar yang keluar dari matanya membesar dan tambah menyilaukan. Namun di depan sana Tringgiling Liang Batu tetap saja tegak tak bergeming sambil mendukung sang cucu bernama Lajatilandak!

Tiba-tiba makhluk bersisik itu angkat tangan kanannya lalu diputar secara aneh. Dua larik sinar serangan yang keluar dari sepasang mata sang Peri ikut berputar menuruti gerakan tangannya. Ketika si makhluk pukulkan tangan ke arah Laeputih, angsa raksasa tunggangan Peri Angsa Putih ini menguik keras dan tahu-tahu sekujur tubuhnya telah terikat oleh gulungan sinar biru! Membuat angsa raksasa ini tak mampu lagi menggerakkan tubuhnya barang sedikitpun. Hanya kepalanya yang berleher panjang masih bisa digerakgerakkan sambil keluarkan suara seperti merintih lirih.

"Peri Angsa Putih, jika kau masih keras kepala menjalankan tugas dan perintah gila itu! Seumur-umur kau tidak akan dapat meninggalkan pulau ini! Terserah padamu!' lalu Tringgiling Liang Batu membuat gerakan dengan lima jari tangan kanannya. Lima jari itu membengkok ke dalam seperti meremas. Laeputih menguik keras. Sinar biru yang mengikat tubuhnya seolah-olah merangsak mengencang.

Peri Angsa Putih maklum, dengan segala kenekatannya Tringgiling Liang Batu mampu membunuh angsa tunggangannya. Sang Peri segera angkat tangan kirinya "Dalam kepicikan dan juga kesombonganmu kau telah merasa menang makhluk bersisik! Aku akan tinggalkan pulau ini dengan berhampa tangan. Tapi wahai satu hari kelak pembalasan kami para Peri Negeri Atas Langit akan jatuh atas dirimu! Saat itu kau tak akan mampu menghindari kematian! Rohmu akan tergantung antara langit dan bumi! Kau akan menderita selama sang surya dan rembulan muncul di jagat raya inil"

Trenggiling Liang Batu gerakkan tangan kanannya.

gulungan sinar biru yang mengikat sekujur tubuh angsa putih terlepas lalu melesat masuk kembali ke dalam sepasang mata Peri Angsa Putih.

"Kau boleh pergi dengan aman wahai Peri Angsa Pulih! Jangan mengeluarkan suara barang sepatahpun".

Peri Anqsa Putih mendengus lalu melompat naik ke atas punggung Laeputih. Sesaat kemudian angsa raksasa itu telah terbang dan melesat tinggi ke udara, di atas punggungnya Peri Angsa Putih duduk sambil kepalkan dua tinjunya. Dia merasa sangat malu, terhina dan juga marah. Dalam keadaan seperti itu tiba-tiba di bawahnya, kelihatan sebuah biduk meluncur sangat cepat menuju pantai barat pulau.

Sambil bertanya-tanya dalam hati siapa adanya penumpang biduk itu, Peri Angsa Putih turunkan sedikit angsa tunggangannya lalu terbang berputar-putar di atas biduk. Namun dia tidak bisa melihat wajah penumpang tunggal di atas perahu itu karena orang itu mengenakan caping bambu sangat lebar. Hanya ada satu hal yang masih bisa disaksikan oleh sang Peri.

Orang di atas perahu sama sekali tidak mempergunakan dayung ataupun layar untuk meluncurkan perahunya.

Dia mempergunakan kaki kiri atau kaki kanan.

Setiap kaki kiri atau kaki kanan dihentakkan ke lantai perahu maka secara luar biasa perahu itu meluncur deras membelah air laut. Hingga tidak selang beberapa lama perahu itu telah sampai di pantai barat pulau.

"Meluncurkan perahu di tengah laut dengan hentakan kaki! Wahai! Baru sekali ini aku melihat ilmu demikian hebat! Ingin aku mengetahui siapa adanya orang yang berkepandaian tinggi itu. Sayang aku harus segera menemui Peri Bunda dan Peri Sesepuh...."8DI ATAS pulau, di dalam rimba Lahitamkelam, makhluk bersisik seatos baja Tringgiling Liang Batu, baru saja meletakkan bayi berduri di atas punggung Laelancip si landak betina. Tiba-tiba dia berdiri tegak lalu arahkan mukanya ke sebelah barat.

"Wahai! Ada lagi tamu tak diundang tengah menuju ke sini. Laeruncing dan Laelancip, lekas kalian bawa cucuku meninggalkan tempat ini!"

Baru saja makhluk bersisik itu selesai bicara, belum sempat dua ekor landak raksasa bergerak pergi tiba-tiba berkelebat satu bayangan disertai mengumandangnya teriakan keras. Dari ucapannya jelas dia sempat mendengar kata-kata Tringgiling Liang Batu tadi.

Padahal Tringgiling bicara tidak terlalu keras. Satu pertanda bahwa orang yang datang, siapapun dia adanya pastilah memiliki kepandaian tinggi.

"Diundang atau tidak, aku sudah menentukan bahwa hari ini aku harus menjejakkan kaki di tempat ini! Dan itu sudah kurencanakan sejak tiga puluh tahun silaml"

"Wuuuuttt!"

Suara lenyap dan tahu-tahu delapan langkah di sebelah kanan Tringgiling Liang Batu telah berdiri seorang yang mengenakan pakaian terbuat dari kulit kayu berwarna kecoklat-coklatan. Kepala dan wajahnya tidak kelihatan karena tertutup oleh sebuah caping bambu sangat lebar.******Tringgiling Liang Batu menatap tajam dengan mata combongnya. Laeruncing dan Laelancip memandang tak berkedip.

"Aku tidak kenal dengan sosok manusia satu ini.

Entah kalau dia membuka capingnya dan aku bisa melihat wajahnya. Apa maksud kedatangannya juga sama dengan Peri tadi? Hendak mengambil orok itu...?"

Demikian Tringgiling Liang Batu membatin. Lalu dia menegur.

"Orang bercaping, aku mengucapkan selamat datang di pulau ini. Selamat datang di rimba Lahitamkelam.

Harap kau sudi membuka capingmu hingga aku bisa mengenali siapa adanya dirimu. Setelah itu baru kita bicara perihal kedatanganmu. Apakah membawa maksud jahat atau baik!"

"Makhluk bersisik bernama Tringgiling Liang Batu!

Kau bertanya aku menjawab. Kedatanganku membawa kedua hal yang kau sebutkan tadi. Maksud jahat dan maksud baik!"

Tringgiling Liang Batu diam-diam merasa terkejut.

"Hee! Dia tahu namaku! Dari ucapannya jelas sebenarnya dia datang membawa maksud tidak baik walau dia berkata ada maksud jahat ada maksud baik!"

"Tamu bercaping, wahai! Aku hanya akan meneruskan pembicaraan jika kau membuka caping unjukkan wajah!"

"Wahai! Apa sulitnya membuka caping!" jawab sang tamu. Lalu sekali dia menggoyangkan kepala caping lebar yang sejak tadi bertengger di kepalanya melesat ke udara dan diam mengapung satu tombak di atas kepala itu!

Tringgiling Liang Batu terkesiap melihat kehebatan tenaga dalam yang dimiliki orang. Namun sekaligus dia mencium adanya bahaya besar yang segera bakal muncul. Terlebih lagi ketika dilihatnya sepasang landak raksasa keluarkan suara menggeram dan bersikap siap untuk melompati orang di hadapannya.

Akan tetapi yang paling membuat makhluk bersisik Itu terkejut besar ialah ketika melihat orang di depannya memiliki kepala bermuka dua. Satu di depan satu di belakang! Dua wajah itu merupakan wajah lelaki berusia sekitar 40 tahun. Wajah sebelah depan putih bersih.

Sebaliknya yang sebelah belakang hitam pekat dan keling berkilat! Keanehan lain dari makhluk ini Ialah bola matanya tidak bulat tetapi berbentuk segi tiga berwarna hijau!

"Pasti ini makhluknya yang selama ini dikenal dengan nama Hantu Muka Dua!" kata Tringgiling Liang Batu dalam hati. Perasaannya semakin tidak enak.

"Pasti dia datang membawa maksud jahat. Bukankah dia yang dijuluki Hantu Segala Keji, Segala Tipu, Segala Nafsu!"

"Tringgiling Liang Batu," tiba-tiba Hantu Muka Dua berucap. Yang bicara adalah mulutnya sebelah depan.

"Aku Hantu Muka Dua datang membawa kabar buruk bagimu dan tiga makhluk hidup yang ada di sebelah sana." .

"Buruk baik adalah bagian setiap manusia karena Ku sudah merupakan ketentuan hidup. Tapi wahai!

Kabar buruk apa yang kau maksudkan Hantu Muka Dua!"

"Pertama, aku memaklumkan diri bahwa cepat atau lambat aku akan menjadi Raja Di Raja Segala Hantu di Negeri Latanahsilam, termasuk pulau dan seluruh kawasan sekitar sini! Kau dan semua yang hidup di pulau ini harus tunduk dan berada di bawah kekuasaanku"

"Hantu Muka Dua...."

"Diam! Ucapanku belum selesai!" Menghardik mulut Hantu Muka Dua sebelah depan sementara mulut sebelah belakang tertawa gelak-gelak. Walau menjadi marah namun Tringgiling Liang Batu mengalah dan berdiam diri. Hantu Muka Dua lanjutkan ucapannya.

"Hal kedua! Orok yang ada di punggung landak betina itu akan kuberi nama Hantu Jatilandak! Dia berada di bawah kekuasaanku dan tunduk pada segala perintahku!

Pada masa tujuh puluh tahun mendatang aku akan kembali ke pulau ini. Saat itu dia bukan saja sudah dewasa tapi juga memiliki satu rahasia besar yang harus dikatakannya padaku! Kau sudah mendengar kata-kataku! Sekarang kau boleh bicara!"

"Hantu Muka Dua, kalau kau ingin menjadi Raja Di Raja Segala Hantu Ku adalah urusanmu! Tapi perlu kau ketahui. Aku Tringgiling Liang Batu adalah satusatunya penguasa di pulau ini! Tidak ada siapapun baik di bumi, di lautan maupun di atas langK yang boleh menguasai dan memerintah diriku! Sebelum kau muncul di sini, telah terlebih dulu datang Peri Angsa Putih dari Negeri Atas LangK! Dia ingin mengatur dan menguasai diriku! Dia ingin mengambil bayi yang sudah kuanggap sebagai cucuku sendiri! Peri Angsa Putih pergi dengan tangan hampa setelah aku memberi pelajaran pahit dan keras padanya! Apakah kau berharap aku akan memberikan pelajaran yang sama padamu?!"

Dua mulut Hantu Muka Dua tertawa bergelak mendengar kata-kata Tringgiling Liang Batu Ku. "Kau boleh mengatur seribu Peri seribu Dewa. Tapi jangan berani bicara sombong terhadap Hantu Muka Dua!"

"Kau boleh menganggap diri lebih hebat dari pada Pari dan Dewa wahai Hantu Muka Dua! Tapi karena kau membawa maksud jahat datang kemari, aku sarankan agar kau cepat-cepat angkat kaki dari pulauku. Terhadap Peri Angsa Putih aku masih berbaik hati..... ( lanjutkan membaca setelah login gratis di sini )
Auto Promo BLOGGER Auto Promo INSTAGRAM Auto Promo TWITTER Auto Promo FACEBOOK Auto Promo LINKEDIN
JUDUL
Wiro Sableng #1 : Empat Berewok Dari Goa Sanggreng
Wiro Sableng #10 : Banjir Darah Di Tambun Tulang
Wiro Sableng #100 : Dendam Dalam Titisan
Wiro Sableng #101 : Gerhana Di Gajahmungkur
Wiro Sableng #102 : Bola Bola Iblis
Wiro Sableng #103 : Hantu Bara Kaliatus
Wiro Sableng #104 : Peri Angsa Putih
Wiro Sableng #105 : Hantu Jatilandak
Wiro Sableng #106 : Rahasia Bayi Tergantung
Wiro Sableng #107 : Hantu Tangan Empat
Wiro Sableng #108 : Hantu Muka Dua
Wiro Sableng #109 : Rahasia Kincir Hantu
Wiro Sableng #11 : Raja Rencong Dari Utara
Wiro Sableng #110 : Rahasia Patung Menangis
Wiro Sableng #111 : Hantu Langit Terjungkir
Wiro Sableng #112 : Rahasia Mawar Beracun
Wiro Sableng #113 : Hantu Santet Laknat
Wiro Sableng #114 : Badai Fitnah Latanahsilam
Wiro Sableng #115 : Rahasia Perkawinan Wiro
Wiro Sableng #116 : Hantu Selaksa Angin
Wiro Sableng #117 : Muka Tanah Liat
Wiro Sableng #118 : Batu Pembalik Waktu
Wiro Sableng #119 : Istana Kebahagiaan
Wiro Sableng #12 : Pembalasan Nyoman Dwipa
Wiro Sableng #120 : Kembali Ke Tanah Jawa
Wiro Sableng #121 : Tiga Makam Setan
Wiro Sableng #122 : Roh Dalam Keraton
Wiro Sableng #123 : Gondoruwo Patah Hati
Wiro Sableng #124 : Makam Ketiga
Wiro Sableng #125 : Senandung Kematian
Wiro Sableng #126 : Badik Sumpah Darah
Wiro Sableng #127 : Mayat Persembahan
Wiro Sableng #128 : Si Cantik Dalam Guci
Wiro sableng #129 : Tahta Janda Berdarah
Wiro Sableng #13 : Kutukan Empu Bharata
Wiro Sableng #130 : Meraga Sukma
Wiro Sableng #131 : Melati Tujuh Racun
Wiro Sableng #132 : Kutukan Sang Badik
Wiro Sableng #133 : 113 Lorong Kematian
Wiro Sableng #134 : Nyawa Kedua
Wiro Sableng #135 : Rumah Tanpa Dosa
Wiro Sableng #136 : Bendera Darah
Wiro Sableng #137 : Aksara Batu Bernyawa
Wiro Sableng #138 : Pernikahan Dengan Mayat
Wiro Sableng #14 : Sepasang Iblis Betina
Wiro Sableng #140 : Misteri Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #141 : Kematian Kedua
Wiro Sableng #142 : Kitab Seribu Pengobatan
Wiro Sableng #143 : Perjanjian Dengan Roh
Wiro Sableng #144 : Nyi Bodong
Wiro Sableng #145 : Lentera Iblis
Wiro Sableng #146 : Azab Sang Murid
Wiro Sableng #147 : Api Di Puncak Merapi
Wiro Sableng #148 : Dadu Setan
Wiro Sableng #149 : Si Cantik Dari Tionggoan
Wiro Sableng #15 : Mawar Merah Menuntut Balas
Wiro Sableng #150 : Misteri Pedang Naga Merah
Wiro Sableng #151 : Sang Pembunuh
Wiro Sableng #152 : Petaka Patung Kamasutra
Wiro Sableng #153 : Misteri Bunga Noda
Wiro Sableng #154 : Insan Tanpa Wajah
Wiro Sableng #155 : Sang Pemikat
Wiro Sableng #156 : Topan Di Gurun Tengger
Wiro Sableng #157 : Nyawa Titipan
Wiro Sableng #158 : Si Cantik Gila Dari Gunung Gede
Wiro Sableng #159 : Bayi Satu Suro
Wiro Sableng #16 : Hancurnya Istana Darah
Wiro Sableng #160 : Dendam Mahluk Alam Roh
Wiro Sableng #161 : Perjodohan Berdarah
Wiro Sableng #162 : Badai Laut Utara
Wiro Sableng #163 : Cinta Tiga Ratu
Wiro Sableng #164 : Janda Pulau Cingkuk
Wiro Sableng #165 : Bayi Titisan
Wiro Sableng #166 : Kupu-Kupu Giok Ngarai Sianok
Wiro Sableng #167 : Fitnah Berdarah Di Tanah Agam
Wiro Sableng #168 : Mayat Kiriman Di Rumah Gadang
Wiro Sableng #169 : Bulan Sabit Di Bukit Patah
Wiro Sableng #17 : Lima Iblis Dari Nanking
Wiro Sableng #170 : Kupu-Kupu Mata Dewa
Wiro Sableng #171 : Malam Jahanam Di Mataram
Wiro Sableng #172 : Empat Mayat Aneh
Wiro Sableng #173 : Roh Jemputan
Wiro Sableng #174 : Dua Nyawa Kembar
Wiro Sableng #175 : Sepasang Arwah Bisu
Wiro Sableng #176 : Dewi Kaki Tunggal
Wiro Sableng #177 : Jaka Pesolek Penangkap Petir
Wiro Sableng #178 : Tabir Delapan Mayat
Wiro Sableng #18 : Pendekar Pedang Akhirat
Wiro Sableng #180 : Sesajen Atap Langit
Wiro Sableng #181 : Selir Pamungkas
Wiro Sableng #182 : Delapan Pocong Menari
Wiro Sableng #183 : Bulan Biru Di Mataram
Wiro Sableng #184 : Dewi Dua Musim
Wiro Sableng #185 : Jabang Bayi Dalam Guci
Wiro Sableng #19 : Pendekar Dari Gunung Naga
Wiro Sableng #2 : Maut Bernyanyi Di Pajajaran
Wiro Sableng #20 : Hidung Belang Berkipas Sakti
Wiro Sableng #21 : Neraka Puncak Lawu
Wiro Sableng #22 : Siluman Teluk Gonggo
Wiro Sableng #23 : Cincin Warisan Setan
Wiro Sableng #24 : Penculik Mayat Hutan Roban
Wiro Sableng #25 : Cinta Orang Orang Gagah
Wiro Sableng #26 : Iblis Iblis Kota Hantu
Wiro Sableng #27 : Khianat Seorang Pendekar
Wiro Sableng #28 : Petaka Gundik Jelita
Wiro Sableng #29 : Bencana Di Kuto Gede
Wiro Sableng #3 : Dendam Orang-orang Sakti
Wiro Sableng #30 : Dosa Dosa Tak Berampun
Wiro Sableng #31 : Pangeran Matahari Dari Puncak Merapi
Wiro Sableng #32 : Bajingan Dari Susukan
Wiro Sableng #33 : Panglima Buronan
Wiro Sableng #34 : Munculnya Sinto Gendeng
Wiro Sableng #35 : Telaga Emas Berdarah
Wiro Sableng #36 : Dewi Dalam Pasungan
Wiro Sableng #37 : Maut Bermata Satu
Wiro Sableng #38 : Iblis Berjanggut Biru
Wiro Sableng #39 : Kelelawar Hantu
Wiro Sableng #4 : Keris Tumbal Wilayuda
Wiro Sableng #40 : Setan Dari Luar Jagad
Wiro Sableng #41 : Malaikat Maut Berambut Salju
Wiro Sableng #42 : Badai Di Parang Tritis
Wiro Sableng #43 : Dewi Lembah Bangkai
Wiro Sableng #44 : Topeng Buat WIRO SABLENG
Wiro Sableng #45 : Manusia Halilintar
Wiro Sableng #46 : Serikat Setan Merah
Wiro Sableng #47 : Pembalasan Ratu Laut Utara
Wiro Sableng #48 : Memburu Si Penjagal Mayat
Wiro Sableng #49 : Srigala Iblis
Wiro Sableng #5 : Neraka Lembah Tengkorak
Wiro Sableng #50 : Mayat Hidup Gunung Klabat
Wiro Sableng #51 : Raja Sesat Penyebar Racun
Wiro Sableng #52 : Guna Guna Tombak Api
Wiro Sableng #53 : Kutukan Dari Liang Kubur
Wiro Sableng #54 : Pembalasan Pendekar Bule
Wiro Sableng #55 : Misteri Dewi Bunga Mayat
Wiro Sableng #56 : Ratu Mesum Bukit Kemukus
Wiro Sableng #57 : Nyawa Yang Terhutang
Wiro Sableng #58 : Bahala Jubah Kecono Geni
Wiro Sableng #59 : Peti Mati Dari Jepara
Wiro Sableng #6 : Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga
Wiro Sableng #60 : Serikat Candu Iblis
Wiro Sableng #61 : Makam Tanpa Nisan
Wiro Sableng #62 : Kamandaka Si Murid Murtad
Wiro Sableng #63 : Neraka Krakatau
Wiro Sableng #64 : Betina Penghisap Darah
Wiro Sableng #65 : Hari-Hari Terkutuk
Wiro Sableng #66 : Singa Gurun Bromo
Wiro Sableng #67 : Halilintar Di Singosari
Wiro Sableng #68 : Pelangi Di Majapahit
Wiro Sableng #69 : Ki Ageng Tunggul Keparat
Wiro Sableng #7 : Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin
Wiro Sableng #70 : Ki Ageng Tunggul Akhirat
Wiro Sableng #71 : Bujang Gila Tapak Sakti
Wiro Sableng #72 : Purnama Berdarah
Wiro Sableng #73 : Guci Setan
Wiro Sableng #74 : Dendam Di Puncak Singgalang
Wiro Sableng #75 : Harimau Singgalang
Wiro Sableng #76 : Kutunggu Di Pintu Neraka
Wiro Sableng #77 : Kepala Iblis Nyi Gandasuri
Wiro Sableng #78 : Pendekar Gunung Fuji
Wiro Sableng #79 : Ninja Merah
Wiro Sableng #8 : Dewi Siluman Bukit Tunggul
Wiro Sableng #80 : Sepasang Manusia Bonsai
Wiro Sableng #81 ; Dendam Manusia Paku
Wiro Sableng #82 : Dewi Ular
Wiro Sableng #83 : Wasiat Iblis
Wiro Sableng #84 : Wasiat Dewa
Wiro Sableng #85 : Wasiat Sang Ratu
Wiro Sableng #86 : Delapan Sabda Dewa
Wiro Sableng #87 : Muslihat Para Iblis
Wiro Sableng #88 : Muslihat Cinta Iblis
Wiro Sableng #89 : Geger Di Pangandaran
Wiro Sableng #9 : Rahasia Lukisan Telanjang
Wiro Sableng #90 : Kiamat Di Pangandaran
Wiro Sableng #91 : Tua Gila Dari Andalas
Wiro Sableng #92 : Asmara Darah Tua Gila
Wiro Sableng #93 : Lembah Akhirat
Wiro Sableng #94 : Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #95 : Jagal Iblis Makam Setan
Wiro Sableng #96 : Utusan Dari Akhirat
Wiro Sableng #98 : Rahasia Cinta Tua Gila
Wiro Sableng #99 : Wasiat Malaikat


LOAD MORE INSPIRATIONS...

© www&mdot;nomor1&mdot;com · admin@nomor1&mdot;com · terms of use · privacy policy · 23.20.60.138
team developer · pt excenture indonesia · central park podomoro city · jakarta indonesia