Colors

Kemarin waktu makan siang bersama klien di Pizza Marzanno Cityloft Sudirman, saya tertarik sekali dengan sekelompok eksekutif muda yang asyik berbagi cerita, dan jokes. Begitu relaks dan ceria. Mereka memesan beberapa pan pizza, dan makan bersama-sama. Menariknya, bukan karena mereka mengisi sudut restoran dengan keramaian yang mereka ciptakan. Tapi lebih karena saya melihat mereka begitu berwarna.

Berdelapan orang, tidak hanya berwajah asli Indonesia, ada yang berwajah oriental, ada yang kental dengan garis mediterania nya dan ada yang kentara sekali blasteran / Indo. Aku menebak-nebak, tentu mereka tidak sekantor, karena aku melihat tag yang disematkan pada pakaian kerja mereka, beraneka warna. Menarik dan harmonis.

Sebenarnya topic ini, tersimpan cukup lama di agenda saya. Sudah lama saya ingin sekali menuliskan tentang PLURALISME. Hal yang sangat sensitif untuk dibahas akhir-akhir ini. Dan ketika saya mengamati mereka, saya seperti mendapatkan inspirasi yang tepat untuk menuliskannya.

Saya sendiri, adalah perempuan keturunan Tionghoa, yang lahir dan besar di Sumatra Selatan. Dengan ayah yang datang dari keluarga Hokkian, mereka telah menetap di Palembang sejak beberapa generasi sebelum beliau lahir. Ibu saya, seorang peranakan, istilah yang umum disebut untuk mereka yang darahnya telah bercampur dengan darah lokal asli.

Dari kecil, saya tinggal di rumah ½ batu dan ½ kayu, di sebuah daerah yang kami sebut Hulu, dimana bagian belakang rumah kami memiliki tangga yang langsung bermuara pada aliran sungai musi. Rumah ½ kayu kami, bertetanggaan dengan penduduk-penduduk asli Palembang. Sementara rumah ½ batu kami, bertetanggaan dengan keluarga-keluarga peranakan lainnya. Sehari-harinya, nenek dan saudara nenek saya, memakai kebaya dan sarung yang mereka jahit sendiri. Demikianlah kaum peranakan sehari-hari berpakaian. Lain waktu, saya akan menuliskan kisah-kisah masa kecilku di rumah kayu tepi sungai musi itu.

Sejak saya kecil, saya memiliki banyak teman bermain. Dari anak pribumi, anak keturunan Tionghoa juga anak-anak seperti saya, setengah Tionghoa dan setengah pribumi. Waktu itu, kami tidak pernah memikirkan mengapa ada yang berkulit coklat, sawo matang, mengapa bermata sipit dan berkulit putih, yang bermata agak besar tapi kulitnya kuning. Kami hanya menikmati masa kecil dengan ceria, bermain bersama-sama, atau duduk sambil bernyanyi ketika sore tiba, setiap hari.

Menjelang remaja dan dewasa, saya baru menyadari artinya perbedaan. Saya baru mengerti, oh teman saya A, adalah orang pribumi, oh si B adalah orang Tionghoa, dan C adalah tengah-tengah diantaranya. Dan saya pun menjadi terbiasa dengan lingkungan yang terkelompok-kelompok. Teman-teman Tionghoa akan bermain dengan teman-teman dari Tionghoa juga, lalu teman-teman pribumi atau lokal asli, akan bermain dengan teman-teman yang pribumi juga. Lalu bagaimana nasib saya? Beruntung, saya yang tidak terlalu Tionghoa, dan tidak terlalu pribumi bisa masuk kemana-mana.

Di lingkungan sekolah, baik tingkat menengah dan kuliah, saya masih bisa bertahan dengan dua lingkungan tersebut. Sebentar terlibat pembicaraan yang asyik dengan teman-teman keturunan, dan sebentar bisa ngobrol ber haha hihi dengan teman-teman pribumi. Menyenangkan.

Namun, ketika masuk lingkungan bekerja, dimana pertama kali saya bekerja di sebuah perusahaan keluarga milik mantan penguasa di negeri ini, saya mulai merasakan adanya perbedaan itu.

Ketika diinterview, menjalani psychotest, saya tidak pernah diberitahu siapa pemilik perusahaan itu dan bagaimana perusahaan itu. Hanya saja ketika saya diterima, sejak awal saya diwanti-wanti, untuk tidak memberitahu siapapun, bahwa saya datang dari keluarga keturunan Tionghoa.

Lingkungan kantor saya, adalah 99 % pribumi asli, dan 1% nya adalah saya, the LOST girl. Mereka hanya diberitahu, saya orang Palembang. Dan semua itu bertahan berbulan-bulan, sampai mereka benar-benar bisa menerima saya sebagai saya, menjadi bagian dari mereka, bukan hanya sebagai sekretaris big boss. Dan umumnya mereka terkaget-kaget “Lho.. Kami kira kamu orang Manado loh.. ” atau “Lho.. kamu Chinese Palembang?”

Dunia kerja memang keras, penuh dengan benturan-benturan kepentingan, apalagi kalau kita ditempatkan pada sebuah perusahaan yang rasis keras. Lelah rasanya, menghadapi orang-orang yang selalu memandang segala sesuatunya dari suku bangsa, agama, warna kulit dan garis keturunan. Hanya ada satu kata yang tepat untuk menggambarkan perasaan saya waktu itu : SULIT.

Tidak semua orang bisa menaklukkan perbedaan. Karena perbedaan biasanya diikuti dengan rasa tidak nyaman, asing dan rasa curiga. Saya pernah merasakan 3 rasa tersebut. Padahal, dimanapun kita berada, kita tidak mungkin tidak menemui perbedaan itu, apalagi kalau kita tinggal di Jakarta, dimana semua suku, agama, keturunan dan warna kulit bertemu. Kalimat-kalimat rasis “Dia kan Cina.. “, kerap membuat nafasku sesak. Mengapa kalau saya orang Cina? Sebel, kesal, mau marah, kadang berkecamuk di dada. Tapi ya… itu harus dihadapi dan beruntung sampai hari ini, semua baik-baik saja.

Tampaknya, senyum yang tidak dibuat-buat, nada suara yang lembut dan ramah, dan hati yang terbuka, adalah satu-satunya jalan keluar menghadapi perbedaan. Kalau masih tidak diterima juga, ya sudahlah, bisa berbuat apa? Tapi teruskan saja lakukan itu sampai kamu diterima. Masa tidak luluh juga? Iya kan?

Saya jadi teringat masa lalu waktu masih kerja. Kadang pulang malam, karena harus menunggui boss yang workalholic, dan pulang diatas jam 8 malam dan harus mencegat taxi karena taxi tidak boleh masuk ke lobby gedung. Aduh.. sulitnya kalau mengingat masa-masa itu. Rasa takut dirampok, takut dilecehkan, takut bertemu orang jahat, selalu menghantui, apalagi, saya adalah seorang perempuan, keturunan Tionghoa, dan waktu itu usia saya belum genap 21 tahun.

Pernah suatu malam, saya pulang kantor jam 21.15 malam, masih ingat sekali, saya mencegat taksi di jalan, setelah tahu siapa yang akan naik, supir taksi itu memajumundurkan kendaraannya. Saya terheran-heran. Ketika mau membuka pintu belakang taxi, taxi itu maju sedikit, lalu saya mengejarnya, dan kemudian dia mundur. Saya merasa kesal dipermainkan. Apakah karena berpakaian merah lambang parpol tertentu, sementara mungkin supir taxi itu katakanlah simpatisan parpol berwarna hijau, katakanlah begitu? Akhirnya saya memutuskan untuk mencari taxi lain, dan mendapat jawaban dari bertukar cerita dengan supir taxi, alasan yang sesungguhnya adalah karena warna kulit saya yang terang seperti orang Tionghoa. Uhhhh.. mengapa???

Sekelumit cerita tentang betapa sulitnya menyandang predikat wanita keturunan Tionghoa, yang dulu mungkin saya hadapi dengan seribu rasa jengkel, kesal, sebal, marah di dada, namun sekarang, saya bisa tersenyum mengingatnya. Kejadian-kejadian yang dulu tidak enak, ternyata sekarang begitu manis untuk dikenang.

Beberapa minggu yang lalu, saya juga sempat ngobrol dengan teman-teman dekat di messenger. Kami bersahabat tanpa melihat latar belakang kami bahwa saya merayakan Natal dan Kristen dan mereka merayakan Idul Fitri, bahwa saya keturunan Tionghoa, sedangkan mereka pribumi asli.

Kami bersahabat seperti air yang mengalir. Bertukar fikiran, saling bertukar kabar, melempar joke, atau sekedar sapaan ringan di messenger di sore hari yang membosankan. Tidak pernah sedikitpun membicarakan, tentang kamu A, aku B, kita begini, kita begitu. Semua hanya kurasakan menyenangkan. Hanya menyenangkan.

Dari percakapan-percakapan kami, ternyata apa yang saya rasakan tentang perbedaan itu, dirasakan juga oleh teman-teman lain, ketika mereka harus masuk dalam lingkungan sosial atau teman-teman dari keturunan Tionghoa. Rasa tidak nyaman, asing, juga sempat mereka rasakan, dan sepertinya semua orang di belahan dunia manapun juga pernah mengalami. Hanya sedetail apa kejadian yang mereka alami, tentu hanya mereka sendiri lah yang bisa menceritakannya. Dan lagi-lagi kata SULIT menjadi benang merahnya.

Hmm.. berandai-andai... Alangkah indahnya hidup di dunia ini, kalau semua orang di dunia ini hidup berdampingan dengan damai tanpa melihat latar belakang suku agama,warna kulit dan garis keturunan.

Saya membayangkan, bagaimana kelak anak cucu kita menyikapi perbedaan-perbedaan yang sudah ada sejak generasi-generasi sebelum mereka. Hehe. Akankah mereka akan enjoy aja? Atau juga merasa tidak nyaman? Uhhh aku gak bisa membayangkan putra ku akan bagaimana kelak. Apakah dia bisa membaur seperti harapan kami atau akan mengalami juga apa yang sempat aku rasakan dulu. Tapi, aku bermimpi, penerus kita nanti, bisa membaur dengan siapapun. Mau berbeda agama, bahasa, suku, keturunan, warna kulit, mereka harus bisa melebur di lingkungan yang mereka masuki kelak.

Andai, kita semua, mau mencoba sebaik mungkin meminimalkan perbedaan-perbedaan itu. Kita adalah cucu-cucu Adam dan Hawa. Semua bersaudara. Yang berperang di belahan dunia yang lain, yah biarkanlah berperang, kita disini, mari bergaul dengan menyikapi perbedaan dengan santai dan bijaksana. Agama, suku bangsa, warna kulit dan lain-lain itu diciptakan beraneka ragam oleh Yang Kuasa, untuk melengkapi dan mewarnai hidup kita, seperti indahnya warna pelangi yang menghiasi awan sehabis hujan. Setuju?


Erica Mascalova
Something To Inspire

Auto Promo BLOGGER Auto Promo INSTAGRAM Auto Promo TWITTER Auto Promo FACEBOOK Auto Promo LINKEDIN
JUDUL
Charlie and Daisy
Colors
Dua Sahabat Pemilik Kedai Kopi
Seorang Perempuan Sederhana dan Pelayan Toko


LOAD MORE INSPIRATIONS...

© www&mdot;nomor1&mdot;com · admin@nomor1&mdot;com · terms of use · privacy policy · 107.20.115.174
team developer · pt excenture indonesia · central park podomoro city · jakarta indonesia