Dua Sahabat Pemilik Kedai Kopi

Dua orang pemilik kedai kopi yang bersebelah-sebelahan berteman baik. Mereka sama-sama menjalankan usaha yang telah dirintis oleh keluarga mereka sejak dulu.

Karena mereka sudah berteman sejak kecil, mereka cukup dekat dan tidak pernah merasa bersaing. Kedua keluarga pun saling mengunjungi setiap hari Thanksgiving atau hari-hari baik lainnya.

Kedai Mark lebih ramai daripada kedai Peter. Padahal kondisi kedai kopi Peter telah berkali-kali di renovasi agar nyaman, terang dan beberapa kali dalam sebulan, Peter memberikan promo khusus untuk para pengunjungnya. Harga tiap cangkir kopi pun tidak terlalu mahal. Dengan mesin kopi tercanggih yang ia datangkan dari luar negeri, tentulah kopi yang ia jual lebih harum dan lebih nikmat dari kedai kopi manapun.

Kedai kopi Mark tidak semodern kedai Peter. Mark memang masih mempertahankan beberapa ornamen peninggalan ayahnya.

"Ini adalah kedai yang dirintis kakek sejak ia masih muda. Rasanya tak mungkin saya serta merta merubah semua penampilan kedai ini."

Yah, berbeda dengan Peter yang royal berinvestasi memperbarui kedai dan peralatannya, Mark lebih old-fashioned.

Namun, kedai kopinya selalu ramai. Tidak seperti kedai kedai kopi pada umumnya yang hanya ramai pada jam-jam tertentu dan hari-hari spesial saja.

Karena penasaran, suatu hari Mark bertanya kepada sahabatnya. Peter tersenyum lebar, sambil menepuk bahu Mark, ia mengajak sahabatnya itu untuk duduk minum kopi di kedai miliknya.

"Selamat pagi, tuan Sullivan. Bapak terlihat baik hari ini. Ada yang bisa saya bantu? Hari ini kami punya soup jagung dan jamur yang spesial dan aneka kue pie buah yang hangat." seorang pelayan yang cukup manis menghampiri dengan senyum dan bahasa tubuh yang ramah.

Mark terperangah. Di kedainya, tamu-tamu tidak terbiasa disapa dan dilayani seperti itu. Tamu-tamu biasanya memesan di coffee bar, membayar dan hanya dalam hitungan menit mereka boleh mengambil pesanan mereka di counter pengambilan order. Semua dirancang dengan praktis, efisien, modern mengikuti perkembangan zaman. Dan kebanyakan kedai di kota itu telah mengikuti trend untuk memenuhi kebutuhan orang-orang yang selalu sibuk.

Yah, orang-orang di kota itu punya kebiasaan minum kopi. Dimana-mana selalu ada kedai kopi.

Pesanan Mark tiba 10 menit kemudian, juga beberapa orang lagi. Sambil menikmati kopinya, ia dan Peter bercakap-cakap.

Sekali-kali ia mendengarkan suara pelayan menyapa para pelanggan yang datang. Interaksi terjadi. Mereka hafal dengan nama dan kebiasaan customer mereka. Demikian para pengunjung merasa familiar dengan para pelayan.

"Apakah ini yang membuat kedai Mark lebih ramai dari kedaiku?" Peter berfikir. "Atau ada yang lain?"

Seperti membaca fikiran sahabatnya, Mark berkata, "Setiap pagi, aku dan para karyawan memulai hari dengan saling menyapa, doa pagi dan berkomunikasi. Aku selalu meminta mereka untuk selalu bersukacita dan menularkan spirit itu kepada para customer kami dan memperlakukan mereka dengan istimewa. Aku berinvestasi kepada mereka, dengan memberikan pujian dan motivasi, selain tips dan gaji yang baik. Pelanggan adalah segalanya, namun pegawaiku adalah asset. Tanpa mereka, kedai ini tidaklah menarik."


Erica Mascalova
Something To Inspire

Auto Promo BLOGGER Auto Promo INSTAGRAM Auto Promo TWITTER Auto Promo FACEBOOK Auto Promo LINKEDIN
JUDUL
Charlie and Daisy
Colors
Dua Sahabat Pemilik Kedai Kopi
Seorang Perempuan Sederhana dan Pelayan Toko


LOAD MORE INSPIRATIONS...

© www&mdot;nomor1&mdot;com · admin@nomor1&mdot;com · terms of use · privacy policy · 23.20.60.138
team developer · pt excenture indonesia · central park podomoro city · jakarta indonesia