Wiro Sableng #131 : Melati Tujuh Racun
WIRO SABLENG

Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212

Karya: Bastian Tito

Episode : BADIK SUMPAH DARAH

SI KAKEK BOTAK PEGANGI PERUTNYA. "CIMUNG, MENGAPA AKU HARUS MENUNGGU SAMPAI MINGGU DEPAN?" "KARENA BUNGA ITU HANYA MUNCUL SEKALI SEMINGGU. SETIAP MUNCUL SELALU BERJUMLAH TIGA ..." "BENAR-BENAR ANEH. MUNCUL SEKALI SEMINGGU. SETIAP MUNCUL SELALU BERJUMLAH TIGA." KAKEK KEPALA BOTAK BERMATA BELOK JERENG MENGULANGI UCAPAN SULANTRI, PANDANGI ANAK PEREMPUAN ITU BEBERAPA SAAT, LALU BERTANYA. "DARI MANA MUNCULNYA TIGA KUNTUM BUNGA ITU?" SULANTRI MENUNJUK KE ARAH TIMUR DIMANA DI KEJAUHAN KELIHATAN GUNUNG MERAPI. "TIGA BUNGA MELATI HITAM ITU SELALU ..." BELUM SEMPAT ANAK PEREMPUAN DELAPAN TAHUN ITU MENYELESAIKAN UCAPANNYA TIBA-TIBA SATU BENDA PUTlH BERDESING DI UDARA. SULANTRI MENJERIT KERAS. ANAK INI LANGSUNG ROBOH, TERKAPAR DI TANAH. MATANYA MEMBELIAK MENATAP LANGIT.

KAKEK botak berpakaian dekil dan basah kuyup di sebelah bawah itu duduk di tepi kali dekat serumpunan belukar. Mulut senyum-senyum, dua tangan memegang bagian bawah perut. Matanya yang belok juling sejak tadi memperhatikan seorang anak perempuan seusia delapan tahun duduk di tepi kali di seberang sana. Dua kakinya dicelupkan ke dalam air kali yang dangkal, bening dan sejuk.

Di pangkuannya terlihat tiga kuntum bunga kecil. Di tangan kirinya anak ini memegang sebuah lidi. Sambil menyanyi-nyayi kecil dengan tangan kanannya dia menusukkan satu demi satu kuntum bunga yang ada di pangkuannya ke lidi di tangan kiri.

Melati oh Melati

Semerbak harum mewangi

Kata orang kau bunga suci

Berwarna putih menarik hati

Tapi mengapa warnamu berubah hitam

Mungkinkah kau mekar di malam kelam

Melati oh Melati

Semerbak harum mewangi

Kata orang kau bunga suci

Berwarna putih menarik hatiTangan kiri orang tua di balik semak belukar yang sejak tadi memegangi bagian bawah perutnya diangkat ke atas. Tangan yang basah oleh air kencing itu enak saja diusap-usapkan ke kepalanya yang botak. Sambil pandangi gadis cilik di seberang kali dia berkata sendirian.

"Anak manis sekecil itu pandai sekali menyanyi. Suaranya bagus. Kalau sudah besar bisa-bisa jadi sinden cantik, dikagumi dimana-mana.

"Kalau saja aku punya cucu seperti dia, hldupku pasti banyak bahagianya."

Orang tua ini lalu tertawa cekikikan. "Punya cucu? Aku punya cucu? Ha ... ha ... ha! lstri saja tidak punya bagaimana bisa punya cucu? Ha ... ha.. ha!"

Tiba-tiba orang tua berkepala botak ini hentikan tawa, tutup mulutnya dengan tangan kanan. Di tepi kali di seberang sana si gadis kecil hentikan pula nyanyiannya, memandang ke kiri-kanan.

"Aku mendengar ada orang tertawa. Cuma suara. Orangnya tidak kelihatan. Ihh ... Apakah tempat ini kini sudah ada hantunya?"

Walau keluarkan ucapan seperti itu namun tidak kelihatan bayangan rasa takut di wajah anak perempuan itu. Malah sambil menusukkan kuntum bunga ke tiga ke lidi di tangan kirinya dia kembali melantunkan nyanyian tadi.

Melati oh Melati

Semerbak harum mewangi

Kata orang kau bunga suci

Berwarna putih menarik hati

Tapi mengapa warnamu berubah hitam

Mungkinkah kau mekar di malam kelam

Melati oh Melati

Semerbak harum mewangi

Kata orang kau bunga suci

Berwarna putih menarik hatiOrang tua di balik semak belukar perlahan-lahan turunkan tangan kiri yang mengusap kepala, juga tangan kanan yang dipakai menutup mulut. Sepasang matanya yang besar dan juling sesaat memandang ke depan tak berkesip. Dadanya berdebar.

"Nyanyian anak itu .... Tiga bunga hitam yang ditusukkan bersusun di lidi panjang, apa benar bunga melati? Heh?!"

Mata yang juling tambah juling, belok tambah belok. "Aku ingat cerita Pendekar 212, jangan-jangan ..." Orang tua ini tiba-tiba plaaakk! Dia tabok kepalanya sendiri lalu bangkit berdiri. Dua kali berkelebat dia sudah berada di seberang kali kecil di depan si anak perempuan. Anak yang sedang menyanyi tentu saja terkejut, hentikan nyanyiannya dan dongakkan kepala. Memandang dari atas sampai ke bawah, dari kepala botak sampai ke kaki. Kalau tadi dia terkejut tapi begitu melihat orang yang berdiri di hadapannya, anak ini malah tersenyum.

"Oh, jadi ini rupanya hantu yang tadi tertawa.

Hik ... hik ... hik. Mata belok jereng. Kuping kanan aneh terbalik. Kepala botak. Mau dibilang tuyul kenapa sudah tua keriput peot begini rupa? Hantu kenapa bau pesing? Hk ... hik ... hik! hantu lucu-lucuan ..."

"Gadis cilik, aku bukan hantu bukan tuyul!

Tapi hemm, aku memang bau pesing! Jelekjelek begini aku ingin bersahabat denganmu.

Kalau boleh ..." Orang tt;a kepaila botak keluarkan ucapan. Lalu dia duduk menjelepok di samping anak perempuan itu. Malanya yang belok dibesarkan memperhatikan tiga kuntum bunga kecil hitam yang ditusukkan. disusun memanjang di batangan fidi.

"Anak manis, siapa namamu?"

"Hantu botak tanya namaku. Hik..hik.

Malu ...."

"Hik .. hik ... Hantu botak juga malu ..." orang tua itu meniru tawa si anak perempuan sambil pegangi bagian bawah perutnya. Anak perempuan di samping si botak jereng ikutan tertawa.

Tempat sunyi di tepi kali kecil jadi riuh oleh suara tawa kedua orang itu.

"Hantu botak, nama saya Sulantri. Tapi orang-orang memanggil saya Cimung. Saya anak kepala desa Maguwo." Si anak perempuan menerangkan sambil goyang-goyangkan lidi di tangan kiri dan uncang-uncang dua kaki yang dicelup dalam air kali.

"Nama bagus kenapa dipanggil Cimung?

Ada-ada saja ..." kata si botak. "Tadi aku dengar kau menyanyi. Suaramu bagus. Kalau sudah besar apa mau jadi sinden?"

Anak perempuan menjawab dengan gelengan kepala.

"Kenapa tidak mau jadi sinden? Kau pasti disukai banyak orang. Banyak uang ..."

"Jadi sinden lebih banyak susah dari senangnya."

"Begitu? Anak manis, kau tahu dari mana sampai bisa berucap seperti itu?" tanya si kakek

botak. Dalam hati dia heran melihat anak sekecil itu bicara seperti orang dewasa saja.

"Dulu ibu saya seorang sinden," jawab Sulantri pula.

"Serrr!"

Ada yang mengalir dibawah perut orang tua berkepala botak itu. Cepat-cepat si botak ini pegangi perutnya. Sulantri perhatikan tanah sekitar tempat si orang tua duduk yang kelihatan berubah basah.

"Hantu botak, kau kencing ya?!"

"Aku ... anu ..." Si botak tak bisa menjawab akhirnya tertawa mengekeh. Setelah usap mukanya beberapa kali orang tua ini menunjuk pada lidi di tangan kiri Sulantri.

"Bunga kecil hitam itu, apa itu bunga yang kau sebut dalam nyanyianmu tadi? Bunga melati hitam?"

"Memangnya kenapa?" si anak balik bertanya.

"Setahuku yang namanya melati itu pasti putih. Heran, bagaimana mungkin ada melati berwarna hitam ..."

"Kenapa musti heran? Melati hitam ini sudah ada dari dulu."

"Kau yakin? Pasti kalau bunga ini bunga melati hitam?" Sambil bertanya orang tua itu perhatikan tiga bunga melati yang menancap bersusun di lidi yang di pegang anak perempuan itu. Bunga kecil itu mempunyai tujuh kelopak ganda berwarna hitam pekat.

"Gusti Allah ..." orang tua itu mengucap dalam hati.

"Mudah-mudahan memang ini bunga yang tengah dicari-cari itu."

"Bunganya berbentuk bunga melati. Warnanya hitam. Apa ini bukan namanya bunga melati hitam?" ujar Sulantri.

"Cimung ...." si orang tua berkata sambil dekatkan kepalanya ke wajah si anak. "Kau barusan memegangnya, apa kau tidak takut keracunan? Atau mungkin kau tidak tahu kalau bunga itu mengandung racun yang bisa membuatmu sakit, bahkan bisa membunuhmu."

"Saya sudah sering memegang bunga ini. Saya tidak pernah sakit ..."

Si orang tua perhatikan jari-jari tangan anak perempuan bernama Sulantri. Dia menyaksikan bagaimana jari-jari mungil anak itu berwarna kehitam-hitaman. Lalu si kakek membatin.

"Terlalu sering memegang bunga beracun itu, mungkin dia jadi kebal dengan racun bunga."

"Kakek hantu botak, bunga ini memang mengandung racun jahat. Jika kau mau saya bisa membuktikan."

"Ah ..... itu satu hal yang aku ingin sekali melihat, jawab si botak. Dalam hati dia bertanya-tanya bagaimana anak kecil ini mampu membuktikan kalau bunga melati hitam itu mengandung racun jahat.

Dengan matanya yang lucu Sulantri memandang ke pinggir kali sebelah kiri. Dekat sebuah batu pipih seekor kodok coklat mendekam diam, menunggu mangsa berupa nyamuk dan serangga lainnya yang banyak beterbangan di sekitar situ.

"Kakek botak, kau lihat kodok itu?" Bertanya Sulantri sambil menunjuk ke arah batu. Mata jereng Kakek kepala botak bergerak berputar ke arah yang ditunjuk.

"Ya, aku lihat."

Baru saja si kakek menjawab. Sulantri cabut bunga hitam di ujung paling atas lidi lalu dilemparkannya ke arah kodok coklat di samping batu. Dengan cepat binatang ini melompat dan melahap bunga hitam itu. Sesaat kemudian begitu bunga hitam lewat tenggorokan dan masuk ke dalam perutnya, kodok coklat kelihatan menggeliat kejang dan keluarkan suara mengerang pendek lalu diam tak berkutik lagi. Dari mulutnya yang terbuka meleleh cairan kental berwarna hitam. Kulitnya yang tadi bewarna coklat ini berubah menjadi hitam seperti kayu gosong dimakan api!

Bergidik tengkuk kakek botak dan "serrr! " Dari bawah perutnya terpancar air kencing.

"Racun bunga itu mematikan kodok. Tapi tidak mematikan saya. Lihat ..." Sulantri dengan cepat ambil bunga hitam ke dua yang tertusuk pada batang lidi. Bunga itu dimasukkan ke dalam mulutnya. Dikunyah lumat-lumat lalu ditelan. Seperti yang dikatakannya, dia tidak mengalami nasib seperti kodok. Dia tidak keracunan, apa lagi mati.

"Luar biasa! Kau kebal racun bunga itu ..." ucap kakek kepala botak, kepala digeleng-gelengkan penuh kagum sedang tangan kiri menekap bagian perut, menahan beser.

"Sekarang coba kau makan bunga yang satu ini," tiba-tiba Sulantri berkata.

"Serrr!"

Air kencing Kakek kepala botak langsung muncrat saking kagetnya mendengar ucapan si anak perempuan.

"Cimung, aku tidak punya kekebalan seperti dirimu. Tapi aku memang inginkan bunga itu. Kau mau memberikan bunga hitam yang tinggal satu itu padaku?"

"Hantu botak, kau inginkan bunga ini?" ambil saja," jawab Sulantri. Lalu bunga hitam berikut lidi di tangan kirinya diserahkan pada orang yang minta.

Baru saja orang tua itu ulurkan tangan hendak mengambil lidi dan bunga tiba-tiba satu bayangan biru berkelebat. Si kecil Sulantri terpekik. Anak ini terpental bergulingan di tepi kali sampai satu tombak. Kakek botak ikut keluarkan seruan tertahan. Satu gelombang angin dahsyat menerpa dada dan bahu kanannya, membuatnya jatuh terjengkang dan kucurkan air kencing. Terbungkuk-bungkuk, sambil dua tangan pegangi bagian bawah perut dia bangkit Serdiri. Dia segera mendatangi Sulantri.

"Anak, kau tidak apa-apa?" Si orang tua bertanya lalu membantu anak perempuan itu bangun dan duduk di tanah.

"Kakek hantu botak, tadi aku diterpa angin kencang sekali. Dadaku sakit. Kepalaku pusing. Apa yang terjadi?"

"Ada orang jahat ..." jawab si orang tua. Mata jerengnya memandang berkeliling. Dia tidak melihat apa-apa. Lalu pandangannya kembali pada anak perempuan di depannya.

"Bunga hitam ..." ujar si orang tua. Dia perhatikan tangan kiri Sulantri. Lidi dan satu-satunya bunga hitam yang masih tinggal dan tadi dipegang anak perempuan itu kini tak ada lagi. Dia memeriksa berkeliling.

"Bunga itu lenyap. Bayangan biru tadi! Seseorang merampasnya sebelum sempat kuambil. Kurang ajar!"

Serrr!

Si Kakek kepala botak kencing lagi. Dia jongkok di samping Sulantri.

"Aneh ..."

"Apa yang aneh?" tanya Sulantri sambil gosok-gosok dadanya yang terasa sakit.

"Ada orang merampas bunga hitam dan lidi ..." Si kakek memperhatikan lalu melompat ke arah lenyapnya bayangan biru. Dia tidak melihat siapa-siapa.

"Kek, bagi saya bunga beracun itu hanya barang mainan. Aneh juga kalau ada orang merampasnya. Buat apa? Tadi kau memintanya. Bagimu apakah sangat berarti?"

"Sangat berarti. Bunga melati hitam itu jika kuberikan pada seorang temanku, bisa mengobati seorang penting di Kotaraja."

"Saya mau pulang," Sulantri berdiri.

"Tunggu," kata si kakek dan ikut berdiri.

"Di sekitar kali kecil ini kulihat tidak ada tanaman kembang. Dari mana kau mendapatkan bunga melati hitam itu?"

"Bunga langka itu memang tidak tumbuh disini. Jika kau mau, datanglah minggu depan ke sini. Akan saya berikan tiga kuntum bunga rnelati hitam yang masih segar-segar padamu."

Si kakek botak pegangi perutnya. "Cimung, mengapa aku harus menunggu sampai minggu depan?'

"Karena bunga itu hanya muncul sekali seminggu. Setiap muncul selalu berjumlah tiga ..."

"Benar-benar aneh. Muncul sekali seminggu. Setiap muncul selalu berjumlah tiga."

Kakek botak bermata belok jereng mengulangi ucapan Sulantri, pandangi anak perempuan itu berapa saat, lalu bertanya., "Dari mana munculnya tiga kuntum bunga itu?"

Sulantri menunjuk ke arah timur dimana di kejauhan kelihatan Gunung Merapi.

"Tiga bunga Melati hitam itu selalu ...."

Belum sempat anak perempuan delapan tahun itu menyelesaikan ucapannya tiba-tiba satu benda putih berdesing di udara.

"Cimung awas!" teriak kakek botak. Dia berusaha mendorong anak perempuan itu tapi jaraknya terlalu jauh. Maka cepat dia hantamkan tangan kanan untuk memukul benda putih yang melesat. Namun terlambat!

Sulantri keluarkan jeritan keras. Anak ini langsung roboh, terkapar di tanah. Matanya membeliak menatap langit. Di lehernya menancap sebuah pisau kecil bergagang perak. Darah mengucur membasahi leher dan badan gadis cilik yang malang ini.

Kakek botak berteriak marah. Air kencingnya mengucur deras. Semula dia hendak meng-hambur menubruk mayat anak perempuan malang itu. Namun sudut matanya menangkap satu bayangan biru berkelebat dibalik pohon besar. Tidak menunggu lebih lama kakek ini segera melesat ke arah pohon.

"Bangsat pembunuh! Jangan kabur!"

Sambil berkelebat dan berteriak kakek botak ini hantamkan tangan kanannya.

"Braakkk!"

"Traaakk!"

Semak belukar di samping pohon hancur beterbangan ke udara. Batangan pohon gompal besar, berderak miring lalu tumbang dengan suara menggemuruh.

***

2KAKEK berpakaian basah air kencing usap-usap kepala botaknya. Dia berdiri di Samping pohon besar yang barusan dihantam-nya tumbang. Matanya yang jereng memandang berkeliling. Orang yang dikejar tidak kelihatan. mulutnya memaki marah.

"Pembunuh keparat! Pengecut! Apa dosa anak itu sampai kau membunuhnya begitu keji!"

"Serrr ... serrr!"

Setelah kucurkan air kencing dua kali berturut-turut si kakek memutar tubuh, melangkah ke arah Sulantri tergeletak. Baru dua langkah berjalan tiba-tiba cabang sebuah pohon di Samping kirinya bergoyang. Sudut matanya melihat sesuatu bergerak di atas sana. Lalu menyusul terdengar suara tawa mengekeh. Kakek botak angkat kepalanya, memandang ke arah dahan pohon. Dua kaki memasang kuda-kuda, tangan kanan waspada siap menghantam. Satu bayangan biru berkelebat cepat. Di lain kejap bayangan itu telah berdiri di hadapan si kakek, berupa sosok seorang tua berwajah jernih, mengenakan pakaian ringkas warna biru.

"Setan alas satu ini, apakah aku pernah melihatnya sebelumnya?" Kakek botak membatin sambil usap kepala dengan satu tangan sementara tangan lain memegangi bagian bawah perut.

"Tua bangka bau pesing, kau inginkan bunga langka ini?" orang tua berbaju biru ajukan pertanyaan sambil tangan kanannya acungkan lidi yang ditancapi bunga melati hitam yang sebelumnya berada di tangan gadis cilik Sulantri.

Saking geramnya kakek kepala botak kucurkan air kencing lalu membentak.

"Setan tua, kalau tidak iblis pasti kau sebangsa dajal! Apa salah anak perempuan itu sampai kau membunuhnya?!"

Si baju biru menyeringai. "Aku bicara lain kau omong lain! Kau perlu bunga ini? Ambillah!" Habis berkata begitu kakek di hadapan si botak gerakkan tangan kanannya meremas. Lidi dan bunga hitam yang menancap di situ langsung amblas hancur. Sambil tertawa bergelak si kakek jatuhkan hancuran bunga dan lidi ke tanah.

"Jahanam kurang ajar!" maki kakek kepala botak dengan mata mendelik besar. Habis sudah harapannya untuk mendapatkan bunga melati hitam yang sangat langka itu. Kencing menyembur tidak tertahankan.

"Manusia keji kurang ajar! Sekarang aku ingat siapa kau adanya!"

"Tua bangka botak! Aku juga tahu siapa kau sebenarnya. Dulu kau punya rambut! Sekarang aneh, mengapa kepalamu jadi botak! walau botak tapi aku tidak lupa dirimu! Matamu yang belok dan jereng! Kuping kananmu yang terbalik! Celanamu yang selalu basah oleh air kencing! Kau adalah mahluk salah kaprah berjuluk Setan Ngompol, sobat musuh besarku Naga Kuning! Dulu di kawasan air terjun jurangmungkung kau pernah menantangku!

Waktu itu aku tidak punya kesempatan melayani mulut besarmu! Sekarang aku muncul menerima tantanganmu!"

"Rana Suwarte ..." ucap kakek kepala botak dengan rahang mengembung dan tenggorokan keluarkan suara menggembor marah.

"Ha ... ha ... ! Bagus! Kau ternyata masih ingat nama, kenal diriku! Berarti jalanmu ke neraka akan jauh lebih mudah! Ha ... ha ... ha!"

"Setan alas manusia keji busuk! Kau barusan membunuh anak kecil tak berdosa. Aku bersumpah membunuhmu saat ini juga! Tapi sebelum mati aku ingin tahu. Mengapa kau membunuh anak itu. Lalu sengaja meng-hancurkan bunga melati hitam!"

"Ah, dua pertanyaanmu itu akan terjawab di satu tempat. Pasti! Di liang neraka tempat kemana kau akan segera berangkat!"

"Tua bangka jahanam! mulutmu keliwat takabur! Aku tidak keberatan kita sama-sama berangkat menuju liang neraka!" teriak Setan Ngompol. Lalu tubuhnya berkelebat ke arah Rana Suwarte dalam jurus serangan bernama Setan Ngompol Mengencingi Bumi. Angin deras disertai cipratan air kencing lebih dulu menghantam Rana Suwarte sebelum serangan yang berupa dua pukulan tangan kiri kanan itu menderu ke arah sasaran.

(Mengenai siapa adanya Rana Suwarte dan riwayat perselisihannya dengan Setan Ngompol harap baca Episode terakhir dari serial "Kembali Ke Tanah Jawa" berjudul "Senandung Kematian")

Rasa Suwarte semburkan ludah saking jijiknya ketika air kencing yang menyiprat dari celana lawan mengenai wajahnya. Dia tekuk dua lutut hingga tubuhnya sedikit merunduk. Sesaat dia menunggu. Begitu sosok Setan ngompol yang melayang di udara menukik ke arahnya disertai gempuran angin luar biasa deras, Rana Suwarte pukulkan dua tangannya ke atas.

Dua gelombang angin dahsyat menderu memapasi hantaman angin keras yang keluar dari pukulan tangan kiri kanan Setan Ngompol.

"Dess! Desss! "

Dua letupan keras mengema di sepanjang kaki begitu tenaga dalam tinggi yang memancar dari dua pasang tangan bentrokan di udara.

"Braaak! Braaaak! "

Semak belukar di tempat itu hancur beterbangan ke udara. Setan Ngompol terpental dua tombak. Kencingnya bermuncratan kemana-mana. sepasang mata yang jereng mendelik merah sedang dada mendenyut sakit. Tulang-tulang iganya serasa remuk. Tadi dia telah mengerahkan lebih dari tiga perempat tenaga dalamnya. Tidak menyangka lawan sanggup menahan serangan-nya bahkan daya balik tenaga dalamnya yang menangkis begitu hebat memberi bekas di tubuh si kakek kepala botak.

Apa yang terjadi dengan kakek berpakaian Ringkas biru tak kalah hebatnya. Kakek ini Terbanting jatuh duduk di tanah. Mukanya yang Jernih kelihatan pucat pertanda tekanan tenaga Dalam lawan yang tinggi telah menciderai tubuhnya di bagian dalam.

"Rana Suwarte!" bentak Setan Ngompol. Setahuku kau adalah tokoh silat abdi Istana. mengapa berlaku keji membunuh anak perempuan tak berdosa itu?!"

"Setan Ngompol! Simpan semua pertanyaanmu sampai kau minggat ke liang neraka!" jawab Rana Suwarte dengan bentakan tak kalah kerasnya. Lalu dia berkelebat, menyergap lawan dengan serangan berantai luar biasa keras dan cepat. Setan Ngompol berjibaku menangkis dan menghantam dengan dua tangannya. Rupanya kakek botak ini bukan cuma ingin menjajal kehebatan tenaga dalam lawan tapi juga sekaligus mau menjajagi sampai dimana kedigjayaan tenaga luarnya.

Suara bergedebukan terdengar berulang kali. Dua lengan Setan Ngompol yang kurus kering kelihatan hitam kebiruan sedang sepasang lengan Rana Suwarte dipenuhi bengkak-bengkak merah. Rana Suwarte merasa sakit lebih dulu. Ini membuat dia terpaksa mundur.

Setan Ngompol tidak memberi kesempatan. Walau sambil terkencing-kencing kakek ini terus mendesak lawan. Lima jurus Rana Suwarte dibuat kalang kabut. Jurus ke enam dia tak bisa bertahan lagi. Kakek ini mencari kesempatan untuk mundur guna mengatur kuda-kuda dan siasat baru. Namun maksudnya belum kesampaian. Tiba-tiba dengan jurus bernama Setan Ngompol Mengencingi Langit lawan berhasil menyusupkan satu pukulan telak ke pertengahan dadanya.

"Bukkk!"

Rana Suwarte meraung keras. Tubuhnya mencelat lima langkah, punggung terbanting membentur batang pohon, sesaat terhenyak tegak lalu muntahkan darah segar!

"Keparat!" rutuk Rana Suwarte sambil seka darah yang meleleh di bibir dan dagunya dengan tangan kanan. Lalu meludah ke tanah. Tangan yang bernoda darah itu kemudian bergerak mengeluarkan sesuatu dari balik pinggang pakaian birunya.

Satu cahaya kuning memancar terang di bawah pohon dimana Rana Suwarte berdiri dengan tampang kelam membesi.

"Senjata di tangan jahanam itu....." ujar Setan Ngompol dalam hati, memperhatikan dengan mata jereng melotot.

"Astaga! Itu Keris naga Kopek pusaka Kerajaan. bagaimana bisa berada di tangannya?!"

"Setan Ngompol!" Rana Suwarte membentak dengan wajah lontarkan seringai setan.

"Kau lihat senjata ini?!"

"Aku tidak buta! Aku lihat dan aku tahu! ltu adalah Keris Naga Kopek milik pusaka Kerajaan! Pasti kau telah mencurinya!"

—————-00000000000—————-

3RANA SUWARTE tempelkan badan keris sakti pusaka Kerajaan di atas keningnya, dongakkan kepala lalu tertawa bergelak.

"Tua bangka bau pesing buronan Kerajaan! Dengar! Kau boleh punya ilmu setinggi langit sedalam lautan. Tapi tak ada satu kekuatan pun sanggup menghadapi keris sakti bertuah di tanganku ini! Bersiaplah untuk mampus!"

Setan Ngompol memang sudah tahu kehebatan Keris Naga Kopek. Bahkan menyaksikan sendiri bagaimana senjata sakti Itu mampu melindungi sahabatnya, Pendekar 212 Wiro Sableng dari serangan maut Kipas Pelangi yang dilancarkan Adimesa alias Pendekar Kipas Pelangi sewaktu terjadi pertempuran hebat di kawasan air terjun Jurangmungkung. Adisaka yang juga dikenal dengan nama Damar Wulung, yang tidak terlindung oleh keris sakti itu menemui ajal secara mengenaskan di tangan adiknya sendiri. (Baca serial Wiro Sableng berjudul "Senandung Kematian")

Walau tahu kehebatan senjata di tangan lawan tapi Setan Ngompol tidak unjukan sikap jerih Sambil bertolak pinggang sementara air kencingnya mengucur terus dia berkata.

Setahuku senjata curian tidak pernah ampuh. Apa lagi dipakai untuk kejahatan!"

Rawa Suwarte menyeringai. "Jangan terlalu

takabur! Kita akan lihat bagaimana nasibmu sebentar lagi!"

Didahului satu bentakan keras tokoh silat istana itu melompat ke hadapan Setan ngompol. Keris di tangan kanan dibabatkan. Suara menderu dahsyat disertai berkiblatnya cahaya kuning tebal dan angker menyambar ke arah Setan Ngompol.

Setan Ngompol berseru kaget ketika merasakan seperti ada tembok batu mendorong dahsyat ke arahnya. Dengan cepat kakek ini melompat mundur sambil hantamkan dua tangan sekaligus. Melepas pukulan sakti bernama "Setan Ngompol Meroboh Gunung."

Selama ini jarang ada lawan yang sanggup menerima pukulan tersebut. Kalau tidak dihantam roboh, paling tidak lawan akan mencelat mental dan menderita luka dalam parah! Namun untuk kedua kalinya Setan Ngompol berteriak tegang dan terkencing-kencing ketika pukulan dua tangannya yang mengandung hawa sakti dan tenaga dalam tinggi diterpa kiblatan cahaya kuning Keris Naga Kopek lau berbalik meng-hantam dirinya sendiri.

Setan Ngompol selamatkan diri dengan melompat setinggi satu tombak. Tapi lawan rupanya dapat menduga gerakannya. Selagi sosok kakek botak itu masih melayang setengah jalan di udara Rana Suwarte mendahului membuat lompatan lebih tinggi. Lalu dengan tubuh masih menggantung di udara dia tusukkan Keris Naga Kopek ke bawah. Laksana semburan api, cahaya kuning meluncur ganas ke arah Setan Ngompol!

"Celaka!" Setan Ngompol berseru tegang. Sambil pegang bagian bawah perutnya dia jungkir balik di udara lalu jatuhkan diri ke kiri. Baru dua kakinya menginjak tanah, satu tendangan menyapu kuda-kuda salah satu kakinya. Tak ampun lagi Setan Ngompol jatuh terjengkang. Belum sempat bergerak bangun ujung runcing Keris Naga Kopek sudah menempel di batok kepalanya yang gundul plontos!

Setan Ngompol merasa ada hawa aneh menggidikkan memasuki kepalanya, membuat tubuhnya bergetar dan tengkuknya merinding dingin. Kencingnya muncrat habis-habisan.

"Berani bergerak, kutembus batok kepalamu!" Mengancam Rana Suwarte.

"Kau mau membunuhku? Ha ... ha! Teruskan niatmu! Siapa takut mati!" Ucap Setan Ngompol setengah berteriak, membalas ancaman orang dengan tantangan.

Rana Suwarte tertawa mengekeh. Dia tahu lawan saat itu dalam keadaan tidak berdaya. Dia hanya menggerakkan tangan sedikit saja maka tamatlah riwayat Setan Ngompol.

"Orang takut dan putus asa memang bisa nekat! Tua bangka bau! Aku tidak terlalu kesusu ingin merampas nyawamu. Malah aku masih sudi memberi sedikit penundaan. Asal kau mau memberi tahu dimana beradanya bocah sahabatmu si rambut jabrik dikenal dengan nama Naga Kuning yang ujud aslinya adalah seorang kakek bernama Kiai Paus Samudera Biru."

Mendengar ucapan orang, Setan Ngompol putar sepasang matanya yang belok jereng lalu tertawa gelak-gelak sampai air kencingnya berkucuran.

"Jahanam! Mengapa kau tertawa seperti orang gila! Apa yang lucu!"

"Minum kencingku duiu! Baru aku beritahu dimana bocah konyol itu berada! Ha ... ha ... ha!"

Bergetar sekujur tubuh Rana Suwarte. Keris Naga Kopek yang tergenggam di tangannya dan ujungnya menempel di batok kepala Setan Ngompol tampak memancarkan cahaya kuning lebih terang. Pertanda tokoh silat lstana itu tengah mengerahkan seluruh tenaga dalam yang dimilikinya. Dengan sekali tusuk saja dia ingin menembus amblas kepala botak Setan Ngompol.

"Bangsat kurang ajar! Mampus kau!" teriak

Rana Suwarte. Tangannya bergerak. Namun sebelum Keris Naga Kopek dihujamkan ke batok kepala Setan Ngompol mendadak satu suara kecil tapi nyaring terdengar di belakangnya.

"Tua bangka sesat Rana Suwarte, apa betul kau mencari diriku?!"

Gerak tangan yang hendak rnenusuk tembus Keris Naga Kopek ke batok kepala Setan

Ngompol sesaat tertahan. Rana Suwarte palingkan kepala. Melihat siapa yang berdiri di sebelah sana, sosok orang tua ini bergetar dilanda dendam kesumat. Mukanya yang jernih kelam membesi. Rahang menggembung. Sepasang mata mendelik tak berkesip meman-dangi anak lelaki berpakaian serba hitam berambut jabrik yang tegak beberapa langkah di depannya. Naga Kuning! Bocah yang tengah dicari dan ingin dihabisinya!

Pada saat Rana Suwarte terkesiap melihat kemunculan Naga Kuning yang tidak terduga, Setan Ngompol pergunakan kesempatan untuk selamatkan diri. Pertama sekali dia jauhkan kepala botaknya dari ujung Keris Naga Kopek. Bersamaan dengan itu tangan kirinya menepis lengan kanan Rana Suwarte. Lalu tangan kanan melesat ke depan, menghantam selangkangan orang!

"Jebol celenganmu!" teriak Setan Ngompol lalu tertawa bergelak.

"Bedebah keparat!" maki Rana Suwarte. Keris Naga Kopek dibabatkannya ke bawah. Suara tawa Setan Ngompol sirna. Tak mau putus kehilangan lengan dengan cepat dia terpaksa tarik pulang tangannya yang dipukulkan ke bawah perut lawan lalu jatuhkan diri di tanah, terkencing-kencing berguling menjauhi Rana Suwarte.

"Nyawamu di tanganku! kau mau lari kemana!" kertak Rana Suwarte lalu melompat memburu Setan Ngompol. Kaki kanannya menghamburkan tendangan berantai tapi tak satupun berhasil mengenai tubuh Setan Ngompol. Dengan geram Rana Suwarte angkat tangan kiri. Ketika tangan itu bergerak, dua buah benda putih berkilat melesat ke arah perut dan dada Setan Ngompol.

"Pisau terbang! "

Dengan pisau inilah Rana Suwarte sebelumnya menghabisi nyawa Sulantri, gadis cilik di tepi kali.

Melihat serangan dua pisau terbang Setan Ngompol liukkan tubuh. Dia berhasil mengelakkan pisau yang mengarah ke perut. Namun kasip dan tak mampu menghindar dari pisau yang mengincar dada.

Hanya sekejapan lagi pisau putih itu akan menancap di dada Setan Ngompol tiba-tiba tring! Sebuah batu kecil melesat di udara, menghantam ujung lancip pisau terbang hingga senjata rahasia ini terpental gompal.

"Serrr!"

Sadar kalau dirinya barusan terlepas dari bahaya maut, Setan Ngompol kucurkan air kencing, lalu cepat berdiri sambil pegangi perut.

"Bocah jahanam!" Rana Suwarte keluarkan makian. Dia tahu barusan Naga Kuninglah yang menyambitkan sebuah batu kecil ke arah pisau maut yang dilemparkannya menyerang Setan Ngompol.

"Kau rupanya minta mampus lebih dulu dari kakek keparat itu!" Sekali lompat Rana Suwarte sudah berdiri tiga langkah di hadapan Naga kuning. Keris Naga Kopek dipegang melintang di depan dada.

"Rana Suwarte. Usiamu sudah lanjut tapi masih saja bicara carut marut memalukan. Jangan kau berani berlaku kurang ajar pada kakek sahabatku itu! Jika aku yang kau cari, katakan apa urusanmu! apa masih urusan yang lama itu?!"

"Bocah setan! Salah satu diantara kita harus mati saat ini juga!" hardik Rana Suwarte. Naga Kuning goleng-golengkan kepala sambil keluarkan suara seperti suara cecak.

"Cek .. cek ... cek! Luar biasa nekad!" kata anak berambut jabrik ini. Lalu dia sambung ucapannya.

"Kalau aku mati apa kau kira akan bisa mengawini Ning lntan Lestari? Aku tahu semua perbuatan jahatmu ini adalah karena dendammu terhadapku gara-gara tidak bisa mendapatkan perempuan itu!"

Seperti dituturkan dalam serial Wiro Sableng berjudul "Gondoruwo Patah Hati" sejak semasa muda antara Naga Kuning yang berjuluk Kiai Paus Samudera biru terjadi silang sengketa dengan Rana Suwarte gara-gara memperebutkan seorang gadis cantik bernama Ning lntan Lestari. Sang gadis mencintai Naga Kuning, tapi Naga Kuning sendiri menganggapnya sebagai saudara karena Ning lntan Lestari adalah anak angkat orang yang sangat dihormatinya yakni Kiai Gede Tapa Pamungkas.

Gagal mendapatkan cinta Ning lntan Lestari, Rana Suwarte meminta pertolongan Kiai Gede Tapa Pamungkas untuk membujuk Ning lntan Lestari agar mau nikah dengan dirinya. Itu terjadi setelah puluhan tahun terpisah. Namun nyatanya si gadis yang kini telah berubah menjadi nenek tetap saja menolak kehadiran Rana Suwarte.

Dalam amarahnya, Rana Suwarte menganggap Naga Kuninglah yang jadi biang racun semua kegagalannya dalam mendapatkan Ning lntan Lestari. Padahal Naga Kuning sendiri dilihatnya seperti tak acuh dan meninggalkan gadis itu sekian lama. Sebenarnya setelah berpisah puluhan tahun begitu rupa, entah mengapa kini timbul rasa sayang di hati Naga Kuning pada Ning lntan Lestari yang hidup menyamar sebagai nenek muka setan dengan julukan Gondoruwo Patah Hati.

Merasa ditelanjangi orang, Rana Suwarte mendidih amarahnya. Kepala dan dadanya seperti mau meledak mendengar ucapan Naga Kuning tadi. Sewaktu terjadi pertempuran hebat di dekat air terjun Jurangmungkung dulu, dia memang merasa jerih terhadap Naga Kuning, terutama ketika bocah itu memperlihatkan ujud aslinya berupa seorang kakek sakti mandraguna yang dikenal dengan julukan Kiai Paus Samudera Biru. Selain itu dia juga masih menaruh.rasa segan karena tahu Naga Kuning adalah orang kepercayaan Kiai Gede Tapa Pamungkas, ayah angkat Ning lntan Lestari, mahluk setengah manusia setengah roh yang telah meninggal dunia puluhan tahun silam.

Selain itu Kiai Gede Tapa Pamungkas diketahui adalah guru Sinto Gendeng dan Tua Gila.

(Baca serial Wiro Sableng berjudul "Pedang Naga Suci 212")

Tapi kini bagi Rana Suwarte keadaan telah berubah. Memegang Keris Naga Kopek di tangan kanan Rana Suwarte tidak memandang sebelah mata lagi pada Naga Kuning, juga tidak perduli apapun hubungan anak aneh itu dengan Kiai Gede Tapa Pamungkas.

"Naga Kuning, Kiai Paus Samudera Biru! Siapapun kau adanya! Hari ini adalah hari nahasmu! Kematianmu sudah di depan mata. Jadi jangan bicara sombong tak karuan!"

"Siapa bicara sombong tak karuan!"

Bukankah kau yang hidup salah kaprah tak karuan? Tergila-gila pada perempuan yang jangankan mencintamu, melihatmupun dia muak! Bagaimana mungkin kau masih bermimpi ingin mengawininya? Dan kesialan nasibmu itu kau jadikan bahan dendam kesumat terhadapku! Sungguh tolol! Memalukan!"

Rana Suwarte tak dapat menahan amarahnya lagi.

"Bocah keparat! Berangkatlah ke neraka!"

Teriak tokoh silat lstana itu. Sambil melompat kemuka dia kirimkan satu tusukan dan dua babatan dengan Keris Naga Kopek. Sinar kuning berkiblat terang di udara disertai deru membising telinga menggetarkan dada. Naga kuning menahan kejut. Belum pernah dia melihat senjata yang mampu memancarkan cahaya demikian angkernya. Tubuhnya yang kecil laksana diterpa angin puting beliung. Tanah yang dipijaknya seperti diguncang lindu. Pantas saja tadi si Setan Ngompol kelabakan menghadapi senjata sakti mandraguna itu.

"Edan!" maki Naga kuning ketika dia dapatkan dirinya tidak bisa keluar dari gulungan cahaya kuning. Setiap saat Keris Naga Kopek di tangan lawan datang menggempur dalam bentuk tusukan atau babatan.

"Bukkk!"

Dalam satu gebrakan Naga Kuning berhasil menghantam lengan kanan Rana Suwarte yang memegang Keris Naga Kopek. Lengan itu hanya tergetar sedikit sebaliknya Naga kuning terpental sampai tiga langkah dan jatuh duduk di tanah. Lawan tidak sia-siakan kesempatan. Sambil rnerunduk Rana Suwarte hunjamkan senjata sakti di tangannya ke dada si bocah.

"Settt .... clep!"

Keris Naga Kopek kelihatan menancap di dada Naga Kuning. Setan Ngompol berteriak kaget. Kencingnya berburaian.

"Rana Suwarte keparat! Kukorek jantungmu! Kuhisap darahmu!" teriak Setan Ngompol.

Dia menerjang ke depan ke arah tokoh silat lstana itu. Namun setengah jalan gerakannya tertahan ketika menyaksikan apa yang terjadi dengan sosok Naga Kuning.

—————–000000000000—————–

4KITA tinggalkan dulu Naga Kuning yang menerima nasib kena ditikam Rana Suwarte dengan Keris Naga Kopek, senjata sakti mandraguna yang merupakan salah satu benda pusaka Kerajaan. Kita kembali ke sebuah muara sungai kecil di kawasan pantai selatan.

Sejak tengah malam udara terasa lebih dingin. Langit di laut menghitam dalam kegelapan tanpa bulan tanpa bintang. suara tiupan angin sesekali mengencang terdengar menggidikkan. Di batik sederetan pohon kelapa di tepi pantai, di bawah sebuah gubuk tak berdinding, dua gadis duduk sating berdiam diri.

"Hujan ..." Gadis di samping kiri berucap sambil mengusap pipinya yang kejatuhan hujan rintik-rintik. Gadis ini berambut pirang, berwajah cantik jelita dan bukan lain adalah Bidadari Angin Timur. Di sebelahnya duduk Anggini, gadis cantik murid tokoh silat terkenal berjuluk Dewa Tuak.

"Anggini, apakah kita akan terus menunggu di sini? Ini malam kedua kita bergadang. Yang aku khawatir mereka tidak muncul di kawasan muara ini."

Dua gadis itu memang telah berada di tempat tersebut selama dua malam. Padahal di dasar samudera waktu yang dua malam itu bagi Wiro kurang dari satu hari.

"Turut keterangan orang-orang yang kita tanyai, mereka memang menuju ke sini. Lalu menghilang begitu hari gelap. Kita tidak tahu kapan mereka akan muncul. Tapi aku yakin tempatnya memang sekitar muara ini. Karena di sini pertemuan muara sungai yang mengandung hawa hangat dengan air laut yang berhawa dingin. Kalaupun kita beranjak dari sini, kita mau pergi kemana?, Pangeran Matahari yang kita cari sama sekali tidak meninggalkan jejak."

Bidadari Angin Timur dalam sesaat lalu melanjutkan kata-katanya. "Aku ingat keterangan Eyang Sinto Gendeng tempo hari mengenai dua makam di puncak Gunung Gede. Kita sama menyaksikan hanya satu makam yang kosong sedang makam satunya adalah dimana Puti Anggini dimakamkan. Jelas-jelas kita yang menguburkan gadis itu. Mengapa tahu-tahu makamnya kosong? Aku yakin ini semua Pangeran keparat itu yang punya pekerjaan. Aku.... ...."

Anggini angkat tangannya, memberi isyarat dengan gerakan tangan memutus ucapan Bidadari Angin Timur. Dia menunjuk ke arah timur. Di jurusan itu, dalam kegelapan kelihatan seorang berlari menyusuri pantai. Demikian cepat larinya hingga dalam waktu cepat sekali dia telah berada di muara sungai dekat deretan perahu-perahu kosong. Dengan gesit orang ini melompat dari satu perahu ke perahu lainnya tanpa perahu-perahu kosong itu bergerak barang sedikitpun. Di perahu ke tiga pada deretan perahu diujung kiri, orang ini berhenti lalu merunduk dan dudukkan diri di lantai perahu.

"Orang itu memiliki ilmu meringankan tubuh tinggi. Pasti orang dari rimba persilatan," bisik Bidadari Angin Timur. Yang diperhatikan Anggini bukan kehebatan ilmu lari atau ilmu meringankan tubuh orang.

"Sahabatku, coba kau perhatikan. Di atas kepala

orang itu ada asap aneka warna merah, berbentuk kerucut berbalik. Matanya juga merah. Aku merasa pasti orang itu adalah nenek aneh yang menurut Wiro tersesat dari Negeri Latanahsilam. Yang pernah bertempur dengan Wiro karena dia sebenarnya adalah kakak kandung iblis Kepala batu Alis Empat alias lblis Kepala batu Pemasung Roh."

"Aku ingat," ujar Bidadari Angin Timur.

"Namanya hantu Penjunjung Roh. Waktu Wiro mengerjainya, hampir membuat dirinya telanjang bugil, kau memberikan sehelai pakaian padanya."

"Benar, memang dia. Mengapa dia berada di sini?" Anggini menduga-duga.

"Kalau dia adalah saudaranya lblis Kepala Batu Alis Empat, sudah bisa kuduga apa maksudnya berada di sini. Mau mencegah Wiro. Membalas dendam karena telah dipecundangi dan dipermalukan."

"Berarti Pendekar 212 dalam bahaya."

"Apa yang harus kita lakukan?"

"Tunggu saja sampai Wiro muncul. Kalaupun nenek itu punya niat jahat terhadap Wiro, rasanya dia tidak memiliki kemampuan mengalahkan Pendekar 212."

Hujan rintik-rintik lenyap diterpa angin laut. Malam tambah dingin. Orang di dalam perahu Hantu Penjunjung Roh duduk tak bergerak. Matanya selalu diarahkan ke tengah laut, sesekali memandang berkeliling. Anggini dan Bidadari Angin Timur mulai letih, kedinginan dan mengantuk. Tiba-tiba sayup-sayup di kejauhan terdengar suara air laut bersibak. Anggini angkat kepalanya, memandang lurus-lurus ke arah laut di ujung muara sungai.

"Bidadari, lihat!" ucap Anggini.

Bidadari Angin Timur yang tengah terkantuk-kantuk tersentak, berpaling pada sahabatnya lalu memandang ke arah yang ditunjuk Anggini.

Saat itu dari bawah permukaan air laut muncul dua kepala manusia, satu laki-laki, satunya perempuan berambut panjang hitam. Setelah muncul kepala, menyusul bagian dada lalu perut. Akhirnya kedua orang itu kelihatan melangkah mengarungi air laut yang semakin dangkal, bergerak menuju ketepi pasir pantai.

"Dugaan kita tidak meleset. Si mata biru itu ternyata memang mendampingi Wiro masuk ke dalam lautan." Kata Bidadari Angin Timur setengah berbisik.

"Mungkin Wiro telah mendapatkan ilmu Meraga Sukma itu" ujar Anggini. Belum sempat Bidadari Angin Timur menjawab ucapan sahabatnya tiba-tiba sosok Hantu Pemasung Roh yang sejak lama mendekam di salah satu perahu melesat ke udara lalu menukik turun ke arah dua orang yang barusan saja keluar dari dalam laut.

Dalam kejutnya Wiro dan Ratu Duyung cepat bersibak ke kiri dan ke kanan.

"Hantu Penjunjung Roh!" seru Wiro begitu dia mengenali siapa yang berdiri di atas pasir basah di hadapannya. Dia merasa tidak enak. Naga-naganya nenek satu ini akan mencari lantaran lagi. Wiro memberi isyarat pada Ratu Duyung agar berlaku waspada.

"Bagus! Kau masih mengenali tua bangka jelek ini! Hik ... hik ... hik!"

"Nek, kelihatannya kau sengaja menghadang kami." kata Wiro pula.

"Bukan kelihatannya. Tapi memang benar aku sengaja menghadangmu. Aku punya satu kepentingan denganmu anak muda! Aku datang untuk mengingatkanmu tentang urusan dengan saudaraku lblis Kepala Batu Alis Empat Alis lblis Kepala Batu Penjunjung Roh. Wiro garuk-garuk kepalanya.

"Aku lupa, urusan apa yang kau maksudkan?"

"Hemm ... Hik ... hik! Kau lupa. Biar aku beritahu! Aku ingatkan padamu jangan sekali lagi berani membuat urusan apa lagi sampai mencelakai lblis Kepala Batu Alis Empat!"

"Tidak ada orang yang ingin mencelakai saudaramu itu! Dia mencelakai dirinya sendiri!" kata Wiro mulai gusar.

"Maksudmu?!"tanya Hantu Penjunjung Roh. "Jangan berlagak tolol tidak tahu! Saudaramu menculik gadis bernama Bunga, sahabat Pendekar 212. Menyekapnya dalam guci tembaga!" Yang menjawab adalah Ratu Duyung.

Hantu Penjunjung Roh yang bernama Luhniknik ini Jirikkan matanya pada Ratu Duyung, lalu berkata. "Gadis berambut hitam panjang, bermata biru bertubuh bagus, apa hubungamu dengan pemuda ini?"

"Kau tak patut bertanya, jadi tak layak kujawab!" sahut Ratu Duyung pula.

Si nenek tertawa panjang. "Aku tidak ada kepentingan dengan dirimu. Jadi jangan berani campuri urusanku dengan pemuda itu!"

Wiro maju satu langkah. "Hantu Penjunjung Roh aku juga merasa tidak ada urusan dengan dirimu. Mengingat hubungan kita di Tanahsilam dulu, harap kau suka meninggalkan tempat ini. Jangan menghalangi kami."

Wiro memberi isyarat pada Ratu Duyung. Keduanya lalu melangkah maju melewati samping kiri dan kanan si nenek.

"Pendekar 212 Wiro Sableng! Di Negeri Latanahsilam kita boleh bersahabat. Tapi di sini saat ini aku terpaksa meminta sumpahmu bahwa kau tidak akan melakukan apa-apa terhadap adikku lblis Kepala Batu Alis Empat."

"Aku bisa saja bersumpah. Tapi apakah kau sanggup membebaskan Bunga dari dalam guci tembaga?!"

"Aku akan melakukan hal itu! Aku akan menemui adikku!"

"Mana mungkin! Dimana dia berada saja kau tidak tahu!" tukas Wiro.

"Jangan memandang remeh diriku! Aku tahu dimana dia berada!"

"Tempat kediamannya di Jurangmungkung sudah aku hancurkan!"

"Dia masih punya beberapa tempat kediaman. Diantaranya di Lembah Welirang, lalu di ..."

Hantu Penjunjung Roh putus ucapan. Dia baru sadar kalau telah mengatakan sesuatu yang seharusnya tidak boleh diungkapkan.

"Kurang ajar! Aku kena terpancing pemuda jahanam ini!" rutuk si nenek dalam hati. Wiro menyeringai.

"Maaf Nek, aku tidak percaya kau mampu melakukan hal itu."

"Memang, seharusnya kau jangan percaya

padanya Wiro!"

"Betina penghasut! Kau bakal menerima hajaran dariku!" kata Hantu Penjunjung Roh. Dua matanya yang merah berbentuk kerucut menyembul keluar. Dia berpaling ke arah Pendekar 212 lalu berkata. "Aku terpaksa minta jaminan secara paksa bahwa kau tidak akan mencelakai saudaraku!"

Habis berkata begitu Hantu Penjunjung Roh goyangkan kepalanya. Dari dua rnatanya yang aneh, melesat dua larik sinar merah angker. Sinar pertama menderu ke arah bahu kiri dan sinar kedua ke arah bahu kanan Wiro. Jika mengenai sasarannya maka dua tangan sang pendekar akan buntung sebatas bahu!

Seperti diketahui Hantu Penjunjung Roh telah beberapa kali berusaha membujuk agar Wiro tidak mengambil tindakan terhadap lblis Kepala Batu Alis Empat. Si nenek tahu kalau Wiao mengeluarkan ilmu kesaktian yang dimilikinya maka adiknya akan celaka besar walau konon lblis Kepala Batu Alis Empat punya ilmu kebal.

Dari membujuk si nenek sampai bertindak keras hingga terjadi perkelahian. Wiro yang masih menaruh hormat terhadapnya tidak mau menjatuhkan tangan keras. Terakhir sekali dia memberi pelajaran dengan cara merobek-robek pakaian perempuan tua itu hingga keadaannya nyaris bugil.

Ternyata hal ini tidak membuat Hantu Penjunjung Roh jera. Nenek satu ini tetap saja ngotot membela saudaranya tanpa mau mengerti kalau lblis Kepala Batu telah melakukan kejahatan keji, menculik Bunga, menyekapnya dalam guci tembaga dan memaksanya untuk dijadikan gadis peliharaan.

Wiro memburu lblis Kepala Batu ke sarangnya di dekat air terjun Jurangmungkung. Tapi tidak menemui si penculik di tempat itu. Dalam marahnya Wiro hanya bisa menghancurkan tempat kediaman lblis Kepala Batu.

(Baca Episode Gondoruwo Patah Hati", "Senandung Kematian", "Mayat Persembahan" dan "Si Cantik Dalam Guci")

Mendapat serangan ganas begitu rupa lenyaplah kesabaran murid Sinto Gendeng. Kalau tidak diberi hajaran berat nenek satu ini tdak akan jera seumur-umur dan dia akan selalu mengalami kesulitan untuk membebaskan Bunga walau saat itu dia telah memiliki ilmu Meraga Sukma. Tapi Ratu Duyung yang begitu besar cintanya terhadap Wiro bertindak mendahului. Gadis ini keluarkan cermin bulat saktinya. Sekali dia menggerakkan tangan memutar lengan, selarik cahaya menyilaukan berkiblat di malam buta. rnelabrak dua larik sinar merah yang menyembur keluar dari sepasang mata Hantu Penjunjung Roh.

"Bummm! Bummm!"

————–0000000000————–

5Letusan keras mengge!egar dua kali di tempat itu. Air sungai bermuncratan.Pantai bergetar dan ombak melambung ke udara. Sepasang kaki Ratu Duyung melesak ke dalam pasir pantai sampai satu jengkal. Sebaliknya sosok Hantu penjunjung Roh terpental satu tombak, terbanting jauh menelungkup hingga tubuhnya di bagian depan termasuk wajahnya bercelemongan pasir basah.

Untung pasir tidak memasuki kedua matanya. Sambil memakai panjang pendek nenek ini bangkit berdiri, rnembersihkan mukanya yang dipenuhi pasir basah. Asap merah berbentuk kerucut terbalik diatas kepalanya bergerak turun naik.

Tiba-tiba didahului pekik keras seolah merobek langit malam, hantu penjunjung roh melompat kearah ratu duyung. Asap merah kepalanya menebar membuntal menutupi muara sungai seluas dua tombak.

Ratu duyung berseru kaget ketika dia tidak lagi melihat sosok si nenek. Lalu dari dalam kepekatan asap merah tiba-tiba mencuat satu tangan dan buukkkkk!

Ratu duyung menjerit keras.tubuhnya mencelat satu tombak, jatuh terbanting dipasir. Jotosan Hantu Penjunjung Roh tepat melanda dadanya.

"Tua bangka kurang ajar! kau memang tidak bisa dikasih hati!" teriak Wiro melihat apa yang terjadi dengan Ratu Duyung. Murid Sinto Gendeng ini segera menerjang ke depan. Berkat hawa sakti yang didapatnya dari Naga Biru di dasar samudera gerakan Wiro jadi enteng dan cepat sekali. Tangan kiri melepas pukulan "Orang gila Mengebut Lalat" untuk rnembuyarkan asap merah yang masih menyelubung sedang tangan kanan siap menghajar si nenek dalam jurus "Kepala Naga Menyusup Awan".

Namun gerakan sang pendekar mendadak tertahan ketika dua bayangan berkelebat dalam gelapnya malam dan pekatnya asap merah.

"Bukk! Buukk!"

Hantu Penjunjung Roh menjerit setinggi langit. Dadanya laksana dipantek dari depan dan belakang. Satu jotosan rnelanda dadanya. Lalu dalam waktu bersamaan satu jotosan lagi menghantam punggungnya, Si nenek muntahkan darah segar. tubuhnya Terseok lalu jatuh terduduk di pasir basah. Asap merah yang sebelumnya menyelubungi tempat itu sirna dan asap merah yang ada di atas kepalanya, kini hanya berbentuk bayang.bayang, naik turun mengikuti tarikan napas sesak. dua bola matanya yang berbenruk kerucut merah, tenggelam ke dalam rongga mata yang cekung dan menyembul keluar begitu dia melihat dua sosok gadis yang ada di hadapannya yang bukan lain adalah Bidadari Angin Timur dan Anggini.

Pendekar 21 2 Wiro Sableng tidak perdulikan apa yang terjadi dengan si nenek. Dia menghambur ke arah sosok Ratu Duyung, berlutut di sampingnya lalu mendudukkan gadis itu di tanah, disandarkan ke badan sebuah perahu.

"Ratu ...."

"Wiro, dadaku sakit sekali ..." Suara Ratu duyung hampir tak kedengaran saking perlahannya. Wiro hendak dekapkan dua telapak tangannya ke dada gadis itu, tapi sadar kalau hal itu tak mungkin dilakukannya. Maka dari belakang dua tangannya diletakkan di atas punggung Ratu Duyung lalu dia kerahkan tenaga dalam untuk mengalirkan hawa sakti ke tubuh si gadis.

"Manusia-manusia pengecut! Curang!"

Hantu Penjunjung Roh merutuk. Dia berusaha bangkit berdiri tapi jatuh lagi terduduk.

"Nek, maafkan kami," berkata Anggini.

"Sebelumnya kami bersikap bersahabat terhadapmu. Tapi kalau kau mencelakai sahabat kami Ratu Duyung, mana mungkin kami hanya berdiam diri."

Hantu Penjunjung Roh semburkan ludah dan darah dalam mulutnya. Untuk kedua kalinya dia coba berdiri. Lagi-lagi jatuh terduduk kembali seolah dua kakinya telah menjadi lumpuh. Anggini yang merasa kasihan menolong perempuan tua ini berdiri.

"Nek, pergilah dari sini. Jangan lagi menghalangi niat Pendekar Pendekar 212 untuk membebaskan sahabatnya Bunga. Walau lblis Kepala Batu adalah saudaramu, tapi dia telah melakukan satu kejahatan keji."

Luhniknik alias Hantu Penjunjung Roh keluarkan

ucapan yang tak jelas dari mulutnya yang penuh ludah bercampur darah. Terhuyung-huyung nenek ini melangkah pergi tinggalkan muara sungai. Bidadari Angin Timur dan Anggini segera menghampiri Ratu Duyung.

Saai itu Ratu Duyung duduk bersandar ke badan perahu. Cermin sakti diletakkannya di atas dadanya yang masih mendenyut sakit.

"Sahabat, bagaimana keadaanmu?" tanya Anggini sambil memegang bahu Ratu Duyung.

"Dadaku masih sakit. Aku menderita luka dalam. Mudah-mudahan tidak parah ..." jawab Ratu Duyung. Mulutnya berucap begitu tapi hatinya bertanya-tanya bagaimana dua gadis tersebut tahu-tahu bisa muncul di tempat itu.

"Kami berdua akan tolong memulihkan cideramu," kata Anggini lalu membungkuk di hadapan Ratu Duyung. Dua tangannya hendak diletakkan di atas dada Ratu Duyung tapi Wiro memberi isyarat agar Anggini tidak melakukan hal itu karena saat itu dia telah mengeluarkan kapak sakti. Kapak ini kemudian ditempelkan diatas dada Ratu Duyung.

Senjata itu sebelumnya pernah ditelan oleh naga Biru di dasar samudera dan kini dibalut oleh selarik sinar sakti kemerahan. Ketika kapak menindih dadanya Ratu Duyung pejamkan mata. Aliran hawa aneh yang keluar dari dalam kapak sakti menimbulkan rasa sejuk di sekujur tubuhnya, terutama di bagian dada. Denyutan sakit perlahan-lahan mulai berkurang. Wiro kemudian berikan sisa obat pemberian gurunya yang tinggal satu. Tanpa malu-malu obat itu di masukkannya ke dalam mulut Ratu Duyung seraya mendekatkan wajahnya ke muka si gadis, lalu berbisik.

"Telan ..."

Sesaat Ratu Duyung pegang tangan Wiro lalu menelan obat yang diberikan. Bidadari Angin Timur dan Anggini hanya bisa berdiam diri. Walau jelas maksud Wiro menolong Ratu duyung setulus hati, namun dua gadis ini melihat dibalik pertolongan itu ada satu kemesraan.

Anggini merasa perih di lubuk hatinya. Bidadari Angin Timur juga merasakan hal yang sama malah dadanya menjadi sesak. Dua gadis ini layangkan pandangannya ke arah laut gelap. Mereka seolah menyadari bahwa hati sanubari dan perasaan saat itu jauh lebih kelam dari laut yang gelap itu. Ketika rasa sakit dan sesak di dadanya lenyap Ratu Duyung buka sepasang matanya yang biru. Dia coba tersenyum pada Anggini dan Bidadari Angin Timur. Lalu gadis ini palingkan kepalanya pada Wiro.

"Wiro, kau harus segera mencari lblis Kepala Batu Alis Empat ..."

Wiro mengangguk. "Aku tahu, tapi aku tidak akan meninggalkan kau dalam keadaan seperti ini."

"Jangan pikirkan diriku. Aku akan segera sembuh."

"Kita akan mencari iblis keparat itu bersama-sama." Kata Pendekar 212 pula yang membuat Ratu Duyung jadi terkejut, juga membuat heran Bidadari Angin Timur dan Anggini. Sesuatu agaknya telah terjadi, membuat perubahan dalam diri Pendekar 212 terhadap Ratu Duyung. Bagi Wiro sendiri apa yang dilakukannya adalah satu tindakan wajar belaka. Ratu Duyung telah mengantarkannya ke dasar semudera untuk mendapatkan llmu Meraga Sukma. Kini si gadis dalam keadaan cidera. Apakah layak dia meninggalkannya begitu saja? Wiro memandang pada dua gadis itu di hadapannya.

"Aku gembira rnelihat kalian berdua. Bagaimana kalian bisa berada di muara sungai ini?"

Anggini jadi kelagapan, tak bisa menjawab. Bidadari Angin Timur yang sebelumnya sudah menduga kalau Wiro .bakal menanyakan hal itu telah menyiapkan jawaban.

"Kami berada di kawasan ini secara kebetulan. Kami masih berusaha keras menjejajaki dimana beradanya Pangeran Matahari. Karena agaknya dia satu-satunya orang yang tahu .Kemana lenyapnya Pedang Naga Suci 212. Ketika sampai di sini malam tadi, kami melihat Hantu Penjunjung Roh telah lebih dulu berada di sini. Mendekam dalam perahu. Pasti dia fengah menunggu seseorang atau menantikan sesuatu. Kami lantas ingat kalau kau tengah dalam perjalanan mencari seorang sakti yang diam di dasar lautan. Aku dan Anggini memutuskan untuk mematai-matai nenek itu.

Bukan mustahil dia punya satu rencana jahat. dugaan kami ternyata betul. Hanya sayang kami kurang cepat bertindak hingga sahabat Ratu duyung mengalami cidera ..."

"Kalian bertindak dalam waktu yang tepat. aku berterima kasih pada kalian berdua. Kalau kalian tidak muncul mungkin aku sudah membunuh nenek itu." Wiro pandangi wajah dua gadis cantik itu. Yang dipandangi menduga-duga apa yang ada didalam kati sang pemuda.

"'Aku dan Ratu Duyung akan pergi ke Lembah Welirang. Hantu Penjunjung Roh telah ketelepasan bicara. Agaknya lblis Kepala Batu Alis Empat meiarikan Bunga ke tempat itu."

"Kami siap ikut bersamamu," kata Bidadari Angin Timur.

"Aku sangat berterima kasih. Tapi seperti yang sudah kita atur semula. Kita tetap membagi tugas. Kalian berdua meneruskan mencari Pangeran Matahari sambil menyirap kabar dimana beradanya tanaman bunga melati tujuh racun ..."

Bidadari Angin Timur dan Anggini jadi saling pandang mendengar ucapan Wiro itu. Kalau Pendekar 212 memang tidak inginkan mereka ikut ke Lembah Welirang, buat apa mereka berada lebih lama ditempat itu.

"Wiro, kau benar. Kita harus membagi tugas. Kami akan meneruskan mencari Pedang Naga Suci 212. Juga menyelidiki dimana beradanya bunga melati tujuh racun. Kami pergi sekarang..."

Wiro memegang lengan Bidadari Angin Timur. Memandang pada Anggini. "Pergilah Jangan lupa selalu berhati-hati ..."

Sesaat setelah dua gadis itu pergi, Ratu Duyung berkata. "Kau telah mengecewakan dua gadis cantik itu Wiro."

"Aku mengecewakan dua gadis cantik?" Wiro garuk-garuk kepalanya.

"Mereka lebih suka ikut bersamamu ke Lembah Welirang. Tapi kau menolak dan memberi mereka tugas yang lain ..."

"Aku sama sekali tidak punya niat mengecewakan mereka. Pembagian tugas itu sudah ditetapkan sejak lama. Aku sendiri kebagian tugas paling banyak. Menyelamatkan Bunga, mencari bunga melati tujuh racun. Mencari kitab pengobatan milik guru yang hilang dicuri orang ...."

"Kalau kau sadar begitu banyak tugasmu, mengapa kau tidak mau dibantu oleh mereka?"

"Mereka telah membantu ...." jawab Wiro.

Sang pendekar pandangi wajah Ratu Duyung beberapa ketika. Lalu dia tersenyum. Sambil mengusap-usap rambut hitam si gadis dia berkata.

"Kalian gadis-gadis cantik! Memang sulit menduga apa yang ada dihati kalian!"

"Mungkin begitu," jawab Ratu Duyung. Tapi dua gadis sahabatku itu mungkin pula berpendapat betapa sulitnya menduga apa yang ada dihatimu."

"Kau sendiri, apakah juga punya pendapat seperti itu?" tanya Pendekar 212.

Sesaat Ratu Duyung kelihatan merah wajahnya. Kemudian sambil tersenyum dia menjawab. "Aku tidak malu-malu mengatakan dan berterus terang. Saat ini aku lebih beruntung dari mereka berdua. Karena kau memperhatikan keadaan diriku yang cidera. Lebih dari itu kau juga menaruh percaya dan rnengajak diriku ke Lembah Welirang mencari lblis Kepala Batu Alis Empat ... "

Wiro cuma bisa tersenyum dan garuk-garuk kepalanya mendengar kata-kata Ratu Duyung itu.

————-000000000————-

6KEMBALI ke kali kecil tempat terbunuhnya gadis cilik bernama Sulantri dan kejadian ditikamnya Naga Kuning oleh Rana Suwarte dengan Keris Naga Kopek, pusaka Kerajaan. Setan Ngompol berteriak keras menyaksikan kejadian itu. Dia menerjang nekad kearah Rana Suwarte sambil berteriak.

"Rana Suwarte keparat! Kukorek jantungmu! Kuhisap darahmu!"

Namun gerakan kakek ini serta merta tertahan ketika dia menyaksikan apa yang terjadi dengan sosok Naga Kuning. Walau jelas tadi Keris Naga Kopek menancap di pertengahan dada anak itu, namun tak ada darah yang mengucur, tak ada jerit kesakitan keluar dari mulut Naga Kuning. Malah pada saat itu Setan Ngompol melihat bocah berpakaian hitam berambut jabrik itu putar-putar leher, goyangkan kepala.

Asap tipis mengepul dari ubun-ubun Naga Kuning. Ketika bocah ini mengusap wajahnya satu kali, wajah itu berubah menjadi wajah seorang kakek berambut, berkumis dan berjanggut putih. Sosoknya bukan lagi sosok anak-anak, melainkan sosok seorang tua mengenakan jubah kelabu.

"Ah, anak konyol itu tengah memamerkan wujudnya yang asli. Padahal keris masih menancap di dadanya. Tapi, astaga!"

Bola mata jereng Setan Ngompol membeliak. Ketika dia memperhatikan ternyata Keris naga Kopek sama sekali tidak menancap di dada Naga Kuning yang kini telah berubah wujud menjadi kakek dikenal dengan julukan kiai Paus Samudera Biru. Senjata sakti itu berada daIam jepitan jari-jari tangan kirinya.

ketika lawan menikam Naga Kuning cepat lindungi dirinya dengan jurus "Naga Sakti menggenggam Rembulan." Begitu ujudnya berubah Keris Naga Kopek sudah berada dalam jepitan lima jari tangannya. Tidak seperti yang diduga Setan Ngompol, senjata sakti ini tidak sampai menusuk tubuh Naga Kuning alias Kiai paus Samudera Biru. Dari samping tadi memang terlihat seolah-olah senjata sakti itu telah menusuk tembus dada Naga Kuning.

Kejut Rana Suwarte bukan olah-olah. Dia Cepat tarik Keris Naga Kopek. Tapi laksana Ditahan jepitan baja senjata sakti itu tidak Bergeming dari genggaman Kiai Paus Samudra Biru.

Keringat dingin mengucur di kening Rana suwarte. dalam hati dia membatin. "Kalau aku adu kekuatan, kerahkan tenaga dalam, keris sakti ini bisa patah. Urusanku dengan orang lain bisa kapiran! Kalau aku mengalah berarti senjata ini jatuh ke tangan manusia jahanam ini! Aku tambah lebih celaka!"

Kiai Paus Samudera Biru menyeringai lalu berucap. "Walau besar dugaanku senjata pusaka Kerajaan ini adalah hasil curian, aku bersedia meloloskan mengembalikan padamu. Tapi dengan satu syarat. Mulai hari ini kau harus melupakan Ning lntan Lestari dan tinggalkan tanah Jawa ini. Pergi kemana kau suka asal tidak di tanah Jawa!"

Rahang Rana Suwarte menggembung. Tanpa keluarkan ucap jawaban Keris Naga Kopek yang tadi ditariknya kini malah didorong ditusukkan ke arah lawan. Lalu tangan kiri laksana kilat bergerak melempar sebilah pisau terbang. Serangan senjata rahasia ini masih disusul dengan satu pukulan tangan kosong mengandung tenaga dalam tinggi.

"Rana Suwarte, kau memang harus dibikin tobat seumur-umur!" kata Kiai Paus Samudera Biru dengan sikap tenang. Bersamaan dengan keluarnya ucapan ttu tangan kanannya bergerak ke atas. Lima jari tangan dijentikkan.

"Tring!"

Senjata rahasia berupa sebilah pisau terbang patah tiga, mental lenyap di udara malam yang gelap.

"Bukkk!"

Jotosan tangan kiri Rana Suwarte beradu keras dengan jotosan tangan kanan Kiai Paus Samudera Biru. Wajah sang Kiai masih sunggingkan seringai sebaliknya Rana Suwarte mengerung keras. Tangan kanannya terlepas dari memegang Keris Naga Kopek. Tubuhnya mencelat dua tombak. Lima jari tangan kirinya hancur.

Satu bayangan biru berkelebat. Kiai Paus Samudera Biru terkesiap kaget ketika satu kekuatan dahsyat mendorong tubuhnya. Selagi dia terjajar ke belakang, dia merasa ada sambaran angin deras menyusul dan tahu-tahu keris Naga Kopek dibetot lepas dari tangannya.

"Rana Suwarte tua bangka tolol! Lekas tinggalkan tempat ini. Aku menunggu di bukit perjanjian!"

Seseorang berseru lalu dess!

Ada suara letupan. Bersamaan dengan itu kabut aneh menyungkup kawasan kali kecil membuat buta pemandangan. Kiai Paus Samudera Biru coba mengejar orang yang merampas keris pusaka, tapi karena tidak bisa melihat apa-apa sosoknya malah beradu dengan Setan ngompol.

Ketika kabut aneh lenyap di tepi kali kelihatan Kiai Paus Samudera Biru yang telah kembali ke ujud aslinya yaitu ujud seorang anak lelaki kecil berambut jabrik bernama Naga Kuning tergeletak di tanah. Di sampingnya kakek botak Setan Ngompol duduk menjelepok terkencing-kencing. Tangan kiri memegangi keningnya yang benjut akibat beradu kepala dengan Kiai Paus Samudera Biru tadi sementara tangan kanan memegangi bagian bawah perut yang terus ngocor. Rana Suwarte tak ada lagi ditempat itu. Mayat si kecil Sulantri masih tergeletak di tepi kali.

"Bocah konyol! Apa yang terjadi?!" Setan Ngompol ajukan pertanyaan. Naga Kuning delikkan mata. "Kau yang menonton perkelahian. Kau pasti melihat lebih jelas!"

"Aku melihat satu bayangan biru. Ada orang berkelebat ke arahmu. Lalu muncul kabut!

Kau menabrak diriku. Lihat keningku- sampai benjut!"

Tanpa diketahui oleh kedua orang itu, tak jauh dari tumbangan pohon besar seorang mendekam dibalik serumpun semak belukar. Matanya tak berkesip memperhatikan dua orang yang tengah bercakap-cakap namun perhatiannya lebih banyak ditujukan pada Naga

Kuning. Orang ini berpakaian serba hitam, berujud seorang nenek bermuka seram, rambut kelabu riap-riapan, kaku panjang hitam.

"Ada orang merampas Keris Naga Kopek," jawab Naga Kuning dengan suara penasaran. Ketika aku mengejar dia ledakkan benda yang menebar kabut tebal. Turut apa yang diucapkan orang itu pasti dia adalah sobatnya Rana Suwarte. Bukit perjanjian. Ada puluhan bukit di sekitar sini. Kemana aku mau mengejar?!"

"Tak perlu dikejar. Sia-sia saja," kata Setan ngompol. "Kau muncul di sini sendirian?"

"Memangnya kau kira aku datang dengan siapa? Setan? Dedemit atau jin" tukas Naga Kuning.

"Mana nenek kekasihmu bernama Ning lntan Lestari berjuluk Gondoruwo Patah Hati itu ..."

"Ah, dia yang kau maksudkan," Wajah si bocah tampak masgul, sedih.

"Hai, kenapa tampangmu mendadak jadi seperti orang sedih?'

"Orang satu itu, tak usah kau tanyakan dia.Dia sudah kabur entah kemana!" jawab Naga Kuning.

"Setelah berpisah puluhan tahun, bukankah belum lama ini kalian saling bertemu? Apa yang terjadi sampai dia kabur meninggalkan dirimu?"

"Aku tak bisa memastikan. Cuma menduga Mungkin dia cemburu pada nenek sial dari Negeri Latanahsilam bernama Luhniknik alias Hantu Penjunjung Roh. Waktu dia kabur, aku coba mengejar. Tapi dia lenyap entah kemana. Aku mencari ke tempat kediamannya di Kali Lanang. Dia tak ada disitu. Sial amat nasibku!

Padahal aku tidak punya hubungan apa-apa dengan Hantu Penjunjung Roh. Puluhan tahun berpisah, begitu bertemu berpisah lagi. Aku kawatir kesempatan ini dipergunakan oleh Rana Suwarte untuk merayu Ning lntan Lestari. Tapi aku percaya, orang seperti dia tidak mudah dirayu. Puluhan tahun dia bisa bertahan, masakan akan runtuh karena gejolak satu hari saja ...." (Baca serial Wiro Sableng dalam Episode"Si Cantik Dalam Guci")

Di balik semak-semak, nenek berwajah seram yang bukan lain adalah Ning intan Lestari alias Gondoruwo Patah hati merasakan dadanya sesak. Perasaan kacau membuat dia jadi bingung. Di dalam rasa bingung itu terselip rasa penyesalan.

"Kalau aku, biar saja dia pergi pada Rana Suwarte. Buat apa kau merisaukan nenek jelek itu!" Setan Ngompol berucap. Membuat Gondoruwo Patah Hati terperangah, lalu menggigit bibir sendiri.

"Nenek jelek! Enak saja kau bicara!" Naga Kuning bersungut. "Kau tidak tahu siapa dan bagaimana keadaan dirinya sebenarnya. Cuma nasibku saja yang jelek. Kemana aku harus mencarinya?'

"Apa kau benar-benar mengasihinya?" tanya Setan Ngompol pula. Sepasang Mata Gondoruwo Patah Hati memperhatikan Naga Kuning tak berkesip. Dadanya berdebar menunggu apa yang bakal diucapkan anak itu sebagai jawaban.

Naga Kuning mengangguk. "Dulu sebelum aku tahu bahwa Rana Suwarte menyukainya aku seolah tidak acuh. Namun ketika tahu lelaki sialan itu mencintainya malah minta tolong Kiai Gede Tapa Pamungkas untuk membujuk agar rnau nikah dengan dia, perasaanku jadi berubah. Aku tiba-tiba saja merasa takut kehilangannya. Aku baru menyadari bahwa sebenarnya aku mencintai gadis itu. Sejak lama .... Lama sekali ..."

Gondoruwo Patah Hati pejamkan dua matanya. Dari balik kelopak mata yang terkatup itu meleleh butiran-butiran bening air mata. Saat itu dia serasa ingin menghambur keluar dari balik semak belukar, memeluk Naga Kuning. Tubuhnya bergetar menahan perasaan yang seperti mau meledak. "Gunung ..." hanya nama asli Naga Kuningitu yang meluncur dalam ucapan kata hatinya.

"Gadis?" terdengar suara Setan Ngompol.

"Nenek peot muka seram bernama Gondoruwo

Patah Hati ini kau sebut gadis? Ha .. ha ... ha! Otakmu pasti sudah miring!"

"Justru otakmu bisa jadi miring jika rnengetahui keadaan dirinya sebenarnya!" jawab Naga Kuning. Dia pandangi kepala botak si kakek lalu berkata. "Aku heran ..."

"Apa yang kau herankan?" tanya Setan Ngompol.

"Tadi aku sempat hampir tidak mengenali dirimu. Kalau saja tidak melihat selangkanganmu yang selalu basah oleh kucuran air kencing, aku mengira kau adalah tuyul tua kejemur. Kau kemanakan rambutmu? Mengapa kepalamu jadi botak begitu rupa?!"

Setan Ngompol menyeringai. Tangan kirinya yang basah oleh air kenclng enak saja diusapkannya ke atas kepalanya yang gundul plontos.

"Rambut di kepalaku sengaja kucukur gara-gara kaulan." Menerangkan Setan Ngompol.

"Kaulan? Kaulan sinting! Apa yang terjadi?" Naga Kuning ingin tahu.

"Kejadiannya dimulai ketika aku dijebloskan di penjara Istana. Barang antikku dijapit dengan besi dan digelantungi rantai! Aku kemudian berkaul. Kalau ada yang bisa menolong dan diriku terlepas dari azab benda celaka itu, maka aku akan melakukan kaul. Kaulku adalah mencukur semua rambut yang ada di tubuhku.

Wiro berhasil menolongku. Kaul aku laksanakan. Tapi mengapa aku terus-terusan ketimpa nasib sial ..."

"Mungkin kaulmu kau lakukan setengah hati ..."

"Setengah hati bagaimana?!" sungut si kakek. "Lihat, kepalaku gundul plontos. Kumis, juga janggutku aku tabas semua. Rambut kakiku juga aku kikis habis! Bulu ketek aku cabuti sampai gundul semua! Enak saja kau bilang aku melakukan dengan setengah hati."

Naga Kuning tersenyum.

"Kek, benaran kau sudah mencukur seluruh rambut di tubuhmu?" tanya si bocah." Apa kau buta? Kau menyaksikan sendiri. Kepalaku, kumisku ...."

"Ya, ya aku lihat Kek. Tapi apa rambut yang dibawah perutmu juga sudah kau cukur habis?" tanya Naga Kuning pula.

Setan Ngompol tersentak kaget. Matanya mendelik memandangi si bocah.

"Pertanyaan edan!" semprot si kakek.

"Kau belum menjawab pertanyaanku Kek. Apa rambut yang disitu itu sudah kau cukur habis dan licin? Hik .. hik ... hik!"

"Bocah setan! Sesuai kaul tentu saja rambut di situ sudah aku cukur!" jawab Setan Ngompol dengan mata jereng melotot dan mulut pencong geram.

"Boleh aku lihat?!" kata Naga Kuning pula. Anak ini melangkah cepat mendekati si kakek.

Dua tangannya siap menarik kebawah celana Setan Ngompol yang basah bau pesing. Setan Ngompol buru-buru menghindar pegangi bagian bawah perutnya sambil memaki panjang pendek. Di balik semak belukar Gondoruwo Patah Hati yang tadi menangis haru kini menutup rnulut dengan telapak tangan kiri menahan tawa.

"Kau takut aku intip bagian bawah perutmu. Berarti kaulmu memang tidak sempurna! Kalau belum mencukur seluruh rambut yang ada di tubuhmu!" Ucap Naga Kuning pula. Setengah menggerendeng Setan Ngompol akhirnya berkata. "Rambut yang disitu memang tidak dicukur!"

"Nah mengaku kau akhirnya Kek! itulah salahnya kaulmu! Jadi benar kalau aku bilang kau melakukan kaul setengah-setengah. Akibatnya kau selalu ketiban apes."

"Bocah sinting! Yang dibawah perutku itu namanya bukan rambut! Jadi tak perlu aku potong! Tak perlu aku cukur!"

"Kalau bukan rambut lalu namanya apa kek?" tanya Naga Kuning dan kembali anak ini tertawa cekikikan.

"Namanya ... namanya ...." Setan Ngompol tak berani meneruskan ucapannya. Kakek ini malah buru-buru menekapkan tangan ke bawah perut tapi serrr! Kencingnya ngocor tidak tertahankan. Setelah berdiam diri cukup lama dan berpikir-pikir si kakek akhirnya berkata.

"Mungkin ... mungkin kau benar bocah sinting.Mungkin memang kaulku tidak kulakukan sempurna. Aku ... aku segera akan mencukur habis rambut yang satu itu ..."

"Salah lagi Kek!" ujar Naga Kuning.

"Apa yang salah?" pelotot Setan Ngompol.

"Tadi kau bilang rambut yang satu. Kau yakin dibawah perutmu itu cuma ada satu, cuma ada selembar rambut?!"

"Setan alas! Maksudku! Sinting kau!" Tapi kemudian si kakek tertawa terkekeh-kekeh. Akibatnya serr. ..serrrr. Air kencingnya mengucur tak berkeputusan. Naga Kuning ikutan tertawa mengakak. Di balik belukar Gondoruwo Patah Hati terguncang-guncang tubuhnya menahan tawa.

Puas tertawa dan kencing habis-habisan Setan Ngompol gosok-gosok matanya yang belok berair. Dia ingat pada jenazah Sulantri. Kakek ini segera melangkah ke tepi kali kecil. Naga Kuning mengikuti langkah si kakek.

"Aku harus membawa jenazah anak malang ini ke Maguwo. Sebelum mati dibunuh Rana Suwarte dia sempat memberi tahu kalau dirinya adalah anak Kepala Desa Maguwo. Maguwo tak jauh dari sini."

"Aku ikut bersamamu," kata Naga Kuning pula. "Dalam perjalanan kau bisa menceritakan apa yang telah terjadi."

"Aku menaruh curiga. Ada satu rahasia besar dibalik kematian gadis cilik ini. Yang mungkin ada sangkut pautnya dengan bunga melati berwana hitam."

"Maksudmu bunga melati tujuh racun yang mampu ..."

"Nanti kita bicarakan dalam perjalanan ke Maguwo," kata Setan Ngompol pula. Lalu jenazah Sulantri di panggulnya di bahu kiri. Si kakek diam sebentar. "Maguwo memang tidak jauh dari sini. Tapi memanggul anak ini sampai ke sana, walah! Aku tidak bisa membayangkan.Kencingku pasti akan mengucur sepanjang jalan!"

"lni termasuk salah satu kesialan akibat salah kaul itu Kek!" kata Naga Kuning pula.

"Kau yang sialan!" maki Setan Ngompol.

"Sudah Kek, jangan ngomel terus. Ayo jaIan," ujar Naga Kuning sambil senyum-senyum, Pada saat itulah Gondoruwo Patah Hati yang sejak tadi mendekam dibalik semak belukar dan tak bisa lagi menahan hati, melompat keluar.

"Gunung, apa aku boleh ikut dengan kalian ke Maguwo? Aku membawa seekor kuda. Bisa jadi tumpangan jenazah anak perempuan itu."

———–000000000000————-

7NAGA KUNING terkejut mendengar orang menyebut nama aslinya. Dia mengenali suara itu. Dugaannya tidak meleset. Seorang nenek berwajah seram tegak di hadapannya.

"lntan!" ucap Naga Kuning setengah berseru.

"Kau ada di sini!"

"Ha .. ha ... ha! Sudah sejak tadi dia ada di dekat sini sobatku bocah konyol!" kata Setan Ngompol.

"Eh, apa masudmu?" Naga Kuning jadi heran, berpaling pada Setan Ngompol.

"Aku tahu kalau nenek ini sudah sejak tadi sembunyi di balik semak belukar sana ...." si kakek mengulangi ucapannya.

"Kau! Jadi!" Naga Kuning memandang melotot pada Setan Ngompol. "Kenapa kau tidak memberi tahu?"

Setan Ngompol menyeringai.

"Kau punya ilmu kepandaian. Tapi karena mengodaku terus-terusan ilmumu jadi tumpul!"

Naga Kuning berpaling pada Ning lntan Lestari alias Gondoruwo Patah Hati.

"lntan, kau ... kau mendengar semua pembicaraan kami?'

"Tentu saja dia mendengar. Walau sudah tua nenek ini belum tuli, belum budek!"

"Kakek bau pesing! Aku tidak tanya padamu!" semprot Naga Kuning marah.

Setan Ngompol pencongkan mulut, berpaling pada Gondoruwo Patah Hati dan berkata.

"Sobatku tua, kau jawablah sendiri pertanyaan sobatku muda yang konyol ini!" Gondoruwo Patah Hati batuk-batuk beberapa kali.

"Aku ... aku tidak bermaksud menguping. Tapi jarak tempat aku berada begitu dekat. Aku memang mendengar semua apa yang kalian bicarakan ..."-

"Matek aku!" kata Naga Kuning sambil tepuk jidatnya sendiri. Malunya bocah ini bukan alang kepalang. Tadi dia sempat menyatakan pada Setan Ngompol bagaimana isi hatinya terhadap si nenek.

"Kenapa musti matek!" tukas Setan Ngompol.

"Selama apa yang kau ucapkan memang jujur dan memang begitu adanya, yang kau dapat bukan matek tapi matek enak! Bukan begitu? Ha ...... ( lanjutkan membaca setelah login gratis di sini )
Auto Promo BLOGGER Auto Promo INSTAGRAM Auto Promo TWITTER Auto Promo FACEBOOK Auto Promo LINKEDIN
JUDUL
Wiro Sableng #1 : Empat Berewok Dari Goa Sanggreng
Wiro Sableng #10 : Banjir Darah Di Tambun Tulang
Wiro Sableng #100 : Dendam Dalam Titisan
Wiro Sableng #101 : Gerhana Di Gajahmungkur
Wiro Sableng #102 : Bola Bola Iblis
Wiro Sableng #103 : Hantu Bara Kaliatus
Wiro Sableng #104 : Peri Angsa Putih
Wiro Sableng #105 : Hantu Jatilandak
Wiro Sableng #106 : Rahasia Bayi Tergantung
Wiro Sableng #107 : Hantu Tangan Empat
Wiro Sableng #108 : Hantu Muka Dua
Wiro Sableng #109 : Rahasia Kincir Hantu
Wiro Sableng #11 : Raja Rencong Dari Utara
Wiro Sableng #110 : Rahasia Patung Menangis
Wiro Sableng #111 : Hantu Langit Terjungkir
Wiro Sableng #112 : Rahasia Mawar Beracun
Wiro Sableng #113 : Hantu Santet Laknat
Wiro Sableng #114 : Badai Fitnah Latanahsilam
Wiro Sableng #115 : Rahasia Perkawinan Wiro
Wiro Sableng #116 : Hantu Selaksa Angin
Wiro Sableng #117 : Muka Tanah Liat
Wiro Sableng #118 : Batu Pembalik Waktu
Wiro Sableng #119 : Istana Kebahagiaan
Wiro Sableng #12 : Pembalasan Nyoman Dwipa
Wiro Sableng #120 : Kembali Ke Tanah Jawa
Wiro Sableng #121 : Tiga Makam Setan
Wiro Sableng #122 : Roh Dalam Keraton
Wiro Sableng #123 : Gondoruwo Patah Hati
Wiro Sableng #124 : Makam Ketiga
Wiro Sableng #125 : Senandung Kematian
Wiro Sableng #126 : Badik Sumpah Darah
Wiro Sableng #127 : Mayat Persembahan
Wiro Sableng #128 : Si Cantik Dalam Guci
Wiro sableng #129 : Tahta Janda Berdarah
Wiro Sableng #13 : Kutukan Empu Bharata
Wiro Sableng #130 : Meraga Sukma
Wiro Sableng #131 : Melati Tujuh Racun
Wiro Sableng #132 : Kutukan Sang Badik
Wiro Sableng #133 : 113 Lorong Kematian
Wiro Sableng #134 : Nyawa Kedua
Wiro Sableng #135 : Rumah Tanpa Dosa
Wiro Sableng #136 : Bendera Darah
Wiro Sableng #137 : Aksara Batu Bernyawa
Wiro Sableng #138 : Pernikahan Dengan Mayat
Wiro Sableng #14 : Sepasang Iblis Betina
Wiro Sableng #140 : Misteri Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #141 : Kematian Kedua
Wiro Sableng #142 : Kitab Seribu Pengobatan
Wiro Sableng #143 : Perjanjian Dengan Roh
Wiro Sableng #144 : Nyi Bodong
Wiro Sableng #145 : Lentera Iblis
Wiro Sableng #146 : Azab Sang Murid
Wiro Sableng #147 : Api Di Puncak Merapi
Wiro Sableng #148 : Dadu Setan
Wiro Sableng #149 : Si Cantik Dari Tionggoan
Wiro Sableng #15 : Mawar Merah Menuntut Balas
Wiro Sableng #150 : Misteri Pedang Naga Merah
Wiro Sableng #151 : Sang Pembunuh
Wiro Sableng #152 : Petaka Patung Kamasutra
Wiro Sableng #153 : Misteri Bunga Noda
Wiro Sableng #154 : Insan Tanpa Wajah
Wiro Sableng #155 : Sang Pemikat
Wiro Sableng #156 : Topan Di Gurun Tengger
Wiro Sableng #157 : Nyawa Titipan
Wiro Sableng #158 : Si Cantik Gila Dari Gunung Gede
Wiro Sableng #159 : Bayi Satu Suro
Wiro Sableng #16 : Hancurnya Istana Darah
Wiro Sableng #160 : Dendam Mahluk Alam Roh
Wiro Sableng #161 : Perjodohan Berdarah
Wiro Sableng #162 : Badai Laut Utara
Wiro Sableng #163 : Cinta Tiga Ratu
Wiro Sableng #164 : Janda Pulau Cingkuk
Wiro Sableng #165 : Bayi Titisan
Wiro Sableng #166 : Kupu-Kupu Giok Ngarai Sianok
Wiro Sableng #167 : Fitnah Berdarah Di Tanah Agam
Wiro Sableng #168 : Mayat Kiriman Di Rumah Gadang
Wiro Sableng #169 : Bulan Sabit Di Bukit Patah
Wiro Sableng #17 : Lima Iblis Dari Nanking
Wiro Sableng #170 : Kupu-Kupu Mata Dewa
Wiro Sableng #171 : Malam Jahanam Di Mataram
Wiro Sableng #172 : Empat Mayat Aneh
Wiro Sableng #173 : Roh Jemputan
Wiro Sableng #174 : Dua Nyawa Kembar
Wiro Sableng #175 : Sepasang Arwah Bisu
Wiro Sableng #176 : Dewi Kaki Tunggal
Wiro Sableng #177 : Jaka Pesolek Penangkap Petir
Wiro Sableng #178 : Tabir Delapan Mayat
Wiro Sableng #18 : Pendekar Pedang Akhirat
Wiro Sableng #180 : Sesajen Atap Langit
Wiro Sableng #181 : Selir Pamungkas
Wiro Sableng #182 : Delapan Pocong Menari
Wiro Sableng #183 : Bulan Biru Di Mataram
Wiro Sableng #184 : Dewi Dua Musim
Wiro Sableng #185 : Jabang Bayi Dalam Guci
Wiro Sableng #19 : Pendekar Dari Gunung Naga
Wiro Sableng #2 : Maut Bernyanyi Di Pajajaran
Wiro Sableng #20 : Hidung Belang Berkipas Sakti
Wiro Sableng #21 : Neraka Puncak Lawu
Wiro Sableng #22 : Siluman Teluk Gonggo
Wiro Sableng #23 : Cincin Warisan Setan
Wiro Sableng #24 : Penculik Mayat Hutan Roban
Wiro Sableng #25 : Cinta Orang Orang Gagah
Wiro Sableng #26 : Iblis Iblis Kota Hantu
Wiro Sableng #27 : Khianat Seorang Pendekar
Wiro Sableng #28 : Petaka Gundik Jelita
Wiro Sableng #29 : Bencana Di Kuto Gede
Wiro Sableng #3 : Dendam Orang-orang Sakti
Wiro Sableng #30 : Dosa Dosa Tak Berampun
Wiro Sableng #31 : Pangeran Matahari Dari Puncak Merapi
Wiro Sableng #32 : Bajingan Dari Susukan
Wiro Sableng #33 : Panglima Buronan
Wiro Sableng #34 : Munculnya Sinto Gendeng
Wiro Sableng #35 : Telaga Emas Berdarah
Wiro Sableng #36 : Dewi Dalam Pasungan
Wiro Sableng #37 : Maut Bermata Satu
Wiro Sableng #38 : Iblis Berjanggut Biru
Wiro Sableng #39 : Kelelawar Hantu
Wiro Sableng #4 : Keris Tumbal Wilayuda
Wiro Sableng #40 : Setan Dari Luar Jagad
Wiro Sableng #41 : Malaikat Maut Berambut Salju
Wiro Sableng #42 : Badai Di Parang Tritis
Wiro Sableng #43 : Dewi Lembah Bangkai
Wiro Sableng #44 : Topeng Buat WIRO SABLENG
Wiro Sableng #45 : Manusia Halilintar
Wiro Sableng #46 : Serikat Setan Merah
Wiro Sableng #47 : Pembalasan Ratu Laut Utara
Wiro Sableng #48 : Memburu Si Penjagal Mayat
Wiro Sableng #49 : Srigala Iblis
Wiro Sableng #5 : Neraka Lembah Tengkorak
Wiro Sableng #50 : Mayat Hidup Gunung Klabat
Wiro Sableng #51 : Raja Sesat Penyebar Racun
Wiro Sableng #52 : Guna Guna Tombak Api
Wiro Sableng #53 : Kutukan Dari Liang Kubur
Wiro Sableng #54 : Pembalasan Pendekar Bule
Wiro Sableng #55 : Misteri Dewi Bunga Mayat
Wiro Sableng #56 : Ratu Mesum Bukit Kemukus
Wiro Sableng #57 : Nyawa Yang Terhutang
Wiro Sableng #58 : Bahala Jubah Kecono Geni
Wiro Sableng #59 : Peti Mati Dari Jepara
Wiro Sableng #6 : Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga
Wiro Sableng #60 : Serikat Candu Iblis
Wiro Sableng #61 : Makam Tanpa Nisan
Wiro Sableng #62 : Kamandaka Si Murid Murtad
Wiro Sableng #63 : Neraka Krakatau
Wiro Sableng #64 : Betina Penghisap Darah
Wiro Sableng #65 : Hari-Hari Terkutuk
Wiro Sableng #66 : Singa Gurun Bromo
Wiro Sableng #67 : Halilintar Di Singosari
Wiro Sableng #68 : Pelangi Di Majapahit
Wiro Sableng #69 : Ki Ageng Tunggul Keparat
Wiro Sableng #7 : Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin
Wiro Sableng #70 : Ki Ageng Tunggul Akhirat
Wiro Sableng #71 : Bujang Gila Tapak Sakti
Wiro Sableng #72 : Purnama Berdarah
Wiro Sableng #73 : Guci Setan
Wiro Sableng #74 : Dendam Di Puncak Singgalang
Wiro Sableng #75 : Harimau Singgalang
Wiro Sableng #76 : Kutunggu Di Pintu Neraka
Wiro Sableng #77 : Kepala Iblis Nyi Gandasuri
Wiro Sableng #78 : Pendekar Gunung Fuji
Wiro Sableng #79 : Ninja Merah
Wiro Sableng #8 : Dewi Siluman Bukit Tunggul
Wiro Sableng #80 : Sepasang Manusia Bonsai
Wiro Sableng #81 ; Dendam Manusia Paku
Wiro Sableng #82 : Dewi Ular
Wiro Sableng #83 : Wasiat Iblis
Wiro Sableng #84 : Wasiat Dewa
Wiro Sableng #85 : Wasiat Sang Ratu
Wiro Sableng #86 : Delapan Sabda Dewa
Wiro Sableng #87 : Muslihat Para Iblis
Wiro Sableng #88 : Muslihat Cinta Iblis
Wiro Sableng #89 : Geger Di Pangandaran
Wiro Sableng #9 : Rahasia Lukisan Telanjang
Wiro Sableng #90 : Kiamat Di Pangandaran
Wiro Sableng #91 : Tua Gila Dari Andalas
Wiro Sableng #92 : Asmara Darah Tua Gila
Wiro Sableng #93 : Lembah Akhirat
Wiro Sableng #94 : Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #95 : Jagal Iblis Makam Setan
Wiro Sableng #96 : Utusan Dari Akhirat
Wiro Sableng #98 : Rahasia Cinta Tua Gila
Wiro Sableng #99 : Wasiat Malaikat


LOAD MORE INSPIRATIONS...

© www&mdot;nomor1&mdot;com · [email protected]&mdot;com · terms of use · privacy policy · 172.68.65.207
team developer · pt excenture indonesia · central park podomoro city · jakarta indonesia